Rabu, 24 September 2008

mengapa mentari ?


adalah diriku,
mengharap kehidupan sebijak mentari,
dikala memancarkan cahayanya jadi penerang jagat raya,
dikala tenggelam menyisakan manfaat bagi kehidupan.
ia pun tak pernah ingkar janji,
selalu terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat.
apakah arti sebuah kebohongan jika suatu waktu terungkap jua ?
mentari tahu kebohongan tapi dia enggan membuka tabir misterinya.

mentari tahu tiap yang menyelinap dalam rimbun rahasia, tapi dia hanya jadi saksi bisu.

biarkan kehidupan berlalu lalang mengisi dunia, mengurai misterinya dan menjajagi setiap sudut ruang. aku dan mentari akan berdiam diri bersiap-siap menonton adegan yang sudah pasti terjadi. Ya Robii...mestikah aku harus berteriak menghardik ketidakadilan yang lalu lalang didepan mataku padahal mulutku sudah berikrar untuk diam dan bisu, padahal aku tahu keadilan itu semakin tidak tahu diri ? aku tak bisa Tuhan. tak bisa ! meski sekedar berbisik lirih. besok, lusa atau dikelak kemudian hari biar saja Engkau yang membalas, Engkau yang menghakimi. aku tak kuasa jadi penguasa. tapi aku berhak jadi penonton. wow! cuma penonton saja kok apa sih susahnya, toh aku tak akan jadi komentator.


ya... aku ingin bicara tapi tanpa kata-kata, sebab lidahku sangat kelu. aku takut mulutku jadi sembilu bagi diriku. lalu dengan apa aku harus bicara, sementara kebohongan sudah jadi kelontong dimana-mana, dimimbar-mimbar, dicorong-corong mikropon bahkan suadah dijual bak mendoan dan lontong basi. murah sekedar pengganjal perut yang kelaparan. padahal semua orang tahu makanan basi itu bisa jadi penyakit. ya sama dengan kebohongan lama-lama juga bisa menimbulkan rasa sakit. oh...manusia, kenapa

aku hari ini