Sabtu, 12 Juni 2010

1. Buat Heng di Sorga

Windu set

 

Heng…

Kabut tebal masih menyelimuti gunung itu

Masih ada petani bergelut lumpur di lereng sana

Mentari merah saga pun malu muncul dibalik mega

Dan pohon cendana bersama murainya tegar menanti bias senja

Heng…

Barangkali kau masih ingat

Tanah liat licin

Batu hitam mendampar

Kembang-kembang liar

Semua kini jadi nuansa duka

Heng…

Dengarlah ! bukit batu diatas sana bergema

Mengalunkan kidung sendu Natal

Menyertai syahdu malam kudus

Seperti persembahan bunga terakhirmu

Heng…

Semua jadi mengingatkanmu

Pada misteri tetesan darah merah itu

Selaput pucat wajahmu

Senyum sendu bibirmu

Sebelum langkah penghabisan

Sebelum membuncah jadi tangis pilu

Heng…

Kenangan itu jadi tanda tanya

Dimana kini sosokmu berada…?

 

Taman Pudang Mas Kaliurip-Serang-Pbg.

Juli 14,  ‘88

 

2. Aku Tak Bisa Menunggumu

Windu set

 

Buat Iska di Cunda Lhok Seumawe

“ Napak Tilas Losari-Pekalongan biarkan jadi jejak tak berujung”

 

Mungkin kepalang jadi takdir

Meski keyakinan mengambang

Memunafikan jadi terus menggerus

Semua tak bisa menepis gejolak rasa

 

Sepenggal kata digoresan pena

Jadi tak bermakna, Cuma jadi doa

Biar dapat tentukan langkah

Sebab aku tak bisa menunggu.

 

Lembar masa lalu telah robek

Keabadian kenangan hanya jadi belenggu

Harapan penantian pun usai disitu  

Habislah sisa waktu

Relakan semua pergi, jangan genggam

Kini sudah bukan milik kita

 

Bila sisa janji tak bisa ditepati

Jadikan itu sebagai suluh semangat

Sebab pengingkarannya sudah melukai

Jadi kebodohan yang tak bisa diulang

Basa basi justru berakhir melaknati

Pengorbanan jadi tak berarti

 

Bila esok rangkaian waktu memeluk rindu

Menyua asa tuk bersatu

Itu wajar !

Sapukan nuansa putih dibingkainya

Agar jejaknya pudar mengurai warna

 

Nanti,

Di ujung samodera harapan

Taburkan doa, pintakan pada –Nya

Agar perjuangan ini tidak sia-sia

Punya arti buat seorang yang ku cinta

Ada kedamaian dan kebahagiaan

Dalam hidup dan perkawinan kami.

 

Purwokerto,  Nopember 25, 1995.

 

3. Di Ujung Fajar

Windu set

 

Untuk sahabatku  T Furry

 

Secepat angin waktu berjalan

Membagi kerinduan pada cahaya

Mengisi nurani yang lara

Papa namun penuh asa

Andai mentari esok masih terbit di timur

Adalah nyata.

Dan kehidupan yang jadi figur ilusi

Ternyata maya, mimpi yang sirna

 

Pada pintu yang separoh terkuak

terhirup hembusan nafas lelah

Bilur-bilur kabut jadi beku

Mengemulsi bersama embun pagi

Rontokkan egois diri

 

Ketika mentari merah saga luluh diufuk barat

Jemari rapat memeluk harap

Menghalau cemas merantas bimbang

Ada tangan Tuhan disepanjang jalan

Saat kisah berujung pilu

Namamu menjerat nurani

Tatapmu menyisakan debar nadi

Merintangi langkah kaki

Menjauhkan pada ambisi

 

Dan di waktu yang pergi,

Sebuah dangau luput tertengok

Rumput hijaunya telah kering dan mati

Angin sepoi mencanda sepi

Melindap di jejak kaki

 

Sudah usai mimpi kemarin

Taburan bintang tertunduk diam

Melingkarkan lengan di leher langit

Menjagai pungguk dirindu malam

Menuliskan kejadiannya

 

Diambang fajar yang beralih

Mentari menghalau sejarah lelah

Mengambil semua elegi kehidupan

Cuma menyisakan secarik kidung

“ Memori Biru Dalam Hidupku”

 

Purwokerto, 1996.

 

4. Perseteruan

Windu set

 

Sudah biasa,

Bayu yang tiap hari berhembus

Dari ujung ke ujung jagat

Kadang mempat di sudut ruang

 

Sudah tradisi,

Surya yang selalu merayap

Dari timur ke barat

Kadang silaunya menyengat

Tanah yang mengubur jasad kehidupan

Tak bertuan

 

Perang nuklir dan perang urat syaraf

Jadi bencana

Senjata atom dan senjata klasik bersatu

Mesiu dan jerit pilu berseteru

Angkara dan nafsu menyatu

Kesombongan dan tipu menipu

Pada yang diraja dan yang diperbudak

Menukar jasa merantas nyawa

 

Lihatlah – lihat!

Tank-tank gentayangan meluncurkan amunisi

Pesawat tempur memuntahkan rudal

Pencabut nyawa tanpa nurani

Menikam raga tak berperi

Melaungkan dendam kesumat

Mencincang luluh lantak peradaban

Melintas hancur kemanusiaan

 

Dengarlah – dengar !

Tangisan alam

Mengingatkan bumi yang kian kisruh

Menghardik dengan kejamnya

Gempa dan banjir merejam jiwa.

 

Bobotsari,  Nopember14, 2000.

 

5. Ukiran Emas

Windu set

 

Sepenggal tentang kesedihan

Adalah pada rasa

Ada dan tiada

Maya tapi nyata

Pada rindunya

Senangnya

Getarannya

Juga letupannya

 

Yang maya tetapi nyata

Terpateri menjadi kekayaan pribadi

Meski telah berbatas waktu

Melindap jadi memori

Kubingkai pada ukiran emas

Bertahtakan berlian

Agar ia tetap hidup

Agar ia tetap berharga

Dalam jiwa yang mati

 

Bobotsari,  April 13, 2001.

 

6. Semakin Jauh

Windu set

 

Jiwa mengawang jauh

menggapai awan

Meraih sosokmu, memeluk ragamu

Mengusap lembut wajah sendumu

 

Pada tatap terakhir

Rambut lurus panjangmu melambai

Seperti tersenyum lembut

Menggurat kepingan kalbu

 

Masih di hembusan angin sepoi

Diri jadi diam terpaku

Beribu sembilu mengerat sarat

Berjuta duri menusuk uluhati

 

Aku terpasung

Diam – sebab suara habis didera tangis

Pasrah – sebab tak ada yang bisa dipaksa

Yang tertinggal luka kian perih

Serta rintih dalam derai air mata.

 

Bobotsari, April 21,  2001.

 

7. Rapuh

Windu set

 

Adalah harapan, ketika cinta dalam ketulusan

Bukan keinginan yang tak berarti apa-apa

Bukan impian yang sia-sia

 

Sedang sisa hari kemarin adalah

Selaksa tonggak berdiri kokoh

Tegak dalam terjang badai

Tak oleng didera ombak

Tak gentar direjam petir

 

Adalah hari ini

Rapuh oleh angin sepoi

Tergelincir oleh setetes embun

Terjerembab pada aroma kemuning

 

Ketika kebencian melanda sukma

Dendam membabi buta

Kerinduan menjadi bencana

Bagaimana rasa cinta bisa dipercaya ?

 

Bobotsari,  April 22, 2001.

 

8. Maret

Windu set

 

Kau telah pergi

Aku tahu, mungkin tak kembali

Tapi kenapa ?

Mengapa ?

Dan bagaimana ?

Satu-satu semua sirna

Matahari

Balan

Bintang

Juga hari-hari itu

Yang ada Cuma rindu

Ia masih menyatu

Pada denting gitarmu

Dan rinai hujan di bulan Maret.

 

Bobotsari, April 24, 2001.

 

9. Aku lelah, Tuhan

Windu set

 

Saat di kesendirian

Aku mesti titi jalan ini

Bersama ilusi dan intuisi Cuma

Dalam perangkap permainan

Manakala aku jadi wayang dan Engkau dalangnya

 

Tidakkah Engkau tahu Tuhan

Betapa lelah aku memohon

Pada belas dan kasih – Mu

 

Aku masih ingin punya arti dalam sisa hidup

Bagi dirinya dan manusia lain

Mungkin kebodohan dan kecerdasan terakumulasi

Jadi kemustahilan

 

Pasti Engkau tahu Tuhan,

Aku masih menyayanginya

Dan tertahan di palung cintanya

Sebab aku bukan petualang liar

Membabati belantara tanpa nurani

Perjalananku mengharap ridho – Mu

Walau sedikit mataku nyalang.

 

Bobotsari, April 25, 2001.

 

10. Sujudku

Windu set

 

Adalah rasa syukur

Adalah pengasingan diri

Adalah keluh kesah

Adalah permohonan doa

 

Dalam hening malam

Dalam ramang senja

Dalam kecerahan mentari

Dalam dingin kabut

 

Untuk berserah diri dan pasrah

Untuk berdzikir

Untuk menghalau resah

Untuk berlindung

 

Do’a kepada Alloh

Do’a untuk diriku

Do’a untuk kamu

Do’a untuk kita

Do’a untuk kami dan

Do’a untuk kalian.

Bobotsari, Mei 7, 2001

 

11. Yang Hilang

Windu set

 

Biarlah…sayap-sayap patah

Tulang belulang remuk

Luka menganga

Duka memekik lantang

 

usia telah menghantar raga

Dibalut noktah khianat

Duniapun menyungging senyum

Sebab kekecewaan menabur laknat

 

Pada waktu-waktu menjelujur peran

Menggerogoti sum-sum menekuk tulang

Surya memucat kelam

Lumuran peluh mengering disesap pori-pori

 

Pada sisa nostalgia

Kerinduan masih melela di rongga kepala

Menuai misteri berbalut mimpi

Jadi duka dan do’a

 

Pada yang hilang

Cuma tinggal bayang-bayang

Sebab waktu telah memburu

Kesabaran jadi sebatas mimpi.

 

Bobotsari, Juni 2, 2001.

 

12. Masih Ada

Windu set

Untuk A Ibra.

 

Ku kubur lembut

Tanpa nisan dan ukiran nama

Tanpa kata selamat tinggal

Sebab aku ingin tetap mengenangmu

Hingga ajalku nanti

 

Seuntai do’a tulus

Akan kebahagiaan dan harap

Akan kecemasan yang membuncah

Dosa dan khilaf

Pada intuisi yang tanpa wujud

Nuansa kelabu yang telah menyelimutimu

Tertimbun bersama waktu

Memangkas mimpi

Menghalau ilusi

 

Hingga dalam retorika

terwujud kolaborasi semu

Antara kesetiaan dan kepalsuan

Tanggungjawab juga kebohongan

 

Bergegaslah, masih ada waktu

Barangkali masih ada

Sisa maaf.

 

Bobotsari,  Juni 6,  2001.

 

13. Happy Return the Day

Windu set

Anyversary Augs, 29.

 

Hanya ucapan tertulis

Tanpa kata

Tuk mengenang sisa persahabatan

 

“ Selamat Ulang Tahun “

Semoga Panjang Umur kawan

Hilangkan kedengkian dan keangkuhan

 

Bye friend

Cuma itu yang nyata

Dustanya pada denting gitar

Dan rintik hujan.

 

Bobotsari,  Agustus 29, 2001.

 

14. Eksekusi

Windu set

 

Mari kita hitung hari

Lantas sobek lembarannya

Hamparkan kepingan mimpi yang hilang

Rekatkan bersama jarak dan waktu

 

Bila rangkai impian tak jua menyatu

Buatlah eksekusi

Jangan gantung pada diam

Atau terucap lewat kebohongan

 

Bila getar-getar nadi melemah

Benang-benang nurani merantas

Mungkin langkah harus berubah arah

Sebab kepastian mesti diragukan

Mari kita hitung hari

Lantas beri tanda tanya

Berapa dusta yang telah kita lukis

Berapa kesedihan usai kita toreh

 

Buatlah eksekusi

Kemana akan melabuhkan mimpi

Lebih mulia berkata jujur

Meski harus hancur

Ketimbang menyuapkan bara

Hingga membakar jiwa.

 

Bobotsari, Maret 24, 2002.

 

 

15. Andai Kau Ada

Windu set

Untuk Agnes Ibra

 

Biarlah…

Aku mengenangmu disini

Diamtara sunyi dan gelapnya malam

Diantara gerimis dan denting gitar

Karena saat-saat seperti ini

Selalu membuatku ingin bersamamu

 

Andai

Saat ini  kau ada disampingku

Ingin kugenggam erat tanganmu

Ingin kupeluk erat dirimu

Dan, kubisikkan satu kata manis

Bahwa, kau masih yang tersayang.

 

Bobotsari, Maret 24, 2002.

 

16. Luka

Windu set

 

Jangan katakan apapun andai bisa

Sumpah serapah adalah sampah

Ceritapun jadi tidak bermakna

Sekedar melepas belenggu jiwa

Sanubari ternyata putih bersih

Kadang terungkap dalam jelma tangis

Juga pada kebisuan sunyi

Semua bergulir lirih

Nyanyian tanpa suara

 

Sebuah pemberontakan dalam diam

Tanpa gemuruh badai

Tanpa siukan topan

Namun gemanya tetap membahana

Bekasnya pun menganga

 

Lebih tepat ungkapan pasrah

Dan katakan

Ini khitah tak bersolusi

Ketimbang diam mengulur waktu

Agar bisa bersendawa

Lega

 

Bobotsari,  Maret 28, 2002.

 

17. Harapan

Windu set

 

Pada angan yang merajut

Ada harap larut dalam keinginan

Sebuah istana Maimun

Taman beraneka bunga

Sungai mengalir diantara rerumputan

Gemercik air melantun disela batu gunung

Angin semilir membawa aroma melati

Aku terlelap dipeluk mimpi

 

Ketika embun bergayut dipucuk rumput

Kicau murai riang bersahutan

Kupu-kupu bersliweran memadu kasih

Kokok ayam berkeruyuk riuh

Adalah isyarat fajar menyingsing

Aku hentakkan selimut malamku

 

Ketika laungan cemara menatap mega

Deru mesin-mesin meraung bising

Mengubur tawa membekap cerita

Mengurai tenaga berbasuh peluh

Aku terpasung dalam harap

Bergolak dalam do’a

Menanti belahan hati

Membawa kabar gembira

 

Ketika dedaunan mulai meluruh

Semburat jingga diufuk barat

Jengkerik mulai menderik

Bulan sabit mengintip

Lantunan ayat suci menggema

Aku berserah

Kusampaikan bersama tetes air mata

Do’a-do’a kudus

Untuk harapan yang belum usai

Di kehidupan yang baru dimulai.

 

Bobotsari,  April 16, 2002

 

18. Cuma Restu Ibu

Windu set

 

Ibu, ketika lentik jemarimu membelai wajahku

Engkau pasti tahu

Sekeping hati yang beku

Yang lara akan jatuhnya embun

Duka akan mekarnya bunga

 

Ibu, ketika tatap sendumu menjenguk kalbu

Engkau pasti tahu

Lebam membiru yang tertoreh

Bekas hantaman kepalsuan

Memarkan kebohongan

 

Ibu, ketika tanganmu merengkuh bahu

Engkau pasti tahu

Ratap kepedihan jiwa

Getar tangis nan pilu

Atas gegap genderang kebimbangan

 

Ibu, aku tak bisa memilih

Antara lambaian tangan

Atau ucapan selamat tinggal

Aku juga tak bisa memillih

Patah hati apalagi putus asa

Aku Cuma bertahan pada tonggak harga diri

Tak ingin kepelsuan

Tak mau kehancuran

 

Ibu, aku selalu simak pesanmu

Tentang sejarah yang harus diabadikan

Agar tidak mati dalam penyesalan

Katamu dunia ini bukan figur pajangan

Ataupun pahatan sketsa tanpa bentuk

Tapi dunia ini kayu sang maestro ukir

Gagah mengukir gemilang masa depan

 

Ibu, biarkan aku memilih

Melakoni sejarahku sendiri

Agar aku kenal peradabanku

Dan tak sesal atas keberadaanku

Tak kecewa harus lontarkan caci maki

 

Ibu…

Aku Cuma mohon restumu…

 

Bobotsari, Agustus 27, 2002.

 

 

 

 

19. Bangkitlah !

Windu set

 

Matahari pagi mulai merona

Semburat merah menuai asa

Waktu bertarungmu kian dekat

Jangan lagi pedulikan debu jalanan

 

Tegarlah berdiri, tantang kemalasan

Meski peluh kian bercucuran

Kulit kian kelam menghitam

Asap jelaga dari dubur knalpot membalur tubuh

 

Asah mantra dibatinmu ucap doa

Taburi ragamu dengan peluh

Bangkitkan semangatmu dengan jihad

Tebarkan ranjau imanmu dengan cinta

 

Dan terkuburlah sang petaka

Buang malas tunai mahkota dunia

Raih intan berlian dan kemuliaan

Raup bias-bias cahaya peradaban

Jangan harap uluran tangan

Jangan paksa memelas jiwa

Kubur nuansa kelam kehidupan

Bangun benteng baja dalam raga

 

Lalu tinggalkan ratap kemalasan

Sungguh, kemalasan adalah kemiskinan

Kabodohan jadi kepapaan

Ada dan tiada jangan hiraukan

 

Bingkai imanmu dengan amal sholeh

Bila makhligai kau capai jangan angkara

Shodakohkan pada yang papa

Sebab itu hak mereka

Jika kau alpa, hisabmu hina dina

Nuranimu kering kerontang

Ladang jiwamu gersang

Sahadatmu akan impotent dan lumpuh

Lalu…

Pendarkan rindu untuk-Nya

Sujudlah dengan tetes-tetes air mata

Basahi bibirmu dengan ashma’ul khusna

Lafalkan kalimat-kalimat toyibah

 

Mari, mengembara keujung dunia

Tuk menuai bekal akhirat

Jangan merintih menahan lapar dahaga

Kuak jendela dunia dengan ilmu

Baca lalu berkarya

 

Dan, taburi malammu dengan tahajud

Biarkan bintang rembulan jadi saksi

Pasrahkan jiwa ragamu dalam dzikir

Allah pasti akan menjagamu.

 

Bobotsari, Januari 15, 2004.

 

20. Satukan

Windu set

 

Tuhan…

Pantaskah aku sujud di kaki-Mu ?

Memohon atas nama ego dan nafsu

Pantaskah kuucap bujuk rayu penuh harap

Memelas menangis melantunkan ratap pilu

Di jagat fana ini

Hanya untuk dapatkan cinta manusia

 

Aku tidak pernah alpa

Mengagungkan Asma-Mu

Di saat dunia porak poranda

Di saat hujat meburai ludah

Di saat caci maki menghakimi

Bahkan sewaktu menganyam dosa

Keraguan yang terus mengusik

Pada setiap sudut ruang sanubari

Namun bibir dan hati tak juga mau berkolaborasi

Sedang tiap lubang jangat berteriak

Menghardik membentak juga mencibir

Mulut-mulut pun mencerca nyinyir

 

Ya Malikul Mulki…

Saat kubasuh jari jemari

Setiap kuhirup air suci tempayan

Setiap kuraup dan kutangkup wajahku

Aku takut menghadap-Mu

Selaksa genta bertalu menghantam jantung

Bimbangpun menyergap

Masihkah Kau pedulikan permohonanku ?

 

Ya Robii…

Dimanalagi aku bisa sembunyi

Sekedar mengatur napas memapas lelah

Adakah perigi tempat ku berkaca

Mungkinkah langit menggantungkan awan

Untukku berteduh ?

Ataukah tanah merah inipun meronta ku pijak ?

 

Wahai Penguasa Semesta

Aku masih insan biasa

Dari seonggok tulang segumpal daging

Dan beberapa liter darah

Mataku masih terpesona dunia

Keinginanku masih menggelora

Sementara dosa dan kemunafikan terus melanda

 

Patutkah aku menggelar sajadah

Bersujud memohon dan berharap

Menengadahkan tangan dalam laungan do’a

Tanpa akhir dan tidak kenal lelah ?

 

Sebab, akulah ilustrasi kehidupan

Dinasti kahyangan penghuni persada

Yang terbuang jatuh ke mayapada

Melayang dalam samudra kegelisahan

Mencari tongkat tuk menopang

 

Ya Pemilik Persada

Tambatkan aku pada sebuah perahu

Walau keping hati nahkodanya telah retak

Maka biarkan aku jadi perekat

 

Aku akan terus berharap

Menunggu jawab-Mu

Menunggu takdir-Mu

Menyatu pada-Mu.

 

Bobotsari, Januari 17, 2004

03:07.

 

21. Untukmu T

Windi set

 

Malam sudah larut hanny…

Bayangmu memburu alam mayaku

Mencabik perih sanubariku

Akupun merintih tanpa suara.

13/7/04. tk 00:49.

 

Malam sudah larut permataku…

Kusujudkan kepalaku dalam tangis kepasrahan

Disehelai sajadah biru membentang

Satu-satu air mataku jatuh disitu.

13/7/04. tk 00:49.

 

Malam sudah larut belahan hatiku…

Kubawa kamu dalam do’aku

Kusimpan kamu dalam lubuk hatiku

Agar selamanya bersemayam disitu.

13/7/04. btk.

 

Malam sudah larut sobatku

Kukubur rinduku bersama intuisi

Dalam diam, dalam hati

Cinta tak selamanya harus memiliki.

13/ btk. 7/04.

 

Malam sudah larut kasih…

Bintang dilangit sana berkilau indah

Gemerlapnya laksana permata

Adakah satu yang jatuh untukku ?

28/7/04. tk

 

Malam sudah larut cinta…

Angin sepoi nan lembut menusuk kulit

Dingin ini berselimut kabut

Namun lebih dingin hatiku !

29/7/04. tk

 

Malam sudah larut sayangku…

Suara jengkerik bersahutan

Seirama suara hatiku berbisik lirih

Aku mengenangmu dengan air mata !

30/7/04. tk

 

Malam sudah larut imutku…

Buli-buli menjerit tak tampak rupa

Nada suaranya berbaur nafas lelah

Adakah dongeng ini esok kan usai ?

31/7/04. tk

 

Malam sudah larut mutiaraku…

Rembulan bersinar di pucuk pohon

Semburatnya berkilau laksana kencana

Bayangmu ada disana, rindu !

1/8/04. tk

 

Malam sudah larut teman…

Kubawa diri ini pergi menjauhi mimpi

Melantunkan do’a dan puja puji

Tuk pasrah pada Illahi Robbi

8/8/04. tk 23:45.

 

Malam sudah larut bintangku…

Semua sudah usai, tinggal aku dalam kesendirian

Tapi Allah selalu menemaniku

Memberikan punggung-Nya untukku menangis

8/8/04. tk 23:50.

 

Malam sudah larut manisku…

Kubawa kamu dalam tidur pendekku

Dan kuucapkan satu kata manis

Lebih baik dicintai dari pada mencintai

Karena mencintai itu selamanya terasa sakit

8/8/04. tk 23:50.

 

Malam sudah larut kawan…

Kelelawar beterbangan mencari mangsa

Seekor anak belalang tertangkap

Ia mati dalam diam.

9/8/04. tk 23:15.

 

Malam sudah larut sahabat…

Gerimis tipis jatuh satu-satu

Awan hitam menyelimuti langit biru

Aku menggigil kedinginan, sendiri

9/8/04. tk 23:15.

 

Bobotsari, Juli 28, 2004.

 

22. Kirana Diambang Fajar

Windu set

 

Sahabat…

Telah kucoba menepis segalanya

Menghalau keinginan dan rasa

Tetap saja kau hadir !

Kucatat sebuah penghargaan dalam diri

Tentang kebaikan yang jadi tauladan

Meski Cuma sesaat bersua

 

Kadang kulihat dalam kabut diterik mentari

Kadang bergayut lembut di bintang malam

Disana kau tersenyum bersama rembulan…

Dan aku tak pernah mampu meraihmu…

Lalu semua kusimpan dilubuk hati

Dalam diam !

 

Bila pagi tiba,

Kokok ayam bersahutan

Getar halus membelai sanubari

Ada gelombang rasa

Yang tak terwujud dialam nyata

Jadi kepedihan

Kehampaan

Gundah

Dan pilu…

Aku tak pernah tahu hatimu berada…

 

Dalam malamku,

Ada secebis ilusi

senyummu mesra

 

saat sujud panjang

Kulihat tetes air mata

Runtuh ditengadah tangan

Aku tak tahu apakah arti air mata itu, duka ataukah penyesalan ?

 

Di sebuah bukit.

Kulihat wajahmu bergayut di pucuk-pucuk daun

Matamu bening, sebening embun pagi

Kejap matamu meredup dalam aliran rasa

Kutahu kamu bahagia disana

Tak ada warna-warna duka

Dan kepasrahan meresap mutlak

 

Jika waktu itu tiba…

Kutitipkan salam pada ombak

Bahwa ada aku dan sebercak hatiku

Setia menantimu

Dalam kerinduan yang panjang

Kerinduan yang mengalir bersama gelombang

Tak pernah usai didera waktu.   

 

Minggu/Senin, Agustus 8, ‘04.

 00:59.

 

Sahabat…

Bianglala di ufuk sana menyimpan sosokmu

Diantara ribuan kembang diatas bukit,

Masih ada bayangmu berdiri

menggigil dingin diantara kobaran api unggun

Kecil, mungil dan lucu !!

 

Itu sudah usai kini ya…

Harumnya kembang dan rintik hujan

Membuncah jadi cerita lama

Yang hanya bisa dikenang

Kamu tahu, mengenang itu tak pernah bosan, tak juga jemu !

 

Sekian tahun berlalu…

Jadi tonggak sejarah bagiku, bermain di kepalaku

Tatkala lonceng berdering, wajah ceriamu hadir

Dengan riap-riap rambut basah

Dan senyum dikulum bibir mungilmu, entah bermakna apa

Aku tak pernah kenal

Karena aku tak pernah bermimpi apapun

Apalagi tentang senyummu.

 

Ada kerinduan di larut malam

Kerinduan seorang manusia

Membawa suara hatinya

Meski tanpa wujud nyata, jadi intuisi Cuma

Namun getarannya mampu mengguncang sanubari

bagai petir menyambar

kilatnya menghanguskan dan merontokkan raga

 

Aku pasrah…

Pada penghindaran diri, ingin berlari

Sejauh mata memandang, sejauh kaki melangkah

Tapi kakiku mati kaku

Belulang sekujur tubuh layu

Lidahpin kelu

Mata nanar

Dada sesak mendesak

Raga ini lunglai

Tanpa daya !

Aku seperti terjepit bongkahan batu gunung

Terhimpit sakiiiitttt….

 

Senin,Agustus  9, ‘04.

 23:57.

 

Temaram,

Teja menyusup tenggelam

Memaknai awal kehidupan malam

Terhampar gelap dan dingin

 

Dalam perpaduan suara binatang malam

Satu-satu memori kehidupan bertebar

Hadir silih berganti

Tawa dan canda ceria,

Tangis pedih dan rintih pilu

Makin menyayat, lara dan hampa

Adegan yang terpateri membenam di alam maya

Sebuah episode, tentang dirimu :

Bulat bola matamu

Tipisnya bibirmu

Senyum ceriamu

Canda dan kekonyolanmu

Semua jadi misteri !

Misteri Illahi ( katamu lagunya Ari Lasso )

 

Di kelindan gurat ceritamu

Sepintas memori mengisi jiwa yang kosong

Petualangan yang merugikan batinmu

Dan kaumku !

Semua terpampang jelas

Aku rentan dengan semua itu,

Ada perasaan dan kehalusan budi

Dan sering bertanya pada diri sendiri

Apakah keberadaanmu saat ini

Bukan akibat masa lalu ?

Adakah seorang pergi dari hatimu ?

Atau ada cinta yang hilang di kehidupanmu ?

Aku tak tahu pasti…

Tapi aku yakin

Dan kau tak perlu menghukum diri

Meski kau menikmati…

 

Sahabat…

Penyesalan menghitung kebejadan masa silam

Sama artinya membohongi diri sendiri

Munafik dan bodoh !

Carilah solusi agar hidup ini serasi

Berwarna-warni

Bercahaya

Barengi semua itu dengan Iman, Taqwa dan Istiqomah

Biarkan yang telah usai pergi

Kita songsong hari ini

Hari esok

Dengan keceriaan

Lenyapkan kebohongan masa lalu

Bukan dihantui dan dikejar dosa

Namun berjuang untuk menghapuskan dosa.

 

Selasa,  Agustus 10,  2004.

 

Sahabat…

Bagiku besok adalah gaib

Tak tahu apa kan kerjadi

Aku memiliki hutang kebaikan

Yang terangkai dalam amal sholeh

Aku merasa tidak bisa melunasi

Maafkanlah akuuu…!!!

 

Pwt, Kamis  Agustus 26, 2004.

 

23. Tuk Agnes Ibra

Windu set

 

Terpateri di edisi ini,

Tanggal dua puluh sembilan Agustus

 

Dirgahayu cinta yang agung

Alam keabadianmu bak serpihan mutiara retak

Mengabur hablur

Membawa bayang gelap

Seperti kabut pagi yang melambung

Jauh membawamu pergi

Makin jauh…

Tanpa ucapan sebening embun

Tanpa tatapan semesra mentari pagi

Tanpa senyum sepilu rintihan bayu

Tanpa lambaian tangan selaksa nyiur

Semua merambat hening

Merayap dan lenyap

 

Daun-daun luruh

Rontok gugur satu-satu

Jatuh tertiup angin

Melayang tersangkut di pokok ranting

Tertusuk, robek, tercabik dan compang camping

 

Dirgahayu kasih terlarang

Dimana jasadmu berbaring ?

Diujug belantara

Ada tanah merah menggunung

Dan batu nisan tak bernama

Hanya dupa wangi dan kemenyan cina

Beraroma menyengat

Menusuk batok kepala mengaduk perut

Pening dan mual

pernik mistik dan perlambang sirik

mengusik jangat

itukah kau ?!

bersemayamkah jasadmu disitu ?

 

aku takut arwahmu melayang

membidik dengan cakar-cakar tajam

menggorok leher dan mencabik raga

padahal aku sulit sembunyi

gampang dikenali

oh jangan !!

aku bukan wajah perkabunganmu

mengapa rohmu terus mengejarku ?

jika aku masih berhutang, aku tidak lalai

tapi sengaja mengulur waktu

agar bisa menyatu

 

Dirgahayu mahkota berambut panjang

Ku bayar hutangku dengan untai do’a

Do’a musyafir

Dalam haus dan letih berharap

Do’a anak manusia terlunta

Bernyawa namun tak berasa

 

Semoga sisa usiamu masih berharga

Untuk mereka,

Aku

Kau

Dan kekasihmu.

Aku masih sayang kamu hingga detik ini.

 

Bobotsari,  Agustus 29, 2004.

 

24. Januari

Windu set

 

Mendung yang tak bersahabat

Membekap matahari dalam peraduan

Kelam senja tak berteja

Mencecap kepergian sekeping hati

Dalam bias luka menyirat perih

Adalah luka januari

Merejam ulu hati

Adalah januari

Selalu dalam rinai hujan

selalu air mata menghapus rona dipipi

 

Adalah januari

Menoreh kisah yang berulang

Bukan sepucuk tunas bertumbuh

Bukan kidung penghapus kemarau

Cuma kenangan yang terbengkelai

Jadi rindu tak sampai bersatu

 

Adalah januari

Nyaris abadi bahkan menyejarah

Tuk ucapkan kata “selamat tinggal”

Semoga esok jadi damai

Dalam keabadian.

 

Lereng Gunung Slamet, September 8, 2004.

 

25. Ant, Aku dalam Malammu

Windu set

 

Sudah terkodrat

Mentari tenggelam gelap merambat jadi malam

Tak ada yang menuntut perubahan

Apalagi berorasi menjegal kondisi

 

Pada kabut yang turun dalam diam

Menggurat ilustrasi, pun jadi tradisi

 

Adakah jendela hatimu terbentang ?

Aku akan menengok

Melayati seperti kemarin, dahulu dan dahulunya

Membawa selimut dingin

Dan seuntai do’a.

 

Pada rentang ilusi

Kau peluk ujud mayaku

Berpadu degup nadi dilampih sepi

Lalu naluri bicara

Lirih disela desis mendesah

Mari kita koyak selimut malam ini

Singkirkan takut, tepis ngeri

Di sesaat tiap malammu

 

Dikelindan sepi tanpa pamrih

Terkubur galau dalam damai

Bak nuansa biru mengisi rongga dada

Tidak kentara tapi nyata

Biarkan bara di jiwa hangati raga

Selalu tiap malammu

 

Ant, bila do’amu masih untukku

Datangkan asa bersama bahasa nirwana

Ciptakan harkat di jiwa

Jangan Cuma kata-kata sendu jadi sketsa

Menguap tak  berarti apa-apa

 

Ant, aku ada dalam malammu

Menembus sinyal-sinyal sepi

Melumuri dalam di rangkai bayang bayang

Mengukir noda tanpa bekas

Kadang jadi rintihan dan juga tawa

Kuberikan semua untukmu.

 

Bobotsari,  September17, 2004.

 

26. Kemana

windu set

 

kemana mesti kutentukan langkah

agar dapat bertemu denganmu

apakah menembus labirin

ataukah membentangkan sayap?

 

Kemana mesti kutentukan arah

Agar dapat menggapaimu

Apakah berjalan lurus menutup mata

Ataukah berpijak duri membelalakkan mata ?

 

Kemana mesti telusuri jalan

Agar dapat meraih hatimu

Dalam gejolak perasan, menjunjung harkat kebenaran

Semua jadi teka teki melintang

Kemana mesti aku pergi

Agar dapat menyongsong dirimu

Apakah dalam damai di kerinduan

Ataukah menunggu sampai pupus pengharapan?

Kemana ya kemana ?

 

Bobotsari, Oktober 1, 2004.

 

27. Terkaan

windu set

 

cakrawala di ufuk barat menyerlah pelangi jingga

menuntun indah cemerlang senja

adakah tampat untukku disana ?

 

jika bias mendung menggayut

bintang-bintang berpagut duka

tangis memburai langit

lalu bimbang bertanya,

mengapa ada kehidupan tanpa makna ?

jika bayu membuai lembut

derai gerimis jatuh dan pecah

kabutpun melumat hijau daun

tanyakan pada panduan musim

apakah gelora cinta masih bersendawa

menelusur pengertian,

meraih mimpi,

mengejar sisa kesempatan

 

jika daun-daun gugur

langkahku terseok tak pernah pasti

sering limbung, tersangkut dan jatuh

padahal waktu kian memburu

apakah sudah terlanjur salah?

 

Bobotsari, Oktober 2, 2004.

 

28. Cinta Dalam Dosa

windu set

 

Pernah terenda jaring-jaring rapuh

Diantara bingkai benang kepalsuan

Sarat gelegak hasrat

Melumat nikmat, laknat dan maksiat

Cuma berkurun sesaat

 

Kebohongan jadi kulminasi lumrah

Tak layak dipertanyakan

Cinta mengusung ruhnya pada cahaya

Dipembaringan rembulan

yang wajahnya meredupkan birahi

 

di kelindan penyesalan

kerinduan pun menjauh

terkubur dibingkai cahaya

dijaga mata-mata malaikat

jadi lembut memagut

jadi damai menyatu

 

meskipun….

ketika malam merengkuh lelah

jiwa lemah ini sering berbalik arah

menjelujuri celah rawan dosa

laksana setan dalam wajah pelacur

mencekik dalam belaian birahi

akhirnya kolaborasi itu terjadi

hasrat duniawi membuka jalan sendiri

menutup sorgawi.

 

Bobotsari,Oktober 4, 2004

19:47

 

29. Di Ramadhan ini

Windu set

 

Semoga limpahan rakhmat dan karunia

Senantiasa bernaung dalam pelukanmu

Alloh Tuhan Yang Maha Rakhim menjagamu

Melindungimu dari setiap cobaan dunia

 

Bulan suci ini kita jaga kawan,

Biarkan dosa lampau adalah milik setan

Hari ini nurani kita bersih

seputih kain kanvas seniman besar

kelak setelah usai puasa Ramadhan

akan kita tulis dengan tinta emas

dibingkai dengan ukiran do’a

agar di dalamnya ada rangkaian amal sholeh

 

tiap malamku ada sejumput do’a untukmu

tak pedulikan rasa malas, bahkan sedih

entah untuk apa, kenapa dan mengapa ?

mungkin kehendak Illahi

tanpa ada yang meminta pun menyuruh

bukan atas sebuah hutang atau pembalasan

tapi kehendak nurani yang tak bisa terelak

 

yakinlah, ini bukan cinta atas nafsu

tidak penghambaan diri atas kebodohan

ia hanya datang tanpa kusadari

kucoba mengelak dan mencaci diri

untuk sekedar berlari menjauhi mimpi

 

Aku belum putus asa untuk berkaca

meski cerminku kalah, retak dan memudar

mungkin aku harus mengenakan kaca benggala

agar bebas meneropong jiwa bejadku

agar aku dapat mulat saliro hangroso weni

dan jijik melihat diri sendiri

 

Mari kita isi Ramadhan ini dengan tadarus

shalat malam dan saling mendo’akan

aku masih menjaga keto;olanku dengan do’a

biarkan kamu mencaci maki

agar aku tahu diri dan juga bisa benci

 

Malam ini, kedamaian menyelimuti jiwa 

noktah kelabu nyaris sirna

berserah dalam sunyi panjang

diatas hamparan sajadah hijau

 

Kutepis kata hatiku

dengan sebuah do’a ghaib untuk ghaib

meski kamu sangat jauh

aku yakin Alloh akan mengabulkan do’aku

bukankah do’a seorang yang sakit akan dikabulka-Nya ?

 

Mari kita gapai Ramadhan ini tanpa rasa benci

jauhi saling menghujat, menghardik dan mengejek

kumpulkan amal ibadah sebanyak air dilaut

tuliskan seluruh kalam Illahi

jadikan semua pohon diatas bumi sabagai penanya

dan air laut disemua lautan ditambah tujuh samodra

sebagai tintanya

 

Kita pasti akan lelah kawan…

namun Alloh akan bangga dengan umat-Nya

kita bangun kata jihad fisabilillah didiri

bukan dengan menguhus pedang tajam

bukan dengan meledakkan bom bunuh diri

tidak dengan meracui idealisme

 

Ada kata abadi yang tak pernah mati

SABAR DAN SUKUR

Jika didunia tidak kita temui berkahnya

insyaAlloh diakherat kelak jawabannya

 

Di Ramadhan ini ada satu kerinduan

menjabat tanganmu dan mengatakan :

“ tolong maafkan aku, karena telah banyak merepotkan kamu “

 Mau yaaaaaaa, ya…ya…ya…???!!!

 

Bobotsari, Oktober 21, 2004

 

30. Renjana

Windu set

 

Untuk seorang ikhwan sholeh yang lagi menanti “sorga”

 

Senyum dalam rentik kepiluan

Menggapai disepanjang do’a

terjaga diantara kepulasan

merintih disaat ada tawa membahana

 

Ketika terpejam dalam hirup nafas dalam

selintas bayang merasuk sukma

ada getar lembut di dada

menyingkap tabir teluki jiwa

 

Ketika namamu terucap dalam diam

rasa berasa melalap raga

menggelepar angan berbaur sedu sedan

menahan tetes air mata jatuh

 

Tatkala sekecup cium memagut senyum

mengawang dalam pelukan renjana

bibir kian memutih pucat pasi

menggigit luluh lantak ungkapan kata

 

Sementara genderang terlinga menggerit pekik

mendesau gemuruh nada nadi

melampih rasa nyalang menerjang

mengiris ulu hati… perih

 

Disaat mata merapat perlahan

menebar tirai maya menuai lara

lidah makin kelu

nada suara terpenggal sebatang tenggorok

 

Ada kidung asmarandhana

lembut meresap menyusup jiwa

menebar semerbak aroma gaharu

membuncah hasrat tuk menyatu

 

Atma berbalut raga makin melemah

pautan benang merah merantas

tergesek tralis berduri tajam

terantuk tembok jurang pemisah

 

Asaku luruh rontok satu-satu

mengharu biru dalam rinai do’a

kusandarkan diri pada punggung Illahi

kupasrahkan segenap takdir lewat kata hati

Bahwa :

“Mencintaimu tidak berdosa, karena kutahu

  cinta tidak selamanya harus memiliki”

“Mencintaimu tidak bersalah, karena kau tahu

  cinta memang tidak harus selalu bersatu”

 

Sahabat, ini langkara bukan ?

biarkan semua melangut, menguit bahkan mengoyak

biarkan ini menjadi kirai kintaka hidupku

selama keranta belum menggerogoti kunarpaku

 

Bobotsari, Nopember 19,  2004.

 

31. I’tiroof ( sebuah pengakuan )

Windu set

 

Allah… ya Allah…

Aku terpelanting dalam risau

menyeruk di sebuah wajah

ada damai menusuk rindu

 

Allah ya Rabbi…

aku terpuruk dalam resah

ketika sebuah bayang melintas

rantai kata, mati membisu

 

Allah Tuhanku…

jika aku rindu, pupuskanlah

aku mau tidurku damai

dalam pelukan ridho-Mu

 

Allah…ya Rakhman…

sujudku dalam ampunan-Mu

jika aku lalai sadarkanlah

aku ingin cinta dalam ketulusan

 

Allah…ya Rakhim…

takbirku adalah untuk-Mu

bila aku terlena, bangunkanlah

untuk kembali pada-Mu

 

Allah…ya Kudus…

junubku dalam air surgawi

andai aku dalam najis, sucikanlah

bersihkan aku dari noktah hitam

 

Allah…ya Mutakabir…

cantikku ada dalam jiwa

tidak selaksa mawar merekah

cukuplah seharum melati

 

Allah…ya Muiz…

jujurku tak ada dibibir

andai aku terpaksa dusta, ampunilah

dongakkan aku melihat-Mu

 

Allah…ya Karim…

mimpiku diatas bintang

jauh menunggu datang fajar

menyatu dalam kasih-Mu

 

Allah…ya Hafidz…

ketika aku ada harap nista

singkirkan setan di hatiku

karena aku tak tahu kapan ajalku

 

Allah…ya Malikul Mulqi…

hembuskanlah nafas taqwa-Mu

kedalam iman lemahku

agar pasti rindu dan cintaku hanya untuk-Mu

 

Subhanallah… Walhamdulillah

Wala ilaha Ulallahu

Allahu akbar

Laa haula wala quwata illa billah…

 

Bobotsari, Nopember25, 2004.

32. Mungkinkah

Windu set

 

Kucoba mencari makna, menggali tanya

kendati sesak di dada,luka di jiwa

mencarimu cinta…

 

dilintas gersang padang

suryapun rapuh memudar

kusapa dunia ternyata angkuh dan sombong

 

Budaya nista menggoda ceria

mendengus, merayu dan berbisik :

“hiasi otakku dengan sejuta tipuan

kemudian rayu dan dekap angkara nafsu

terjerat durjana ratapan hampa

dengan segala kata palsu

terbungkus sopan santun yang rapuh

pakaikan jubahmu

tempelkan dibahu segala atribut

segala kebesaran,

segala gelar

gubah dunia biar semakin tamak”

 

Sesekali kucoba bercanda

berkolaborasi dengan aroma melati

tapi hati jadi luka

dikoyak deru maksiat

 

Aku terpuruk dalam diriku

kulempar segala keluh

hanya padamu bisa mengadu

tapi, sampai kapan kita bisa sabar?

 

Jiwaku lumat dalam hasrat

terperangkap belai obsesi, untuk apa?

Entahlah…

lagi kucari satu jawaban pasti

mungkinkah aku sudah terjerat cinta?

Ataukah sebatas rindu dalam pelukan maya

 

Aku ingin menangkap gejolak batinmu

dalam cinta menggebu,

dalam duka,

dalam pikir,

dalam rasa

tapi aku tak mampu

karena aku tak pernah mengerti

apa impianmu

 

Acap kali batin bergelut tanya

apakah impianmu tentang aku

tentang dunia dan pesan-pesannya

aku jadi gundah, ternyata tak pernah mampu melukis

sketsa dirimu dalam relung hatiku

 

Sejak kamu memburu,

mengintai dan bersembunyi

semua aneh,

rasa aneh,

cinta aneh,

rindupun aneh,

karena aku tak yakin

bisa kamu rasakan saat ini

 

Bobotsari, Desember 8, 2004.

 

33. 44 tahun usiamu Ca

Windu set

 

saat usia rawan,

saat usia matangmu,

hati-hatilah !

 

bawa langkahmu menuju kebaikan

aku Cuma bisa bantu do’a

pada tiap sujudku,

dalam fajar pagi

diantara rentang kemarau

atau sepanjang musim menyatu

selama kita ada sisa waktu

 

aku ingin kamu tegar

sebab semakin tinggi pohon, anginpun kencang menerpa

aku ingin kamu bahagia

meski bukan bersamaku

 

aku ingin kamu jadi dewasa,

sebab akan banyak persoalan menghadangmu.

Aku ingin kamu jadi penyabar,

Sebab dirimu milik orang banyak

Aku ingin kamu selalu bersyukur,

Sebab dengan syukur batinmu akan qonaah

Biarkan yang lain serakah

Karena ku yakin keserakahan membawa bencana

Tawaqal dan berjiwa besar akan membawamu pada kemuliaan

dunia dan akherat, insyaAllah.

 

Selamat Ulang Tahun,

Jadikan hari-harimu berselimut do’a

Tanpa do’a perjuanganmu sia-sia

Biarkan cinta berada dijalannya

Ia tak selalu dapat kita miliki,

Tidak pula selalu harus bersatu

Biarlah ia mengisi hari-hari

dan kebersamaan ini jadi bagian hidup yang lain,

saling menyalakan semangat,

agar bias-biasnya jadi punya arti

“Happy return the day”

Desember, 8 – 2004

44 year

“Happy birthday to you”

 

Bobotsari, Desember 8,  2004.

 

34. Apakah selamanya Lilin Nyala karena Obor

Windu set

 

Inikah kepergian ?

Balak balik batinku bertanya, hingga…

Aliran darah serasa mati

tak ada tawa pun senyum kecil

angin utara jadi dingin menggigit

rontokkan helai-helai mawar

sepi

 

Tebar aroma kamboja menyengat

sukma bagai melayang hingga lepas terhempas

giris menggerus nyeri

geraham runtuk gemeretuk

menahan sedan yang tak tersembunyikan

 

Tuhan…

betapa gelap duniaku

dimana Kau sembunyikan obor penerang

aku tak punya nyali

dalam sepi, sendiri

seperti di samudra lepas

dalam badai, pekat dan gulita

cahayaku kecil berkedip-kedip

sebentar lagi akan mati

walau Cuma tertiup angin sepoi-sepoi

 

Tuhan…

Dimana berkas belas kasih

Sementara aku berdiri dikehampaan jiwa tanpa batas

Aku ogah jadi pendongeng

Meski hanya ingin berbagi rasa

sebab aku takut pamrih

 

tapi aku lilin

harus tetap berkedip

biarpun leleh dan hancur dunia harus benderang

biarlah aku menjadi lentera kecil

penghangat ditengah kebekuan

pelindung rasa takut

aku lilin

bisa membakar ranting-ranting kering

penerang langkah di kegelapan

aku bisa menipu dunia

biarpun Cuma tetes menitik

mampu menebar kehidupan

 

kutitip pesan pada obor

untuk bersama dalam damai

untuk peduli kehidupan

sebab banyak lilin kecil menanti disulut

 

Pada obor pula

aku tahu diri

mengakui dan bangga

sebab dari sinarnya cahayaku berkedip lagi

dari apinya keajaiban nyala

maka keberadaanya hidup di jiwaku

 

aku akan pergi mengikuti badai

walau hancur luluh porak poranda

sepercik sisa apimu sangat berarti

kelak dipenghujung kehidupan

kan kuselipkan doa untukmu

bahagia dunia dan akherat

aku yakin

lilin bisa menyalakan obor

dan tidak selamanya menunggu nyala karena obor.

 

Bobotsari, Desember 27,  2004.

 

35. Empati Untuk Aceh

Windu set

 

Di kota Lhouk Seumawe, Aceh Utara

Air laut bergolak keruh

dimana ikan tak tampak berenang

kecuali mayat-mayat mengambang

 

Dalam derai air mata kuucap doa

lantas terbayang betapa kedamaian hanya impian

peradaban hancur terendam

kesalihan dihina, dinista penuh cerca

manusia-manusia menjerit dan meronta

 

Rencong-rencong Aceh angkara

dengan jutaan partikel nafsunya

membacok, membelah,

menusuk-nusuk bayi tanpa dosa

mereka pemburu durjana

Dalam doa subuhku

Serambi Mekah melela

sebuah nama yang menggedor batin

mungkinkah Alloh alpa menjaganya

hingga mesiu berseteru dengan haru.

 

Bumi itu jadi porak poranda

lelaki jantan dilindas punah

GAM meradang pasrah

banyak gundukan tanah merah anyir darah

sebab diurug tergesa-gesa.

 

Hingga dijelang tidur malamku

ketika usai doa terucap

terhirup bau bangkai menyengat

kenapa Engkau seakan tak mau tahu

sebab Engkau Maha Tahu.

 

Dan ketika badai kembali mengharu biru

mengguncang dada seluruh persada

atas nama-Mu mereka masih meminta

kalau saja serambi Mekah Kau bantai punah

siapa lagi disana meng-Esakan Engkau ?

 

ataukah ini rekomendasi bagi kami

untuk mengacungkan senjata

memburu serigala durjana

tapi takut jadi pembunuh,

takut dianggap pengejar syahid

maka, tangan-Mu menjamah bumi

mengejar sendiri nafsu angkara.

 

Dalam mimpi pendekku

kulihat sekelebat saudaraku menangis

diantara masjid raksasa yang tetap berdiri megah

dan onggokan puing-puing menggunung menutupi buminya.

 

Ketika adzan subuh menggema,

aku bersujud sejenak

bertanya dalam hati

apakah ini sebuah hikmah ?

derita Aceh adalah akibat keharaman

senjata yang ditukar ganja !

 

Bobotsari,Desember31,  2004

 

36. Derita Sang Primadona

Wind set

Untuk Ik

 

Telah kukatakan dulu

pilih suami jangan karena materi

jangan silau anak pejabat

apalagi ketampanan sepintas, lalu…

tatkala terpasang cincin di jari manismu

senyummu jadi semanis madu

hingga kau terlena, lupa akidahmu

 

memori terlukis di selembar gambar

menguak takdir kehidupan

mawar yang seharusnya merekah indah

terkoyak angin sepoi-sepoi

melumati madu perawanmu

adalah persaingan yang sia-sia

kamu jadi pemenang tapi sementara

 

Lenggok gemulai di atas cat walk

diiring sorai melela

sempat nyalakan semangat juangmu

juga suara merdu nan lembut terkadang ceria

masih terngiang membahana di gendang-gendang telinga

lama-lama sirna

 

Namun sendu matamu

tertangkap dipelukanku

sebab aku tidak pernah tertipu

 

Jargon yang membuatmu terlena

pelarian atas kehampaan dunia modern

bukan lagi cerita baru

tak ada tangis sesal, solusimu Cuma ekstasi !

barang haram yang harus terbayar mahal.

 

Mata hatimu buta

naluri manusiamu tergadai

seperti dalam arena perang

ditengah ranjau menebar mesiu

kamu bahkan menapak dengan kaki telanjang

 

akhirnya

asa terlumat nafsu

lenyap bejibun makna hidup

sirna helaian rasa takut

tinggal hampa dijerat waktu

 

Teman…

sapu tanganku masih tersisa

hangat telapak tanganku masih terbuka lebar

untukmu berkesah dan berlabuh

hingga satu harapku terwujud

kembali ucapkan ikrar suci :

“Ashadu Allah illaha ilallah….”

 

Bobotsari, Januari 16, 2005.

 

 

37. Ketika Logika Bicara

Wind set

Untuk Yosephina LL yang lagi menapak dewasa

 

Masa remaja bukan berarti hura-hura

Bergolak bak sudut kota dimalam hari

Bukan arena jojing diremang discotiqe

Melelap nafas musik nan romantik

Acuh kondisi keluarga dan orang tua

Namun ia bak hijau daun terlaput embun

Sirna melela sesaat

 

Tuk mencari jati diri

Berlagak ditebaran lampu warna warni

Berbaur tepuk histeri sang pemuja

Lalu jadi primadona, jadi kapstok-kapstok hidup

Dipajang hingga dijualbelikan

 

Jangan katakan !

adakah orang lain berarti bagimu

namun coba tanyakan hatimu

apakah dirimu bisa berguna bagi orang lain

 

kecantikanmu bak ratu dunia

senyummu mengusik ketenangan lelaki

namun energimu terjebak dalam ambisi

dirongrong situasi yang tak mesti

 

duniamu penuh sandirwara

menopang derita dalam ceria

sedang bilik rumahmu adalah realita

hotel berbintang Cuma fatamorgana fana

 

mana buah karyamu ?

lebel yang menempel dijejeran piala

ataukah sorak sorai itu ?

mana kebanggaanmu ?

gemerlap gaun yang bukan milikkmu

ataukah tonjolan tubuhmu ?

 

dunia gemerlap itu egois teman,

penuh jebakan kepalsuan

berbingkai cibir dan pujian

jika hatimu tak berselubung iman

niscaya pengorbananmu sia-sia

 

Bangkit, tegakkan kepala dan busungkan dada

Kuatkan tekat bangun prinsip diri

Hapus cela dan cemooh

Jangan obral kesempatan percuma

Sebab ia tak hadir berkali-kali dalam hidup ini

 

Tebar rendah hati, kwalitas diri dan eksistensi

Bongkar keangkuhan pembebat nurani

Langkahkan kakimu diatas rentang tali rantas

Hapus cucuran keringat dengan kanvas semangat

Agar sketsa hidupmu berselimut hikmah

 

Bila biduk asamu melemah,

Terjunkan sauh selami samodra dengan kekuatan diri

Bila sayapmu melemas,

Pasangkan tangga, daki langit dengan kesabaran

Niscaya bintang akan kau raih, rembulan akan kau gapai

Jika semua terwujud,

Khusyu’kan jiwa ragamu pada sang Khalik

Taburi keterlanjuran dengan do’a dan taubat

Lantas…

Bersyukur atas rakhmat dan maghfirah-Nya.

 

Bobotsari, Januari 17, 2005.

 

38. Jawab Sang Pelacur

Windu set

 

Kamu memang bejad, tidak punya malu !

Itu opini segelintir orang awam

Harga dirimu sangat murah !

Itu kata nyonya pejabat

Hidupmu bergelimang dosa !

Itu kata nyai ustadz

Kamu induknya maksiat !

Itu kata wanita beradab.

 

Aku harus menjawab apa ?

Ya jawab saja, terserah apa katamu

 

Jika aku bejad dan tak punya malu,

Aku tak sembunyi di lokalisasi !

Jika aku sangat murah,

Aku pillih tukang becak, bukan pejabat jadi pelangganku !

Jika aku bergelimang dosa,

Di neraka pasti banyak temannya !

Jika aku induknya maksiat,

Barangkali aku juga terlahir karena maksiat !

 

Bobotsari, Januari 19, 2005.

 

 

39. Siapakah Aku

Windu set

 

Sering aku lupa diri

Berteriakn euphoria sendiri

Tolak pinggang dan memaki

Mestinya kusadari

Diatas langit masih ada langit

 

Sering aku alpa

Berkoar-koar menyebut nama

Menepuk dada semena-mena

Mestinya aku tahu

Dalamnya laut dapat diukur

 

Sering aku terlena

Terbuai puja dan puji

Mulut tertawa menganga

Harusnya kuyakini

Dunia selalu berputar pasti

 

Sering aku sengaja

Menjegal kawan memeluk lawan

Merengkuh kebahagiaan tanpa beban

Padahal aku punya naluri

Bergerak menampik kata hati

 

Kadang aku terkesima

Pada akhir mulutku berkata

Mencerca dengan urai air mata

Jiwa lelah melemah pasrah

Sementara ragaku melangkah gagah

 

Sering aku mengutuk dalam hati

Mengumpat diantara puing kehancuran

Mensyukuri musibah kawan

Kehilangan kelembutan dan tak santun

Tapi air mataku tetap jatuh

 

Sering aku menarik simpati

Mengetuk nurani manusia

Menyeru akan kasih sayang

Untuk membela si lemah dan duafa

Tapi aku sendiri tak peduli

 

Siapakah aku ?

Yang selalu terpuruk dalam kelam

Bersyukur atas penderitaan

Menangisi kebahagiaan

Khawatir pada kemuliaan

 

Rabbi…, ya Rabbi…

Bangunkan aku !

Lempar aku keras-keras

Subal mulutku dengan do’a

Penjarakan hatiku dari setan-setan terkutuk

Sadarkan aku akan akhir kehidupan

Ampunilah aku atas ketololanku.

Aku harus tahu siapa diriku…

 

Bobotsari, Januari 21, 2005.

 

40. Disini aku menangis

Windu set

 

Tak mungkin terlupa, saudaraku

Betapa derita dan tangis

Menggedor setiap manusia bumi

Akan murka Sang Illahi

 

Kuketuk hati insani

Menerobos jendela birokrasi

Menyisir nurani sang dermawan

Menadahkan tangan dijalanan

Untukmu saudaraku,

Cuma sekedar membantu

 

Semangat ini masih menyulut hati

Mulut ini masih berkoar pasti

Bantulah wahai pemilik nurani

Dermakan sebagian rejeki

Berbagilah atas solodaritas dan kasih sayang

 

Aku masih peduli,

Mengusung keranda mayat sekalipun

Berorasi dirintang jalan

Berterik mentari dan diguyur hujan

Bahkan diujung maut sekalipun!

 

Aku masih peduli,

Menuai harap membedah nurani

Pada yang berlalu lalang

Pada yang berhati binatang

Pada yang tak tahu diri

 

Biar kutelusuri di tiap-tiap pintu

Menggedor-gedor gerbang besi

Menguntai ribuan kata hati

Aku tak peduli,

Lelah tubuhku, kering keringatku, beku darahku

Aku Cuma peduli rasa berbagi

Menyatukan jiwa, merajut runtuhan nelangsa

 

Benar katamu, kawan

Aku pengemis intelek

Otakku brilliant, jubahku bertabur manik-manik

Rayuanku manis puitis

Untaian kata-katanya menggiris, menuai tangis

Sebab, aku diburu iba dan didera haru

 

Aku tak mungkin lupa,

Porak porandanya peradaban manusia

Mayat-mayat berserak dimana-mana

Anak-anak kehilangan ibu bapa

Orang tua merintih kehilangan buah hatinya

 

Sementara…

Dunia terus tak aman

Manusia laknat terus mengancam

Menyisakan geram tak terelakkan

Dimana kau letakkan hatimu wahai pelaknat !

Berpayung kelembagaan, birokrasi dan

Bertabur kepuraan, berdalih kepedulian

Kau telan habis pertanda simpati

Kau keruk bagai milikmu sendiri

 

Sungguh, kamulah koruptor paling jahanam

Tersenyum diatas mayat bergelimpang

Euphoria diatas kehilangan

Kamu laksana elang paling durjana

Memakan bangkai saudara sendiri !

 

Padahal disini,

Tenagaku makin melemah, hingga

Cuma mampu menggelar selembar kafan

Membubuhi tulisan dengan huruf  besar

Inilah musibah !

Bantulah wahai saudaraku !

Belas kasihanilah mereka !

 

Aku makin paham

Kebesaran dan siksa-Nya

Namun aku tak tahu,

Banyak manusia lebih merasa besar,

lebih bisa menyiksa dari-Nya

 

Oh Tuhanku…

Oh Saudaraku…

Apakah apakah perjuanganku ini sudah sia-sia ?!

 

Bobotsari, 2005, Januari 29. Sabtu.

 

41. Pesan Putih Buat Putraku

Windu set

 

“Jadilah anak yang bisa “mikul dhuwur, mendhem jero” bagi orang tuamu,

sebab engkau anak semata wayangku.”

 

Putraku…

Pada bumi berpijak

Ku titipkan langkah kakimu

Agar aman tanpa aral melintang

Sebab jalan hidupmu masih panjang

 

Putraku…

Pada langit yang memayungi

Ku gantungkan cita-citamu

Raihlah dengan semangat tinggi dan kejujuran nurani

Sebab untuk menggapai langit

Tidak segampang menggambarnya

Makin kamu naik ke atas

Angin kencang makin keras menerpamu

 

Putraku…

Pada udara transparan tak berupa

Ku titipkan ragamu

Agar setiap rongga dalam tubuhmu

Mengalir nafas kejujuran

Hingga pada tiap episode umurmu

Mampu memberi arti bagi kehidupan

 

Putraku…

pada samodra luas

aku pesankan kompas

sebab salah arah akan tersesat

mintalah dengan ramah

menjadi pribadi ramah akan disukai alam

 

Putraku…

Pada gunung yang tinggi

Ku titipkan kantong wasiat

Mintalah dengan santun seperti semestinya

Percayalah, kesantunan dan kerendahdirian

Akan menghargai dirimu

 

Putraku…

Pada belantara rimba

Ku titipkan tonggak-tonggak peradaban

Galilah dengan kesabaran

Dengan jemari tanganmu

Sebab tongkat tajam dan sekop runcing akan melukai

Tidak peduli pada akar rapuh

Dalam peradaban niscaya akan bertemu sejarahmu

 

Putraku…

Di puncak pohon yang tinggi

Aku gantungkan namamu

Berbingkai emas

Jagalah pohon itu agar kokoh di tempatnya

Agar namamu menyejarah dan abadi disana

 

Putraku…

Kejujuran nurani itu ibarat mata air yang jernih

Dingin, sejuk dan menenteramkan

Berendamlah didalamnya, lalu reguk sepuasnya

Agar jiwa ragamu basah olehnya

 

Putraku…

Matahari yang selalu terbit di timur, tenggelam di barat

Adalah kesetiaan abadi

Menyinari dunia

Memberi api kehidupan

Menghijaukan dedaunan

Jadilah seperti matahari

Setia pada penciptanya

Tak pernah meninggalkan tanggung jawabnya

 

Putraku…

Dunia ini adalah gambar dua dimensi kebajikan

Yang semu menghipnotis

Yang nyata bisa kasat mata

Alurnya tak bisa diterka

Jadi waspadalah dan mawas diri.

 

Many happy return the day.

 

Bobotsari, 2006 April 12,

 

 

42. Bersama Embun

Windu set

 

Setetes embun jatuh

Dari lambaian daun pisang diatas pematang

Andai engkau ada

Senyummu mengembang ceria

Mengusik kicau burung pipit

Mengoyak helai daun pisang

Menghalau was-was bulir-bulir padi

Ketika melihat sabit dan ani-ani

 

Jika hatimu tersentuh

Bangunlah !

Bersama melangkah meniti pematang

Raih jemari ini dan genggamlah

Tuntaskan peluh

Merantas sisa-sisa ilalang.

 

Bobotsari, 2006, Januari 1.

 

 

43. Goresan Air.

Windu set

 

Goresan diatas air

Adalah sketsa imitasi

Penuh misteri

Namun mengusik nurani

 

Goresn titik-titik air

seperti peluh membasuh raga

pada adegan cumbuan pejantan tua

merentang hasrat yang lunglai dalam dahaga

 

goresan air adalah

fakta tanpa bekas

cermin kepiawaian

penghantar ilusi

sarat hasrat namun jadi ironi

 

goresan air Cuma

melengkapi tanpa batas

membelai mahligai jiwa

melapih nafsu durjana

menyisihkan realita

 

goresan air adalah langkara

hanya momen sejenak

beriak-riak

bertaut

ada dan nyata

maya

lenyap

namun akan kembali…

 

Bobotsari, 2006, Juni 1.

 

44. Kejujuran Cermin

Windu set

 

Mestinya aku mentertawakan diri

Manakala seekor katak ingin jadi lembu

Bumi yang terpijak

Udara yang kuhirup

Air yang kureguk

Semua ingin kumiliki

 

Padahal,

didepanku, seberang uatara sawah

kehidupan roh-roh terbelenggu

nisan-nisan berjejer rapi tanpa kiblat

tanpa pajangan harta pusaka

 

menatap cermin, aku bergidik

mataku menyisakan kepalsuan

bibirku mengulum kebohongan

tenggorokanku panas

nafaspun sesak

tercekat

 

sedangkan…

teropong hati hanya bisa mengintip

 lewat celah sempit

hingga belum terkuak misterinya

 

mungkin

aku harus mulai menghisab

sambil menghitung nisan-nisan

mendengarkan rintihan kubur

menyesali kedholiman

sebab aku tahu

kamera Illahi pasti menelanjangi.

 

Bobotsari, 2006, Juni 1.

 

45. Prahara Persada

Windu set

 

Calon Arang berteriak garang

menyumpah serapah

Dunia dianggap tak bijak padanya,

sebab pura-pura porak poranda

Namun ia tetap hidup

menjelma jadi dewi kebijakan

muncul dalam rupa eksotis

menggoda nafsu biologis

manja menawarkan untaian kamboja

melantunkan do’a diiring para pedanda

 

Calon Arang lupa jati diri

berselimut kebijakan yang jadi bumerang

terkuak menyimpan prahara

tiap mantera mengutuk semesta

bukan mantera keselamatan

bukan pula do’a kesucian

Cuma penyelamat diri

sekedar menghindari caci maki

Bumi gonjang-ganjing

laut dan darat menyatu

udara bau anyir darah penuh jelaga hitam

membubung diterpa angina kemaksiatan

 

Calon Arang tertawa garang

digulung asap angkara

menyeringai dan melambaikan tangan

kuku panjangnya tajam mengancam

ada dendam

Entah…entah kemana terbang

Ketempatmu atau ketempatku ?!

 

Bobotsari, 2006, Juni 1

 

46. Dilematis

Windu set

 

Mustahil

Memajang potretmu diatas dupa hio

di cupuk kembang setaman

diterangi kerlip lilin

pada ruang bertebar asap kemenyan

 

Dalam bola matamu

aku bahkan melihat nirwana

gemulai bidadari sorga

penuh permadani kelembutan nurani

 

Ini yang terpendam jauh dilubuk hati

tentang hirarkhis manusia

pada penyatuan tanpa wujud

memadukan dunia metafisis

 

Pada penghujung malam

bukan Cuma ada rentang fajar

atau bulan sabit yang berbingkai awan

atau ceracas bintang jatuh nan gemerlap

atau kokok ayam jantan

atau angin pagi segar

tapi ada tetes-tetes embun membawamu hadir

 

Ini episode yang mencengangkan !

tak perlu menunggu sempat hadir waktu

tak perlu kompromi pada rencana

hanya perlu satu sikap dengan ketetapan logika

melangkah dengan konsekwensi

atau berhenti atas nama harga diri

 

Bobotsari, 2006, Juni 3.

 

47. Menguak Misteri

Windu set

 

Meski kelopak mawar telah rontok

usai jabat tangan terakhir

sebaiknya kita sukuri

Misteri kecil di sudut mata

sudah lama tersirat di kitab langit

sebagai rencana alam

biarlah…

 

kelopak mawar adalah pertanda

mengoyak misteri kecil

pada episode terakhir  

sembari,

bersenandung tentang alam dan penciptanya

menyiran bunga yang lain dan

mendongengkan peri-peri kahyangan

tetaplah menunggu jawab terkuak

tetaplah menunggu waktu bergulir

 

Mata dan jabat tangan

Cuma mengisyaratkan sisa impian

Menyisakan proses yang dipertanyakan

Tentang cinta manusia yang tak wajar

 

Pada alih jaman

dongeng-dongeng menjadi tawa dan tangis

impian kesetiaan sia-sia

menjawab

misterinya.

 

Bobotsari, 2006, Juni 5.

 

48. Sesal

Windu set

 

Resah terus bergulir

menyikapi tabir kebodohan yang baru usai

Cuma ada sepercik kepuasan

belum berakhir

berharap menjadi seharum melati

 

Daya upaya nyaris dititik penghabisan

peluh terperas membaluri daki

pori-pori putih terasa garam

 

Sesal yang mengaliri nada nadi

Melayati ketololan diri

pun melaknati tragedinya

serupa nelayan mengutuk pada badai dan topan

 

Pada pergumulan batin 

Nada nadi bergolak pesat

Jemari bergetar meremas keras

Pikiran dan perasaan menggumpal 

menjegal waktu berevolusi

saling berdebat ajukan solusi

 

Namun, semua jadi pengulur waktu

Dan tak berarti

Hingga sesal itu pergi

Tertinggal onggokan tulang belulang

Air mata duka

dan iringan gema-gema tahlil

 

Bobotsari, 2006, Juni 5.

 

 

49. Ketika Kejujuran Dipertanyakan

Windu set

 

Pada samudra biru

Perahu melaju setengah ragu

Kemana berlabuh ?

 

Di batas cakrawala yang kian pudar

Bintang timur meredup

Haruskah kugambarkan peristiwa ini ?

 

Pada laju perahu setengah ragu

Kusembunyikan partikel manipulasi

Nurani

Jati dir

Logika

 

Kuyakinkan pada badai

Bahwa telah kukirim somasi pribadi

Sekedar mengurai takut yang sudah diujung tanduk

 

Pada kejujuran yang dipertanyakan

harus kupertaruhkan peranku

Dan kisah ini

Harus berakhir !

 

Bobotsari, 2006, Juni 6.

 

 

50. Takdir Gadis Kecil Pemilik Mimpi

Windu set

 

Matanya mengutuk suratan nasib

Setiap jengkal kesialan yang merenggut

hidup terasa pahit dan tak adil.

Setiap pertemanan jadi momok mengerikan

Pada Trotoar

Lampu-lampu jalanan

Kolong-kolong jembatan

Jadi tempat yang tak lazim tuk berharap

 

Wajahnya mengurai duka

Diatas tumpukan kardus

Berselimut kabut malam dingin memagut

Mimpi-mimpi pun tak pernah usai

Adalah tentang hari esok

Menyusup puing reruntuhan

Mengais sisa kehidupan

Melagukan ritme yang tak ramah lingkungan

 

Bumi bukan milik siapa-siapa

Pada gadis kecil dekil adalah

Sorga

Neraka

 

Matahari jadi pertapaan sejati

Menanam semangat berharga diri

Membentangkan jejaring kehidupan

Bertahan diketidakpastian

Atau mengurai keterpaksaan takdir ?

 

Bulan jadi perisai

Menjagai kebiadaban peradaban

Menguak lembaran nasib

Mendefinisikan makna keberadaan

 

Disini

Di bumi ini

Gadis kecil dekil

Tak memiliki dan tak dimiliki siapa-siapa

Ia Cuma milik alam

Dengan mimpi-mimpi kecil.

 

Bobotsari, 2006 Juni 6.

 

 

 

51. Kesabaran yang terkoyak

Windu set

 

Terimakasih,

Aku mesti ucapkan

Atas ilmu kesabaran pemberianmu

 

Atau

Aku mesti jujur

Melaknati atas nama kesabaran yang terkoyak

 

Sebab

Pada pertentangannya

Aku tak mampu mereduksi

Juga tak bisa menggali arti

 

Mungkin

Aku tolol membaca situasi

Dan tak becus menghargai diri

Mudah terhanyut cerita fiksi

Yang sesungguhnya aku telah memprediksi

Lewat kata hati

Dan terjelma kejadiannya

 

Adakah harapan yang tergantung pada ruang hampa ?

 

Terimakasih

Atas kesabaran itu

Walau sejujurnya

Melampih resah sanubari

Dan membuatku gila.

 

Bobotsari, 2006 Juni 7.

 

52. Kesadaran Tanpa Dialog

Windu set

 

Setiap kata terucap

Merilis lagu ketololan

Bukan irama gembira

Melainkan teruap angina panas

 

Kesadaranku cuma,

Membangun harga diri

Tanpa menyisakan dialog

 

Keangkuhan jadi sangat kubenci

Keangkuhan jadi sangat kulaknati

Mengikis paritasuci dalam doa

Pada titian waktu

Pada jejak yang tertinggal

Di atas ruang batu

Di dalam ruang kaca

Pada ejaan tanpa kata-kata

 

Telah pupus

Dalam diam

Tanpa dialog.

 

Bobotsari, 2006 Juni 7.

 

53. Menghitung Waktu

Windu set

 

Senja berkabung di bukit sunyi

Mengeja patahan kata dalam relung sukma

“percuma”

Dia sudah tak ada

Tanpa warta

Mungkin mati dalam diam

 

Seekor kelelawar terbangun mencari mangsa

Tanpa canda mengepak sayapnya

Nyamuk-nyamuk bergidik

Belalang lindap lintang pukang

Terdiam disela ilalang kering

 

Angin menebar berbagai racun

Air liur pahit berbisa

Keongkongan menyempit

Tercekik

 

Sungai mengalirkan cerita duka

Menangisi batu-batu yang terbelah

Meratapi pepasir yang tergali

Melayati ikan-ikan terkapar mati

Sedang amplitudo musim tak jelas alurnya

Hanya harap dan prediksi

 

Mentari redup di batas labirin senja

Terkulai lelah tanpa daya

Diam dikeabadian

Berserah pada takdir

 

Senja berkabung di bukit sunyi

Tak ada suara-suara

Tak ada sepoi angin menyapa

Harapan berlalu jadi mimpi

Perlu waktu lama

Untuk kembali.

 

Bobotsari, 2006 Juni 7.

 

54. Hidup dan Mimpi

Windu set

 

“Hidup dalam impian adalah dongeng anak-anak.

  Mimpi dalam kehidupan adalah keruwetan realitas”.

 

Pada hidup

manusia berjalan dibatas logika

merentas jejak

menggapai asa

melintasi suka duka

tertawan fakta

 

Pada mimpi

ada wujud kejujuran nurani

atas letupan kata hati

yang terkubur imajinasi

terkadang menguak masa yang jauh

berkelindan pada kelok peradaban

menjembatani jiwa dan roh-roh leluhur

tersamar dibawah sadar

 

Hidup dan mimpi

berporos pada lintasan waktu

tersemayam di sebuah kitab

pada lembar berbeda

berbatas ruang dan waktu

pada titik akhir pencarian makna

adalah cara diri membaca

berturut atau terpenggal

 

Hidup dan mimpi

tetaplah realitas yang harus dihadapi.

 

Bobotsari, 2006 Juni 8.

 

55. Mengabadikan sejarah

Windu set

 

Telah ku bangun sejarah silam

Di atas bumi bersimbah tekhnologi

Bersama generasi yang terlanda degradasi

Pada abad moralitas di peti es-kan

Koruptor dan demonstrasi di sua-kan

 

Mataku menatap ke depan

Sementara hatiku tertinggal

Pada puing-puing reruntuhan jaman

Dimana berada era tanpa retorika

Tanpa manipulasi

 

Di kamarku tersisa radio usang warisan nenek moyang

Merk nya terhapis debu waktu

Dulu jadi idola

Saksi lintasan peristiwa

Mengumandangkan keping-keping moment

Mengabadikan sejarahnya

 

Ketika musim pancaroba mendera

Virus beradaban melumat rakus

Bersliweran alegori

Memberondongkan segepok argumentasi

Hingga mengacaukan frekwensi

Radio ini masih bersaksi

 

Ketika bertelanjang diri

Diatas dipan usang peninggalan nenek moyang

Terkuak serentetr mimpi dilangit-langit kelambu

Tentang sejarah leluhur

Pada generasi terkubur

Dengan perjuangan yang belum usai

 

Mungkin radio usang ini jadi amanat

Untuk berperang

Mengabadikan sejarahku.

 

Bobotsari, 2006 Juni 9.

 

56. di ruang ICU

Windu set

 

Diam

Menghitung kebejadan masa lalu

Berdo’a

Dan menunggu waktu.

 

Bobotsari, 2006 Juni 9.

 

57. Pesan Penggali Kubur

Windu set

 

Galikan tanah kuburku

Sedalam ini

Agar bangkaiku tidak menyebarkan bau

Sebab di atas bumi ini

Kebusukan sudah menebar dimana-mana.

 

Bobotsari, 2006 Juni 10.

 

58. Episode Terburuk dalam Hidup

Windu set

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Pada ranah yang tak ramah

Kesadaran terlepas

Berseteru dengan nafsu

Menitikkan hasrat melampih maksiat.

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Pada senyum mengulum caci maki

Menebar keyakinan membumi

Mereguk nafsu tanpa kendali

Dan luluh lantakkan iman dengan basa-basi

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Pada manusia penuh ilusi

Di tengah religi diadaptasi

Peradaban diadopsi

Birahipun direguk tanpa peduli

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Pada sosok penegak laknat

Dosa dan ampunan jadi setara

Manusia gampang memintanya

Sebab Tuhan Maha Pengampun

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Pada kesalahan menghujat

Hari ini bertaubat

Esok kembali menyemai laknat

 

Ini episode terburuk dalam hidup

Menyelubungi kemunafikan dengan budi

Menyelinapkan angkara

Apakah

Sesungguhnya kita didalamnya ?

 

Bobotsari, 2006 Juni 21.

 

59. Pada Buku Suci

Windu set

 

Dalam buku suci tertulis

Perdebatan nurani

Bertahan pada eksistensi dan harga diri

Membopong segepok argumentasi

Menyatakan keinginan hati

 

Dalam buku suci terbaca

Ratap kehampaan jiwa

Tangis ketidak berdayaan nurani

Meronta mengalahkan ambisi

Pada keinginan menguasai

 

Dalam buku suci tertoreh

Luapan nelangsa jiwa

Atas perjuangan yang jadi tanda Tanya

Pergulatan merebut harta dan tahta

Hendak merengkuh dunia

 

Dalam buku suci tertera

Arti sengsara sesungguhnya

Kesadaran dan waspada di tiap kemungkinan

Sebab hidup bukan kemauan sendiri

Yang bisa dijalankan sekehendak hati

Tapi hidup adalah amanah suci

 

Dalam buku suci terpapar

Pertentangan batin

Pergumulan ego

Kolaborasi cinta dan benci

Reduksi kekecewaan dan keyakinan

Terungkap agar tak hilang keseimbangan

 

Pada buku suci terpateri

Dimensi pengabdian diri

Tuk meraih hidup abadi

Dan rasa syukur sejati pada Sang Illahi.

 

Bobotsari, 2006 Juni 27.

 

60. Pesan Tak Terucap

Windu set

 

Wahai pengembara semesta

Waspadalah jika bidukmu tenggelam

Tergoda kerang mutiara dasar samodra

Atau berbelok pada kehendak lain

Hingga biduk itu tak pernah sampai dipantai

 

Wahai pemilik nurani

Jemputlah harapanmu pada bintang-bintang

Ia akan berikan pelita jiwa, pelipur duka

Andai dalam perjalananmu bertemu ajal

Niscaya Dia akan memberimu sorga

 

Wahai pencari keadilan

Turunilah ceruk lembah

Dimana bumi berada diatasnya

Dan bias cahaya sampai disana

Tanyalah letak ujungnya

Agar langkahmu terpatah dari jalan simpang

Sebab cerabangnya mampu mengubah fakta

 

Wahai malam yang merubah wujud dunia

Membelah rembulan di langit

Mengurai pendar cahaya,

Berikan satu kesaksian

Tentang ikrar tak teringkar

yang terucap dideru ombak

agar sang bayu menyampaikan pesannya

 

Bobotsari, 2006 Juli 1.

 

61. Kesabaran Yang Terkoyak 2

Windu set

 

Untuk apa berbicara

Jika tak ada pendengarnya

Mungkin lebih bijak bertindak

Walau jadi pemberontak

 

Untuk apa menggelar diskusi

Jika lawan memihak birokrasi

Membudayakan jam karet

Mengusung bendelan kwitansi

Mempertontonkan symbol-simbol kekuasaan

Mungkin lebih bbaik meledakkan bom waktu

Ketimbang kehilangan waktu

 

Untuk apa bertanya

Jika jawabnya menunggu agenda-agenda

Lebih baikj berteriak melabrak

Ketimbang di ninabobokkan kebohongan

 

Untuk apa bersabar

Jika kesabaran Cuma klise

Menghina kecerdasan manusia

Menjegal waktu produktif

Menghilangkan efisiensi hidup

 

Untuk apa menunggu

Sementara perut berteriak menderu

Otak terlampau panas mereka-reka solusi

Lantas…

Kemana kesabaran ini mesti digadai ?

 

Bobotsari, 2006 Juli 3.

 

62. Episode Penentuan

Windu set

 

Menemui bai-bait aneh yang berdenting

Ketika kokok pertama

Cuma beberapa detik setelahnya

Jarum jam melewati aaaangka

 

Detak jantung menghentak

Memompa kegundahan yang berkarat

Titik bias tak terduga

Yang hanya sesaat di tempat

Mengutuk hasrat terlarat

 

Pada bait merangkai kejadiannya

Ketika kokok terakhir

Kehampaan mulai menjalar

Hari-hari tinggal keheningan

Sendiri

Hingga musim beralih.

 

Bobotsari, 2006 Juli 5.

 

63.Absurditas

Windu set

 

Kita pernah mengubur duka

Pada tanah tanpa nama

Tapi tumbuh aneka bunga

Menciptakan ribuan kupu-kupu

Meski tak bisa kita tangkap

 

Kita pernah mengubur duka

Pada bumi bertebar nista

Tapi jadi padang ilalang

Memburai akar-akar kegelisahan

Merebakkan harap tanpa kepastian

 

Kita pernah mengukir sekeping senyum

Dalam secawan anggur beracun

Menegaknya bersama air mata

Getirnya jadi madu

Hangatnya nyaris merantas ajal

 

Kita pernah memahat kata-kata

Pada batu-batu tak bernyawa

Mengurai kisah anak manusia

Berharap mimpi jadi realita

Melintasi edaran sang wakkttu

Untuk sampai ke sorga

 

Tapi pada akhir kejadiannya

Melindap dalam ruaaang hampa

Bergulir menjadi secebis mimpi

Dalam diam, sia-sia.

 

Bobotsari, 2006 Juli 19.

 

64. Setelah Aku Pergi

Windu set

 

Waktuku hampir habis

Tinggal beberapa saat

Menyatroni jagat seisinya

Jangan bayangkan

Sebab akan jadi hantu-hantu

Gentayangan menyergap ketakutan

Pinus-pinus tumbang

Tanah-tanah retak meradang

Bukit-bukitpun pelontos

Banjir melanda membabi buta

Kekeringan meregang nyawa

 

Bukan Cuma itu,

Bumi jadi gelap dan tandus

Tumbuh akar-akar kaktus

Menyeruak diantara fosil berserak

Mengubur situs peradaban.

 

Sebentar lagi aku lari

Mengejar raja-raja angkara

Meninggalkan generasi papa

Membopong segepok surat sakti

Menagihkan janji anak cucu

Yang kehilangan belantara rimba

Punah dilahap nenek moyangnya.

 

Bobotsari, 2006 Juli 21.

 

 

Bobotsari, 2006 Juli 21.

.

Lembutnya Keberuntungan

Windset

 

Sejumput kutuk menjerat dikelindan waktu

Menyuara dalam derai do’a

Tapi jadi terasa tak berharga

 

Dipersimpangan kaidah menggelora

Limpung beradu nafsu

Makin jadi kemunafikan

Padahal tahu dikejar dosa

Padahal ngeri menimbun laknat

 

Suara hati terlindap disekecup cium sepagut peluk

Terlena digelora kesempatan

Jadi manis dan terasa pedas dijilatan lidah

Bibirpun tersenyum kecut

 

Kesadaran tak lagi berharga

Biang-biang hasrat terkatup sepanjang waktu

pada kata-kata bermakna keberuntungan

jadi rangkaian basa basi, menakar harga diri

Sebab logika harus ada

Siapa kita !

Harga diri memang jadi sirna

Dihujam bisikan kata hati

Mungkin sama-sama menjajagi

Sampai dimana pisau naluri bersembunyi, atau

Standar kita sama “ saling mengisi”

 

Mari kita pecahkan rahasia diri

Lewat mata atau mungkin kecebis kesempatan

Tak usah terus berselubung sandiwara

Kata mati kita mesti sama

“merasakan lembutnya keberuntungan”

silent home, Bobotsari, Rabu, 9 Oktober 2008. 

 

Baru saja sunyi melintas hati, menyapa peristiwa yang berlalu,

aku dan kau terpuruk, mengalah sebelum tertiup genderang perang.

Baru saja kutulis di lembar memori,

menguntai rasa bahagia kemarin,

kau dan aku bergandeng mesra,

berpeluk diantara “asa dan realita”

haruskah kini jadi lara, dihisap tawa kepedihan diri.

Padahal cinta telah bersemi di palung hati.

 

Esok bagaimana mesti kusapa dunia,

yang kutahu takkan mungkin lagi ada dirimu,

sementara kau mendiami seluruh taman asa,

diantara kuntum melati yang pernah mekar wangi.

 

Ada mutiara keyakinan yang termahal,

disimpan sepanjang penantian hati,

mendiami ruang paling suci tanpa berbatas waktu.

Minggu, Pebruari 22, 2009.

 

Salahkah aku menafikan arti,

jika senyummu terlalu dini berubah sinis ?

mungkin tak kau kenali lagi diriku,

terpaut wajah-wajah rawan, tersumbat kata-kata menawan.

 

Kuhitung jejak sejak kita berpaut dalam diam,

terasing dikelindan waktu,

matamu bersinar bahagia,

hingga detik ini binarnya masih tersimpan.

 

Kenapa tak pernah kau katakan,

tentang manusia dan kebosanan,

tentang kemunafikan juga kebencian,

atau tanyakan jika kau alpa siapa dirimu.

 

Coba takar masa silam,

tentang dunia dan petualanganmu,

adakah dusta kau sembunyikan dariku ?

suci tidak mengukur rangkaian waktu.

Aku menyimpannya dalam sunyi,

melindapkan bersama usia bermuara.

 

Pernahkah kau berkaca diatas air,

melihat wajah dirimu beriak-riak,

sempurnakah cerminan itu ?

lalu bandingkan semirip apa denganku.

Minggu, Pebruari 22, 2009. 03.15. wib             

Cinta Putih

January 22, 2009

Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang s’lalu mendiami
serta seutas wajah yang menerangi
Pada hati…bangkitkan semangat diri
tuk lalui hari-hari

Meski kutau bagiku takkan mungkin lagi ada dirimu
Tetap saja kubiarkan engkau mendiami seluruh taman asa
di antara kuntum bunga mawar yang pernah ada diantara kita
Merekah indah diantara ‘harap dan nyata’

Ada keyakinan yang tak terbeli
Oleh ribuan hari-hari penantian hati
Susuri hidup… walau tertatih seorang diri
dan kau tetap disana, diami sudut paling sunyi
dan suci…

 Tentangmu

January 7, 2009

Baru saja kutulis namamu di diary harianku
Belum habis semua rasa bahagia kutuang
Haruskah kini kutuliskan tentang lara,
tentang kesendirian yang tak kutau akhirnya ?

Ku tau kau takkan pernah menjawabnya
Sebab kau pergi saat ku masih ternganga
Terbuai segala pesona rasa jatuh cinta
Haruskah kurobek semua seolah tak pernah ada ?

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Masih

March 11, 2008

Dulu kau adalah gadis kecilku
Dulu kau adalah adik kecilku

Hingga kini kau tetap seperti itu
Meski hanya  panggilan dalam hatiku

Jejakmu

Ada jejakmu di hati
Sejak engkau melangkah bahagia
Hingga pergi meninggalkan luka
Semuanya tertinggal

Terngiang aku saat-saat dulu
Kita berdua masih
Menjejak harapan yang sama
Tujuan yang satu… cinta abadi

Hingga lalu engkau pergi
Meninggalkan jejak yang dalam di hati
Tanpa pernah berkata, tanpa pernah memberi
Padaku, harapan untuk kembali

Takkan kuhapus jejakmu…
Biar sakit, biar pedih, atau apapun rasanya
Tetap tersimpan selama-lamanya
Hingga angin dan air mengaburkan semua

Pedih

December 29, 2008

Mereka tertawa seolah aku tak merasakan apa-apa
Seperti perpisahan hanyalah sebuah fase biasa
Mengolok-olok dan memberi semangat seadanya
Kawan… aku baru saja kehilangan cinta

Semua melarangku menangis, hatiku tak boleh menjerit
Tapi mereka tertawa… bukannya memapah jiwaku yang lemah
Tak ada lagi singa dan serigala di dalam jiwaku kini
Kumohon tolong, berhentilah menertawakan kepergiannya !

Aku hanya ingin engkau tahu, bukan menertawakanku
apalagi menghujatku… sebab engkau kawanku
Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku

Kumohon berikan aku ruang sunyi untuk mendamaikan diri
tuk mengenangnya pergi…
tuk menantinya datang kembali…
tuk membangun semangatku lagi…

Hanya Bisa

November 12, 2008

Jika memang kedua hati yang dipersatukan oleh rasa bernama cinta ini tak dapat menyatu dalam satu biduk kehidupan cinta yang utuh, biarkanlah rasa yang ada ini abadi tak bertepi.

Tak peduli apa yang mereka katakan, tak peduli mereka pada rasa yang kami satukan. Biarkan saja kami merasakan kebahagian dalam keterbatasan, atau ijinkan kami menyatu dalam satu ikatan. Kau takkan pernah merasa sedih atas apa yang kami rasa. Kau takkan pernah turut larut dalam keadaan hati yang carut-marut. Kau hanya bisa berkata. Kami… hanya bisa berusaha.

Pujangga

October 20, 2008

Ku tak akan pernah menjadi seorang pujangga, bermodalkan sebuah puisi cinta. Mengertilah, bahwa ku bukan seorang penyair puitis yang habiskan waktu dengan menuliskan segala inspirasi tentang cinta di selembar kertas seadanya, tak peduli lusuh atau baru.

Aku hanyalah seorang pria yang memiliki sebuah perasaan cinta pada seorang wanita. Inspirasi hadir dari sana. Aku bukanlah seorang pujangga sebab aku tak pernah menginginkan karya-karya. Hanya dirimu kini dan selamanya.

Bahagia Milik Siapa?

November 17, 2008

Aku tak tahu, siapakah sebenarnya di dunia ini yang paling menginginkan kebahagiaan untuk dirasa. Seseorang itu sendiri ataukah orang lain ??? Sebagaimana tentang siapakah yang paling mengerti diri kita masing-masing, orang lain atau memang hanya diri kita sendiri ???

Aku mengerti, normalnya kehidupan takkan menjadikan orangtua sebagai penguasa masa depan seorang anak, tanpa sedikitpun berpikir yang terbaik untuknya. Orangtua selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya, bukan sebaliknya. Lalu, pernahkah ada di dunia ini seseorang normal yang tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri ???

Itu hanyalah seutas perasaan klise yang masih saja berkecamuk dalam benak yang terus beranjak dewasa. Tersirat sebuah dilema panjang saat akhirnya kupilih untuk mengungkapkannya. Semoga… kelak cinta benar-benar dapat dirasakan sebagai suatu perasaan bahagia tanpa dilema.

Jika

December 23, 2008

Jika tulus cinta harus terpisahkan jarak
Jelas cinta tak lagi menggunakan indera
Jika rindu harus diobati dalam penantian
Jelas ini hanya berbicara tentang perasaan

Jika hidupku adalah tentangmu
Maka semua usahaku adalah untukmu
Jika disisiku adalah bahagiamu
Maka disisimu adalah semua pengabulan atas doa-doaku

Cinta

December 25, 2008

Sebab cinta tak butuh terlalu banyak kata
Buang semua puisi yang pernah kuberi !
Lupakan semua kata mesra yang kuucap !
Perhatikan saja berapa lama aku disini

Berhentilah untuk menatap masa lalu
Rajutlah impian kita setiap waktu
Tanpa ada egomu… tanpa ada egoku
Berjalanlah bersama sebagai satu

Sebab  cinta tak hanya ingin sementara
Belajarlah untuk s’lalu mengerti
Belajarlah untuk s’lalu memberi
Jadikan kesuciannya itu abadi s’lamanya

Puisi Penantian

December 28, 2008

Manusia tempatnya salah…
Tapi haruskah ku menyalahkanmu ?
atau menyalahkan hatiku sendiri
Yang tetap bertahan meski engkau pergi

Disini sepi… sayangku…
Tapi aku tak menangisi kepergianmu
Hatiku sunyi… sungguh sunyi…
Tanpa manis kata manjamu

Aku takkan menyalahkan siapa-siapa
Menunggumu ku takkan merasa sia-sia
Jika perpisahan itu adalah kejujuran hatimu

 

PUISI CINTA TIDAK DATANG LAGI.

Aku tahu
PUISI CINTA sudah mulai pergi
tidak datang lagi
sudah lari jauh dariku
terlalu jauh
entah dimana.

Aku tahu
PUISI CINTA sedang sakit
tidak lagi bangkit
terlalu uzur untuk memandang ku
tidak mau bersama ku
dan bosan terhadap ku.

Aku tahu
PUISI CINTA mulai benci terhadap ku
Karena aku....
dan ramai manusia lain...
sudah berhati batu!

http://sitan.blogdrive.com/

    • Friday, Dec. 26, 2008 @ 04:00:40 am

malam...
andai nanti malam itu membuat mu sakit..
tanyalah pada unggas mengapa malam itu menyakitkan?!
malam...
andai nanti malam itu membuatmu mengeluh...
fikirkan,mengapa kau mengeluh sedangkan hari2 mu baru bermula..
malam...
andai nanti malam itu telah lari jauh dariku..
katakan pada diriku itu yg terakhir...
dan,
batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..
dimana kan ku hiasi lakaran penaku??
batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..
dimana kan ku imbuhi akan harga cintaku??
kerna...
cintaku hanya secebis..
jauh di dalam kerdil tubuhku...
cintaku hanya secebis...
untuk kasih yg hanya secebis buatku..
cintaku yg secebis...
hanya layak untuk mekar untuk diriku yg kepayahan..
(untuk tan cai ling jika kamu ke sini)

aanslendro (Visitor) Friday, Dec. 09, 2005 @ 12:50:03 pm

cinta itu takpernah sakit dan tak pernah mati.
benci adalah cinta yang terpendam dalam lumpur kenistaan yang menghitam.

kalau boleh aku katakan cinta adalah bias dari kemurkaan.
krn cinta kita hidup,tapi cinta bukanlah kehidupan tapi fatamorgana dari kehidupan.

Kamu Diatasku Malam Itu

Keretakan kesetian itu selalu terdengar merdu
ditengah kegalauanmu mengenai keberadaan status sosial yang bersama kita sandang
terlihat mencolok mencekik di leherku
disetiap sudut protesmu..
aku diam

Keretakan kesetian itu terlalu meradang

Dikala semuanya yang kamu rancanakan atas namamu gagal atas namaku
Gagal bertalikan kesialan diriku karena turunan pelacur yang jelas-jelas kau tahu
Pelacur itu terperawani oleh kehidupan itu sendiri.

Kerertakan Kesetiaan itu berujung maut
Semenjak terlalu pahit untuk di kecap dan dijilat berlahan
Waktu rasa itu bermain-main dengan lidah
Saat  pisau dapur itu kau tikamkan berulang-ulang kepadaku
Ketika kamu diatasku malam itu

Keretakan kesetiaan itu terlewati sudah

Semenjak aku tergeletak lemas kehabisan darah
yang terus keluar dari arteri pulmonalis yang terputus
ketika kamu diatasku malam itu

Desember, malam itu

Di depan Gereja Santa Maria, Allen

Aku menunggumu disana

Seusai misa malam natal

Sehelai kertas bertuliskan pesan pendek itu kutemukan terselip dalam buku novel yang baru saja kubeli di flea market siang tadi.

Sebuah pesan penantian. Entah mengapa aku merasa dekat dengan pesan itu. Sehingga membuatku membacanya berulang kali.

 

Desember, malam ini

Di depan GKI, seusai melihat misa natal pagi

Aku berdiri disana

Menunggu melihatmu masuk kantor

Sebendel kertas print out kubaca. Itu kudapat dari tumpukan buku dimeja kerjamu kemarin. Sebuah no ponsel berderet-deret di dalamnya. Entah mengapa aku merasa sakit di dalam hatiku. Kekecewaan atas pengkhianatanmu. Sehingga aku harus pergi menjauhimu. Doaku semoga kita tidak pernah bertemu lagi.

Bobotsari, minggu 25 januari 2009.

puisi patah hati

Selepas malam itu
kau berlalu akupun tetap tertinggal
sambil kudekap erat-erat kepingan hati

Air mata hanya sebuah tanda perpisahan
isak tangis-puisi patah hati

Cinta begitu meraga,

tercambuk tercabik-cabik
hingga luka menganga dan darah rindu pun menetes
Tercecer ditanah kerontang, ditikam terik
jejakkan kenangan, kisah usang beribu

Dan, hingga lelah menyesah
di belahan bumi purba ini kau tak ada lagi
Kau telah pergi...
menggapai seribu gemerlap bintang
mimpi terindah yang kau nantikan sepanjang usiamu

Sudahlah...
tatap nanarku hanya pada harap kebahagian
untukmu, selalu...

Berdiri aku harus tetap tegak
mencari kepastilan lain sembuhkan perih
untuk hidup yang terus berlalu
dengan... atau tanpamu lagi

Gadis, Di Warnet, Di Malam Itu

Hatiku masih terbujur kaku menatapnya makin jauh. Punggungnya seolah menandakan kehilangan bagiku. Suatu yang belum terbangun dan kutakut akan segera hilang. Kenapa ia begitu?? Kenapa aku terlalu bodoh?? Hanya karena kami berdua masih terlalu muda. Baik dalam usia maupun hubungan nyata.

Pertama kumelihatnya di sini. Seorang gadis, di warnet, di malam itu. Lincah jarinya menari dalam sebuah tarian perkenalan dan sosialisasi dunia maya. Senyum yang sesekali terkembang dan tawa yang membahana. Semua yang kulewatkan karena memiliki cinta.

Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawanya disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutau dia beda. Karena kuyakin dia tak terjamah. Oleh buruknya keluguan pada jaman.

Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan ia tak meninggalkan hatinya. Karena keangkuhan padaku yang slalu kubawa. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta??

PUISI ROMANTIS

Pembaringan dingin pelan tapi pasti, bekukan wajahmu di otakku
Untukmu dan hanya untukmu, kujelaskan kelamku dan kukuatkan lemahku
Indah punah, sejuk busuk tanpa jelmamu
Seandainya mendung itu putih, maka deras hujan takkan mampu padamkan bara asmara
Inilah aku sang pemuja dosa, yang tak layak bermanis kosa

Romantika kita bagai candu psikotropika alam baka
Orasi emosi selalu jejali cerita kita tanpa jeda spasi
Manifestasi puisi tak cukup hangatkan mimpi unifikasi yang perlahan basi
Andai dia tak mengikatmu, dan aku tak termiliki, kita takkan menyerah kalah di akhir kisah
Nirwana dan neraka lebur lara, saat luka menyapa
Tersenyumlah terakhir kali sayang, dan lihat aku melayang tenang baurkan remang
Impian telah berkhianat selingkuhi mimpi buruk
Selamatkan saja dirimu dari lubang hitam hatiku, karena jiwaku sudah tersesat terlalu jauh

puisi terakhir

"Ini jelas luka!"
pekikku diantara beling-beling berserakan
Cawan telah mati
dan hati yang terhidang dikoyak kata-kata liar

Ya,percuma!
Puisiku tetap tertatih-tatih
lalu meraung di akhir hayatnya
-angin mengikik

Malam pun mengantuk
Bulan mengutuk
Tidurlah dan selamat tinggal!
24 Nov.08

Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu
Meski tanpamu

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Suara dengarkanlah aku
Apakah aku s’lalu dihatinya
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Kalau aku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu
Aku menunggu

Ney

Laksmi wajahmu masih kuingat
Serindai suaramu terus saja terngiang
Lamun sangkala terus menjauhkanmu
Dari diriku…

(Walau) sabak terus ku berjalan
Sepanjang makadam penantian
Merangkai harapan, menjadi
Sebentuk sani kenyataan

Laksmi wajahmu takkan hilang
Lamun sangkala makin jauh membentang
Serindai suaramu s’lalu berdendang
Di tengah sunyi dan keramaian

Buat KenzT Prabowo

Tahun ke-3

February 12th, 2009

Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Menanti berlabuhnya asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing di tengah lautan luas nan ganas
Berteman satu dayung dan satu tekad

Untungnya…
Perahu ini tetap kokoh seperti mula
Meski ombak tak henti menerjang
Meski pasang sering menenggelamkan harapan
Engkau tetap percaya, engkau tetap mengerti
Engkau tetap menanti
Tak ingin kembali, tak ingin berhenti
Engkau terus ingin bersamaku hingga ke tepi
Di pelabuhan terindah
Bersama cinta dan rindu yang kita punya
Tanpa memandang apa, siapa, tapi bagaimana

Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Penantian tanpa letih, kesabaran diuji
Di saat satu persatu cinta dua insan biasanya t’lah mati
Engkau tetap disini, tak sedikitpun isyaratkan letih

Percayalah…
Ketulusanmu takkan pernah terganti
Keyakinan dan harapanmu kan terwujud abadi
Sebab kita berjanji bukan sekedar bermimpi

 

Perpisahan


Kita Terpisah
Terpisahkan dari pandangan
dari tatapan, dari ratapan, dari tawa, dari canda, dari sentuhan
yang ada hanya ikatan di hati yang tertambat begitu dalam
kala aku mengingatmu
Saat setelah meninggalkanmu….
aku belajar sesuatu tentang cinta…
yang slama ini menjadi pilar pilar hidupku
tentang sebuah pencapaian
tentang sebuah arti kesempurnaan
dan juga tentang sesuatu yang arif
apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan
tidak menjadi air mata saat meninggalkanmu

Ratapan Kesempurnaan


perpisahan ini bukanlah ratapan
juga bukan batas ikatan
perpisahan ini hanyalah perhentian
menuju sebuah penantian
untuk mencapai kesempurnaan

karna kau harus percaya…
ada yang lebih baik untukku disini
juga untukmu disana
namun lebih baik bukanlah sempurna
dan sempurna juga bukanlah indah

dan aku pun percaya…
ada yang lebih indah dariku
bahkan lebih berwarna untukmu
begitu pula aku

tapi ketika engkau renungkan sejujurnya….
hal itu bukanlah sesuatu yang membuatmu lebih sempurna
karna memiliki sesuatu yang lebih baik

dan sebenarnya….
kesempurnaan itu..
adalah ketika engkau tambatkan hatimu pada kekasihmu
dan engkau pun berubah untuk kesempurnaan itu
dan sampai akhir hayatpun kau tidak akan pernah sempurna
dan itu adalah bagianku untuk memahami arti dirimu
dan hanya kebesaran hatimu yang slalu memelihara cinta itu

karna aku bukanlah satu
namun tercipta untukmu

Langkah kaki

Desiran suaramu seperti ombak
menyeru nyeru hatiku
membuai angan anganku
membangunkan kerinduanku
menghapus tawaku menjadi ratapan semu
sebuah ratapan yang akan aku jajaki
walaupun harus bergeliat…
merangkak…
tertatih…
aku kan slalu berjalan
untukmu

Tambatan
mari kita tambatkan hati ini
dan kuburkan kedalam tempat yang paling dalam
yang gelap gulita
hingga tak kan ada yang mengusiknya