1. Buat Heng di Sorga
Windu set
Heng…
Kabut tebal masih menyelimuti gunung itu
Masih ada petani bergelut lumpur di lereng
Mentari merah saga pun malu muncul dibalik mega
Dan pohon cendana bersama murainya tegar menanti bias senja
Heng…
Barangkali kau masih ingat
Tanah liat licin
Batu hitam mendampar
Kembang-kembang liar
Semua kini jadi nuansa duka
Heng…
Dengarlah ! bukit batu diatas
Mengalunkan kidung sendu
Menyertai syahdu malam kudus
Seperti persembahan bunga terakhirmu
Heng…
Semua jadi mengingatkanmu
Pada misteri tetesan darah merah itu
Selaput pucat wajahmu
Senyum sendu bibirmu
Sebelum langkah penghabisan
Sebelum membuncah jadi tangis pilu
Heng…
Kenangan itu jadi tanda tanya
Dimana kini sosokmu berada…?
Juli 14, ‘88
2. Aku Tak Bisa Menunggumu
Windu set
Buat Iska di Cunda Lhok Seumawe
“ Napak Tilas Losari-Pekalongan biarkan jadi jejak tak berujung”
Mungkin kepalang jadi takdir
Meski keyakinan mengambang
Memunafikan jadi terus menggerus
Semua tak bisa menepis gejolak rasa
Sepenggal kata digoresan pena
Jadi tak bermakna, Cuma jadi doa
Biar dapat tentukan langkah
Sebab aku tak bisa menunggu.
Lembar masa lalu telah robek
Keabadian kenangan hanya jadi belenggu
Harapan penantian pun usai disitu
Habislah sisa waktu
Relakan semua pergi, jangan genggam
Kini sudah bukan milik kita
Bila sisa janji tak bisa ditepati
Jadikan itu sebagai suluh semangat
Sebab pengingkarannya sudah melukai
Jadi kebodohan yang tak bisa diulang
Basa basi justru berakhir melaknati
Pengorbanan jadi tak berarti
Bila esok rangkaian waktu memeluk rindu
Menyua asa tuk bersatu
Itu wajar !
Sapukan nuansa putih dibingkainya
Agar jejaknya pudar mengurai warna
Nanti,
Di ujung samodera harapan
Taburkan doa, pintakan pada –Nya
Agar perjuangan ini tidak sia-sia
Punya arti buat seorang yang ku cinta
Dalam hidup dan perkawinan kami.
Purwokerto, Nopember 25, 1995.
3. Di Ujung Fajar
Windu set
Untuk sahabatku T Furry
Secepat angin waktu berjalan
Membagi kerinduan pada cahaya
Mengisi nurani yang lara
Papa namun penuh asa
Andai mentari esok masih terbit di timur
Adalah nyata.
Dan kehidupan yang jadi figur ilusi
Ternyata maya, mimpi yang sirna
Pada pintu yang separoh terkuak
terhirup hembusan nafas lelah
Bilur-bilur kabut jadi beku
Mengemulsi bersama embun pagi
Rontokkan egois diri
Ketika mentari merah saga luluh diufuk barat
Jemari rapat memeluk harap
Menghalau cemas merantas bimbang
Saat kisah berujung pilu
Namamu menjerat nurani
Tatapmu menyisakan debar nadi
Merintangi langkah kaki
Menjauhkan pada ambisi
Dan di waktu yang pergi,
Sebuah dangau luput tertengok
Rumput hijaunya telah kering dan mati
Angin sepoi mencanda sepi
Melindap di jejak kaki
Sudah usai mimpi kemarin
Taburan bintang tertunduk diam
Melingkarkan lengan di leher langit
Menjagai pungguk dirindu malam
Menuliskan kejadiannya
Diambang fajar yang beralih
Mentari menghalau sejarah lelah
Mengambil semua elegi kehidupan
Cuma menyisakan secarik kidung
“ Memori Biru Dalam Hidupku”
Purwokerto, 1996.
4. Perseteruan
Windu set
Sudah biasa,
Bayu yang tiap hari berhembus
Dari ujung ke ujung jagat
Kadang mempat di sudut ruang
Sudah tradisi,
Surya yang selalu merayap
Dari timur ke barat
Kadang silaunya menyengat
Tanah yang mengubur jasad kehidupan
Tak bertuan
Perang nuklir dan perang urat syaraf
Jadi bencana
Senjata atom dan senjata klasik bersatu
Mesiu dan jerit pilu berseteru
Angkara dan nafsu menyatu
Kesombongan dan tipu menipu
Pada yang diraja dan yang diperbudak
Menukar jasa merantas nyawa
Lihatlah – lihat!
Tank-tank gentayangan meluncurkan amunisi
Pesawat tempur memuntahkan rudal
Pencabut nyawa tanpa nurani
Menikam raga tak berperi
Melaungkan dendam kesumat
Mencincang luluh lantak peradaban
Melintas hancur kemanusiaan
Dengarlah – dengar !
Tangisan alam
Mengingatkan bumi yang kian kisruh
Menghardik dengan kejamnya
Gempa dan banjir merejam jiwa.
Bobotsari, Nopember14, 2000.
5. Ukiran Emas
Windu set
Sepenggal tentang kesedihan
Adalah pada rasa
Maya tapi nyata
Pada rindunya
Senangnya
Getarannya
Juga letupannya
Yang maya tetapi nyata
Terpateri menjadi kekayaan pribadi
Meski telah berbatas waktu
Melindap jadi memori
Kubingkai pada ukiran emas
Bertahtakan berlian
Agar ia tetap hidup
Agar ia tetap berharga
Dalam jiwa yang mati
Bobotsari, April 13, 2001.
6. Semakin Jauh
Windu set
Jiwa mengawang jauh
menggapai awan
Meraih sosokmu, memeluk ragamu
Mengusap lembut wajah sendumu
Pada tatap terakhir
Rambut lurus panjangmu melambai
Seperti tersenyum lembut
Menggurat kepingan kalbu
Masih di hembusan angin sepoi
Diri jadi diam terpaku
Beribu sembilu mengerat sarat
Berjuta duri menusuk uluhati
Aku terpasung
Diam – sebab suara habis didera tangis
Pasrah – sebab tak ada yang bisa dipaksa
Yang tertinggal luka kian perih
Serta rintih dalam derai air mata.
Bobotsari, April 21, 2001.
7. Rapuh
Windu set
Adalah harapan, ketika cinta dalam ketulusan
Bukan keinginan yang tak berarti apa-apa
Bukan impian yang sia-sia
Sedang sisa hari kemarin adalah
Selaksa tonggak berdiri kokoh
Tegak dalam terjang badai
Tak oleng didera ombak
Tak gentar direjam petir
Adalah hari ini
Rapuh oleh angin sepoi
Tergelincir oleh setetes embun
Terjerembab pada aroma kemuning
Ketika kebencian melanda sukma
Dendam membabi buta
Kerinduan menjadi bencana
Bagaimana rasa cinta bisa dipercaya ?
Bobotsari, April 22, 2001.
8. Maret
Windu set
Kau telah pergi
Aku tahu, mungkin tak kembali
Tapi kenapa ?
Mengapa ?
Dan bagaimana ?
Satu-satu semua sirna
Matahari
Balan
Bintang
Juga hari-hari itu
Yang ada Cuma rindu
Ia masih menyatu
Pada denting gitarmu
Dan rinai hujan di bulan Maret.
Bobotsari, April 24, 2001.
9. Aku lelah, Tuhan
Windu set
Saat di kesendirian
Aku mesti titi jalan ini
Bersama ilusi dan intuisi Cuma
Dalam perangkap permainan
Manakala aku jadi wayang dan Engkau dalangnya
Tidakkah Engkau tahu Tuhan
Betapa lelah aku memohon
Pada belas dan kasih – Mu
Aku masih ingin punya arti dalam sisa hidup
Bagi dirinya dan manusia lain
Mungkin kebodohan dan kecerdasan terakumulasi
Jadi kemustahilan
Pasti Engkau tahu Tuhan,
Aku masih menyayanginya
Dan tertahan di palung cintanya
Sebab aku bukan petualang liar
Membabati belantara tanpa nurani
Perjalananku mengharap ridho – Mu
Walau sedikit mataku nyalang.
Bobotsari, April 25, 2001.
10. Sujudku
Windu set
Adalah rasa syukur
Adalah pengasingan diri
Adalah keluh kesah
Adalah permohonan doa
Dalam hening malam
Dalam ramang senja
Dalam kecerahan mentari
Dalam dingin kabut
Untuk berserah diri dan pasrah
Untuk berdzikir
Untuk menghalau resah
Untuk berlindung
Do’a kepada Alloh
Do’a untuk diriku
Do’a untuk kamu
Do’a untuk kita
Do’a untuk kami dan
Do’a untuk kalian.
Bobotsari, Mei 7, 2001
11. Yang Hilang
Windu set
Biarlah…sayap-sayap patah
Tulang belulang remuk
Luka menganga
Duka memekik lantang
usia telah menghantar raga
Dibalut noktah khianat
Duniapun menyungging senyum
Sebab kekecewaan menabur laknat
Pada waktu-waktu menjelujur peran
Menggerogoti sum-sum menekuk tulang
Surya memucat kelam
Lumuran peluh mengering disesap pori-pori
Pada sisa nostalgia
Kerinduan masih melela di rongga kepala
Menuai misteri berbalut mimpi
Jadi duka dan do’a
Pada yang hilang
Cuma tinggal bayang-bayang
Sebab waktu telah memburu
Kesabaran jadi sebatas mimpi.
Bobotsari, Juni 2, 2001.
12. Masih Ada
Windu set
Untuk A Ibra.
Ku kubur lembut
Tanpa nisan dan ukiran nama
Tanpa kata selamat tinggal
Sebab aku ingin tetap mengenangmu
Hingga ajalku nanti
Seuntai do’a tulus
Akan kebahagiaan dan harap
Akan kecemasan yang membuncah
Dosa dan khilaf
Pada intuisi yang tanpa wujud
Nuansa kelabu yang telah menyelimutimu
Tertimbun bersama waktu
Memangkas mimpi
Menghalau ilusi
Hingga dalam retorika
terwujud kolaborasi semu
Antara kesetiaan dan kepalsuan
Tanggungjawab juga kebohongan
Bergegaslah, masih ada waktu
Barangkali masih ada
Sisa maaf.
Bobotsari, Juni 6, 2001.
13. Happy Return the Day
Windu set
Anyversary Augs, 29.
Hanya ucapan tertulis
Tanpa kata
Tuk mengenang sisa persahabatan
“ Selamat Ulang Tahun “
Semoga Panjang Umur kawan
Hilangkan kedengkian dan keangkuhan
Bye friend
Cuma itu yang nyata
Dustanya pada denting gitar
Dan rintik hujan.
Bobotsari, Agustus 29, 2001.
14. Eksekusi
Windu set
Mari kita hitung hari
Lantas sobek lembarannya
Hamparkan kepingan mimpi yang hilang
Rekatkan bersama jarak dan waktu
Bila rangkai impian tak jua menyatu
Buatlah eksekusi
Jangan gantung pada diam
Atau terucap lewat kebohongan
Bila getar-getar nadi melemah
Benang-benang nurani merantas
Mungkin langkah harus berubah arah
Sebab kepastian mesti diragukan
Mari kita hitung hari
Lantas beri tanda tanya
Berapa dusta yang telah kita lukis
Berapa kesedihan usai kita toreh
Buatlah eksekusi
Kemana akan melabuhkan mimpi
Lebih mulia berkata jujur
Meski harus hancur
Ketimbang menyuapkan bara
Hingga membakar jiwa.
Bobotsari, Maret 24, 2002.
15. Andai Kau Ada
Windu set
Untuk Agnes Ibra
Biarlah…
Aku mengenangmu disini
Diamtara sunyi dan gelapnya malam
Diantara gerimis dan denting gitar
Karena saat-saat seperti ini
Selalu membuatku ingin bersamamu
Andai
Saat ini kau ada disampingku
Ingin kugenggam erat tanganmu
Ingin kupeluk erat dirimu
Dan, kubisikkan satu kata manis
Bahwa, kau masih yang tersayang.
Bobotsari, Maret 24, 2002.
16. Luka
Windu set
Jangan katakan apapun andai bisa
Sumpah serapah adalah sampah
Ceritapun jadi tidak bermakna
Sekedar melepas belenggu jiwa
Sanubari ternyata putih bersih
Kadang terungkap dalam jelma tangis
Juga pada kebisuan sunyi
Semua bergulir lirih
Nyanyian tanpa suara
Sebuah pemberontakan dalam diam
Tanpa gemuruh badai
Tanpa siukan topan
Namun gemanya tetap membahana
Bekasnya pun menganga
Lebih tepat ungkapan pasrah
Dan katakan
Ini khitah tak bersolusi
Ketimbang diam mengulur waktu
Agar bisa bersendawa
Lega
Bobotsari, Maret 28, 2002.
17. Harapan
Windu set
Pada angan yang merajut
Sebuah istana Maimun
Sungai mengalir diantara rerumputan
Gemercik air melantun disela batu gunung
Angin semilir membawa aroma melati
Aku terlelap dipeluk mimpi
Ketika embun bergayut dipucuk rumput
Kicau murai riang bersahutan
Kupu-kupu bersliweran memadu kasih
Kokok ayam berkeruyuk riuh
Adalah isyarat fajar menyingsing
Aku hentakkan selimut malamku
Ketika laungan cemara menatap mega
Deru mesin-mesin meraung bising
Mengubur tawa membekap cerita
Mengurai tenaga berbasuh peluh
Aku terpasung dalam harap
Bergolak dalam do’a
Menanti belahan hati
Membawa kabar gembira
Ketika dedaunan mulai meluruh
Semburat jingga diufuk barat
Jengkerik mulai menderik
Bulan sabit mengintip
Lantunan ayat suci menggema
Aku berserah
Kusampaikan bersama tetes air mata
Do’a-do’a kudus
Untuk harapan yang belum usai
Di kehidupan yang baru dimulai.
Bobotsari, April 16, 2002
18. Cuma Restu Ibu
Windu set
Ibu, ketika lentik jemarimu membelai wajahku
Engkau pasti tahu
Sekeping hati yang beku
Yang lara akan jatuhnya embun
Duka akan mekarnya bunga
Ibu, ketika tatap sendumu menjenguk kalbu
Engkau pasti tahu
Lebam membiru yang tertoreh
Bekas hantaman kepalsuan
Memarkan kebohongan
Ibu, ketika tanganmu merengkuh bahu
Engkau pasti tahu
Ratap kepedihan jiwa
Getar tangis nan pilu
Atas gegap genderang kebimbangan
Ibu, aku tak bisa memilih
Antara lambaian tangan
Atau ucapan selamat tinggal
Aku juga tak bisa memillih
Patah hati apalagi putus asa
Aku Cuma bertahan pada tonggak harga diri
Tak ingin kepelsuan
Tak mau kehancuran
Ibu, aku selalu simak pesanmu
Tentang sejarah yang harus diabadikan
Agar tidak mati dalam penyesalan
Katamu dunia ini bukan figur pajangan
Ataupun pahatan sketsa tanpa bentuk
Tapi dunia ini kayu sang maestro ukir
Gagah mengukir gemilang masa depan
Ibu, biarkan aku memilih
Melakoni sejarahku sendiri
Agar aku kenal peradabanku
Dan tak sesal atas keberadaanku
Tak kecewa harus lontarkan caci maki
Ibu…
Aku Cuma mohon restumu…
Bobotsari, Agustus 27, 2002.
19. Bangkitlah !
Windu set
Matahari pagi mulai merona
Semburat merah menuai asa
Waktu bertarungmu kian dekat
Jangan lagi pedulikan debu jalanan
Tegarlah berdiri, tantang kemalasan
Meski peluh kian bercucuran
Kulit kian kelam menghitam
Asap jelaga dari dubur knalpot membalur tubuh
Asah mantra dibatinmu ucap doa
Taburi ragamu dengan peluh
Bangkitkan semangatmu dengan jihad
Tebarkan ranjau imanmu dengan cinta
Dan terkuburlah sang petaka
Buang malas tunai mahkota dunia
Raih intan berlian dan kemuliaan
Raup bias-bias cahaya peradaban
Jangan harap uluran tangan
Jangan paksa memelas jiwa
Kubur nuansa kelam kehidupan
Bangun benteng baja dalam raga
Lalu tinggalkan ratap kemalasan
Sungguh, kemalasan adalah kemiskinan
Kabodohan jadi kepapaan
Bingkai imanmu dengan amal sholeh
Bila makhligai kau capai jangan angkara
Shodakohkan pada yang papa
Sebab itu hak mereka
Jika kau alpa, hisabmu hina dina
Nuranimu kering kerontang
Ladang jiwamu gersang
Sahadatmu akan impotent dan lumpuh
Lalu…
Pendarkan rindu untuk-Nya
Sujudlah dengan tetes-tetes air mata
Basahi bibirmu dengan ashma’ul khusna
Lafalkan kalimat-kalimat toyibah
Mari, mengembara keujung dunia
Tuk menuai bekal akhirat
Jangan merintih menahan lapar dahaga
Kuak jendela dunia dengan ilmu
Baca lalu berkarya
Dan, taburi malammu dengan tahajud
Biarkan bintang rembulan jadi saksi
Pasrahkan jiwa ragamu dalam dzikir
Allah pasti akan menjagamu.
Bobotsari, Januari 15, 2004.
20. Satukan
Windu set
Tuhan…
Pantaskah aku sujud di kaki-Mu ?
Memohon atas nama ego dan nafsu
Pantaskah kuucap bujuk rayu penuh harap
Memelas menangis melantunkan ratap pilu
Di jagat fana ini
Hanya untuk dapatkan cinta manusia
Aku tidak pernah alpa
Mengagungkan Asma-Mu
Di saat dunia porak poranda
Di saat hujat meburai ludah
Di saat caci maki menghakimi
Bahkan sewaktu menganyam dosa
Keraguan yang terus mengusik
Pada setiap sudut ruang sanubari
Namun bibir dan hati tak juga mau berkolaborasi
Sedang tiap lubang jangat berteriak
Menghardik membentak juga mencibir
Mulut-mulut pun mencerca nyinyir
Ya Malikul Mulki…
Saat kubasuh jari jemari
Setiap kuhirup air suci tempayan
Setiap kuraup dan kutangkup wajahku
Aku takut menghadap-Mu
Selaksa genta bertalu menghantam jantung
Bimbangpun menyergap
Masihkah Kau pedulikan permohonanku ?
Ya Robii…
Dimanalagi aku bisa sembunyi
Sekedar mengatur napas memapas lelah
Adakah perigi tempat ku berkaca
Mungkinkah langit menggantungkan awan
Untukku berteduh ?
Ataukah tanah merah inipun meronta ku pijak ?
Wahai Penguasa Semesta
Aku masih insan biasa
Dari seonggok tulang segumpal daging
Dan beberapa liter darah
Mataku masih terpesona dunia
Keinginanku masih menggelora
Sementara dosa dan kemunafikan terus melanda
Patutkah aku menggelar sajadah
Bersujud memohon dan berharap
Menengadahkan tangan dalam laungan do’a
Tanpa akhir dan tidak kenal lelah ?
Sebab, akulah ilustrasi kehidupan
Dinasti kahyangan penghuni persada
Yang terbuang jatuh ke mayapada
Melayang dalam samudra kegelisahan
Mencari tongkat tuk menopang
Ya Pemilik Persada
Tambatkan aku pada sebuah perahu
Walau keping hati nahkodanya telah retak
Maka biarkan aku jadi perekat
Aku akan terus berharap
Menunggu jawab-Mu
Menunggu takdir-Mu
Menyatu pada-Mu.
Bobotsari, Januari 17, 2004
03:07.
21. Untukmu T
Windi set
Malam sudah larut hanny…
Bayangmu memburu alam mayaku
Mencabik perih sanubariku
Akupun merintih tanpa suara.
13/7/04. tk 00:49.
Malam sudah larut permataku…
Kusujudkan kepalaku dalam tangis kepasrahan
Disehelai sajadah biru membentang
Satu-satu air mataku jatuh disitu.
13/7/04. tk 00:49.
Malam sudah larut belahan hatiku…
Kubawa kamu dalam do’aku
Kusimpan kamu dalam lubuk hatiku
Agar selamanya bersemayam disitu.
13/7/04. btk.
Malam sudah larut sobatku
Kukubur rinduku bersama intuisi
Dalam diam, dalam hati
Cinta tak selamanya harus memiliki.
13/ btk. 7/04.
Malam sudah larut kasih…
Bintang dilangit
Gemerlapnya laksana permata
Adakah satu yang jatuh untukku ?
28/7/04. tk
Malam sudah larut cinta…
Angin sepoi nan lembut menusuk kulit
Dingin ini berselimut kabut
Namun lebih dingin hatiku !
29/7/04. tk
Malam sudah larut sayangku…
Suara jengkerik bersahutan
Seirama suara hatiku berbisik lirih
Aku mengenangmu dengan air mata !
30/7/04. tk
Malam sudah larut imutku…
Buli-buli menjerit tak tampak rupa
Nada suaranya berbaur nafas lelah
Adakah dongeng ini esok
31/7/04. tk
Malam sudah larut mutiaraku…
Rembulan bersinar di pucuk pohon
Semburatnya berkilau laksana kencana
Bayangmu ada disana, rindu !
1/8/04. tk
Malam sudah larut teman…
Kubawa diri ini pergi menjauhi mimpi
Melantunkan do’a dan puja puji
Tuk pasrah pada Illahi Robbi
8/8/04. tk 23:45.
Malam sudah larut bintangku…
Semua sudah usai, tinggal aku dalam kesendirian
Tapi Allah selalu menemaniku
Memberikan punggung-Nya untukku menangis
8/8/04. tk 23:50.
Malam sudah larut manisku…
Kubawa kamu dalam tidur pendekku
Dan kuucapkan satu kata manis
Lebih baik dicintai dari pada mencintai
Karena mencintai itu selamanya terasa sakit
8/8/04. tk 23:50.
Malam sudah larut kawan…
Kelelawar beterbangan mencari mangsa
Seekor anak belalang tertangkap
Ia mati dalam diam.
9/8/04. tk 23:15.
Malam sudah larut sahabat…
Gerimis tipis jatuh satu-satu
Awan hitam menyelimuti langit biru
Aku menggigil kedinginan, sendiri
9/8/04. tk 23:15.
Bobotsari, Juli 28, 2004.
22. Kirana Diambang Fajar
Windu set
Sahabat…
Telah kucoba menepis segalanya
Menghalau keinginan dan rasa
Tetap saja kau hadir !
Kucatat sebuah penghargaan dalam diri
Tentang kebaikan yang jadi tauladan
Meski Cuma sesaat bersua
Kadang kulihat dalam kabut diterik mentari
Kadang bergayut lembut di bintang malam
Disana kau tersenyum bersama rembulan…
Dan aku tak pernah mampu meraihmu…
Lalu semua kusimpan dilubuk hati
Dalam diam !
Bila pagi tiba,
Kokok ayam bersahutan
Getar halus membelai sanubari
Yang tak terwujud dialam nyata
Jadi kepedihan
Kehampaan
Gundah
Dan pilu…
Aku tak pernah tahu hatimu berada…
Dalam malamku,
senyummu mesra
saat sujud panjang
Kulihat tetes air mata
Runtuh ditengadah tangan
Aku tak tahu apakah arti air mata itu, duka ataukah penyesalan ?
Di sebuah bukit.
Kulihat wajahmu bergayut di pucuk-pucuk daun
Matamu bening, sebening embun pagi
Kejap matamu meredup dalam aliran rasa
Kutahu kamu bahagia disana
Tak ada warna-warna duka
Dan kepasrahan meresap mutlak
Jika waktu itu tiba…
Kutitipkan salam pada ombak
Bahwa ada aku dan sebercak hatiku
Setia menantimu
Dalam kerinduan yang panjang
Kerinduan yang mengalir bersama gelombang
Tak pernah usai didera waktu.
Minggu/Senin, Agustus 8, ‘04.
00:59.
Sahabat…
Bianglala di ufuk
Diantara ribuan kembang diatas bukit,
Masih ada bayangmu berdiri
menggigil dingin diantara kobaran api unggun
Kecil, mungil dan lucu !!
Itu sudah usai kini ya…
Harumnya kembang dan rintik hujan
Membuncah jadi cerita lama
Yang hanya bisa dikenang
Kamu tahu, mengenang itu tak pernah bosan, tak juga jemu !
Sekian tahun berlalu…
Jadi tonggak sejarah bagiku, bermain di kepalaku
Tatkala lonceng berdering, wajah ceriamu hadir
Dengan riap-riap rambut basah
Dan senyum dikulum bibir mungilmu, entah bermakna apa
Aku tak pernah kenal
Karena aku tak pernah bermimpi apapun
Apalagi tentang senyummu.
Kerinduan seorang manusia
Membawa suara hatinya
Meski tanpa wujud nyata, jadi intuisi Cuma
Namun getarannya mampu mengguncang sanubari
bagai petir menyambar
kilatnya menghanguskan dan merontokkan raga
Aku pasrah…
Pada penghindaran diri, ingin berlari
Sejauh mata memandang, sejauh kaki melangkah
Tapi kakiku mati kaku
Belulang sekujur tubuh layu
Lidahpin kelu
Mata nanar
Dada sesak mendesak
Raga ini lunglai
Tanpa daya !
Aku seperti terjepit bongkahan batu gunung
Terhimpit sakiiiitttt….
Senin,Agustus 9, ‘04.
23:57.
Temaram,
Teja menyusup tenggelam
Memaknai awal kehidupan malam
Terhampar gelap dan dingin
Dalam perpaduan suara binatang malam
Satu-satu memori kehidupan bertebar
Hadir silih berganti
Tawa dan canda ceria,
Tangis pedih dan rintih pilu
Makin menyayat, lara dan hampa
Adegan yang terpateri membenam di alam maya
Sebuah episode, tentang dirimu :
Bulat bola matamu
Tipisnya bibirmu
Senyum ceriamu
Canda dan kekonyolanmu
Semua jadi misteri !
Misteri Illahi ( katamu lagunya Ari Lasso )
Di kelindan gurat ceritamu
Sepintas memori mengisi jiwa yang kosong
Petualangan yang merugikan batinmu
Dan kaumku !
Semua terpampang jelas
Aku rentan dengan semua itu,
Dan sering bertanya pada diri sendiri
Apakah keberadaanmu saat ini
Bukan akibat masa lalu ?
Adakah seorang pergi dari hatimu ?
Atau ada cinta yang hilang di kehidupanmu ?
Aku tak tahu pasti…
Tapi aku yakin
Dan kau tak perlu menghukum diri
Meski kau menikmati…
Sahabat…
Penyesalan menghitung kebejadan masa silam
Sama artinya membohongi diri sendiri
Munafik dan bodoh !
Carilah solusi agar hidup ini serasi
Berwarna-warni
Bercahaya
Barengi semua itu dengan Iman, Taqwa dan Istiqomah
Biarkan yang telah usai pergi
Kita songsong hari ini
Hari esok
Dengan keceriaan
Lenyapkan kebohongan masa lalu
Bukan dihantui dan dikejar dosa
Namun berjuang untuk menghapuskan dosa.
Selasa, Agustus 10, 2004.
Sahabat…
Bagiku besok adalah gaib
Tak tahu apa
Aku memiliki hutang kebaikan
Yang terangkai dalam amal sholeh
Aku merasa tidak bisa melunasi
Maafkanlah akuuu…!!!
Pwt, Kamis Agustus 26, 2004.
23. Tuk Agnes Ibra
Windu set
Terpateri di edisi ini,
Tanggal dua puluh sembilan Agustus
Dirgahayu cinta yang agung
Alam keabadianmu bak serpihan mutiara retak
Mengabur hablur
Membawa bayang gelap
Seperti kabut pagi yang melambung
Jauh membawamu pergi
Makin jauh…
Tanpa ucapan sebening embun
Tanpa tatapan semesra mentari pagi
Tanpa senyum sepilu rintihan bayu
Tanpa lambaian tangan selaksa nyiur
Semua merambat hening
Merayap dan lenyap
Daun-daun luruh
Rontok gugur satu-satu
Jatuh tertiup angin
Melayang tersangkut di pokok ranting
Tertusuk, robek, tercabik dan compang camping
Dirgahayu kasih terlarang
Dimana jasadmu berbaring ?
Diujug belantara
Dan batu nisan tak bernama
Hanya dupa wangi dan kemenyan cina
Beraroma menyengat
Menusuk batok kepala mengaduk perut
Pening dan mual
pernik mistik dan perlambang sirik
mengusik jangat
itukah kau ?!
bersemayamkah jasadmu disitu ?
aku takut arwahmu melayang
membidik dengan cakar-cakar tajam
menggorok leher dan mencabik raga
padahal aku sulit sembunyi
gampang dikenali
oh jangan !!
aku bukan wajah perkabunganmu
mengapa rohmu terus mengejarku ?
jika aku masih berhutang, aku tidak lalai
tapi sengaja mengulur waktu
agar bisa menyatu
Dirgahayu mahkota berambut panjang
Ku bayar hutangku dengan untai do’a
Do’a musyafir
Dalam haus dan letih berharap
Do’a anak manusia terlunta
Bernyawa namun tak berasa
Semoga sisa usiamu masih berharga
Untuk mereka,
Aku
Kau
Dan kekasihmu.
Aku masih sayang kamu hingga detik ini.
Bobotsari, Agustus 29, 2004.
24. Januari
Windu set
Mendung yang tak bersahabat
Membekap matahari dalam peraduan
Kelam senja tak berteja
Mencecap kepergian sekeping hati
Dalam bias luka menyirat perih
Adalah luka januari
Merejam ulu hati
Adalah januari
Selalu dalam rinai hujan
selalu air mata menghapus rona dipipi
Adalah januari
Menoreh kisah yang berulang
Bukan sepucuk tunas bertumbuh
Bukan kidung penghapus kemarau
Cuma kenangan yang terbengkelai
Jadi rindu tak sampai bersatu
Adalah januari
Nyaris abadi bahkan menyejarah
Tuk ucapkan kata “selamat tinggal”
Semoga esok jadi damai
Dalam keabadian.
Lereng Gunung Slamet, September 8, 2004.
25. Ant, Aku dalam Malammu
Windu set
Sudah terkodrat
Mentari tenggelam gelap merambat jadi malam
Tak ada yang menuntut perubahan
Apalagi berorasi menjegal kondisi
Pada kabut yang turun dalam diam
Menggurat ilustrasi, pun jadi tradisi
Adakah jendela hatimu terbentang ?
Aku akan menengok
Melayati seperti kemarin, dahulu dan dahulunya
Membawa selimut dingin
Dan seuntai do’a.
Pada rentang ilusi
Kau peluk ujud mayaku
Berpadu degup nadi dilampih sepi
Lalu naluri bicara
Lirih disela desis mendesah
Mari kita koyak selimut malam ini
Singkirkan takut, tepis ngeri
Di sesaat tiap malammu
Dikelindan sepi tanpa pamrih
Terkubur galau dalam damai
Bak nuansa biru mengisi rongga dada
Tidak kentara tapi nyata
Biarkan bara di jiwa hangati raga
Selalu tiap malammu
Ant, bila do’amu masih untukku
Datangkan asa bersama bahasa nirwana
Ciptakan harkat di jiwa
Jangan Cuma kata-kata sendu jadi sketsa
Menguap tak berarti apa-apa
Ant, aku ada dalam malammu
Menembus sinyal-sinyal sepi
Melumuri dalam di rangkai bayang bayang
Mengukir noda tanpa bekas
Kadang jadi rintihan dan juga tawa
Kuberikan semua untukmu.
Bobotsari, September17, 2004.
26. Kemana
windu set
kemana mesti kutentukan langkah
agar dapat bertemu denganmu
apakah menembus labirin
ataukah membentangkan sayap?
Kemana mesti kutentukan arah
Agar dapat menggapaimu
Apakah berjalan lurus menutup mata
Ataukah berpijak duri membelalakkan mata ?
Kemana mesti telusuri jalan
Agar dapat meraih hatimu
Dalam gejolak perasan, menjunjung harkat kebenaran
Semua jadi teka teki melintang
Kemana mesti aku pergi
Agar dapat menyongsong dirimu
Apakah dalam damai di kerinduan
Ataukah menunggu sampai pupus pengharapan?
Kemana ya kemana ?
Bobotsari, Oktober 1, 2004.
27. Terkaan
windu set
cakrawala di ufuk barat menyerlah pelangi jingga
menuntun indah cemerlang senja
adakah tampat untukku disana ?
jika bias mendung menggayut
bintang-bintang berpagut duka
tangis memburai langit
lalu bimbang bertanya,
mengapa ada kehidupan tanpa makna ?
jika bayu membuai lembut
derai gerimis jatuh dan pecah
kabutpun melumat hijau daun
tanyakan pada panduan musim
apakah gelora cinta masih bersendawa
menelusur pengertian,
meraih mimpi,
mengejar sisa kesempatan
jika daun-daun gugur
langkahku terseok tak pernah pasti
sering limbung, tersangkut dan jatuh
padahal waktu kian memburu
apakah sudah terlanjur salah?
Bobotsari, Oktober 2, 2004.
28. Cinta Dalam Dosa
windu set
Pernah terenda jaring-jaring rapuh
Diantara bingkai benang kepalsuan
Sarat gelegak hasrat
Melumat nikmat, laknat dan maksiat
Cuma berkurun sesaat
Kebohongan jadi kulminasi lumrah
Tak layak dipertanyakan
Cinta mengusung ruhnya pada cahaya
Dipembaringan rembulan
yang wajahnya meredupkan birahi
di kelindan penyesalan
kerinduan pun menjauh
terkubur dibingkai cahaya
dijaga mata-mata malaikat
jadi lembut memagut
jadi damai menyatu
meskipun….
ketika malam merengkuh lelah
jiwa lemah ini sering berbalik arah
menjelujuri celah rawan dosa
laksana setan dalam wajah pelacur
mencekik dalam belaian birahi
akhirnya kolaborasi itu terjadi
hasrat duniawi membuka jalan sendiri
menutup sorgawi.
Bobotsari,Oktober 4, 2004
19:47
29. Di Ramadhan ini
Windu set
Semoga limpahan rakhmat dan karunia
Senantiasa bernaung dalam pelukanmu
Alloh Tuhan Yang Maha Rakhim menjagamu
Melindungimu dari setiap cobaan dunia
Bulan suci ini kita jaga kawan,
Biarkan dosa lampau adalah milik setan
Hari ini nurani kita bersih
seputih kain kanvas seniman besar
kelak setelah usai puasa Ramadhan
akan kita tulis dengan tinta emas
dibingkai dengan ukiran do’a
agar di dalamnya ada rangkaian amal sholeh
tiap malamku ada sejumput do’a untukmu
tak pedulikan rasa malas, bahkan sedih
entah untuk apa, kenapa dan mengapa ?
mungkin kehendak Illahi
tanpa ada yang meminta pun menyuruh
bukan atas sebuah hutang atau pembalasan
tapi kehendak nurani yang tak bisa terelak
yakinlah, ini bukan cinta atas nafsu
tidak penghambaan diri atas kebodohan
ia hanya datang tanpa kusadari
kucoba mengelak dan mencaci diri
untuk sekedar berlari menjauhi mimpi
Aku belum putus asa untuk berkaca
meski cerminku kalah, retak dan memudar
mungkin aku harus mengenakan kaca benggala
agar bebas meneropong jiwa bejadku
agar aku dapat mulat saliro hangroso weni
dan jijik melihat diri sendiri
Mari kita isi Ramadhan ini dengan tadarus
shalat malam dan saling mendo’akan
aku masih menjaga keto;olanku dengan do’a
biarkan kamu mencaci maki
agar aku tahu diri dan juga bisa benci
Malam ini, kedamaian menyelimuti jiwa
noktah kelabu nyaris sirna
berserah dalam sunyi panjang
diatas hamparan sajadah hijau
Kutepis kata hatiku
dengan sebuah do’a ghaib untuk ghaib
meski kamu sangat jauh
aku yakin Alloh akan mengabulkan do’aku
bukankah do’a seorang yang sakit akan dikabulka-Nya ?
Mari kita gapai Ramadhan ini tanpa rasa benci
jauhi saling menghujat, menghardik dan mengejek
kumpulkan amal ibadah sebanyak air dilaut
tuliskan seluruh kalam Illahi
jadikan semua pohon diatas bumi sabagai penanya
dan air laut disemua lautan ditambah tujuh samodra
sebagai tintanya
Kita pasti akan lelah kawan…
namun Alloh akan bangga dengan umat-Nya
kita bangun kata jihad fisabilillah didiri
bukan dengan menguhus pedang tajam
bukan dengan meledakkan bom bunuh diri
tidak dengan meracui idealisme
SABAR DAN SUKUR
Jika didunia tidak kita temui berkahnya
insyaAlloh diakherat kelak jawabannya
Di Ramadhan ini ada satu kerinduan
menjabat tanganmu dan mengatakan :
“ tolong maafkan aku, karena telah banyak merepotkan kamu “
Mau yaaaaaaa, ya…ya…ya…???!!!
Bobotsari, Oktober 21, 2004
30. Renjana
Windu set
Untuk seorang ikhwan sholeh yang lagi menanti “sorga”
Senyum dalam rentik kepiluan
Menggapai disepanjang do’a
terjaga diantara kepulasan
merintih disaat ada tawa membahana
Ketika terpejam dalam hirup nafas dalam
selintas bayang merasuk sukma
ada getar lembut di dada
menyingkap tabir teluki jiwa
Ketika namamu terucap dalam diam
rasa berasa melalap raga
menggelepar angan berbaur sedu sedan
menahan tetes air mata jatuh
Tatkala sekecup cium memagut senyum
mengawang dalam pelukan renjana
bibir kian memutih pucat pasi
menggigit luluh lantak ungkapan kata
Sementara genderang terlinga menggerit pekik
mendesau gemuruh nada nadi
melampih rasa nyalang menerjang
mengiris ulu hati… perih
Disaat mata merapat perlahan
menebar tirai maya menuai lara
lidah makin kelu
nada suara terpenggal sebatang tenggorok
lembut meresap menyusup jiwa
menebar semerbak aroma gaharu
membuncah hasrat tuk menyatu
Atma berbalut raga makin melemah
pautan benang merah merantas
tergesek tralis berduri tajam
terantuk tembok jurang pemisah
Asaku luruh rontok satu-satu
mengharu biru dalam rinai do’a
kusandarkan diri pada punggung Illahi
kupasrahkan segenap takdir lewat kata hati
Bahwa :
“Mencintaimu tidak berdosa, karena kutahu
cinta tidak selamanya harus memiliki”
“Mencintaimu tidak bersalah, karena kau tahu
cinta memang tidak harus selalu bersatu”
Sahabat, ini langkara bukan ?
biarkan semua melangut, menguit bahkan mengoyak
biarkan ini menjadi kirai kintaka hidupku
selama keranta belum menggerogoti kunarpaku
Bobotsari, Nopember 19, 2004.
31. I’tiroof ( sebuah pengakuan )
Windu set
Allah… ya Allah…
Aku terpelanting dalam risau
menyeruk di sebuah wajah
ada damai menusuk rindu
Allah ya Rabbi…
aku terpuruk dalam resah
ketika sebuah bayang melintas
rantai kata, mati membisu
Allah Tuhanku…
jika aku rindu, pupuskanlah
aku mau tidurku damai
dalam pelukan ridho-Mu
Allah…ya Rakhman…
sujudku dalam ampunan-Mu
jika aku lalai sadarkanlah
aku ingin cinta dalam ketulusan
Allah…ya Rakhim…
takbirku adalah untuk-Mu
bila aku terlena, bangunkanlah
untuk kembali pada-Mu
Allah…ya Kudus…
junubku dalam air surgawi
andai aku dalam najis, sucikanlah
bersihkan aku dari noktah hitam
Allah…ya Mutakabir…
cantikku ada dalam jiwa
tidak selaksa mawar merekah
cukuplah seharum melati
Allah…ya Muiz…
jujurku tak ada dibibir
andai aku terpaksa dusta, ampunilah
dongakkan aku melihat-Mu
Allah…ya Karim…
mimpiku diatas bintang
jauh menunggu datang fajar
menyatu dalam kasih-Mu
Allah…ya Hafidz…
ketika aku ada harap nista
singkirkan setan di hatiku
karena aku tak tahu kapan ajalku
Allah…ya Malikul Mulqi…
hembuskanlah nafas taqwa-Mu
kedalam iman lemahku
agar pasti rindu dan cintaku hanya untuk-Mu
Subhanallah… Walhamdulillah
Wala ilaha Ulallahu
Allahu akbar
Laa haula wala quwata illa billah…
Bobotsari, Nopember25, 2004.
32. Mungkinkah
Windu set
Kucoba mencari makna, menggali tanya
kendati sesak di dada,luka di jiwa
mencarimu cinta…
dilintas gersang
suryapun rapuh memudar
kusapa dunia ternyata angkuh dan sombong
Budaya nista menggoda ceria
mendengus, merayu dan berbisik :
“hiasi otakku dengan sejuta tipuan
kemudian rayu dan dekap angkara nafsu
terjerat durjana ratapan hampa
dengan segala kata palsu
terbungkus sopan santun yang rapuh
pakaikan jubahmu
tempelkan dibahu segala atribut
segala kebesaran,
segala gelar
gubah dunia biar semakin tamak”
Sesekali kucoba bercanda
berkolaborasi dengan aroma melati
tapi hati jadi luka
dikoyak deru maksiat
Aku terpuruk dalam diriku
kulempar segala keluh
hanya padamu bisa mengadu
tapi, sampai kapan kita bisa sabar?
Jiwaku lumat dalam hasrat
terperangkap belai obsesi, untuk apa?
Entahlah…
lagi kucari satu jawaban pasti
mungkinkah aku sudah terjerat cinta?
Ataukah sebatas rindu dalam pelukan maya
Aku ingin menangkap gejolak batinmu
dalam cinta menggebu,
dalam duka,
dalam pikir,
dalam rasa
tapi aku tak mampu
karena aku tak pernah mengerti
apa impianmu
Acap kali batin bergelut tanya
apakah impianmu tentang aku
tentang dunia dan pesan-pesannya
aku jadi gundah, ternyata tak pernah mampu melukis
sketsa dirimu dalam relung hatiku
Sejak kamu memburu,
mengintai dan bersembunyi
semua aneh,
rasa aneh,
cinta aneh,
rindupun aneh,
karena aku tak yakin
bisa kamu rasakan saat ini
Bobotsari, Desember 8, 2004.
33. 44 tahun usiamu Ca
Windu set
saat usia rawan,
saat usia matangmu,
hati-hatilah !
bawa langkahmu menuju kebaikan
aku Cuma bisa bantu do’a
pada tiap sujudku,
dalam fajar pagi
diantara rentang kemarau
atau sepanjang musim menyatu
selama kita ada sisa waktu
aku ingin kamu tegar
sebab semakin tinggi pohon, anginpun kencang menerpa
aku ingin kamu bahagia
meski bukan bersamaku
aku ingin kamu jadi dewasa,
sebab akan banyak persoalan menghadangmu.
Aku ingin kamu jadi penyabar,
Sebab dirimu milik orang banyak
Aku ingin kamu selalu bersyukur,
Sebab dengan syukur batinmu akan qonaah
Biarkan yang lain serakah
Karena ku yakin keserakahan membawa bencana
Tawaqal dan berjiwa besar akan membawamu pada kemuliaan
dunia dan akherat, insyaAllah.
Selamat Ulang Tahun,
Jadikan hari-harimu berselimut do’a
Tanpa do’a perjuanganmu sia-sia
Biarkan cinta berada dijalannya
Ia tak selalu dapat kita miliki,
Tidak pula selalu harus bersatu
Biarlah ia mengisi hari-hari
dan kebersamaan ini jadi bagian hidup yang lain,
saling menyalakan semangat,
agar bias-biasnya jadi punya arti
“Happy return the day”
Desember, 8 – 2004
44 year
“Happy birthday to you”
Bobotsari, Desember 8, 2004.
34. Apakah selamanya Lilin Nyala karena Obor
Windu set
Inikah kepergian ?
Balak balik batinku bertanya, hingga…
Aliran darah serasa mati
tak ada tawa pun senyum kecil
angin utara jadi dingin menggigit
rontokkan helai-helai mawar
sepi
Tebar aroma kamboja menyengat
sukma bagai melayang hingga lepas terhempas
giris menggerus nyeri
geraham runtuk gemeretuk
menahan sedan yang tak tersembunyikan
Tuhan…
betapa gelap duniaku
dimana Kau sembunyikan obor penerang
aku tak punya nyali
dalam sepi, sendiri
seperti di samudra lepas
dalam badai, pekat dan gulita
cahayaku kecil berkedip-kedip
sebentar lagi akan mati
walau Cuma tertiup angin sepoi-sepoi
Tuhan…
Dimana berkas belas kasih
Sementara aku berdiri dikehampaan jiwa tanpa batas
Aku ogah jadi pendongeng
Meski hanya ingin berbagi rasa
sebab aku takut pamrih
tapi aku lilin
harus tetap berkedip
biarpun leleh dan hancur dunia harus benderang
biarlah aku menjadi lentera kecil
penghangat ditengah kebekuan
pelindung rasa takut
aku lilin
bisa membakar ranting-ranting kering
penerang langkah di kegelapan
aku bisa menipu dunia
biarpun Cuma tetes menitik
mampu menebar kehidupan
kutitip pesan pada obor
untuk bersama dalam damai
untuk peduli kehidupan
sebab banyak lilin kecil menanti disulut
Pada obor pula
aku tahu diri
mengakui dan bangga
sebab dari sinarnya cahayaku berkedip lagi
dari apinya keajaiban nyala
maka keberadaanya hidup di jiwaku
aku akan pergi mengikuti badai
walau hancur luluh porak poranda
sepercik sisa apimu sangat berarti
kelak dipenghujung kehidupan
bahagia dunia dan akherat
aku yakin
lilin bisa menyalakan obor
dan tidak selamanya menunggu nyala karena obor.
Bobotsari, Desember 27, 2004.
35. Empati Untuk Aceh
Windu set
Di
Air laut bergolak keruh
dimana ikan tak tampak berenang
kecuali mayat-mayat mengambang
Dalam derai air mata kuucap doa
lantas terbayang betapa kedamaian hanya impian
peradaban hancur terendam
kesalihan dihina, dinista penuh cerca
manusia-manusia menjerit dan meronta
Rencong-rencong Aceh angkara
dengan jutaan partikel nafsunya
membacok, membelah,
menusuk-nusuk bayi tanpa dosa
mereka pemburu durjana
Dalam doa subuhku
Serambi Mekah melela
sebuah nama yang menggedor batin
mungkinkah Alloh alpa menjaganya
hingga mesiu berseteru dengan haru.
Bumi itu jadi porak poranda
lelaki jantan dilindas punah
GAM meradang pasrah
banyak gundukan tanah merah anyir darah
sebab diurug tergesa-gesa.
Hingga dijelang tidur malamku
ketika usai doa terucap
terhirup bau bangkai menyengat
kenapa Engkau seakan tak mau tahu
sebab Engkau Maha Tahu.
Dan ketika badai kembali mengharu biru
mengguncang dada seluruh persada
atas nama-Mu mereka masih meminta
kalau saja serambi Mekah Kau bantai punah
siapa lagi disana meng-Esakan Engkau ?
ataukah ini rekomendasi bagi kami
untuk mengacungkan senjata
memburu serigala durjana
tapi takut jadi pembunuh,
takut dianggap pengejar syahid
maka, tangan-Mu menjamah bumi
mengejar sendiri nafsu angkara.
Dalam mimpi pendekku
kulihat sekelebat saudaraku menangis
diantara masjid raksasa yang tetap berdiri megah
dan onggokan puing-puing menggunung menutupi buminya.
Ketika adzan subuh menggema,
aku bersujud sejenak
bertanya dalam hati
apakah ini sebuah hikmah ?
derita Aceh adalah akibat keharaman
senjata yang ditukar ganja !
Bobotsari,Desember31, 2004
36. Derita Sang Primadona
Wind set
Untuk Ik
Telah kukatakan dulu
pilih suami jangan karena materi
jangan silau anak pejabat
apalagi ketampanan sepintas, lalu…
tatkala terpasang cincin di jari manismu
senyummu jadi semanis madu
hingga kau terlena, lupa akidahmu
memori terlukis di selembar gambar
menguak takdir kehidupan
mawar yang seharusnya merekah indah
terkoyak angin sepoi-sepoi
melumati madu perawanmu
adalah persaingan yang sia-sia
kamu jadi pemenang tapi sementara
Lenggok gemulai di atas cat walk
diiring sorai melela
sempat nyalakan semangat juangmu
juga suara merdu nan lembut terkadang ceria
masih terngiang membahana di gendang-gendang telinga
lama-lama sirna
Namun sendu matamu
tertangkap dipelukanku
sebab aku tidak pernah tertipu
Jargon yang membuatmu terlena
pelarian atas kehampaan dunia modern
bukan lagi cerita baru
tak ada tangis sesal, solusimu Cuma ekstasi !
barang haram yang harus terbayar mahal.
Mata hatimu buta
naluri manusiamu tergadai
seperti dalam arena perang
ditengah ranjau menebar mesiu
kamu bahkan menapak dengan kaki telanjang
akhirnya
asa terlumat nafsu
lenyap bejibun makna hidup
sirna helaian rasa takut
tinggal hampa dijerat waktu
Teman…
sapu tanganku masih tersisa
hangat telapak tanganku masih terbuka lebar
untukmu berkesah dan berlabuh
hingga satu harapku terwujud
kembali ucapkan ikrar suci :
“Ashadu Allah illaha ilallah….”
Bobotsari, Januari 16, 2005.
37. Ketika Logika Bicara
Wind set
Untuk Yosephina LL yang lagi menapak dewasa
Masa remaja bukan berarti hura-hura
Bergolak bak sudut
Bukan arena jojing diremang discotiqe
Melelap nafas musik nan romantik
Acuh kondisi keluarga dan orang tua
Namun ia bak hijau daun terlaput embun
Sirna melela sesaat
Tuk mencari jati diri
Berlagak ditebaran lampu warna warni
Berbaur tepuk histeri sang pemuja
Lalu jadi primadona, jadi kapstok-kapstok hidup
Dipajang hingga dijualbelikan
Jangan katakan !
adakah orang lain berarti bagimu
namun coba tanyakan hatimu
apakah dirimu bisa berguna bagi orang lain
kecantikanmu bak ratu dunia
senyummu mengusik ketenangan lelaki
namun energimu terjebak dalam ambisi
dirongrong situasi yang tak mesti
duniamu penuh sandirwara
menopang derita dalam ceria
sedang bilik rumahmu adalah realita
hotel berbintang Cuma fatamorgana fana
mana buah karyamu ?
lebel yang menempel dijejeran piala
ataukah sorak sorai itu ?
mana kebanggaanmu ?
gemerlap gaun yang bukan milikkmu
ataukah tonjolan tubuhmu ?
dunia gemerlap itu egois teman,
penuh jebakan kepalsuan
berbingkai cibir dan pujian
jika hatimu tak berselubung iman
niscaya pengorbananmu sia-sia
Bangkit, tegakkan kepala dan busungkan dada
Kuatkan tekat bangun prinsip diri
Hapus cela dan cemooh
Jangan obral kesempatan percuma
Sebab ia tak hadir berkali-kali dalam hidup ini
Tebar rendah hati, kwalitas diri dan eksistensi
Bongkar keangkuhan pembebat nurani
Langkahkan kakimu diatas rentang tali rantas
Hapus cucuran keringat dengan kanvas semangat
Agar sketsa hidupmu berselimut hikmah
Bila biduk asamu melemah,
Terjunkan sauh selami samodra dengan kekuatan diri
Bila sayapmu melemas,
Pasangkan tangga, daki langit dengan kesabaran
Niscaya bintang akan kau raih, rembulan akan kau gapai
Jika semua terwujud,
Khusyu’kan jiwa ragamu pada sang Khalik
Taburi keterlanjuran dengan do’a dan taubat
Lantas…
Bersyukur atas rakhmat dan maghfirah-Nya.
Bobotsari, Januari 17, 2005.
38. Jawab Sang Pelacur
Windu set
Kamu memang bejad, tidak punya malu !
Itu opini segelintir orang awam
Harga dirimu sangat murah !
Itu kata nyonya pejabat
Hidupmu bergelimang dosa !
Itu kata nyai ustadz
Kamu induknya maksiat !
Itu kata wanita beradab.
Aku harus menjawab apa ?
Ya jawab saja, terserah apa katamu
Jika aku bejad dan tak punya malu,
Aku tak sembunyi di lokalisasi !
Jika aku sangat murah,
Aku pillih tukang becak, bukan pejabat jadi pelangganku !
Jika aku bergelimang dosa,
Di neraka pasti banyak temannya !
Jika aku induknya maksiat,
Barangkali aku juga terlahir karena maksiat !
Bobotsari, Januari 19, 2005.
39. Siapakah Aku
Windu set
Sering aku lupa diri
Berteriakn euphoria sendiri
Tolak pinggang dan memaki
Mestinya kusadari
Diatas langit masih ada langit
Sering aku alpa
Berkoar-koar menyebut nama
Menepuk dada semena-mena
Mestinya aku tahu
Dalamnya laut dapat diukur
Sering aku terlena
Terbuai puja dan puji
Mulut tertawa menganga
Harusnya kuyakini
Dunia selalu berputar pasti
Sering aku sengaja
Menjegal kawan memeluk lawan
Merengkuh kebahagiaan tanpa beban
Padahal aku punya naluri
Bergerak menampik kata hati
Kadang aku terkesima
Pada akhir mulutku berkata
Mencerca dengan urai air mata
Jiwa lelah melemah pasrah
Sementara ragaku melangkah gagah
Sering aku mengutuk dalam hati
Mengumpat diantara puing kehancuran
Mensyukuri musibah kawan
Kehilangan kelembutan dan tak santun
Tapi air mataku tetap jatuh
Sering aku menarik simpati
Mengetuk nurani manusia
Menyeru akan kasih sayang
Untuk membela si lemah dan duafa
Tapi aku sendiri tak peduli
Siapakah aku ?
Yang selalu terpuruk dalam kelam
Bersyukur atas penderitaan
Menangisi kebahagiaan
Khawatir pada kemuliaan
Rabbi…, ya Rabbi…
Bangunkan aku !
Lempar aku keras-keras
Subal mulutku dengan do’a
Penjarakan hatiku dari setan-setan terkutuk
Sadarkan aku akan akhir kehidupan
Ampunilah aku atas ketololanku.
Aku harus tahu siapa diriku…
Bobotsari, Januari 21, 2005.
40. Disini aku menangis
Windu set
Tak mungkin terlupa, saudaraku
Betapa derita dan tangis
Menggedor setiap manusia bumi
Akan murka Sang Illahi
Kuketuk hati insani
Menerobos jendela birokrasi
Menyisir nurani sang dermawan
Menadahkan tangan dijalanan
Untukmu saudaraku,
Cuma sekedar membantu
Semangat ini masih menyulut hati
Mulut ini masih berkoar pasti
Bantulah wahai pemilik nurani
Dermakan sebagian rejeki
Berbagilah atas solodaritas dan kasih sayang
Aku masih peduli,
Mengusung keranda mayat sekalipun
Berorasi dirintang jalan
Berterik mentari dan diguyur hujan
Bahkan diujung maut sekalipun!
Aku masih peduli,
Menuai harap membedah nurani
Pada yang berlalu lalang
Pada yang berhati binatang
Pada yang tak tahu diri
Biar kutelusuri di tiap-tiap pintu
Menggedor-gedor gerbang besi
Menguntai ribuan kata hati
Aku tak peduli,
Lelah tubuhku, kering keringatku, beku darahku
Aku Cuma peduli rasa berbagi
Menyatukan jiwa, merajut runtuhan nelangsa
Benar katamu, kawan
Aku pengemis intelek
Otakku brilliant, jubahku bertabur manik-manik
Rayuanku manis puitis
Untaian kata-katanya menggiris, menuai tangis
Sebab, aku diburu iba dan didera haru
Aku tak mungkin lupa,
Porak porandanya peradaban manusia
Mayat-mayat berserak dimana-mana
Anak-anak kehilangan ibu bapa
Orang tua merintih kehilangan buah hatinya
Sementara…
Dunia terus tak aman
Manusia laknat terus mengancam
Menyisakan geram tak terelakkan
Dimana kau letakkan hatimu wahai pelaknat !
Berpayung kelembagaan, birokrasi dan
Bertabur kepuraan, berdalih kepedulian
Kau telan habis pertanda simpati
Kau keruk bagai milikmu sendiri
Sungguh, kamulah koruptor paling jahanam
Tersenyum diatas mayat bergelimpang
Euphoria diatas kehilangan
Kamu laksana elang paling durjana
Memakan bangkai saudara sendiri !
Padahal disini,
Tenagaku makin melemah, hingga
Cuma mampu menggelar selembar kafan
Membubuhi tulisan dengan huruf besar
Inilah musibah !
Bantulah wahai saudaraku !
Belas kasihanilah mereka !
Aku makin paham
Kebesaran dan siksa-Nya
Namun aku tak tahu,
Banyak manusia lebih merasa besar,
lebih bisa menyiksa dari-Nya
Oh Tuhanku…
Oh Saudaraku…
Apakah apakah perjuanganku ini sudah sia-sia ?!
Bobotsari, 2005, Januari 29. Sabtu.
41. Pesan Putih Buat Putraku
Windu set
“Jadilah anak yang bisa “mikul dhuwur, mendhem jero” bagi orang tuamu,
sebab engkau anak semata wayangku.”
Putraku…
Pada bumi berpijak
Ku titipkan langkah kakimu
Agar aman tanpa aral melintang
Sebab jalan hidupmu masih panjang
Putraku…
Pada langit yang memayungi
Ku gantungkan cita-citamu
Raihlah dengan semangat tinggi dan kejujuran nurani
Sebab untuk menggapai langit
Tidak segampang menggambarnya
Makin kamu naik ke atas
Angin kencang makin keras menerpamu
Putraku…
Pada udara transparan tak berupa
Ku titipkan ragamu
Agar setiap rongga dalam tubuhmu
Mengalir nafas kejujuran
Hingga pada tiap episode umurmu
Mampu memberi arti bagi kehidupan
Putraku…
pada samodra luas
aku pesankan kompas
sebab salah arah akan tersesat
mintalah dengan ramah
menjadi pribadi ramah akan disukai alam
Putraku…
Pada gunung yang tinggi
Ku titipkan kantong wasiat
Mintalah dengan santun seperti semestinya
Percayalah, kesantunan dan kerendahdirian
Akan menghargai dirimu
Putraku…
Pada belantara rimba
Ku titipkan tonggak-tonggak peradaban
Galilah dengan kesabaran
Dengan jemari tanganmu
Sebab tongkat tajam dan sekop runcing akan melukai
Tidak peduli pada akar rapuh
Dalam peradaban niscaya akan bertemu sejarahmu
Putraku…
Di puncak pohon yang tinggi
Aku gantungkan namamu
Berbingkai emas
Jagalah pohon itu agar kokoh di tempatnya
Agar namamu menyejarah dan abadi disana
Putraku…
Kejujuran nurani itu ibarat mata air yang jernih
Dingin, sejuk dan menenteramkan
Berendamlah didalamnya, lalu reguk sepuasnya
Agar jiwa ragamu basah olehnya
Putraku…
Matahari yang selalu terbit di timur, tenggelam di barat
Adalah kesetiaan abadi
Menyinari dunia
Memberi api kehidupan
Menghijaukan dedaunan
Jadilah seperti matahari
Setia pada penciptanya
Tak pernah meninggalkan tanggung jawabnya
Putraku…
Dunia ini adalah gambar dua dimensi kebajikan
Yang semu menghipnotis
Yang nyata bisa kasat mata
Alurnya tak bisa diterka
Jadi waspadalah dan mawas diri.
Many happy return the day.
Bobotsari, 2006 April 12,
42. Bersama Embun
Windu set
Setetes embun jatuh
Dari lambaian daun pisang diatas pematang
Andai engkau ada
Senyummu mengembang ceria
Mengusik kicau burung pipit
Mengoyak helai daun pisang
Menghalau was-was bulir-bulir padi
Ketika melihat sabit dan ani-ani
Jika hatimu tersentuh
Bangunlah !
Bersama melangkah meniti pematang
Raih jemari ini dan genggamlah
Tuntaskan peluh
Merantas sisa-sisa ilalang.
Bobotsari, 2006, Januari 1.
43. Goresan Air.
Windu set
Goresan diatas air
Adalah sketsa imitasi
Penuh misteri
Namun mengusik nurani
Goresn titik-titik air
seperti peluh membasuh raga
pada adegan cumbuan pejantan tua
merentang hasrat yang lunglai dalam dahaga
goresan air adalah
fakta tanpa bekas
cermin kepiawaian
penghantar ilusi
sarat hasrat namun jadi ironi
goresan air Cuma
melengkapi tanpa batas
membelai mahligai jiwa
melapih nafsu durjana
menyisihkan realita
goresan air adalah langkara
hanya momen sejenak
beriak-riak
bertaut
ada dan nyata
maya
lenyap
namun akan kembali…
Bobotsari, 2006, Juni 1.
44. Kejujuran Cermin
Windu set
Mestinya aku mentertawakan diri
Manakala seekor katak ingin jadi lembu
Bumi yang terpijak
Udara yang kuhirup
Air yang kureguk
Semua ingin kumiliki
Padahal,
didepanku, seberang uatara sawah
kehidupan roh-roh terbelenggu
nisan-nisan berjejer rapi tanpa kiblat
tanpa pajangan harta pusaka
menatap cermin, aku bergidik
mataku menyisakan kepalsuan
bibirku mengulum kebohongan
tenggorokanku panas
nafaspun sesak
tercekat
sedangkan…
teropong hati hanya bisa mengintip
lewat celah sempit
hingga belum terkuak misterinya
mungkin
aku harus mulai menghisab
sambil menghitung nisan-nisan
mendengarkan rintihan kubur
menyesali kedholiman
sebab aku tahu
kamera Illahi pasti menelanjangi.
Bobotsari, 2006, Juni 1.
45. Prahara Persada
Windu set
Calon Arang berteriak garang
menyumpah serapah
Dunia dianggap tak bijak padanya,
sebab pura-pura porak poranda
Namun ia tetap hidup
menjelma jadi dewi kebijakan
muncul dalam rupa eksotis
menggoda nafsu biologis
manja menawarkan untaian kamboja
melantunkan do’a diiring para pedanda
Calon Arang lupa jati diri
berselimut kebijakan yang jadi bumerang
terkuak menyimpan prahara
tiap mantera mengutuk semesta
bukan mantera keselamatan
bukan pula do’a kesucian
Cuma penyelamat diri
sekedar menghindari caci maki
Bumi gonjang-ganjing
laut dan darat menyatu
udara bau anyir darah penuh jelaga hitam
membubung diterpa angina kemaksiatan
Calon Arang tertawa garang
digulung asap angkara
menyeringai dan melambaikan tangan
kuku panjangnya tajam mengancam
ada dendam
Entah…entah kemana terbang
Ketempatmu atau ketempatku ?!
Bobotsari, 2006, Juni 1
46. Dilematis
Windu set
Mustahil
Memajang potretmu diatas dupa hio
di cupuk kembang setaman
diterangi kerlip lilin
pada ruang bertebar asap kemenyan
Dalam bola matamu
aku bahkan melihat nirwana
gemulai bidadari sorga
penuh permadani kelembutan nurani
Ini yang terpendam jauh dilubuk hati
tentang hirarkhis manusia
pada penyatuan tanpa wujud
memadukan dunia metafisis
Pada penghujung malam
bukan Cuma ada rentang fajar
atau bulan sabit yang berbingkai awan
atau ceracas bintang jatuh nan gemerlap
atau kokok ayam jantan
atau angin pagi segar
tapi ada tetes-tetes embun membawamu hadir
Ini episode yang mencengangkan !
tak perlu menunggu sempat hadir waktu
tak perlu kompromi pada rencana
hanya perlu satu sikap dengan ketetapan logika
melangkah dengan konsekwensi
atau berhenti atas nama harga diri
Bobotsari, 2006, Juni 3.
47. Menguak Misteri
Windu set
Meski kelopak mawar telah rontok
usai jabat tangan terakhir
sebaiknya kita sukuri
Misteri kecil di sudut mata
sudah lama tersirat di kitab langit
sebagai rencana alam
biarlah…
kelopak mawar adalah pertanda
mengoyak misteri kecil
pada episode terakhir
sembari,
bersenandung tentang alam dan penciptanya
menyiran bunga yang lain dan
mendongengkan peri-peri kahyangan
tetaplah menunggu jawab terkuak
tetaplah menunggu waktu bergulir
Mata dan jabat tangan
Cuma mengisyaratkan sisa impian
Menyisakan proses yang dipertanyakan
Tentang cinta manusia yang tak wajar
Pada alih jaman
dongeng-dongeng menjadi tawa dan tangis
impian kesetiaan sia-sia
menjawab
misterinya.
Bobotsari, 2006, Juni 5.
48. Sesal
Windu set
Resah terus bergulir
menyikapi tabir kebodohan yang baru usai
Cuma ada sepercik kepuasan
belum berakhir
berharap menjadi seharum melati
Daya upaya nyaris dititik penghabisan
peluh terperas membaluri daki
pori-pori putih terasa garam
Sesal yang mengaliri nada nadi
Melayati ketololan diri
pun melaknati tragedinya
serupa nelayan mengutuk pada badai dan topan
Pada pergumulan batin
Nada nadi bergolak pesat
Jemari bergetar meremas keras
Pikiran dan perasaan menggumpal
menjegal waktu berevolusi
saling berdebat ajukan solusi
Namun, semua jadi pengulur waktu
Dan tak berarti
Hingga sesal itu pergi
Tertinggal onggokan tulang belulang
Air mata duka
dan iringan gema-gema tahlil
Bobotsari, 2006, Juni 5.
49. Ketika Kejujuran Dipertanyakan
Windu set
Pada samudra biru
Perahu melaju setengah ragu
Kemana berlabuh ?
Di batas cakrawala yang kian pudar
Bintang timur meredup
Haruskah kugambarkan peristiwa ini ?
Pada laju perahu setengah ragu
Kusembunyikan partikel manipulasi
Nurani
Jati dir
Logika
Kuyakinkan pada badai
Bahwa telah kukirim somasi pribadi
Sekedar mengurai takut yang sudah diujung tanduk
Pada kejujuran yang dipertanyakan
harus kupertaruhkan peranku
Dan kisah ini
Harus berakhir !
Bobotsari, 2006, Juni 6.
50. Takdir Gadis Kecil Pemilik Mimpi
Windu set
Matanya mengutuk suratan nasib
Setiap jengkal kesialan yang merenggut
hidup terasa pahit dan tak adil.
Setiap pertemanan jadi momok mengerikan
Pada Trotoar
Lampu-lampu jalanan
Kolong-kolong jembatan
Jadi tempat yang tak lazim tuk berharap
Wajahnya mengurai duka
Diatas tumpukan kardus
Berselimut kabut malam dingin memagut
Mimpi-mimpi pun tak pernah usai
Adalah tentang hari esok
Menyusup puing reruntuhan
Mengais sisa kehidupan
Melagukan ritme yang tak ramah lingkungan
Bumi bukan milik siapa-siapa
Pada gadis kecil dekil adalah
Sorga
Neraka
Matahari jadi pertapaan sejati
Menanam semangat berharga diri
Membentangkan jejaring kehidupan
Bertahan diketidakpastian
Atau mengurai keterpaksaan takdir ?
Bulan jadi perisai
Menjagai kebiadaban peradaban
Menguak lembaran nasib
Mendefinisikan makna keberadaan
Disini
Di bumi ini
Gadis kecil dekil
Tak memiliki dan tak dimiliki siapa-siapa
Ia Cuma milik alam
Dengan mimpi-mimpi kecil.
Bobotsari, 2006 Juni 6.
51. Kesabaran yang terkoyak
Windu set
Terimakasih,
Aku mesti ucapkan
Atas ilmu kesabaran pemberianmu
Atau
Aku mesti jujur
Melaknati atas nama kesabaran yang terkoyak
Sebab
Pada pertentangannya
Aku tak mampu mereduksi
Juga tak bisa menggali arti
Mungkin
Aku tolol membaca situasi
Dan tak becus menghargai diri
Mudah terhanyut cerita fiksi
Yang sesungguhnya aku telah memprediksi
Lewat kata hati
Dan terjelma kejadiannya
Adakah harapan yang tergantung pada ruang hampa ?
Terimakasih
Atas kesabaran itu
Walau sejujurnya
Melampih resah sanubari
Dan membuatku gila.
Bobotsari, 2006 Juni 7.
52. Kesadaran Tanpa Dialog
Windu set
Setiap kata terucap
Merilis lagu ketololan
Bukan irama gembira
Melainkan teruap angina panas
Kesadaranku cuma,
Membangun harga diri
Tanpa menyisakan dialog
Keangkuhan jadi sangat kubenci
Keangkuhan jadi sangat kulaknati
Mengikis paritasuci dalam doa
Pada titian waktu
Pada jejak yang tertinggal
Di atas ruang batu
Di dalam ruang kaca
Pada ejaan tanpa kata-kata
Telah pupus
Dalam diam
Tanpa dialog.
Bobotsari, 2006 Juni 7.
53. Menghitung Waktu
Windu set
Senja berkabung di bukit sunyi
Mengeja patahan kata dalam relung sukma
“percuma”
Dia sudah tak ada
Tanpa warta
Mungkin mati dalam diam
Seekor kelelawar terbangun mencari mangsa
Tanpa canda mengepak sayapnya
Nyamuk-nyamuk bergidik
Belalang lindap lintang pukang
Terdiam disela ilalang kering
Angin menebar berbagai racun
Air liur pahit berbisa
Keongkongan menyempit
Tercekik
Sungai mengalirkan cerita duka
Menangisi batu-batu yang terbelah
Meratapi pepasir yang tergali
Melayati ikan-ikan terkapar mati
Sedang amplitudo musim tak jelas alurnya
Hanya harap dan prediksi
Mentari redup di batas labirin senja
Terkulai lelah tanpa daya
Diam dikeabadian
Berserah pada takdir
Senja berkabung di bukit sunyi
Tak ada suara-suara
Tak ada sepoi angin menyapa
Harapan berlalu jadi mimpi
Perlu waktu lama
Untuk kembali.
Bobotsari, 2006 Juni 7.
54. Hidup dan Mimpi
Windu set
“Hidup dalam impian adalah dongeng anak-anak.
Mimpi dalam kehidupan adalah keruwetan realitas”.
Pada hidup
manusia berjalan dibatas logika
merentas jejak
menggapai asa
melintasi suka duka
tertawan fakta
Pada mimpi
ada wujud kejujuran nurani
atas letupan kata hati
yang terkubur imajinasi
terkadang menguak masa yang jauh
berkelindan pada kelok peradaban
menjembatani jiwa dan roh-roh leluhur
tersamar dibawah sadar
Hidup dan mimpi
berporos pada lintasan waktu
tersemayam di sebuah kitab
pada lembar berbeda
berbatas ruang dan waktu
pada titik akhir pencarian makna
adalah cara diri membaca
berturut atau terpenggal
Hidup dan mimpi
tetaplah realitas yang harus dihadapi.
Bobotsari, 2006 Juni 8.
55. Mengabadikan sejarah
Windu set
Telah ku bangun sejarah silam
Di atas bumi bersimbah tekhnologi
Bersama generasi yang terlanda degradasi
Pada abad moralitas di peti es-kan
Koruptor dan demonstrasi di sua-kan
Mataku menatap ke depan
Sementara hatiku tertinggal
Pada puing-puing reruntuhan jaman
Dimana berada era tanpa retorika
Tanpa manipulasi
Di kamarku tersisa radio usang warisan nenek moyang
Merk nya terhapis debu waktu
Dulu jadi idola
Saksi lintasan peristiwa
Mengumandangkan keping-keping moment
Mengabadikan sejarahnya
Ketika musim pancaroba mendera
Virus beradaban melumat rakus
Bersliweran alegori
Memberondongkan segepok argumentasi
Hingga mengacaukan frekwensi
Radio ini masih bersaksi
Ketika bertelanjang diri
Diatas dipan usang peninggalan nenek moyang
Terkuak serentetr mimpi dilangit-langit kelambu
Tentang sejarah leluhur
Pada generasi terkubur
Dengan perjuangan yang belum usai
Mungkin radio usang ini jadi amanat
Untuk berperang
Mengabadikan sejarahku.
Bobotsari, 2006 Juni 9.
56. di ruang ICU
Windu set
Diam
Menghitung kebejadan masa lalu
Berdo’a
Dan menunggu waktu.
Bobotsari, 2006 Juni 9.
57. Pesan Penggali Kubur
Windu set
Galikan tanah kuburku
Sedalam ini
Agar bangkaiku tidak menyebarkan bau
Sebab di atas bumi ini
Kebusukan sudah menebar dimana-mana.
Bobotsari, 2006 Juni 10.
58. Episode Terburuk dalam Hidup
Windu set
Ini episode terburuk dalam hidup
Pada ranah yang tak ramah
Kesadaran terlepas
Berseteru dengan nafsu
Menitikkan hasrat melampih maksiat.
Ini episode terburuk dalam hidup
Pada senyum mengulum caci maki
Menebar keyakinan membumi
Mereguk nafsu tanpa kendali
Dan luluh lantakkan iman dengan basa-basi
Ini episode terburuk dalam hidup
Pada manusia penuh ilusi
Di tengah religi diadaptasi
Peradaban diadopsi
Birahipun direguk tanpa peduli
Ini episode terburuk dalam hidup
Pada sosok penegak laknat
Dosa dan ampunan jadi setara
Manusia gampang memintanya
Sebab Tuhan Maha Pengampun
Ini episode terburuk dalam hidup
Pada kesalahan menghujat
Hari ini bertaubat
Esok kembali menyemai laknat
Ini episode terburuk dalam hidup
Menyelubungi kemunafikan dengan budi
Menyelinapkan angkara
Apakah
Sesungguhnya kita didalamnya ?
Bobotsari, 2006 Juni 21.
59. Pada Buku Suci
Windu set
Dalam buku suci tertulis
Perdebatan nurani
Bertahan pada eksistensi dan harga diri
Membopong segepok argumentasi
Menyatakan keinginan hati
Dalam buku suci terbaca
Ratap kehampaan jiwa
Tangis ketidak berdayaan nurani
Meronta mengalahkan ambisi
Pada keinginan menguasai
Dalam buku suci tertoreh
Luapan nelangsa jiwa
Atas perjuangan yang jadi tanda Tanya
Pergulatan merebut harta dan tahta
Hendak merengkuh dunia
Dalam buku suci tertera
Arti sengsara sesungguhnya
Kesadaran dan waspada di tiap kemungkinan
Sebab hidup bukan kemauan sendiri
Yang bisa dijalankan sekehendak hati
Tapi hidup adalah amanah suci
Dalam buku suci terpapar
Pertentangan batin
Pergumulan ego
Kolaborasi cinta dan benci
Reduksi kekecewaan dan keyakinan
Terungkap agar tak hilang keseimbangan
Pada buku suci terpateri
Dimensi pengabdian diri
Tuk meraih hidup abadi
Dan rasa syukur sejati pada Sang Illahi.
Bobotsari, 2006 Juni 27.
60. Pesan Tak Terucap
Windu set
Wahai pengembara semesta
Waspadalah jika bidukmu tenggelam
Tergoda kerang mutiara dasar samodra
Atau berbelok pada kehendak lain
Hingga biduk itu tak pernah sampai dipantai
Wahai pemilik nurani
Jemputlah harapanmu pada bintang-bintang
Ia akan berikan pelita jiwa, pelipur duka
Andai dalam perjalananmu bertemu ajal
Niscaya Dia akan memberimu sorga
Wahai pencari keadilan
Turunilah ceruk lembah
Dimana bumi berada diatasnya
Dan bias cahaya sampai disana
Tanyalah letak ujungnya
Agar langkahmu terpatah dari jalan simpang
Sebab cerabangnya mampu mengubah fakta
Wahai malam yang merubah wujud dunia
Membelah rembulan di langit
Mengurai pendar cahaya,
Berikan satu kesaksian
Tentang ikrar tak teringkar
yang terucap dideru ombak
agar sang bayu menyampaikan pesannya
Bobotsari, 2006 Juli 1.
61. Kesabaran Yang Terkoyak 2
Windu set
Untuk apa berbicara
Jika tak ada pendengarnya
Mungkin lebih bijak bertindak
Walau jadi pemberontak
Untuk apa menggelar diskusi
Jika lawan memihak birokrasi
Membudayakan jam karet
Mengusung bendelan kwitansi
Mempertontonkan symbol-simbol kekuasaan
Mungkin lebih bbaik meledakkan bom waktu
Ketimbang kehilangan waktu
Untuk apa bertanya
Jika jawabnya menunggu agenda-agenda
Lebih baikj berteriak melabrak
Ketimbang di ninabobokkan kebohongan
Untuk apa bersabar
Jika kesabaran Cuma klise
Menghina kecerdasan manusia
Menjegal waktu produktif
Menghilangkan efisiensi hidup
Untuk apa menunggu
Sementara perut berteriak menderu
Otak terlampau panas mereka-reka solusi
Lantas…
Kemana kesabaran ini mesti digadai ?
Bobotsari, 2006 Juli 3.
62. Episode Penentuan
Windu set
Menemui bai-bait aneh yang berdenting
Ketika kokok pertama
Cuma beberapa detik setelahnya
Jarum jam melewati aaaangka
Detak jantung menghentak
Memompa kegundahan yang berkarat
Titik bias tak terduga
Yang hanya sesaat di tempat
Mengutuk hasrat terlarat
Pada bait merangkai kejadiannya
Ketika kokok terakhir
Kehampaan mulai menjalar
Hari-hari tinggal keheningan
Sendiri
Hingga musim beralih.
Bobotsari, 2006 Juli 5.
63.Absurditas
Windu set
Kita pernah mengubur duka
Pada tanah tanpa nama
Tapi tumbuh aneka bunga
Menciptakan ribuan kupu-kupu
Meski tak bisa kita tangkap
Kita pernah mengubur duka
Pada bumi bertebar nista
Tapi jadi
Memburai akar-akar kegelisahan
Merebakkan harap tanpa kepastian
Kita pernah mengukir sekeping senyum
Dalam secawan anggur beracun
Menegaknya bersama air mata
Getirnya jadi madu
Hangatnya nyaris merantas ajal
Kita pernah memahat kata-kata
Pada batu-batu tak bernyawa
Mengurai kisah anak manusia
Berharap mimpi jadi realita
Melintasi edaran sang wakkttu
Untuk sampai ke sorga
Tapi pada akhir kejadiannya
Melindap dalam ruaaang hampa
Bergulir menjadi secebis mimpi
Dalam diam, sia-sia.
Bobotsari, 2006 Juli 19.
64. Setelah Aku Pergi
Windu set
Waktuku hampir habis
Tinggal beberapa saat
Menyatroni jagat seisinya
Jangan bayangkan
Sebab akan jadi hantu-hantu
Gentayangan menyergap ketakutan
Pinus-pinus tumbang
Tanah-tanah retak meradang
Bukit-bukitpun pelontos
Banjir melanda membabi buta
Kekeringan meregang nyawa
Bukan Cuma itu,
Bumi jadi gelap dan tandus
Tumbuh akar-akar kaktus
Menyeruak diantara fosil berserak
Mengubur situs peradaban.
Sebentar lagi aku lari
Mengejar raja-raja angkara
Meninggalkan generasi papa
Membopong segepok
Menagihkan janji anak cucu
Yang kehilangan belantara rimba
Punah dilahap nenek moyangnya.
Bobotsari, 2006 Juli 21.
Bobotsari, 2006 Juli 21.
.
Lembutnya Keberuntungan
Windset
Sejumput kutuk menjerat dikelindan waktu
Menyuara dalam derai do’a
Tapi jadi terasa tak berharga
Dipersimpangan kaidah menggelora
Limpung beradu nafsu
Makin jadi kemunafikan
Padahal tahu dikejar dosa
Padahal ngeri menimbun laknat
Suara hati terlindap disekecup cium sepagut peluk
Terlena digelora kesempatan
Jadi manis dan terasa pedas dijilatan lidah
Bibirpun tersenyum kecut
Kesadaran tak lagi berharga
Biang-biang hasrat terkatup sepanjang waktu
pada kata-kata bermakna keberuntungan
jadi rangkaian basa basi, menakar harga diri
Sebab logika harus ada
Siapa kita !
Harga diri memang jadi sirna
Dihujam bisikan kata hati
Mungkin sama-sama menjajagi
Sampai dimana pisau naluri bersembunyi, atau
Standar kita sama “ saling mengisi”
Mari kita pecahkan rahasia diri
Lewat mata atau mungkin kecebis kesempatan
Tak usah terus berselubung sandiwara
Kata mati kita mesti sama
“merasakan lembutnya keberuntungan”
silent home, Bobotsari, Rabu, 9 Oktober 2008.
Baru saja sunyi melintas hati, menyapa peristiwa yang berlalu,
aku dan kau terpuruk, mengalah sebelum tertiup genderang perang.
Baru saja kutulis di lembar memori,
menguntai rasa bahagia kemarin,
kau dan aku bergandeng mesra,
berpeluk diantara “asa dan realita”
haruskah kini jadi lara, dihisap tawa kepedihan diri.
Padahal cinta telah bersemi di palung hati.
Esok bagaimana mesti kusapa dunia,
yang kutahu takkan mungkin lagi ada dirimu,
sementara kau mendiami seluruh taman asa,
diantara kuntum melati yang pernah mekar wangi.
disimpan sepanjang penantian hati,
mendiami ruang paling suci tanpa berbatas waktu.
Minggu, Pebruari 22, 2009.
Salahkah aku menafikan arti,
jika senyummu terlalu dini berubah sinis ?
mungkin tak kau kenali lagi diriku,
terpaut wajah-wajah rawan, tersumbat kata-kata menawan.
Kuhitung jejak sejak kita berpaut dalam diam,
terasing dikelindan waktu,
matamu bersinar bahagia,
hingga detik ini binarnya masih tersimpan.
Kenapa tak pernah kau katakan,
tentang manusia dan kebosanan,
tentang kemunafikan juga kebencian,
atau tanyakan jika kau alpa siapa dirimu.
Coba takar masa silam,
tentang dunia dan petualanganmu,
adakah dusta kau sembunyikan dariku ?
suci tidak mengukur rangkaian waktu.
Aku menyimpannya dalam sunyi,
melindapkan bersama usia bermuara.
Pernahkah kau berkaca diatas air,
melihat wajah dirimu beriak-riak,
sempurnakah cerminan itu ?
lalu bandingkan semirip apa denganku.
Minggu, Pebruari 22, 2009. 03.15. wib
Cinta Putih
January 22, 2009
serta seutas wajah yang menerangi
Pada hati…bangkitkan semangat diri
tuk lalui hari-hari
Meski kutau bagiku takkan mungkin lagi ada dirimu
Tetap saja kubiarkan engkau mendiami seluruh taman asa
di antara kuntum bunga mawar yang pernah ada diantara kita
Merekah indah diantara ‘harap dan nyata’
Oleh ribuan hari-hari penantian hati
Susuri hidup… walau tertatih seorang diri
dan kau tetap disana, diami sudut paling sunyi
dan suci…
Tentangmu
January 7, 2009
Baru saja kutulis namamu di diary harianku
Belum habis semua rasa bahagia kutuang
Haruskah kini kutuliskan tentang lara,
tentang kesendirian yang tak kutau akhirnya ?
Ku tau kau takkan pernah menjawabnya
Sebab kau pergi saat ku masih ternganga
Terbuai segala pesona rasa jatuh cinta
Haruskah kurobek semua seolah tak pernah ada ?
Masih
March 11, 2008
Dulu kau adalah gadis kecilku
Dulu kau adalah adik kecilku
Hingga kini kau tetap seperti itu
Meski hanya panggilan dalam hatiku
Jejakmu
Sejak engkau melangkah bahagia
Hingga pergi meninggalkan luka
Semuanya tertinggal
Terngiang aku saat-saat dulu
Kita berdua masih
Menjejak harapan yang sama
Tujuan yang satu… cinta abadi
Hingga lalu engkau pergi
Meninggalkan jejak yang dalam di hati
Tanpa pernah berkata, tanpa pernah memberi
Padaku, harapan untuk kembali
Takkan kuhapus jejakmu…
Biar sakit, biar pedih, atau apapun rasanya
Tetap tersimpan selama-lamanya
Hingga angin dan air mengaburkan semua
Pedih
December 29, 2008
Mereka tertawa seolah aku tak merasakan apa-apa
Seperti perpisahan hanyalah sebuah fase biasa
Mengolok-olok dan memberi semangat seadanya
Kawan… aku baru saja kehilangan cinta
Semua melarangku menangis, hatiku tak boleh menjerit
Tapi mereka tertawa… bukannya memapah jiwaku yang lemah
Tak ada lagi singa dan serigala di dalam jiwaku kini
Kumohon tolong, berhentilah menertawakan kepergiannya !
Aku hanya ingin engkau tahu, bukan menertawakanku
apalagi menghujatku… sebab engkau kawanku
Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku
Kumohon berikan aku ruang sunyi untuk mendamaikan diri
tuk mengenangnya pergi…
tuk menantinya datang kembali…
tuk membangun semangatku lagi…
Hanya Bisa
November 12, 2008
Jika memang kedua hati yang dipersatukan oleh rasa bernama cinta ini tak dapat menyatu dalam satu biduk kehidupan cinta yang utuh, biarkanlah rasa yang ada ini abadi tak bertepi.
Tak peduli apa yang mereka katakan, tak peduli mereka pada rasa yang kami satukan. Biarkan saja kami merasakan kebahagian dalam keterbatasan, atau ijinkan kami menyatu dalam satu ikatan. Kau takkan pernah merasa sedih atas apa yang kami rasa. Kau takkan pernah turut larut dalam keadaan hati yang carut-marut. Kau hanya bisa berkata. Kami… hanya bisa berusaha.
Pujangga
October 20, 2008
Ku tak akan pernah menjadi seorang pujangga, bermodalkan sebuah puisi cinta. Mengertilah, bahwa ku bukan seorang penyair puitis yang habiskan waktu dengan menuliskan segala inspirasi tentang cinta di selembar kertas seadanya, tak peduli lusuh atau baru.
Aku hanyalah seorang pria yang memiliki sebuah perasaan cinta pada seorang wanita. Inspirasi hadir dari
Bahagia Milik Siapa?
November 17, 2008
Aku tak tahu, siapakah sebenarnya di dunia ini yang paling menginginkan kebahagiaan untuk dirasa. Seseorang itu sendiri ataukah orang lain ??? Sebagaimana tentang siapakah yang paling mengerti diri kita masing-masing, orang lain atau memang hanya diri kita sendiri ???
Aku mengerti, normalnya kehidupan takkan menjadikan orangtua sebagai penguasa masa depan seorang anak, tanpa sedikitpun berpikir yang terbaik untuknya. Orangtua selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya, bukan sebaliknya. Lalu, pernahkah ada di dunia ini seseorang normal yang tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri ???
Itu hanyalah seutas perasaan klise yang masih saja berkecamuk dalam benak yang terus beranjak dewasa. Tersirat sebuah dilema panjang saat akhirnya kupilih untuk mengungkapkannya. Semoga… kelak cinta benar-benar dapat dirasakan sebagai suatu perasaan bahagia tanpa dilema.
Jika
December 23, 2008
Jika tulus cinta harus terpisahkan jarak
Jelas cinta tak lagi menggunakan indera
Jika rindu harus diobati dalam penantian
Jelas ini hanya berbicara tentang perasaan
Jika hidupku adalah tentangmu
Maka semua usahaku adalah untukmu
Jika disisiku adalah bahagiamu
Maka disisimu adalah semua pengabulan atas doa-doaku
Cinta
December 25, 2008
Sebab cinta tak butuh terlalu banyak kata
Buang semua puisi yang pernah kuberi !
Lupakan semua kata mesra yang kuucap !
Perhatikan saja berapa lama aku disini
Berhentilah untuk menatap masa lalu
Rajutlah impian kita setiap waktu
Tanpa ada egomu… tanpa ada egoku
Berjalanlah bersama sebagai satu
Sebab cinta tak hanya ingin sementara
Belajarlah untuk s’lalu mengerti
Belajarlah untuk s’lalu memberi
Jadikan kesuciannya itu abadi s’lamanya
Puisi Penantian
December 28, 2008
Manusia tempatnya salah…
Tapi haruskah ku menyalahkanmu ?
atau menyalahkan hatiku sendiri
Yang tetap bertahan meski engkau pergi
Disini sepi… sayangku…
Tapi aku tak menangisi kepergianmu
Hatiku sunyi… sungguh sunyi…
Tanpa manis kata manjamu
Aku takkan menyalahkan siapa-siapa
Menunggumu ku takkan merasa sia-sia
Jika perpisahan itu adalah kejujuran hatimu
PUISI CINTA TIDAK DATANG LAGI.
Aku tahu
PUISI CINTA sudah mulai pergi
tidak datang lagi
sudah lari jauh dariku
terlalu jauh
entah dimana.
Aku tahu
PUISI CINTA sedang sakit
tidak lagi bangkit
terlalu uzur untuk memandang ku
tidak mau bersama ku
dan bosan terhadap ku.
Aku tahu
PUISI CINTA mulai benci terhadap ku
Karena aku....
dan ramai manusia lain...
sudah berhati batu!
- Friday, Dec. 26, 2008 @ 04:00:40 am
malam...
andai nanti malam itu membuat mu sakit..
tanyalah pada unggas mengapa malam itu menyakitkan?!
malam...
andai nanti malam itu membuatmu mengeluh...
fikirkan,mengapa kau mengeluh sedangkan hari2 mu baru bermula..
malam...
andai nanti malam itu telah lari jauh dariku..
katakan pada diriku itu yg terakhir...
dan,
batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..
dimana
batin pun tertanya dan jiwa pun gulana..
dimana
kerna...
cintaku hanya secebis..
jauh di dalam kerdil tubuhku...
cintaku hanya secebis...
untuk kasih yg hanya secebis buatku..
cintaku yg secebis...
hanya layak untuk mekar untuk diriku yg kepayahan..
(untuk tan cai ling jika kamu ke sini)
aanslendro (Visitor) Friday, Dec. 09, 2005 @ 12:50:03 pm
cinta itu takpernah sakit dan tak pernah mati.
benci adalah cinta yang terpendam dalam lumpur kenistaan yang menghitam.
kalau boleh aku katakan cinta adalah bias dari kemurkaan.
krn cinta kita hidup,tapi cinta bukanlah kehidupan tapi fatamorgana dari kehidupan.
Kamu Diatasku Malam Itu
Keretakan kesetian itu selalu terdengar merdu
ditengah kegalauanmu mengenai keberadaan status sosial yang bersama kita sandang
terlihat mencolok mencekik di leherku
disetiap sudut protesmu..
aku diam
Keretakan kesetian itu terlalu meradang
Dikala semuanya yang kamu rancanakan atas namamu gagal atas namaku
Gagal bertalikan kesialan diriku karena turunan pelacur yang jelas-jelas kau tahu
Pelacur itu terperawani oleh kehidupan itu sendiri.
Kerertakan Kesetiaan itu berujung maut
Semenjak terlalu pahit untuk di kecap dan dijilat berlahan
Waktu rasa itu bermain-main dengan lidah
Saat pisau dapur itu kau tikamkan berulang-ulang kepadaku
Ketika kamu diatasku malam itu
Keretakan kesetiaan itu terlewati sudah
Semenjak aku tergeletak lemas kehabisan darah
yang terus keluar dari arteri pulmonalis yang terputus
ketika kamu diatasku malam itu
Desember, malam itu
Di depan Gereja Santa Maria, Allen
Aku menunggumu disana
Seusai misa malam natal
Sehelai kertas bertuliskan pesan pendek itu kutemukan terselip dalam buku novel yang baru saja kubeli di flea market siang tadi.
Sebuah pesan penantian. Entah mengapa aku merasa dekat dengan pesan itu. Sehingga membuatku membacanya berulang kali.
Desember, malam ini
Di depan GKI, seusai melihat misa natal pagi
Aku berdiri disana
Menunggu melihatmu masuk kantor
Sebendel kertas print out kubaca. Itu kudapat dari tumpukan buku dimeja kerjamu kemarin. Sebuah no ponsel berderet-deret di dalamnya. Entah mengapa aku merasa sakit di dalam hatiku. Kekecewaan atas pengkhianatanmu. Sehingga aku harus pergi menjauhimu. Doaku semoga kita tidak pernah bertemu lagi.
Bobotsari, minggu 25 januari 2009.
puisi patah hati
Selepas malam itu
kau berlalu akupun tetap tertinggal
sambil kudekap erat-erat kepingan hati
Air mata hanya sebuah tanda perpisahan
isak tangis-puisi patah hati
Cinta begitu meraga,
tercambuk tercabik-cabik
hingga luka menganga dan darah rindu pun menetes
Tercecer ditanah kerontang, ditikam terik
jejakkan kenangan, kisah usang beribu
Dan, hingga lelah menyesah
di belahan bumi purba ini kau tak ada lagi
Kau telah pergi...
menggapai seribu gemerlap bintang
mimpi terindah yang kau nantikan sepanjang usiamu
Sudahlah...
tatap nanarku hanya pada harap kebahagian
untukmu, selalu...
Berdiri aku harus tetap tegak
mencari kepastilan lain sembuhkan perih
untuk hidup yang terus berlalu
dengan... atau tanpamu lagi
Gadis, Di Warnet, Di Malam Itu
Hatiku masih terbujur kaku menatapnya makin jauh. Punggungnya seolah menandakan kehilangan bagiku. Suatu yang belum terbangun dan kutakut akan segera hilang. Kenapa ia begitu?? Kenapa aku terlalu bodoh?? Hanya karena kami berdua masih terlalu muda. Baik dalam usia maupun hubungan nyata.
Pertama kumelihatnya di sini. Seorang gadis, di warnet, di malam itu. Lincah jarinya menari dalam sebuah tarian perkenalan dan sosialisasi dunia maya. Senyum yang sesekali terkembang dan tawa yang membahana. Semua yang kulewatkan karena memiliki cinta.
Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawanya disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutau dia beda. Karena kuyakin dia tak terjamah. Oleh buruknya keluguan pada jaman.
Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan ia tak meninggalkan hatinya. Karena keangkuhan padaku yang slalu kubawa. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta??
PUISI ROMANTIS
Pembaringan dingin pelan tapi pasti, bekukan wajahmu di otakku
Untukmu dan hanya untukmu, kujelaskan kelamku dan kukuatkan lemahku
Indah punah, sejuk busuk tanpa jelmamu
Seandainya mendung itu putih, maka deras hujan takkan mampu padamkan bara asmara
Inilah aku sang pemuja dosa, yang tak layak bermanis kosa
Romantika kita bagai candu psikotropika alam baka
Orasi emosi selalu jejali cerita kita tanpa jeda spasi
Manifestasi puisi tak cukup hangatkan mimpi unifikasi yang perlahan basi
Andai dia tak mengikatmu, dan aku tak termiliki, kita takkan menyerah kalah di akhir kisah
Nirwana dan neraka lebur lara, saat luka menyapa
Tersenyumlah terakhir kali sayang, dan lihat aku melayang tenang baurkan remang
Impian telah berkhianat selingkuhi mimpi buruk
Selamatkan saja dirimu dari lubang hitam hatiku, karena jiwaku sudah tersesat terlalu jauh
puisi terakhir
"Ini jelas luka!"
pekikku diantara beling-beling berserakan
Cawan telah mati
dan hati yang terhidang dikoyak kata-kata liar
Ya,percuma!
Puisiku tetap tertatih-tatih
lalu meraung di akhir hayatnya
-angin mengikik
Malam pun mengantuk
Bulan mengutuk
Tidurlah dan selamat tinggal!
24 Nov.08
Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu
Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu
Meski tanpamu
Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Suara dengarkanlah aku
Apakah aku s’lalu dihatinya
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Kalau aku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu
Aku menunggu
Ney
Laksmi wajahmu masih kuingat
Serindai suaramu terus saja terngiang
Lamun sangkala terus menjauhkanmu
Dari diriku…
(Walau) sabak terus ku berjalan
Sepanjang makadam penantian
Merangkai harapan, menjadi
Sebentuk sani kenyataan
Laksmi wajahmu takkan hilang
Lamun sangkala makin jauh membentang
Serindai suaramu s’lalu berdendang
Di tengah sunyi dan keramaian
Buat KenzT Prabowo
Tahun ke-3
February 12th, 2009
Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Menanti berlabuhnya asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing di tengah lautan luas nan ganas
Berteman satu dayung dan satu tekad
Untungnya…
Perahu ini tetap kokoh seperti mula
Meski ombak tak henti menerjang
Meski pasang sering menenggelamkan harapan
Engkau tetap percaya, engkau tetap mengerti
Engkau tetap menanti
Tak ingin kembali, tak ingin berhenti
Engkau terus ingin bersamaku hingga ke tepi
Di pelabuhan terindah
Bersama cinta dan rindu yang kita punya
Tanpa memandang apa, siapa, tapi bagaimana
Ini adalah tahun ketiga kita bersama
Penantian tanpa letih, kesabaran diuji
Di saat satu persatu cinta dua insan biasanya t’lah mati
Engkau tetap disini, tak sedikitpun isyaratkan letih
Percayalah…
Ketulusanmu takkan pernah terganti
Keyakinan dan harapanmu
Sebab kita berjanji bukan sekedar bermimpi
Perpisahan
Kita Terpisah
Terpisahkan dari pandangan
dari tatapan, dari ratapan, dari tawa, dari canda, dari sentuhan
yang ada hanya ikatan di hati yang tertambat begitu dalam
kala aku mengingatmu
Saat setelah meninggalkanmu….
aku belajar sesuatu tentang cinta…
yang slama ini menjadi pilar pilar hidupku
tentang sebuah pencapaian
tentang sebuah arti kesempurnaan
dan juga tentang sesuatu yang arif
apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan
tidak menjadi air mata saat meninggalkanmu
Ratapan Kesempurnaan
perpisahan ini bukanlah ratapan
juga bukan batas ikatan
perpisahan ini hanyalah perhentian
menuju sebuah penantian
untuk mencapai kesempurnaan
karna kau harus percaya…
ada yang lebih baik untukku disini
juga untukmu disana
namun lebih baik bukanlah sempurna
dan sempurna juga bukanlah indah
dan aku pun percaya…
ada yang lebih indah dariku
bahkan lebih berwarna untukmu
begitu pula aku
tapi ketika engkau renungkan sejujurnya….
hal itu bukanlah sesuatu yang membuatmu lebih sempurna
karna memiliki sesuatu yang lebih baik
dan sebenarnya….
kesempurnaan itu..
adalah ketika engkau tambatkan hatimu pada kekasihmu
dan engkau pun berubah untuk kesempurnaan itu
dan sampai akhir hayatpun kau tidak akan pernah sempurna
dan itu adalah bagianku untuk memahami arti dirimu
dan hanya kebesaran hatimu yang slalu memelihara cinta itu
karna aku bukanlah satu
namun tercipta untukmu
Langkah kaki
Desiran suaramu seperti ombak
menyeru nyeru hatiku
membuai angan anganku
membangunkan kerinduanku
menghapus tawaku menjadi ratapan semu
sebuah ratapan yang akan aku jajaki
walaupun harus bergeliat…
merangkak…
tertatih…
aku
untukmu
Tambatan
mari kita tambatkan hati ini
dan kuburkan kedalam tempat yang paling dalam
yang gelap gulita
hingga tak