my live
Rabu, 26 Maret 2014
maka... akupun terkesima
tatkala mimpi itu membingkai peristiwanya
sakit bukan sebuah jembatan kematian
tetapi peringatan, bahwa kita hendak menuju kearahnya
sakit tak juga memilih siapa menyandangnya
tahta, harta, ketenteraman jiwa pun bukan penyebabnya
maka... akupun memilih turut berduka
menyelinapkan doa buat kesembuhannya
berharap bukan kanker kolon yang diindap...
27 maret 2014.
Senin, 17 Februari 2014
SETELAH TIGA DASA
WARSA
Wind set
Kisah ini lahir setelah aku menyadari,
berfikir, merasakan dan mengetahui, bahwa:
Setelah
seseorang mencapai dan mewujudkan sebuah puncak yang diharapkan, maka diapun
akan meninggalkan puncak itu.
“Hatiku
tidak akan pernah mau bicara, jika ia bicara akan berbeda dengan mulut dan
mata. Kejujuran dan rahasia ada di sana, tersimpan jauh di lubuknya. Siapapun
tak bisa memaksa hatiku mengungkap kejujuran misterinya, namun ada yang bisa melakukannya pada diri ini.”
Inikah takdir yang telah tersurat padaku? Mengapa semua harus terwujud? Bagaimana Cinta
yang berlalu?
“Cinta itu tetap ada hanya bersama penepatan
janji. Dan, Kepercayaan pun tetap ada jika bersama kejujuran.
***
1. BERTEMU KEMBALI
Cahaya mentari redup di awal Desember
memayungi perjalanan ke suatu dusun di sebuah desa. Dinda adikku minta ditemani
mendatangi pernikahan anak temannya. Kami berboncengan. Tak terpikir apapun
saat itu, hanya kasihan pada Dinda, teman-temannya telah terlebih dahulu pergi.
Aku tak bertanya siapa yang akan dikunjungi. Pikirku, biasanya teman-teman
Dinda sudah kukenal.
Jalan beraspal terus menanjak naik dan
sepi.
Sepanjang jalan kanan kiri terhampar
sawah menghijau bak lukisan anak-anak. Udara segar disertai angin basah sejuk
membelai kulit. Di boncengan Dinda aku lebih banyak diam menikmati panorama
alam yang indah. Aku terbuai.
Beberapa kali Dinda menghentikan laju
motornya, bertanya-tanya letak rumah teman yang berhajat. “Masih jauh.” Begitu
selalu jawab orang yang ditanya. Jawaban yang menyenangkan bagiku, semoga masih
lebih jauh… dan jauh lagi biar aku bisa puas memanjakan mataku. Aku tak begitu
hirau apa yang ditanyakan Dinda pada mereka. Hingga, ada nama Bintang
disebut-sebut.
“Din, siapa Bintang itu, apa temanmu
yang lagi mantu?”
“Ya… dia namanya Bintang suaminya
temenku itu.”
“Bintang sapa?” aku penasaran. Ingat
cerita mas Abi dan kak Tono dulu.
“Entahlah…yang kutahu nama suaminya
Cuma Bintang saja, aku nggak tahu nama belakangnya.” Jawab Dinda sambil nge-gas
motornya di tanjakan. Jangan-jangan anak itu, atau…ah, mungkin saja orang lain.
Tapi, apakah Bintang-Bintang bertaburan di desa kecil ini ? Tiba-tiba aku jadi
ingin tahu.
Beberapa saat kemudian Dinda menunjuk
sebuah tarub tak jauh didepan. Dinda berhenti memarkir motor agak jauh dari
situ. sambil menggandengku dia menunjuk rumah temannya. Aku belum tahu siapa
tuan rumahnya. Berselubung penasaran kuikuti langkah Dinda. Jika benar Bintang
itu, mungkin aku pun tak lagi mengenali. Sudah begitu lama dia pergi dari
benakku, jika kucoba mengingatnya akan
hilang seperti kabut.
“Nah itu orangnya, mas Bintang.” Kata
Dinda sembari menunjuk seseorang yang berdiri didepan pintu tarub. Aku belum
yakin, benarkah dia ?
Ku lihat sepintas dia kaget. Dengan
ramah dia menghampiri kami. Begitu dekat, sangat dekat. Meski masih sedikit
ragu, aku mengenali mata, hidung dan senyumnya. Ya… senyum itu, senyum yang
pernah kucari artinya di perjalanan hidupku. Senyum yang masih melekat di
sela-sela mataku.
Mendadak kakiku serasa lemas, berat
dibawa melangkah. Dia tampak dewasa. Rupanya dia juga telah lupa sosokku,
menyanyakan mana yang Ajeng dan yang mana Dinda. “Aku Ajeng.” Begitu kutepuk
dada. Maklum kami bertemu sepintas waktu saat usiaku masih lima belasan. Jadi…
tiga puluh tahun yang lalu.
Di sela perbincangan, sesekali mata
kami bersirobok tatap, dan tersipu-sipu bersama. Mencoba menggali ingatan,
menemui masa-masa yang hilang, berselang-seling menyibak rasa hati, mencari apa
yang tersembunyi. Biarlah, aku tak ingin
memaknai walau getarnya masih terasa. Aku tak mau ada tanya, ada mata-mata
curiga. Kututup letup-letup di dada, rona-rona tembaga di wajahku dengan topeng
ceria. Dalam hati aku tetap ingin menepi, berlari menjauhi apa
yang lagi terjadi.
Alunan organ tunggal melerai kenangan
saat lalu dan membuatku tergerak ingin bernyanyi. Kutawarkan duet bersamaku.
Mas Bintang menolak alasannya takut istri cemburu. Aku tersenyum dalam hati.
Mas Bintang ternyata ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. Yah… aku senang, itu kuhargai. Sayangnya
kemudian dia bilang “nanti kapan-kapan kita nyanyi di tempat lain” sambil
sepintas kutangkap sorot aneh di matanya. Lagi-lagi
aku harus tersenyum dalam hati.
Tak ingin kutanggapi kata-katanya, aku
beranjak menghampiri player. Sambil bergurau kubilang pada istrinya kalau-kalau
dia cemburu Bintang nyanyi bersamaku, istrinya bilang, tidak akan cemburu. Ah…
tidak akan cemburukah… jika kau tahu kami menyimpan masa lalu?
Aku seperti baru belajar berdiri dan
bicara di depan banyak orang, gemetar dan salah tingkah. Bintang memandangiku.
Jantungku berdetak makin kencang, Aneh, mantan penyiar radio tentu masih ingat
bagaimana menyapa pendengar dengan fasih. Namun ditatap mas Bintang, lidahku
tiba-tiba kelu, perbendaharaan kata-kata habis dalam hitungan menit. Aku Cuma
bernyanyi tanpa improfisasi. Dia duduk bersama Dinda, memperhatikanku.
Permainan berakhir saat Dinda melambaikan tangan mengajak pulang.
Sepotong harap terluap dari mulut mas
Bintang, dia ingin tetap menjadi keluarga, komunikasi dan menjalin silaturakhmi.
Akhirnya kuberanikan diri minta nomer hp. Saking sulit signal, kukirim nomor
lewat sms sehari setelahnya.
Sulit menjajagi hati, menerka yang
tersembunyi dan mereka-reka makna yang terlindap. Mata-lah yang kurasa mampu
mengurai kejadiannya. Di mata mas Bintang terlindap untaian
manik-manik harap. Semacam naluri lelaki. Barangkali sisa-sisa kerinduan,
penasaran, keisengan atau kebiasaan. Bagiku wajar!. Kehadiranku yang
tak terduga tentu membawa lintasan kenangan yang nampak bahagiakan hatinya.
Meski dulu hanya sesaat waktu, tapi belum sepenuhnya terhapus waktu.
Barangkali keyakinanku tentang “bahagia” itu mesti dilayat jauh… bisa jadi “kebiasaan
iseng”. Memang tak sulit kuterka tapi sulit kupercaya. Aku tercekat
ketika jabat tangan terakhir, begitu erat tanganku digenggamnya bahkan dia
berani mencabik telapak tanganku. Oh! Jujur aku kecewa, kaget sekaligus curiga. batinku berteriak, “Kenapa
kau jadi begini Bintang?!”.
-0-
2. SAHABATKU
Dalam kesendirian ini….. kumpulan
sunyi menangkap senandung hati dan mengurai kisah lama, tak disadari terjelma
jadi rindu tak terkata, melulur seluruh ruang-ruang kosong jiwa yang
ditinggalkannya. Sahabatku Yok.
Kuingat kebaikan yang tanpa pamrih,
tak terkontaminasi dosa, sabar dan tulus dia mengajariku bergaul dan beragama yang benar. Juga menuturkan keburukan
kaumnya, kaum Adam.
Sekarang jarak dan waktu menyela,
namun suritauladannya terjaga tanpa sela. Dan, satu doktrin yang selalu kuingat
adalah, “Kita bertemu karena Alloh dan berpisahpun karena Alloh.”. Alhamdulillah, semua terus hidup tanpa
cela. menyatu dalam kebersamaan persahabatan semua karena Alloh semata.
Dia ada karena kejujurannya, karena
keluhuran budi dan juga karena hidayah-Nya. Dia ada bukan karena hasrat dan ambisi. Aku
mengingatnya seperti dia mengingatku.
Kini…, aku tak tahu bagaimana harus jujur, bagaimana menemukan alasan untuk dustaku. Tapi aku tetap berharap bisa jujur
sepertinya.
Aku ingin Bintang pun seperti itu
sebenarnya.
-0-
3. MEMORI ITU MASIH ADA
Hari ke-tiga Bintang menyatakan rasa
hatinya. Katanya; “meskipun kamu sudah
jadi milik orang lain, aku ingin tetap menyayangimu dan melindungimu”. Entah
mengapa aku jadi terharu. Hingga disela waktu kami mengurai kenangan yang terpenggal
dan tertinggal lalu menjajagi kemungkinan akan cinta yang bertumbuh kembali
diambang usia.
“Benarkah mas Bintang masih ingat semuanya?”
“Seingatku Cuma di batu besar itu, dan
dirumah sana… itu.” katanya.
“Masih ada satu tempat lain mas…, coba
inget-inget dimana…? Dan dia ternyata mengingatnya.
“Ya… dimakam itu.” aku makin terharu,
ternyata dia masih mengingat semuanya…
Salahkah jika kupikir Bintang
benar-benar masih mengingatku?.
Mas Bintang mulai menawarkan sesuatu yang berbeda. Ku raba arah rasa gelombang
yang mulai tak lazim. Cemas bahagia kait mengait. Bahagia pada perhatiannya dan
cemas pada pengalamannya. Sepertinya Mas Bintang bukan sosok pria yang setia pada
satu orang saja.
Aku bukan lagi bocah usia lima belas
yang naif dan bodoh. Bisa jadi aku lebih matang bergaul ketimbang dirinya.
Banyak karakter kupelajari dan menjadi guru terbaik bagiku. Aku
tahu, banyak pria dewasa, matang, kecukupan dan gaul, cenderung “peselingkuh”.
Mungkinkah mas
Bintang salah seorang diantaranya?. Aku hanya bisa berharap prediksiku
kali ini keliru, sehingga andai kami ada kebersamaan semata-mata
karena kejujuran hati.
Kata mas Bintang padaku, dia dulu
menikah karena disuruh bapak. Seolah dia menyalahkanku kenapa dulu tak pernah
datang padanya. Wah, kata-kata ini sungguh aneh ditelingaku. Sebagai perempuan aku
tak mau bertandang mencari lelaki. tak bisa kulakukan!. Egoku melarang
menukar harga diri demi perasaan yang belum jelas ujungnya. Kulihat mas Bintang
makfum dan membenarkan.
-0-
4. KE RUMAHKU
Hari ke-empat, mas Bintang ke rumah. Sebenarnya janji datang
kemarin tapi katanya banyak kerjaan rumah yang belum beres dan ada tamu besan.
Walau ngaret, banyak ampiran tapi masih mau menepati, Janji datang siang
ternyata muncul sore, Saat ku telpon ternyata di bengkel. “Oh ya… tak apa, kan yang selalu
menepati janji Cuma matahari, yang selalu terbit dari timur dan tenggelam di
barat.” begitu kataku. Kupikir
kalaupun tak jadi datang juga tak apalah.
Mas Bintang datang dalam gerimis. Saat
itu aku di warung sebelah rumah membeli sesuatu. Rupanya benar tak tahu
rumahku, dia kebablasan jika tak ku panggil.
Di rumahku tampak lebih nyaman dan enjoy ketimbang dirumahnya. Aku betah
dengan sikap ramah dan terbukanya, Banyak cerita bergulir dalam sunyi. Perasaan
pun bertaut. De javu ! seakan kembali berada di waktu dan tempat sama dilampau
waktu yang jauh di rumah dimana kami pernah ditinggal berdua. Rasanya
tak ada yang lebih kusuka ketimbang saat ini. Sunyi yang syahdu. Dan, hati kami seperti merasa teriris saat
menyadari kami sama-sama sudah jadi milik orang lain.
“Aku ingin mengenal suamimu” begitu
katanya. Tentu, tanpa diminta aku sudah memikirkan itu. suamiku harus kenal
teman-temanku, siapapun dia. Aku tak hendak dan tak pernah mau berbohong
pada siapapun apalagi pada suami, orang terdekat dan paling kupercaya. Keinginanku
berbagi suka duka tak mungkin terwujud tanpa kehadiran keluargaku. Hanya saja
saat ini hatiku sedang sensitive, merasa
semua harus kupendam sendiri, tak ingin berbagi. Mas Bintang janji akan
datang untuk kenal suamiku setelah menghadiri hajatan keluarga di Jakarta. Aku
menunggu.
Kepergiannya membawa hatiku serta. Jarak dan waktu
terasa makin mendekatkan kami. Setiap menit bergerak kesan manis kutangkap.
Telpon dan sms tak pernah jeda. Apa yang dilakukan dikabarkan padaku. juga membeli
oleh-oleh untukku. Kurasa inilah saat yang paling berkesan dalam
kebersamaan kami. Bunga-bunga
hati mekar menanti kepulangannya. Meski aku punya janji hati yang ingin
kutepati. “Menjadi diri sendiri tanpa terpengaruh siapapun”
Hari itu Minggu 12/12/2010.
Harap-harap cemas mulai melanda rasa!
Tiba-tiba terselip ragu dihatiku. timbul tanya tentang
akidah dan jatidiri. Pantaskah aku dikunjungi lelaki yang baru sesaat terdengar
namanya di keluargaku? aku nervous dan bimbang!. Benar-benar serba salah seperti kehilangan logika jadi tak percaya
diri. Inginku dia membatalkan janji itu. Dalam situasi batin yang sulit, tiba-tiba mas Bintang justru ingin
cepat kerumah. Wah!.
Entah kenapa mas Bintang gampang masuk
benteng yang kubangun dengan kekuatan harkat dan martabat tanpa kugeledah terlebih
dahulu, Bahkan seolah telah kusiapkan
gerbang tersendiri. Padahal hatiku masih ragu akan tekadnya. Apakah niat
ini sudah dipikir baik-baik dan kelak tak menyesal? Entahlah Mungkin
ini takdir… walau aku telah berusaha menolaknya.
-0-
5. CERITA MASA LALU ITU
Kisah masa lalu yang sederhana ini jadi
satu sejarah lain di hidupku. Bintang lelaki yang pernah membuatku menunggu.
Kami bertemu di sutu senja pada sebuah perigi jernih berpancuran yang mengalir dari
mata air di sela-sela batu hitam besar dalam komplek makam China di desaku.
Surya hampir tenggelam di ufuk barat.
Gelap melerap perlahan dirumpun bambu. Hembusan angin gunung menerpa helai-helai
dedaunan. Gemersik luruh berguguran. Jiwa nelangsaku menghempaskan raga dihamparan
batu hitam. Sembari meredam sedih kucelup kedua kaki hingga sejuk merambat
tubuhku.
Di situ seorang nenek renta yang tak
kutahu jati dirinya tengah mandi terbungkuk menggosoki kulit pada yang sangat
keriput ditubuhnya. Aku hanya melihat tanpa berkata-kata.
Senja kian senyap, membuatku tak
berdaya, namun aku tak takut atau curiga. Mungkin beban di otakku lebih berat
ketimbang perasaan takut. Di usia yang hampir 15 tahun aku merasa telah menelan
banyak ketidakadilan. Aku tersiksa di lingkup yang seharusnya, lingkup
keluarga. Bapak ibu, adik-adik, nenek-buyut, rumah, semua nyaris tak memberiku hak
tapi banyak kewajiban. Sebagai anak tertua aku dibebani banyak pekerjaan hingga
aku suka kelelahan namun ironisnya hak-hakku dikebiri, sering aku hanya diberi
janji dan sedikit harapan tanpa realisasi. Jika aku menagih janji mereka bilang
adik lebih membutuhkan. Jelas aku sakit hati menerima perlakuan itu. maka aku nekad
pergi
dari mereka. Aku tak paham kenapa selalu harus mengalah dan dikalahkan.
Senja itu ku rangkum hujat, hatiku
bertanya “Kenapa aku dilahirkan” apakah karena do’a yang se-windu? lalu setelah
hadir yang lain seakan aku tersingkir. Aku jadi benci tak bisa memahani orang
rumah.
Senja makin kelam. wajah nenek itu tampak
berbinar usai mandi, punggungnya yang bungkuk mengurangi keseimbangan tubuh
jadi sulit mengangkat kaki dari kubangan air, aku lompat membantunya. “Mbah”
Cuma kata itu yang keluar dari mulutku sembari meraih lengannya. Entah bisu
atau tuli, nenek hanya mendongak. wajah keriput tak berekspresi. Sepintas mata
tuanya melihatku dan tanpa kata-kata berlalu tertatih-tatih menuju gubug diatas
pancuran. Sebenarnya aku berharap sapanya walau sedikit.
Saat itu aku mulai resah. Berpikir
hendak kemana. Saudara? teman? tidak! pasti mereka gampang menemukanku. Di
benakku Cuma gubug nenek tadi jika tak menemukan solusi. Masa bodoh, yang
penting malam ini aku bisa berteduh.
Suasana makin remang dan lampus, angin
berhembus dingin. Otakku dikacau rasa was-was ingat cerita orang. Katanya,
kuburan China itu angker, nyaliku yang belum seberapa menciut. Bayangan seram
menggelitik benak dan tengkukku jadi merinding. Katanya menjelang maghrib makhluk
astral suka muncul gentayangan. Kicau burung perlahan berubah kerik jengkerik,
kepak
kelelawar yang mendadak terbang diatas kepala membuat detak jantung
nyaris berhenti. Sungguh mencekam! Bagaimanapun rasa itu tak luput dari bocah
yang bukan penakut sekalipun, Cuma gemercik suara air yang seolah hidup
dan menemaniku untuk berani bertahan.
Tubuh serasa kaku dipeluk
sunyi, syaraf-syaraf pun tegang. Mata dan telinga seakan ku tutup
rapat-rapat. Sampai-sampai tak yakin
pendengaranku menangkap sesayup suara yang membuat jantungku nyaris melompat.
“Dik…” pelan
suaranya, pelan kubuka indra. Ya Alloh! Detik itu juga jerat
keteganganku lepas. Aku tak yakin ada orang mendekatiku. Tapi benar dia yang
memanggilku. Dia tetanggaku, kakak temanku. Seorang yang santun dan baik hati.
Begitu aku menilai pribadinya. Kami sering bersama dibanyak kegiatan; olah raga,
ngaji, juga bersama dalam satu sanggar seni dan beladiri “PANTI WILASA”. Kami
pernah jadi kakak adik di sebuah drama berjudul “Awan-awan Fajar” Aku
memerankan Tini dan dia jadi kakakku Tono.
Kak Tono dan temannya entah hendak kemana, tampak merekapun
kaget melihat keberadaanku. Saat Kak Ton bertanya dan aku jawab jujur, tapi
saat dibujuk pulang, aku menolak. Aku sangat sakit ingat rumah. Akhirnya aku
diajak kerumah teman lainnya di desa dekat makam itu. Sebelum beranjak kak Ton
mengenalkan teman yang bersamanya. Bintang namanya. Dia nampak ramah
dan mudah bergaul. Di remang senja dia nampak gelap, tinggi dan agak kurus.
wajahnya manis dan bibirnya tipis murah senyum.
Kami beriring menyusuri jalan sempit
diantara gundukan makam China. Kak Tono di depan dan mas Bintang dibelakangku.
Entah kasihan atau basa basi tangan Mas Bintang suka memegangi bahuku. jika
jalan longgar dia menjajariku, merangkul sambil menepuk-nepuk bahuku, mungkin
untuk menenteramkan hatiku. Hingga di jalan kampung tanganku masih terus tak
dilepasnya.
Saat itu Jalan kampung masih licin
berbatu. Namun kurasakan bebatuan yang tersibak diantara kaki-kaki kami seakan
merantas bimbang hati. Waktu itu yang terasa cuma lega terlepas dari suasana
seram dan ditolong oleh orang sebaik mereka. Hanya sedikit risih dan jengah karena
tangan mas Bintang yang tak lepas dari diriku, sebab ini baru pernah kualami. Tapi
aku tak bisa menolak kebaikannya, hingga tak sadar sudah sampai tujuan. Begitu
singkat rasanya.
Tak kusangka rumah yang dituju justru
familiku. Mereka tidak tahu aku sering bersama adik perempuan temannya. Hanya
saja saat itu aku merasa disitu sebagai anak yang minggat dari rumah dan dibawa
laki-laki untuk nginep. Sungguh, minggat dan nginep dirumah orang adalah hal
yang tak ingin dan tak pernah kubayangkan. Rasanya tak enak jadi topik pembicaraan. Walau Kak Tono
menceritakan kejadiannya sebelum mereka pamit. Aku segan bertanya kemana dan
dimana mereka akan pergi. Aku sangat berterimakasih atas bantuannya jika mereka
tak menemukanku barangkali aku lebih sengsara ketimbang digunjing orang.
Aku tak mengerti
kenapa mas Bintang tiba-tiba kembali muncul keesokan harinya tanpa kak Tono. Kupikir
kedatangannya untuk menemui kakak mba Suli, mas Abi. Benar, mereka bertemu
sebentar, karena mas Abi ada keperluan, mas Bintang sementara ditinggal ngobrol
bersamaku dan mba Suli. Tak lama mba Suli pun pamit harus menyelesaikan
kerjaannya meninggalkan kami.
Hanya berdua, waktu itu entah apa yang
kami ceritakan. Pastinya aku merasa terhibur. Dan, serasa ada sesuatu yang hilang
dalam diriku ketika Bintang pamit pulang. Entah mengapa kulihat
dia pun berat melangkahkan kaki meninggalkan aku. Sehingga ketika kami
berjabat tangan di pintu belakang tiba-tiba dia memelukku dan mendadak memcium
bibirku. Aku kaget, tertegun seperti kehilangan akal, tak tahu harus
bagaimana. aku Cuma berdiri terpaku melihatnya berlalu dengan seulas senyum, senyum
aneh yang hingga kini tak kuketahui maknanya, sebab dia hilang setelahnya.
Aku tahu peluk cium sebatas membaca
novel yang sering ku pinjam diam-diiam dari perpus sekolah, tak terbayang akan
secepat itu ku alami. Aku baru kenal, belum tahu siapa dirinya, tapi dia berani
mencium segala. Sungguh ciuman pertama yang sangat menjengkelkan.
Diam-diam kutangisi kejadian itu,
sampai air mata basah di ujung selimut. Aku malu dan sebel, hatiku galau, sedih
dan tertekan. Mungkin aku belum siap mendapat pengalaman baru! Seakan melakukan dosa besar dan berat, selain
itu juga ingat pelajaran biologi, katanya pada air liur ada bakteri yang bisa
menulari penyakit. Aku jadi bolak balik kumur dan ngelap bibir. Anehnya setiap
kali jemariku menyentuh bibir mendadak bayangan Bintang muncul.
Tersenyum. Senyum yang bertahun-tahun melekat dalam ingatanku. Kejadian
itupun nyaris sulit kulupakan.
-0-
6. ANGIN YANG TAK PERNAH KEMBALI KE
TEMPAT SEMULA
Sering aku kembali ke makam China. Duduk membisu sambil merendam kaki di
perigi bening itu. Sunyi dan tenang. Aku
berharap bisa jumpa mas Bintang disitu. Ingin bertanya tentang kejadian
yang membelenggu ingatanku. Namun rupanya keinginan itu harus kutelan,
sejak itu selembar beritapun tak pernah mampir di telingaku. Keberadaannya
lenyap ditelan bumi. Tak ada rasa tersambung dihatinya.
Ironisnya akupun enggan mencari tahu dirinya.
Pernah ku bayangkan jalan-jalan ke
desanya, tanah licin, terjal berbatu-batu. Seperti memasuki lorong hutan bambu.
Tapi itu Cuma bayang-bayang sebab aku
belum pernah menginjakkan kaki kesana. Pernah kutanyakan pada kak Tono dan
mas Abi, mereka hanya bilang saat ini Bintang berada di desa itu. Dan aku tak bertanya lagi, sebab aku
merasa tak layak menanyakan. Juga pernah terbersit keinginan untuk
bercerita bahwa ada yang pernah terjadi
pada kami, tapi hatiku berat mengutarakan. Rasa
gengsi diri melarang membeberkan perbuatan iseng seseorang kepadaku. Apalagi mereka berteman, tentu mereka
sudah paham perilaku temannya, salah-salah
aku dinggap perempuan gampangan. Jadi kupikir lebih baik biarlah kukubur
sendiri.
Anehnya, bertahun-tahun waktu berjalan aku masih sulit melupakannya.
Tak sedikit lelaki mendekatiku,
menyukai, perhatian, dan yang berharap jadi pendamping hidup. Mereka terpaksa mundur sebab aku enggan. Aku
selalu ingat ciuman itu. takut ke-iseng-an Bintang terjadi lagi dan
makin melukai hatiku. Sepertinya wajah-wajah mas Bintang bertaburan
disekelilingku, seperti hantu yang tiba-tiba muncul tiap kali aku inginkan yang
lain.
Aku benci pada ingatanku tentang mas
Bintang. Dan, kesadaranku tumbuh setelah aku
tahu mas Bintang bagai angin yang tak pernah kembali ke tempat semula. Kupikir, jika dia menginginkan bertemu lagi denganku
bagaimanapun tak sulit mencariku.
-0-
7. MIRIP BINTANG
Memasuki usia 17 th, kelas II SMA aku
bertemu seorang yang mirip mas Bintang, (bedanya pada sikap yang gentel dan
berani) familiku jauh. Dia jujur dan setia. Yang lebih penting kutahu dia
tanggung jawab dan menepati janji. Dalam keadaan bagaimanapun. Awalnya
kurasa hubungan kami akan terkendala harta dan tahta orang tuanya. Ternyata
bukan jabatan dan kekayaan itu justru karena jarak jauh dan kecurigaan. Hobby
kami sama-sama adventure. Hobby-hobby liar dan beresiko. Aku suka hiking dan naik gunung, dia crosser
(pembalap). Meskipun kami sebenarnya jujur, saling percaya dan setia namun
tetap saja ada kecurigaan dan hubungan jarak jauh tetap berakhir.
Aku dan dia
menyerah kalah setelah 2,5 tahun. (Selama
itu aku mengumpulkan suratnya sebanyak 221 amplop, dan dia mengumpulkan suratku
173 helai ).
Di pernikahan saudara, Kami pernah
bertemu kembali. Dari perbincangan disitu, aku tahu keluarganya menyayangkan
perpisahan kami. Dari ibunya aku tahu dia belum punya pacar lagi. Entah
bagaimana perasaan dia saat itu, ketika aku mendahului pergi, kulihat
sepintas dia mengusap air mata di sudut pintu dengan memandangiku.
Dua hari kemudian dia ngirim surat,
katanya ternyata aku bukan perempuan yang pantas dicurigai. Dia ingin kembali, aku
tak bisa sebab aku sudah dilamar seseorang.
-0-
8. INTUISIKU
Pengalaman sesaat bersama Bintang
membuatku selektif terhadap lelaki. Bibit, bebet, bobot, dan terutama
kepribadian; setia, jujur, tanggung jawab dan apa adanya. Aku tak mudah percaya
siapapun selain intuisi sendiri, aku yakin intuisi
itu karunia Alloh yang tak diberikan pada semua manusia.
Aku bertemu lelaki ini di awal kuliah,
dia duduk di sebelahku. Saat itu aku merasa ada yang ganjil. Aku kaget melihat
sepintas mirip Bintang. Dia pendiam dan cuwek. Sementara banyak teman lelaki
tampak mulai approach dan mencari-cari perhatianku. Namun keinginanku saat itu
Cuma belajar dan belajar. Tak ada yang lain! Sehingga saat nuraniku berbisik dia
jodohku, aku hanya diam dan mencoba membuktikan kebenarannya.
Dan, intuisiku
ternyata benar, Alloh menjodohkan.
Aku bahagia dan
bersyukur atas karunia itu. Bagiku semua
yang ada padanya jadi anugerah terindah. Dalam berumahtangga kami bisa
saling menjaga, memberi, menerima dalam suka duka. Tiap masalah bergulir makin
menjadikanku kuat. Banyak Ujian Alloh yang kurasa berat; Kehilangan anak, harta, karir, kesempatan ibadah haji dan yang lain.
Aku tetap bisa bertahan. Up down, compang-camping perekonomian tak membuat
cinta kami goyah. Aku merasa banyak pemberian Alloh seringkali bukanlah
keinginan tapi kebutuhanku.
“Ya Rabb, jika
Engkau ridho, aku ingin bersamanya seumur hidup.” (3/1/11)
-0-
9. “YANG PERTAMA DAN HILANG”
Hari ini kubuka diary
lamaku. Kuncinya sudah karatan dan tak bisa lagi dipakai.
Anniversary Linda,
awal Juli 2000. Aku keluar dari party room, kepalaku terasa
agak berat mendengar hiruk pikuk music dan obrolan teman-teman. Diam-diam
seorang mengikutiku. Teman SMA yang sekarang
katanya aktifis Ponpes di Jombang. Simple, tak basa basi dia langsung duduk
di lantai dan aku dikursi. Dia Yok, anak guruku, bapak ibunya mengajar di SMA kami.
“Mana suamimu?” ku jawab lagi keluar
kota. “Oh” katanya menatapku. Tiba-tiba dia seolah mengintrogasi. Ingin tahu
macam-macam; pekerjaan, anak, rutinitas, suami, termasuk ijin keluar rumah dari
suami. Akhirnya kami asik ngobrol tukar pengalaman, cerita hal-hal aneh dan
paling berkesan. Ku dengarkan kisah cinta gilanya yang membuatku sering teriak
dan menutup telinga. Aku merasa tak punya pengalaman seheboh dia, paling Cuma
anak, beberapa kegagalan, dan satu kisah yang paling berkesan sekaligus aneh
adalah tentang cinta dan ciuman pertama.
“Aku mengalami saat masih SMP, tanpa
kusadari itulah cinta dan ciuman pertama yang sulit kulupakan. pertama
sekaligus terakhir. Jumpa untuk berpisah, sebab sejak itu dia hilang
entah kemana.”
Kuceritakan Bintang kecilku yang ada
dalam sekejap. Tapi meninggalkan kesan mendalam dalam hati. Yok tertawa, dan
bilang;
“ Bintang kecilmu bodoh
meninggalkanmu.” Yok menyindirku.
Sebenarnya aku yang dibilang bodoh mengenangnya berlama-lama, sementara
jelas-jelas aku telah dilupakan. Ya, Yok pasti tahu kebodohanku dan sepertinya
ingin membantu.
Sejak itu kami jadi dekat. Rupanya
pesantren telah merubahnya menjadi muslim yang baik. Yok mengenalkanku
pada akidah Islam yang kaffah, mengajari hal-hal yang syar’i. Setiap hari
mengirimiku hadits-hadits. Hingga aku seperti menjadi perawi hadist. Katanya,
dia ingin agar aku jadi perempuan berakhlak mulia seperti istri-istri nabi, dan
kelak bersamanya masuk sorga. (hah!)
Diusianya Yok belum nikah, sering aku
dan teman-teman mendorong untuk cepat nikah. Beberapa kali kucoba mengenalkan
teman perempuan tapi menolak katanya; “Jodoh kan sudah ada yang ngatur, aku
cukup bahagia bisa berteman denganmu. Aku merasa kamulah yang menjadikanku
seperti ini.”
Lama tak kubalas smsnya. Aku bingung
mencerna kata-kata yang membuatku jadi sulit menerka arti ukhuwah ini. Benar
atau tidak, Cuma dia yang tahu, yang jelas Yok suka bergurau, jahil dan ember.
Oleh teman-teman dijuluki ”radio bodhol”. Namun hal yang paling kelewat jahil
adalah sms yang dikirim akhir Oktober
2004. jam 02. dini hari. Katanya; “Jika seandainya perempuan boleh bersuami
lebih dari satu, aku akan melamarmu“. 30/10/2004 Hah?! ini
menghujat syariat namanya ! spontan kujawab;
“Jika kau tak ingin dilaknat Alloh,
hilangkan pikiran “SEANDAINYA”mu itu!!” Kupikir dia lagi
terakumulasi petualangan masa kuliah sampai sebelum di ponpes antara thn 85-99,
katanya playboy yang suka mempermainkan perempuan. Maklum, dia punya fasilitas untuk itu.
Kedekatan kami membuat teman-teman
heran, dibilang aku mirip ibunya, sabar dan tahan dengar omongannya. Biarlah,
kami tak peduli prediksi-prediksi yang jelas kami sama-sama suka pertemanan
yang tidak melibatkan keduniawian. Dan dia katakan, aku satu-satunya teman
perempuan yang sanggup merubah dirinya setelah ibunya. Alhamdulillah,
di usia 43 th kurang 20 hari dia menikah.sabtu,8 maret 2008.
Aku berharap dia lebih bahagia dalam
pernikahannya. ( di malam pertama, istrinya sempat
sms. Katanya; “Mas Yok kepikiran mba,
jangan-jangan mba gak bangun, gak tahajud” ). Ya, pasti Yok sudah memberi
tahu istrinya, setiap malam ada kerjaan
tambahan, miscall teman-teman. Bahkan padaku sudah dilakukan sejak th 2000.
Aku
memuliakan kejujurannya. Sekarang istrinya jadi sahabatku.
-0-
10. BINTANG YANG KEMBALI
Bertemu Bintang kembali ternyata masih timbul desir-desir aneh
didada. Kian dekat interaksi kian bereaksi. Dia tampak dewasa dan simpatik dengan kepala berpeci. Walau ragu, hatiku mengatakan dia merasakan
hal yang sama. Bintang menggoda bak angin sepoi-sepoi, membuatku nyaman dan
resah. Jika didekatnya hilang semua resah hatiku, sebaliknya jika jauh resahku
tumbuh. Mirip remaja puber, sering lihat HP, senyum dan cemberut. Aku waspada.
Timbul tenggelamnya rasa aneh ini mendorongku lebih mendekat pada yang diatas. Aku
takut nyaliku melemah, karena itu aku memohon kekuatan dan petunjuk pada-Nya.
Aku yakin petunjuk-Nya membawa mataku jadi fantastis, seakan menangkap
bias-bias kejahilan “lelaki” dimatanya. (Mata wadonan!). So, aku harus menakar
setidaknya sebulan !.
Bintang yang fun dan enjoy jadi mudah dibaca. Membuatku
ingin melayat jauh ke lubuk hatinya. Aku hanya ingin bukti kata-katanya
dan kejujuran hatinya. Sebab aku takut
justru mata liarku yang kelak menguak kebohongannya. (sepasang mataku
memang diam ditempat, tapi mata liarku
bisa nyalang kemana-mana). Bagiku kebohongan selalu menuai kecewa dan akan
sangat melukai jika dilakukan oleh orang yang kita cintai.
“
Ya Rabb, jadikan kedekatan kami untuk saling mengisi, baik bagi agama,
perekonomian dan juga kehidupan. Dan jauhkan kami dari mudharat dan fitnah.”
-0-
11. LEGENDA YANG PERTAMA
Pada
kenangan manis membuat kita ingin kembali padanya. Kenangan pada cinta
pertama kata orang pengalaman paling indah. Bagiku itu sebuah dunia
baru yang memenuhi sisi-sisi kalbu, seindah warna-warni pelangi, sehingga saat
ia kembali semua derita rahasia kehidupan dapat terlupakan. Ia
menyisakan nafas-nafas panjang dalam kenangan membahagiakan dan tangis manis
yang lirih ketika ciuman pertama menjadi sentuhan lembut yang mengungkapkan
bagaimana jari-jari angin membelai bibir perawan lembut dan tipis.
Memori yang lindap
puluhan tahun bagai roh yang menghidupiku, bayang-bayangnya adalah cahaya
diatas kepalaku tapi aku tak tahu bagaimana harus meraihnya. Jerit hatiku bukan
basa basi semu, sebab yang kuimpikan tak pernah menyadari kedalaman diriku
sampai saat perpisahan itu tiba.
Kini rasanya aku
tak ingin membiarkan gelombang samudra memisahkan seperti tahun-tahun yang
telah berlalu. Meskipun kini aku telah
bertambat pada sebuah pelabuhan yang tenang dan biru.
Bintang dan aku memiliki seuntai khayalan yang sama, sama-sama
ingin merajut mimpi lama yang belum usai. Dan itu terwujud jadi
keberuntungan. Realita tanpa kesepakatan dan rencana ini terjadi diseling
perbincangan setelah Sembilan hari pertemuan kami.senin,13/12/10.
Aku menyedihkan! Terobsesi pesona cinta pertama dan rayuan
semu. Banyak orang bilang wajar, tapi bagiku ganjil, sungguh tak pantas!. Hal yang tak pernah terlintas sejak jadi
perempuan bersuami.
Saat itu, bagai di bentang malam di sebuah padang rumput,
memandang ceracas bintang di langit. dibelai semilir angin. Jiwaku bagai selendang bidadari terhempas.
Melayang… mengawang… terbang… menggapai mimpi mimpi remaja bersama Bintang.
Mimpi yang jauh terlindap waktu, terlena di sunyi waktu.
Astaghfirulloh… ini
bukan ku mau!, Ya Alloh, cukupkahlah aku dengan apa yang ku
miliki dan yang Kau limpahkan padaku, cukupkan…“ Rasa ini membelit secepat ramat-ramat halus
terajut. Benang-benang itu menawanku, aku tak tahu apa? Maksiat dan laknat?
Tidak! aku hanya mau manfaat.
“Mungkinkah jiwa ini tandus? Tapi mengapa dalam ketandusan
menetes air mata? Apakah karena aku percaya janji janji yang diucapkannya; “Menyayangiku,
mencintaiku, melindungiku”. Mungkinkah mas Bintang menepati? Wallohu alam, Cuma
dia yang tahu.
Mungkin aku membodohi diri, mempercayai kata-kata metafora,
kata-kata yang tak tertera dalam buku suci milikku. Dan aku memberi ketulusan yang dalam di sini. Aku yakin jika dia
ingkar, suatu saat akan jadi petaka
baginya.
Bintang
bukan tak bisa menepati janji tapi sulit menepati janji.
-0-
12. HIDUP DAN UJIAN-UJIANNYA
Hidup
dengan berbagai kebebasan adalah hewan, namun hidup dengan pengekangan adalah
manusia. Aku sadari dan berusaha jadi manusia. Memenjarakan
diri bagiku justru kebebasan hakiki. Bebas dari iktilat, tabarujj, fitnah, kekejian persahabatan, ujub,
bangga diri, tidak qona’ah dan sifat-sifat buruk manusia yang selama ini
kutemui. Mencoba jadi perempuan dan istri baik tanpa campur tangan
siapapun. Mengunci rapat-rapat setiap indra di tubuhku untuk bisa jadi diri
sendiri. Ternyata aku bisa, meski awalnya sangat sulit. tak
cukup harta dan tak ada teman berbagi rasa beberapa tahun akhirnya
terbiasa aku merasa home of heaven.
Kata orang, semua yang terjadi saat ini akan berhubungan
dengan fase-fase sebelumnya. Sederhana saja, masa lalu adalah
pengalaman yang mahal.
Aku pernah tersesat
dalam duniawi. Harta membuat aku terlena. hura-hura,
pesta, dugem, membantai kawan memeluk lawan. Semua itu karena ambisi dan minimnya nilai-nilai spiritual. Hidup
dalam lingkungan bisnis, mendewakan materi dan pergaulan beragam ternyata
membuatku lelah lahir batin.
Mula-mula memang menyenangkan, tapi pada akhirnya jadi
memuakkan. Setiap kali ragaku diajak foya-foya, jiwaku seperti terhimpit.
Dengan kesadaran diri, aku menarik hidup dari dunia itu. Dan ketika aku jatuh,
bisnisku hancur, miskin dan tak punya apa-apa, aku tidak nelangsa, tidak
terpuruk, justru merasa bebas, nyaman dan bahagia. Dan benar tanpa itu semua
aku tidak terongrong kebutuhan-kebutuhan yang tak logis. Bisa makan Cuma lauk garam, bisa tidur nyenyak tak ada yang
membangunkan. Dan, kini aku seakan
mengalami titik kulminasi penyadaran diri. Sekarang dan saat ini.
-0-
13. PERJALANAN PERTAMA
Hari
ke Sembilan belas,kamis,23/12/2010. Kucatat dua peristiwa
pada sebuah perjalanan. Bersama Bintang hatiku bahagia menempuh
perjalanan ini, namun bahagia menyertakan duka tanpa disadari.
Naluri yang seringkali bermakna firasat dan ku
tolak karena ketidak yakinan, malah sering membuktikan kebenaran (cuihh
!) entah kebetulan apa yang acap membawaku pada orang yang hendak meninggal.
Cuma kebetulan !! Ajal tak bisa diramal. tiap orang memiliki ciri wanci lelai ginawa
mati.
Walau aku belum
mengenalnya, aku sangat berkabung dengan kepergian saudaranya. Entah mengapa
dalam Perkabungan ini membuatku bahagia. Ya… saat seperti itu Bintang sering
meneleponku, sms, mengabarkan pemakamannya. Inilah perhatiannya padaku yang
membahagiakan hati. Memberi rasa kasih sayang walau dalam duka. Aku
berharap dia akan terus seperti ini…. Semoga !
-0-
14. AKHIR TAHUN
Akhir
Desember 2010, malam tahun baru 2011. Kidung sendu
menyelimuti keluargaku. Bapakku baru pulang dari rumah sakit, sementara aku
yang tanpa sengaja periksa dokter harus tersentak dengan kondisi kesehatanku. Ya…
aku memang infallid. Hipertensi
sejak kehamilan pertama dinyatakan dokter sebagai penyakit warisan ibuku kali
ini terulang. Tensiku 220 MmHg, setelah 22 tahun yang lalu.
Aku tak curiga
hipertensi, Justru saat ini tubuhku terasa nyaman walaupun ada sedikit
flu. Mungkin
aku lagi bahagia, ada Bintang di sisiku, memperhatikan, menghibur dan
memberiku semangat, sehingga sakitpun jadi tak terasa. Bintang bagai siluet
mimpi yang jauh tiba-tiba mendekati realita.
Apapun alasan
kehadirannya aku merasa bahagia. Walau rasa itu ternyata hanya sesaat,
mungkin setengah waktu. Aku baru tahu Bintang sangat hobby sms. Di saat
itupun dia lakukan tanpa jeda. Aku jadi mencermati posisiku disini. Apalagi
seolah dia menyembunyikan sesuatu yang tak wajar. Nampak sekali bunga-bunga
bahagia yang terukir dalam senyum setelah membaca balasan pesan di hpnya. Aku
tak tahu dari siapa dan siapa. Yang pasti, ternyata bukan aku satu-satunya perempuan
yang biasa di sms.
Jujur aku mulai
curiga dan kesal, Bintang tak menghargai keberadaanku di sisinya. Tak bisakah
dia ber-sms ria dirumah atau ditempat lain? Dan, curigaku melintas,
jangan-jangan dia sengaja unjuk aksi, memperlihatkan diluar sana banyak WIL
yang biasa bisa di kencani. Meskipun kesal dan kecewa terasa sepahit empedu,
namun tetap kutelan tanpa rasa.
Ternyata kebahagiaan
itu hanyalah kilasan waktu yang tak nyata, kesedihan tebusannya, lalu marah dan
dendam akibatnya.
Tak ada yang bisa kulakukan selain pura-pura tak tahu. Sebagai
manusia dia punya hati, rasa dan pikir. Sebagai pendidik dia punya etika
dan estetika. Mungkin saat ini Bintang tak berkenan dengan hal ini, kuharap
suatu saat akan berguna bagi dirinya. Kukembalikan semua padanya.
Sebelum jarum jam sampai di titik kulminasi, tepatnya jam
11.45 wib dia pamit. Aku tak bisa mencegah, walau aku ingin mengakhiri tahun
ini bersamanya.
“Malam akhir tahun
2010 kusimpan jadi memori. Sebenarnya aku sangat-sangat bahagia berada di
sisinya, namun intuisi jiwaku berbisik; “saat ini hatinya berada di tempat lain,
bersama orang lain, bukan berada disini, disisiku.”. begitu malam ini
kukirim kata hati, agar dia tahu isi hatiku.
”Ajeng,kau
tak boleh berharap padanya. Pengalaman membuatnya pintar bohong, cintamu tak
berarti baginya.”
Tapi, aku bukan orang bodoh yang butuh orang lain
mencela dan menipuku. Aku juga bukan orang buta yang tak bisa melihat
tanda-tanda kebohongan. Mataku memang sipit, namun mata hatiku bisa menatap
ketidakjujuran. Aku juga tak luput dari dosa, aib dan angkara, tapi
aku ingin jujur dan tulus. Aku ikhlas menghargai dan menghormatinya, setidaknya
bagiku menghormati tidak membuatku kekurangan apapun. Intuisiku buruk!
apakah aku akan terbelok oleh hasrat?..
15. PERHATIAN YANG MENYEMANGATI
Keempat kalinya bapak pindah rumah sakit. Aku prihatin dan
bingung melihat kondisi beliau. Tampak antara jiwa dan raga sudah tidak
imbang. Menurut para ahli medis di rumah sakit itu bapak mengindap penyakit
kanker ginjal. Saat amfal beliau seperti hilangan akal, mencabuti
selang infuse dan melakukan hal-hal diluar kewajaran. Sungguh, aku sedih sekali melihat penderitaan bapak. Seminim mungkin kueliminir perasaan yang
campur aduk ini, kusembunyikan air mata
agar tak nampak di depan adik-adik dan orang lain. Sepertinya aku tegar namun
sebenarnya tidak. Beberapa orang dekat bapak berasumsi ada sesuatu yang
gaib jadi pegangan bapak dan sakit ini berhubungan dengan masa lalunya. Aku
hanya bisa pasrah. Aku yakin inilah
takdir. Kepastian yang digariskan-Nya.
Menunggui bapak dirumah sakit adalah saat yang sulit. Untunglah
banyak support dari teman-teman dan saudara yang empati. Berkunjung, telepon
atau sekedar sms. Dan, untukku tentunya mas Bintang. Perhatian dan kesetiaannya
menemaniku disaat-saat sulit itu jadi catatan berharga dalam hatiku meskipun
kadang Cuma sms.
Malam
Minggu ini 15/1/2011 mas Bintang datang membezoek bapak.
Aku bahagia dia disisiku walau Cuma sesaat.
-0-
16. KETULUSAN DAN KELEMBUTAN CINTA
MAMPU MELAHIRKAN DOSA
Hari ini Senin 17 Januari 2011, Dalam hidupku terukir sejarah yang tak
mungkin bisa terlupa. Dua peristiwa terjadi dan keduanya sama-sama menoreh luka
yang mengkeloid di jiwa ragaku. Tak tahu apakah ini alpa, ceroboh atau bodoh.
Ataukah ini bagian takdir yang telah tertulis dan harus aku alami sekaligus
kusesali?. Ya…semua terjadi tanpa prediksi. Aku menyesal, ternyata
inilah persimpangan yang menimbulkan tabrakan idealisme dalam diriku.
Apakah
kisah kasih yang terwujud dalam duka tak bisa abadi? Mengapa
ketulusan dan kelembutan cinta mampu melahirkan dosa? Benarkah
pengorbanan harus ada untuk yang di cintai?. Benarkah cinta dapat mengubah apa
yang tiada menjadi ada? Semua telah terbukti dan benar!.
Adalah seorang
perempuan di balik kerlip cahaya bintang gemerlap. Mata seorang perempuan yang
menyimpan air serta cerita yang bermuara dari masa lalu. Mata yang acap kali
tergetar pada pijar sesaat dan sering pula terpejam menghayati perputaran kisah
hidup yang terhempas dari perangkap waktu, di bola mata ini, terpancar
lapisan-lapisan pertemuan yang hanya disimpan pada sebuah kesan. Menjadi
gemuruh yang ia lekatkan di dada. Menjadi bayangan yang tak sempat ia maknai
kala berdoa.
Sementara dibalik
kerlip cahaya hening gemerlap, sang bintang seperti menghimpun titik akhir
kehidupan dan hendak menyingkir dari kehidupannya. Seolah sang bintang enggan
menunjukkan nama ataupun tanda bagi kehadiran dan kepergiannya. Disaat hening
malam ia makin menjauh dan diam. Namun bagi
perempuan itu keheningan kerlip sang bintang adalah pancaran puji-puji suci
yang mengalir sepanjang buluh-buluh nadi.
Di hari itu,
sebelum tangis duka menetes di ujung hati, sebelum doa berakhir di ujung bibir
aku telah dirundung duka. Intuisi yang
terabaikan membias pada hasrat sesaat. Pada dipan bertilam putih, bisu dan beku, mata
hatiku bergetar melihat untaian senyum kemenanganmu. Aku dihempas secebis mimpi,
tertoreh tajamnya pisau naluri, terbius rasa, terlena ilusi, terpana ambisi,
maka dosa pun tak terkendali.
Tahukah
kau… jauh di lubuk hati, kukutuk dan kutangisi diri.
Betapa dungu dan munafik, lupa benar dan salah, lupa harga diri dan akidah. Benteng pertahanan yang telah kubangun
dengan harkat dan martabat luluh dalam sesaat. Aku terpuruk, rintih ngilu
tertawan direlung hati, meratap bak perawan suci. Malu dan sedih ini jadi wujud
pengorbananku atas “ketulusan dan kelembutan cinta”.
Adakah kau hargai
pengorbanan ini, atau justru berpaling mencampakkan setelah ini? Entahlah…
Ya, hari itu…, sebelum hembusan nafas berhenti di ujung
nadi, aku telah bersama orang yang kucintai, menyatu dalam nyala obor keajaiban
yang tercipta sebelum dunia ada. Meskipun hatiku berlinang air mata, namun
bibirku akan terus membias senyum agar aku nampak tegar.
-0-
17. “KERAGUAN”
Tak
ada hukuman yang lebih berat ketika seseorang perempuan mendapati dirinya
terperangkap diantara seorang yang mencintai dan dicintai. Seperti dua
kekuatan terpadu dalam satu ruh. Ruh
misterius yang terjelma untuk dipahami dan dimengerti keberadaannya.
Bintang berotasi dalam lintasan panjang dengan waktu
singkat, maka sulit memahami rasa apa yang tersembunyi, tak bisa menghargai
janji, tak pahami arti pengorbanan. Aku ngeri, suatu saat kelak kebersamaan ini
akan memperalatku. Sebab kebiasaan
berkorban hanya ada pada pemilik harga diri. Bagiku Cinta akan berharga jika
disertai pengorbanan dan penepatan janji serta kejujuran.
Aku tahu, sesuatu
yang berjalan cepat akan sulit terkendali. Sulit dipahami dan samar-samar.
Begitupun cinta pada persimpangan ini, ternyata bagai kilat menyambar selintas
waktu. Tapi kebersamaan yang pendek tak harus disesali, hanya harus direnungkan dan dipelajari. Aku tak menyerah
pada keadaan, tapi berjaga-jaga sambil membangun kekuatan.
Waktu kebersamaan panjang atau pendek bukan tolok ukur
untuk pahami pribadinya. Dalam perjalanan ini ternyata sulit menemukan kriteria “luhur” bahkan “ragu” yang
tumbuh. Padahal bersama keraguan aku telah banyak
membuktikan ketidakjujuran, pengingkaran janji dan ketidaksetiaan.
Bintang pernah ku ingatkan agar waspada terhadap ujian
hidup kaumnya, yakni; Harta, tahta, wanita. Ini bukan Cuma falsafah kosong tapi sering
kita temui.
Pengalaman
adalah guru terbaik sebagai referensi kita dalam
menghargai sesama. Usia, kemapanan,
status social ternyata tidak berhubungan dengan pengalaman baik itu. Bisa saja orang yang berusia, kecukupan,
cerdas dan berkedudukan tapi tak berpengalaman menghargai orang lain. Bisa juga karena berpengalaman jadi
menganggap bodoh, merendahkan dan menyepelekan orang lain.
-0-
18. GURU JUGA MANUSIA
Manusia
adalah makhluk yang mempunyai hasrat, baik dan buruk. Itu wajar bagiku. Guru
juga manusia. Untuk menjadi guru
yang baik ternyata tidak harus jadi orang yang bersifat baik terlebih dahulu.
Artinya profesi mulia itu tidak harus identik dengan pemiliknya.
Kita harus
memisahkan jauh-jauh antara profesi dengan kepribadian, karena itu tidak bisa
disinkronkan. Profesi berhubungan dengan masalah komunal
sedang kepribadian adalah individual. Setiap individu memiliki sifat yang berbeda dan sebagai tolok ukur
diri. Sifat itu bisa dari genetik atau dominasi lingkungan. Sedang profesi adalah produk social yang
dicapai seseorang.
Sebuah profesi yang
sangat mulia (GURU) tidak berarti pemiliknya mampu beradaptasi dengan
pekerjaannya. Ya…itulah yang disebut manusiawi. Di
sekolah dia bisa menjadi tauladan “Di gugu dan Ditiru” namun diluar itu dia
bisa menjadi siapapun. Pada dirinya aku telah membuktikan, namun tak harus
kuceritakan. Biarlah itu jadi milikku pribadi.
Aku hanya berfikir mau dibawa kemana anak-anak didik jika
gurunya tidak bisa digugu lan ditiru? Siapa harus menghargai siapa jika sang
suritauladan telah kehilangan jatidirinya? Aku pernah jadi murid, dan tahu
bagaimana menghadapi guru yang tidak pernah bisa menghargai profesinya. Aku
juga tahu bagaimana rasanya jadi murid jika gurunya selalu berbohong.
Berharap mendidik seorang manusia menjadi seoarang yang
berpribadi mulia memang tidak gampang jika dalam hati pendidik sendiri tak ada
kesanggupan mengubah dirinya menjadi pribadi mulia.
-0-
19. BINTANG MASIH DI HATIKU
Bintang
tetap kuhormati sebagai manusia biasa, manusia yang
dhoif dan tidak sempurna. Aku coba memahami situasi dan kondisinya. Baik dan
buruk adalah dua sisi berbeda. Dia butuh jalan tengah untuk menjadi seimbang.
Aku berusaha menjadi jembatan untuknya menggapai jalan tengah. Walau aku tahu
Bintang juga lagi berusaha mengambil jalan tengah sendiri.
Rasa kasih sayangku,
membuatku ingin mengubahnya jadi yang
terbaik. Aku ingin membantu melapangkan pengalaman dan menghadapi hari esok
jika harapannya terwujud. Namun
keberadaannya yang makin jauh dan samar-samar membuatku pesimis. Dan aku tidak hendak memaksa sampai dia
tahu siapa diriku sebenarnya.
Bintang
tampak loyal sehingga aku jadi
memperhatikannya. Apalagi yang ganjil,
wajar pun mutlak kutangkap. Sering kupancing interaksi, menjajagi keberadaanku
dalam dirinya, juga kesungguhan pada janji-janjinya. Bukan hendak memaksa
menepati, tapi sekedar ingin tahu. Namun, dengan berlalunya waktu aku merasa
sia-sia, ternyata semua janji dan
ucapannya Cuma lips servis belaka.
Yach…jikalau dengan
bahasa standar saja tak paham, lalu dengan cara apa aku menyampaikan? Haruskah
diingatkan bahwa JANJI ADALAH HUTANG
yang harus dilunasi? Sebagai pendidik tentu dia tak bodoh mengingat kata-kata sendiri.
Entah… Barangkali saking banyaknya janji lain yang lebih pantas ditepati
ketimbang padaku manusia yang tak berarti, remeh, miskin, bodoh dan jelek.
Sungguh sangat
kusesali jika dia banding-bandingkan aku dengan wanita-wanita lain yang ada dalam
hidupnya. Aku bukan orang yang sempurna, tapi aku enggan dianggap
lebih jelek ketimbang yang lain. Aku tak
mau jadi batu loncatan mengisi kekosongan hatinya, aku tak mau jadi pengisi
waktu luang saat dia melakukan audisi mencari yang lain. Sebab itu sangat melukai martabatku sebagai perempuan.
Dalam diam aku
mulai istikharoh, beraudensi dengan yang Maha Suci. Aku tak mau semua yang
dilakukan padaku meninggalkan bekas carut marut di diriku, andai tujuan
kebersamaan ini hanya untuk mempermainkanku tentu aku
tak sudi jadi kelinci percobaan, tak sudi jadi ban serep. Aku punya harga diri yang tak akan
kukorbankan dan kupertaruhkan dengan sia-sia.
Banyak retorika digunakan manusia untuk tutupan kekurangan
diri, Bintang tak luput dari itu. sesungguhnya aku tak ingin membiarkannya
tenggelam dalam kekurangan. Dengan tulus hati dan kasih sayang, ingin
kubawa dia beretika dan berestetika. ingin kubangun gentelitasnya.
Harapanku, dia menjadi benar-benar gentel bukan hanya seolah-olah gentel. Aku
tak butuh imbalan. Sayangnya, Bintang memaksaku menghentikan keinginan
itu.
Bersama waktu aku paham, Bintang hanya memiliki keinginan
“mencoba” sesuatu yang langka, tanpa resiko sekecil apapun. Sementara aku
justru ingin berani menghadapi resiko.
-0-
20. TERNYATA AKU TAK TAHU SIAPA DIRINYA
Aku
benar-benar buta, tak tahu siapa dirinya. jarak waktu
berselang 30 tahun belum berubah perilakunya. Dia masih seperti dulu. Actor
profesional, lihai bersandiwara, memainkan perasaan, memberi mimpi-mimpi dan
harapan kosong tanpa rasa apa-apa.
Benar
kata sahabatku, SESEORANG
YANG TIDAK MENGALAMI, TIDAK PERNAH MELAKUKAN, DIA TIDAK PERNAH MENGERTI.
Benar aku telah menipu diri dan tertipu. Benar aku buta dan keblinger. Benar
aku tak tahu siapa yang aku hadapi. Benar aku harus ISTIGHFAR. Benar aku tidak
harus menjadi profesor ahli jiwa dulu untuk menjajagi isi kepalanya, dengan
kemampuan standar pun aku bisa membaca pikirannya. Tapi aku malah menutupi semuanya karena perasaan itu ! Oh
Tuhan…
Ku
akui Bintang seorang petualang hebat, sayang dia tak belajar menjadi petualang
sejati. Bintang takut menghadapi resiko, apa yang dilakukan seolah hanya
lelucon yang tak berarti. Begitupun yang dilakukannya padaku. Dia hanya
memainkan perasaanku. Dia tak memahami
dan tak merasakan ada ketulusan dan
kelembutan lain di hatiku. Boleh jadi dia hanya menginginkan tubuhku. Menganggap
gampangan dan murah. Jikalau benar
begitu ya apa boleh buat, tunggu saja
waktunya!
Walau apa yang
telah terjadi sangat sulit terlupa, tapi takkan kuhalangi jika dia akan
pergi. Aku tahu ini akan sulit dan menyedihkan bagiku, tapi aku ingin dia menyadari
bahma tidak mudah melupakan seseorang yang telah
dilukai.
Rasanya
benar, cinta dan benci berjarak sangat tipis. Aku bisa mencintai dan membenci
sekaligus. Sehingga sewaktu aku tega melakukan hal yang buruk, artinya aku
behar-benar manusia, memiliki cinta dan benci. Karena itu aku bisa dan berani membuktikan apapun dan pada siapapun.
-0-
21. YANG SANGAT MELUKAI
Aku sadar, perasaan
ini datang tiba-tiba bukan karena kebersamaan dan pergaulan yang lama atau
rayuan terus-menerus. Rasa ini ada karena tunas-tunas masa lalu yang bersemayam
dalam jiwa. Tunas itu tidak tumbuh
sesaat di masa lalu tapi itu berkembang bertahun-tahun. Walau dalam
penggalan masa dia telah terbagi-bagi bagai dahan-dahan pohon yang bercabang
kemana-mana.
Dapatkah sebagai
cabang yang baru tumbuh, ia mampu menumpahkan seluruh daya hidup untuk menahan
penderitaan? jika cabang itu adalah
diriku, mungkin mampu tapi hanya beberapa saat setelahnya akan layu dan
mati. aku tak sanggup menderita
dibelantara cabang-cabang cinta yang lain.
Bintang,
sekarang aku hidup antara tidur dan jaga.
Kaki-kakiku menjejak di masa depan namun hatiku tertinggal di ranah silam. Sebenarnya aku butuh tanganmu yang kekar,
sayangnya tak pernah terjulur untukku.
Bintang,
banyak hal dan peristiwa yang telah kulalui dalam hidup ini. Asam garam telah kutaklukkan menjadi
tawar. Kadang kuikuti arus angin berhembus, kadang kupapas arusnya agar tidak
membawaku dalam gerusannya.
Di
dalam hidupku banyak orang telah kukenal, beberapa melindungiku (itu juga janjimu yang belum menepati), beberapa
bersaing melawanku. Ada juga beberapa mencintaiku juga membenciku.
Mereka datang dan pergi silih berganti dari sisiku (kau justru orang yang pertama
datang dan pergi ). Tapi hanya
ada satu orang yang tetap disisiku, mencintaiku, mau berkorban apapun untukku.
Bersamanya
telah ku lalui jalan yang sulit, berbagi ceria dan derita. Dan aku merasa bersamanya sesuatu yang tak
mungkin akan menjadi mungkin. Sehingga aku tenang dan mempercayainya.
Sejak kuputuskan
menjadi seorang istri, aku telah menghilangkan bayang-bayang orang lain. Meski aku tak melupakan cinta pertamaku. Selama
ini kisah itu hanya terangkai dalam hati, tak pernah menceritakan pada orang
lain, namun sekarang bisa tertumpah karena kau dan kekuatan hatiku.
Bintang…
banyak hal yang tak bisa kutulis karena terlalu riskan dan rumit. Aku tahu semua hal yang aneh akan
membuat masalah baru dan aku tak ingin kau terkena dampaknya. Aku manusia
berperasaan dan tenggang rasa. Aku suka membalas semua kebaikan dengan yang
lebih baik dan aku juga ingin bisa
membalas keburukan dengan lebih buruk.
Seperti awal kita
bertemu kembali, saat itu aku merasa
sangat bahagia. Kau memperhatikanku dan aku juga tak punya pikiran buruk,
namun saat kau menjauhiku dengan banyak alasan setelah semua terwujud, akupun
mulai berpikir jahat. Apalagi ternyata
kau bisa mengeksekusi dan menamparku dengan sikap dan kata-katamu. Mungkin kau
tidak menyadari, darimu aku banyak belajar. Salah satunya adalah belajar cara mengeksekusi seseorang.
Dan tahukah kau, perkataan dan caramu mengatakan “R ayu“ didepan
mataku lalu kau minta no hpnya. jum’at,
4/3/2001. inilah yang kusebut eksekusi.
Padahal sudah
kuingatkan agar “Jangan ganjen!”. Maaf Bintang, saat itu aku tidak lagi
cemburu sebab aku tahu siapa dia. Yang
membuatku sakit dan kecewa ternyata kau tidak lagi menghargaiku. Hatiku
berkata, didepanku saja bisa begini,
apalagi dibelakangku. Kurasa ini penghinaan yang kebangetan! lalu apa arti
diriku? benar kata orang, “seseorang
lebih cepat melupakan suatu dukacita yang hebat daripada suatu hinaan yang tak
berarti”.
Ingat
siapa dirimu, profesi dan kedudukanmu. Aku
tak ingin padamu ada “stigmatisasi” buruk. Aku
menjaga semua itu. walau aku tahu kau hanya berambisi menyelesaikan
segalanya dengan cepat.
Memang rentang
perjalanan kita masih terlalu singkat untuk sampai pada “saling mengerti dan memahami”, tapi kita bisa saling menjaga perasaan agar tidak melukai. Atau mungkin aku terlalu
nista sehingga kau aib menghargaiku.
Walaupun
sudah kumaknai sebagai bagian takdir, tapi aku belum cukup ikhlas.
Aku masih seperti bermimpi. Mimpi indah yang menakutkan, impian yang
menjebak pada harapan semu, menyiksa batin, menghanguskan jiwa raga hingga
kering dan rapuh. Aku jadi lemah sulit
bereksistensi.
-0-
22. KEIKHLASANKU
Bintang…
terasa benar, kita hidup dalam dunia yang jauh berbeda. Disekelilingmu banyak memancar cahaya
gemerlap. Kau seperti burung bersayap kuat, terbang bebas menikmati buah-buahan
di pohon-pohon tanpa ada yang melarang, tanpa takut bahaya, seakan tidak akan
masuk saqar. Sedang diriku… oh Bintang… aku
Cuma ikan kecil yang buta, sepertinya aku hidup di dalam laut lepas dan luas
ternyata Cuma dalam sebuah gelas.
Bintang,
jika burung dan ikan saling mencintai, mereka akan hidup dimana? tak ada tempat
bukan ? Dimataku kau begitu terjal,
menatapmu pun rasanya aku tak sanggup.
Begitu terjalnya sampai tak ada seutas titianpun yang terentang disana…
Banyak
keinginan terlantun dalam do’a-do’aku
yang belum terwujud bersamamu. Tapi mungkin Alloh memang tidak hendak
mengabulkannya. Sebab Alloh tahu apa
yang kubutuhkan bukan apa yang kuinginkan. Alloh tahu apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itulah aku
pasrah… aku cukup bahagia hanya bisa melihatmu di sekelindan waktu dalam
keindahan dan kebahagiaan yang sempurna disana… di tempatmu yang tinggi.
Bintang…
aku punya pesan kecil untukmu,
meskipun kau sudah lebih bijak namun
tak ada salahnya jika aku ingin
mengingatkannya,
-
Ulurkan tanganmu untuk kebaikan, agar kau dicintai dan dihormati oleh
kehidupan.
-
Lindungilah yang lemah dan menderita, agar bahagiamu abadi.
-
Cintailah dengan tulus orang yang tulus mencintaimu. Hargailah dia seperti kau menghargai
diri sendiri.
-
Tepatilah setiap janji agar kau menjadi orang yang mulia,
dipercaya dan dihormati oleh Tuhan dan sesama manusia.
-
Jujurlah, karena kejujuran sangat mahal
harganya.
Sekarang
bagiku semua terasa
menyakitkan, aku seperti telah kehilangan orang yang kusayangi. Aku sangat
sepi, kering dan lebih gersang dari kuburan. Tapi aku akan tetap bertahan dan terus
bertahan. Cinta, do’a, kejujuran, ketulusan dan kasih sayang yang ku tabur pada
ladang hatimu sepertinya tak bisa tumbuh karena telah kau burai bersama angin
yang kau tiup sesaat.
Kekasih… sepertinya semua harus ku
ikhlaskan, sebab
semua kepalang menjadi takdir. Rasanya tak ada satu mimpipun yang bisa
kita bagi bersama, walaupun selama ini selalu dalam harap. Aku tahu semua mimpi-mimpimu tentang diriku
telah sirna setelah semua terwujud. Sedang mimpi-mimpiku tentang dirimu
akan kubawa pergi mengikuti langkahku agar semua itu jadi teman perjalanan yang
menyenangkan dan tak membuatku tersesat lagi.
Aku ingin kau tetap ada, walaupun akhirnya aku harus memilih tempat
bersandar yang paling tenang. Menyingkir dari dunia yang baru sejenak kutapaki,
dunia maya bersamamu. Aku memilih tempat dalam palung yang dingin dan sunyi hanya membawa bayangan dirimu. Karena jauh dalam lubuk hatiku, bayangan itu yang
abadi.
Berjuanglah Bintangku… raihlah keinginanmu. Tak usah menengok
kebelakang agar kenangan yang pernah kau toreh tidak membebanimu.
Berjalanlah dengan tegar kekasih, nyalakan terus obor semangat dalam
hatimu dan jaga agar tidak cepat padam.
Selamat jalan Bintangku… aku akan tetap mendoakanmu disini… disudut
yang paling sunyi. Walaupun aku tahu, harapanku menjadi air mata yang terakhir
di matamu yang kaca tidak bisa terwujud, tapi aku tetap rela meneteskan air
mata yang terus mengalirkan air mata untukmu. End 17/2/2011.
Sekarang, akupun harus menata
perasaanku dan harus menempuh jalanku sendiri.
Sekali lagi kukatakan, aku tidak mudah melupakan seseorang yang
pernah melukaiku dan membahagiakanku.
-0-
Bobotsari, Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)