Senin, 17 Februari 2014



SETELAH TIGA DASA WARSA
Wind set



Kisah ini lahir setelah aku menyadari, berfikir, merasakan dan mengetahui, bahwa:
Setelah seseorang mencapai dan mewujudkan sebuah puncak yang diharapkan, maka diapun akan meninggalkan puncak itu.

Hatiku tidak akan pernah mau bicara, jika ia bicara akan berbeda dengan mulut dan mata. Kejujuran dan rahasia ada di sana, tersimpan jauh di lubuknya. Siapapun tak bisa memaksa hatiku mengungkap kejujuran misterinya, namun ada yang bisa melakukannya pada diri ini.”

Inikah takdir yang telah tersurat padaku? Mengapa semua harus terwujud? Bagaimana Cinta yang berlalu?
“Cinta itu tetap ada hanya bersama penepatan janji. Dan, Kepercayaan pun tetap ada jika bersama kejujuran.
                                                          ***


1.   BERTEMU KEMBALI

Cahaya mentari redup di awal Desember memayungi perjalanan ke suatu dusun di sebuah desa. Dinda adikku minta ditemani mendatangi pernikahan anak temannya. Kami berboncengan. Tak terpikir apapun saat itu, hanya kasihan pada Dinda, teman-temannya telah terlebih dahulu pergi. Aku tak bertanya siapa yang akan dikunjungi. Pikirku, biasanya teman-teman Dinda sudah kukenal.
Jalan beraspal terus menanjak naik dan sepi.
Sepanjang jalan kanan kiri terhampar sawah menghijau bak lukisan anak-anak. Udara segar disertai angin basah sejuk membelai kulit. Di boncengan Dinda aku lebih banyak diam menikmati panorama alam yang indah. Aku terbuai. 
Beberapa kali Dinda menghentikan laju motornya, bertanya-tanya letak rumah teman yang berhajat. “Masih jauh.” Begitu selalu jawab orang yang ditanya. Jawaban yang menyenangkan bagiku, semoga masih lebih jauh… dan jauh lagi biar aku bisa puas memanjakan mataku. Aku tak begitu hirau apa yang ditanyakan Dinda pada mereka. Hingga, ada nama Bintang disebut-sebut.
“Din, siapa Bintang itu, apa temanmu yang lagi mantu?”
“Ya… dia namanya Bintang suaminya temenku itu.”
“Bintang sapa?” aku penasaran. Ingat cerita mas Abi dan kak Tono dulu.
“Entahlah…yang kutahu nama suaminya Cuma Bintang saja, aku nggak tahu nama belakangnya.” Jawab Dinda sambil nge-gas motornya di tanjakan. Jangan-jangan anak itu, atau…ah, mungkin saja orang lain. Tapi, apakah Bintang-Bintang bertaburan di desa kecil ini ? Tiba-tiba aku jadi ingin tahu.
Beberapa saat kemudian Dinda menunjuk sebuah tarub tak jauh didepan. Dinda berhenti memarkir motor agak jauh dari situ. sambil menggandengku dia menunjuk rumah temannya. Aku belum tahu siapa tuan rumahnya. Berselubung penasaran kuikuti langkah Dinda. Jika benar Bintang itu, mungkin aku pun tak lagi mengenali. Sudah begitu lama dia pergi dari benakku, jika kucoba mengingatnya akan hilang seperti kabut.
“Nah itu orangnya, mas Bintang.” Kata Dinda sembari menunjuk seseorang yang berdiri didepan pintu tarub. Aku belum yakin, benarkah dia ?
Ku lihat sepintas dia kaget. Dengan ramah dia menghampiri kami. Begitu dekat, sangat dekat. Meski masih sedikit ragu, aku mengenali mata, hidung dan senyumnya. Ya… senyum itu, senyum yang pernah kucari artinya di perjalanan hidupku. Senyum yang masih melekat di sela-sela mataku.
Mendadak kakiku serasa lemas, berat dibawa melangkah. Dia tampak dewasa. Rupanya dia juga telah lupa sosokku, menyanyakan mana yang Ajeng dan yang mana Dinda. “Aku Ajeng.” Begitu kutepuk dada. Maklum kami bertemu sepintas waktu saat usiaku masih lima belasan. Jadi… tiga puluh tahun yang lalu.
Di sela perbincangan, sesekali mata kami bersirobok tatap, dan tersipu-sipu bersama. Mencoba menggali ingatan, menemui masa-masa yang hilang, berselang-seling menyibak rasa hati, mencari apa yang tersembunyi. Biarlah, aku tak ingin memaknai walau getarnya masih terasa. Aku tak mau ada tanya, ada mata-mata curiga. Kututup letup-letup di dada, rona-rona tembaga di wajahku dengan topeng ceria. Dalam hati aku tetap ingin menepi, berlari menjauhi apa yang lagi terjadi.
Alunan organ tunggal melerai kenangan saat lalu dan membuatku tergerak ingin bernyanyi. Kutawarkan duet bersamaku. Mas Bintang menolak alasannya takut istri cemburu. Aku tersenyum dalam hati. Mas Bintang ternyata ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri.  Yah… aku senang, itu kuhargai. Sayangnya kemudian dia bilang “nanti kapan-kapan kita nyanyi di tempat lain” sambil sepintas kutangkap sorot aneh di matanya. Lagi-lagi aku harus tersenyum dalam hati.
Tak ingin kutanggapi kata-katanya, aku beranjak menghampiri player. Sambil bergurau kubilang pada istrinya kalau-kalau dia cemburu Bintang nyanyi bersamaku, istrinya bilang, tidak akan cemburu. Ah… tidak akan cemburukah… jika kau tahu kami menyimpan masa lalu?
Aku seperti baru belajar berdiri dan bicara di depan banyak orang, gemetar dan salah tingkah. Bintang memandangiku. Jantungku berdetak makin kencang, Aneh, mantan penyiar radio tentu masih ingat bagaimana menyapa pendengar dengan fasih. Namun ditatap mas Bintang, lidahku tiba-tiba kelu, perbendaharaan kata-kata habis dalam hitungan menit. Aku Cuma bernyanyi tanpa improfisasi. Dia duduk bersama Dinda, memperhatikanku. Permainan berakhir saat Dinda melambaikan tangan mengajak pulang.
Sepotong harap terluap dari mulut mas Bintang, dia ingin tetap menjadi keluarga, komunikasi dan menjalin silaturakhmi. Akhirnya kuberanikan diri minta nomer hp. Saking sulit signal, kukirim nomor lewat sms sehari setelahnya.
Sulit menjajagi hati, menerka yang tersembunyi dan mereka-reka makna yang terlindap. Mata-lah yang kurasa mampu mengurai kejadiannya. Di mata mas Bintang terlindap untaian manik-manik harap. Semacam naluri lelaki. Barangkali sisa-sisa kerinduan, penasaran, keisengan atau kebiasaan. Bagiku wajar!. Kehadiranku yang tak terduga tentu membawa lintasan kenangan yang nampak bahagiakan hatinya. Meski dulu hanya sesaat waktu, tapi belum sepenuhnya terhapus waktu.
Barangkali keyakinanku tentang “bahagia” itu mesti dilayat jauh… bisa jadi  “kebiasaan iseng”. Memang tak sulit kuterka tapi sulit kupercaya. Aku tercekat ketika jabat tangan terakhir, begitu erat tanganku digenggamnya bahkan dia berani mencabik telapak tanganku. Oh! Jujur aku kecewa, kaget sekaligus curiga. batinku berteriak, “Kenapa kau jadi begini Bintang?!”.

-0-
        
2. SAHABATKU

Dalam kesendirian ini….. kumpulan sunyi menangkap senandung hati dan mengurai kisah lama, tak disadari terjelma jadi rindu tak terkata, melulur seluruh ruang-ruang kosong jiwa yang ditinggalkannya. Sahabatku Yok.
Kuingat kebaikan yang tanpa pamrih, tak terkontaminasi dosa, sabar dan tulus dia mengajariku bergaul dan beragama yang benar. Juga menuturkan keburukan kaumnya, kaum Adam. 
Sekarang jarak dan waktu menyela, namun suritauladannya terjaga tanpa sela. Dan, satu doktrin yang selalu kuingat adalah, “Kita bertemu karena Alloh dan berpisahpun karena Alloh.”. Alhamdulillah, semua terus hidup tanpa cela. menyatu dalam kebersamaan persahabatan semua karena Alloh semata.
Dia ada karena kejujurannya, karena keluhuran budi dan juga karena hidayah-Nya. Dia ada bukan karena hasrat dan ambisi. Aku mengingatnya seperti dia mengingatku.
Kini…, aku tak tahu bagaimana harus jujur, bagaimana menemukan alasan untuk dustaku. Tapi aku tetap berharap bisa jujur sepertinya.
Aku ingin Bintang pun seperti itu sebenarnya.

-0-
 
3. MEMORI ITU MASIH ADA

Hari ke-tiga Bintang menyatakan rasa hatinya. Katanya; “meskipun kamu sudah jadi milik orang lain, aku ingin tetap menyayangimu dan melindungimu”. Entah mengapa aku jadi terharu. Hingga disela waktu kami mengurai kenangan yang terpenggal dan tertinggal lalu menjajagi kemungkinan akan cinta yang bertumbuh kembali diambang usia.
 “Benarkah mas Bintang masih ingat semuanya?”
“Seingatku Cuma di batu besar itu, dan dirumah sana… itu.” katanya.
“Masih ada satu tempat lain mas…, coba inget-inget dimana…? Dan dia ternyata mengingatnya.
“Ya… dimakam itu.” aku makin terharu, ternyata dia masih mengingat semuanya…
Salahkah jika kupikir Bintang benar-benar masih mengingatku?.
Mas Bintang mulai menawarkan sesuatu yang berbeda. Ku raba arah rasa gelombang yang mulai tak lazim. Cemas bahagia kait mengait. Bahagia pada perhatiannya dan cemas pada pengalamannya. Sepertinya Mas Bintang bukan sosok pria yang setia pada satu orang saja.
Aku bukan lagi bocah usia lima belas yang naif dan bodoh. Bisa jadi aku lebih matang bergaul ketimbang dirinya. Banyak karakter kupelajari dan menjadi guru terbaik bagiku. Aku tahu, banyak pria dewasa, matang, kecukupan dan gaul, cenderung “peselingkuh”.
Mungkinkah mas Bintang salah seorang diantaranya?. Aku hanya bisa berharap prediksiku kali ini keliru, sehingga andai kami ada kebersamaan semata-mata karena kejujuran hati.
Kata mas Bintang padaku, dia dulu menikah karena disuruh bapak. Seolah dia menyalahkanku kenapa dulu tak pernah datang padanya. Wah, kata-kata ini sungguh aneh ditelingaku. Sebagai perempuan aku tak mau bertandang mencari lelaki. tak bisa kulakukan!. Egoku melarang menukar harga diri demi perasaan yang belum jelas ujungnya. Kulihat mas Bintang makfum dan membenarkan.

-0-

  4. KE RUMAHKU

Hari ke-empat, mas Bintang ke rumah. Sebenarnya janji datang kemarin tapi katanya banyak kerjaan rumah yang belum beres dan ada tamu besan. Walau ngaret, banyak ampiran tapi masih mau menepati, Janji datang siang ternyata muncul sore, Saat ku telpon ternyata di bengkel. “Oh ya… tak apa, kan yang selalu menepati janji Cuma matahari, yang selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat.”  begitu kataku. Kupikir kalaupun tak jadi datang juga tak apalah.
Mas Bintang datang dalam gerimis. Saat itu aku di warung sebelah rumah membeli sesuatu. Rupanya benar tak tahu rumahku, dia kebablasan jika tak ku panggil.  Di rumahku tampak lebih nyaman dan enjoy ketimbang dirumahnya. Aku betah dengan sikap ramah dan terbukanya, Banyak cerita bergulir dalam sunyi. Perasaan pun bertaut. De javu ! seakan kembali berada di waktu dan tempat sama dilampau waktu yang jauh di rumah dimana kami pernah ditinggal berdua. Rasanya tak ada yang lebih kusuka ketimbang saat ini. Sunyi yang syahdu. Dan, hati kami seperti merasa teriris saat menyadari kami sama-sama sudah jadi milik orang lain.
“Aku ingin mengenal suamimu” begitu katanya. Tentu, tanpa diminta aku sudah memikirkan itu. suamiku harus kenal teman-temanku, siapapun dia. Aku tak hendak dan tak pernah mau berbohong pada siapapun apalagi pada suami, orang terdekat dan paling kupercaya. Keinginanku berbagi suka duka tak mungkin terwujud tanpa kehadiran keluargaku. Hanya saja saat ini hatiku sedang sensitive, merasa semua harus kupendam sendiri, tak ingin berbagi. Mas Bintang janji akan datang untuk kenal suamiku setelah menghadiri hajatan keluarga di Jakarta. Aku menunggu.
Kepergiannya membawa hatiku serta. Jarak dan waktu terasa makin mendekatkan kami. Setiap menit bergerak kesan manis kutangkap. Telpon dan sms tak pernah jeda. Apa yang dilakukan dikabarkan padaku. juga membeli oleh-oleh untukku. Kurasa inilah saat yang paling berkesan dalam kebersamaan kami. Bunga-bunga hati mekar menanti kepulangannya. Meski aku punya janji hati yang ingin kutepati. “Menjadi diri sendiri tanpa terpengaruh siapapun”
 Hari itu Minggu 12/12/2010. Harap-harap cemas mulai melanda rasa!
 Tiba-tiba terselip ragu dihatiku. timbul tanya tentang akidah dan jatidiri. Pantaskah aku dikunjungi lelaki yang baru sesaat terdengar namanya di keluargaku? aku nervous dan bimbang!. Benar-benar serba salah seperti kehilangan logika jadi tak percaya diri. Inginku dia membatalkan janji itu. Dalam situasi batin yang sulit, tiba-tiba mas Bintang justru ingin cepat kerumah. Wah!.  
Entah kenapa mas Bintang gampang masuk benteng yang kubangun dengan kekuatan harkat dan martabat tanpa kugeledah terlebih dahulu, Bahkan seolah telah kusiapkan gerbang tersendiri. Padahal hatiku masih ragu akan tekadnya. Apakah niat ini sudah dipikir baik-baik dan kelak tak menyesal? Entahlah Mungkin ini takdir… walau aku telah berusaha menolaknya.
-0-
5. CERITA MASA LALU ITU

Kisah masa lalu yang sederhana ini jadi satu sejarah lain di hidupku. Bintang lelaki yang pernah membuatku menunggu. Kami bertemu di sutu senja pada sebuah perigi jernih berpancuran yang mengalir dari mata air di sela-sela batu hitam besar dalam komplek makam China di desaku.
Surya hampir tenggelam di ufuk barat. Gelap melerap perlahan dirumpun bambu. Hembusan angin gunung menerpa helai-helai dedaunan. Gemersik luruh berguguran. Jiwa nelangsaku menghempaskan raga dihamparan batu hitam. Sembari meredam sedih kucelup kedua kaki hingga sejuk merambat tubuhku.
Di situ seorang nenek renta yang tak kutahu jati dirinya tengah mandi terbungkuk menggosoki kulit pada yang sangat keriput ditubuhnya. Aku hanya melihat tanpa berkata-kata.
Senja kian senyap, membuatku tak berdaya, namun aku tak takut atau curiga. Mungkin beban di otakku lebih berat ketimbang perasaan takut. Di usia yang hampir 15 tahun aku merasa telah menelan banyak ketidakadilan. Aku tersiksa di lingkup yang seharusnya, lingkup keluarga. Bapak ibu, adik-adik, nenek-buyut, rumah, semua nyaris tak memberiku hak tapi banyak kewajiban. Sebagai anak tertua aku dibebani banyak pekerjaan hingga aku suka kelelahan namun ironisnya hak-hakku dikebiri, sering aku hanya diberi janji dan sedikit harapan tanpa realisasi. Jika aku menagih janji mereka bilang adik lebih membutuhkan. Jelas aku sakit hati menerima perlakuan itu. maka aku nekad pergi dari mereka. Aku tak paham kenapa selalu harus mengalah dan dikalahkan.
Senja itu ku rangkum hujat, hatiku bertanya “Kenapa aku dilahirkan” apakah karena do’a yang se-windu? lalu setelah hadir yang lain seakan aku tersingkir. Aku jadi benci tak bisa memahani orang rumah.  
Senja makin kelam. wajah nenek itu tampak berbinar usai mandi, punggungnya yang bungkuk mengurangi keseimbangan tubuh jadi sulit mengangkat kaki dari kubangan air, aku lompat membantunya. “Mbah” Cuma kata itu yang keluar dari mulutku sembari meraih lengannya. Entah bisu atau tuli, nenek hanya mendongak. wajah keriput tak berekspresi. Sepintas mata tuanya melihatku dan tanpa kata-kata berlalu tertatih-tatih menuju gubug diatas pancuran. Sebenarnya aku berharap sapanya walau sedikit.
Saat itu aku mulai resah. Berpikir hendak kemana. Saudara? teman? tidak! pasti mereka gampang menemukanku. Di benakku Cuma gubug nenek tadi jika tak menemukan solusi. Masa bodoh, yang penting malam ini aku bisa berteduh.
Suasana makin remang dan lampus, angin berhembus dingin. Otakku dikacau rasa was-was ingat cerita orang. Katanya, kuburan China itu angker, nyaliku yang belum seberapa menciut. Bayangan seram menggelitik benak dan tengkukku jadi merinding. Katanya menjelang maghrib makhluk astral suka muncul gentayangan. Kicau burung perlahan berubah kerik jengkerik, kepak kelelawar yang mendadak terbang diatas kepala membuat detak jantung nyaris berhenti. Sungguh mencekam! Bagaimanapun rasa itu tak luput dari bocah yang bukan penakut sekalipun, Cuma gemercik suara air yang seolah hidup dan menemaniku untuk berani bertahan.
Tubuh serasa kaku dipeluk sunyi, syaraf-syaraf pun tegang. Mata dan telinga seakan ku tutup rapat-rapat. Sampai-sampai tak yakin pendengaranku menangkap sesayup suara yang membuat jantungku nyaris melompat. 
“Dik…” pelan suaranya, pelan kubuka indra. Ya Alloh! Detik itu juga jerat keteganganku lepas. Aku tak yakin ada orang mendekatiku. Tapi benar dia yang memanggilku. Dia tetanggaku, kakak temanku. Seorang yang santun dan baik hati. Begitu aku menilai pribadinya. Kami sering bersama dibanyak kegiatan; olah raga, ngaji, juga bersama dalam satu sanggar seni dan beladiri “PANTI WILASA”. Kami pernah jadi kakak adik di sebuah drama berjudul “Awan-awan Fajar” Aku memerankan Tini dan dia jadi kakakku Tono.
Kak Tono dan temannya entah hendak kemana, tampak merekapun kaget melihat keberadaanku. Saat Kak Ton bertanya dan aku jawab jujur, tapi saat dibujuk pulang, aku menolak. Aku sangat sakit ingat rumah. Akhirnya aku diajak kerumah teman lainnya di desa dekat makam itu. Sebelum beranjak kak Ton mengenalkan teman yang bersamanya. Bintang namanya. Dia nampak ramah dan mudah bergaul. Di remang senja dia nampak gelap, tinggi dan agak kurus. wajahnya manis dan bibirnya tipis murah senyum.
Kami beriring menyusuri jalan sempit diantara gundukan makam China. Kak Tono di depan dan mas Bintang dibelakangku. Entah kasihan atau basa basi tangan Mas Bintang suka memegangi bahuku. jika jalan longgar dia menjajariku, merangkul sambil menepuk-nepuk bahuku, mungkin untuk menenteramkan hatiku. Hingga di jalan kampung tanganku masih terus tak dilepasnya.
Saat itu Jalan kampung masih licin berbatu. Namun kurasakan bebatuan yang tersibak diantara kaki-kaki kami seakan merantas bimbang hati. Waktu itu yang terasa cuma lega terlepas dari suasana seram dan ditolong oleh orang sebaik mereka. Hanya sedikit risih dan jengah karena tangan mas Bintang yang tak lepas dari diriku, sebab ini baru pernah kualami. Tapi aku tak bisa menolak kebaikannya, hingga tak sadar sudah sampai tujuan. Begitu singkat rasanya.
Tak kusangka rumah yang dituju justru familiku. Mereka tidak tahu aku sering bersama adik perempuan temannya. Hanya saja saat itu aku merasa disitu sebagai anak yang minggat dari rumah dan dibawa laki-laki untuk nginep. Sungguh, minggat dan nginep dirumah orang adalah hal yang tak ingin dan tak pernah kubayangkan. Rasanya tak enak jadi topik pembicaraan. Walau Kak Tono menceritakan kejadiannya sebelum mereka pamit. Aku segan bertanya kemana dan dimana mereka akan pergi. Aku sangat berterimakasih atas bantuannya jika mereka tak menemukanku barangkali aku lebih sengsara ketimbang digunjing orang.
Aku tak mengerti kenapa mas Bintang tiba-tiba kembali muncul keesokan harinya tanpa kak Tono. Kupikir kedatangannya untuk menemui kakak mba Suli, mas Abi. Benar, mereka bertemu sebentar, karena mas Abi ada keperluan, mas Bintang sementara ditinggal ngobrol bersamaku dan mba Suli. Tak lama mba Suli pun pamit harus menyelesaikan kerjaannya meninggalkan kami.
Hanya berdua, waktu itu entah apa yang kami ceritakan. Pastinya aku merasa terhibur. Dan, serasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku ketika Bintang pamit pulang. Entah mengapa kulihat dia pun berat melangkahkan kaki meninggalkan aku. Sehingga ketika kami berjabat tangan di pintu belakang tiba-tiba dia memelukku dan mendadak memcium bibirku. Aku kaget, tertegun seperti kehilangan akal, tak tahu harus bagaimana. aku Cuma berdiri terpaku melihatnya berlalu dengan seulas senyum, senyum aneh yang hingga kini tak kuketahui maknanya, sebab dia hilang setelahnya.
Aku tahu peluk cium sebatas membaca novel yang sering ku pinjam diam-diiam dari perpus sekolah, tak terbayang akan secepat itu ku alami. Aku baru kenal, belum tahu siapa dirinya, tapi dia berani mencium segala. Sungguh ciuman pertama yang sangat menjengkelkan.
Diam-diam kutangisi kejadian itu, sampai air mata basah di ujung selimut. Aku malu dan sebel, hatiku galau, sedih dan tertekan. Mungkin aku belum siap mendapat pengalaman baru!  Seakan melakukan dosa besar dan berat, selain itu juga ingat pelajaran biologi, katanya pada air liur ada bakteri yang bisa menulari penyakit. Aku jadi bolak balik kumur dan ngelap bibir. Anehnya setiap kali jemariku menyentuh bibir mendadak bayangan Bintang muncul. Tersenyum. Senyum yang bertahun-tahun melekat dalam ingatanku. Kejadian itupun nyaris sulit kulupakan.
-0-

 6. ANGIN YANG TAK PERNAH KEMBALI KE TEMPAT SEMULA

Sering aku kembali ke makam China. Duduk membisu sambil merendam kaki di perigi bening itu. Sunyi dan tenang. Aku berharap bisa jumpa mas Bintang disitu. Ingin bertanya tentang kejadian yang membelenggu ingatanku. Namun rupanya keinginan itu harus kutelan, sejak itu selembar beritapun tak pernah mampir di telingaku. Keberadaannya lenyap ditelan bumi. Tak ada rasa tersambung dihatinya. Ironisnya akupun enggan mencari tahu dirinya.
Pernah ku bayangkan jalan-jalan ke desanya, tanah licin, terjal berbatu-batu. Seperti memasuki lorong hutan bambu. Tapi itu Cuma bayang-bayang sebab aku belum pernah menginjakkan kaki kesana. Pernah kutanyakan pada kak Tono dan mas Abi, mereka hanya bilang saat ini Bintang berada di desa itu. Dan aku tak bertanya lagi, sebab aku merasa tak layak menanyakan. Juga pernah terbersit keinginan untuk bercerita bahwa ada yang pernah terjadi pada kami, tapi hatiku berat mengutarakan. Rasa gengsi diri melarang membeberkan perbuatan iseng seseorang kepadaku. Apalagi mereka berteman, tentu mereka sudah paham perilaku temannya, salah-salah aku dinggap perempuan gampangan. Jadi kupikir lebih baik biarlah kukubur sendiri.
Anehnya, bertahun-tahun waktu berjalan aku masih sulit melupakannya.
Tak sedikit lelaki mendekatiku, menyukai, perhatian, dan yang berharap jadi pendamping hidup. Mereka terpaksa mundur sebab aku enggan. Aku selalu ingat ciuman itu. takut ke-iseng-an Bintang terjadi lagi dan makin melukai hatiku. Sepertinya wajah-wajah mas Bintang bertaburan disekelilingku, seperti hantu yang tiba-tiba muncul tiap kali aku inginkan yang lain.
Aku benci pada ingatanku tentang mas Bintang. Dan, kesadaranku tumbuh setelah aku tahu mas Bintang bagai angin yang tak pernah kembali ke tempat semula. Kupikir, jika dia menginginkan bertemu lagi denganku bagaimanapun tak sulit mencariku.
-0-

  7. MIRIP BINTANG

Memasuki usia 17 th, kelas II SMA aku bertemu seorang yang mirip mas Bintang, (bedanya pada sikap yang gentel dan berani) familiku jauh. Dia jujur dan setia. Yang lebih penting kutahu dia tanggung jawab dan menepati janji. Dalam keadaan bagaimanapun. Awalnya kurasa hubungan kami akan terkendala harta dan tahta orang tuanya. Ternyata bukan jabatan dan kekayaan itu justru karena jarak jauh dan kecurigaan. Hobby kami sama-sama adventure. Hobby-hobby liar dan beresiko. Aku suka hiking dan naik gunung, dia crosser (pembalap). Meskipun kami sebenarnya jujur, saling percaya dan setia namun tetap saja ada kecurigaan dan hubungan jarak jauh tetap berakhir.
Aku dan dia menyerah kalah setelah 2,5 tahun. (Selama itu aku mengumpulkan suratnya sebanyak 221 amplop, dan dia mengumpulkan suratku 173 helai ).
Di pernikahan saudara, Kami pernah bertemu kembali. Dari perbincangan disitu, aku tahu keluarganya menyayangkan perpisahan kami. Dari ibunya aku tahu dia belum punya pacar lagi. Entah bagaimana perasaan dia saat itu, ketika aku mendahului pergi, kulihat sepintas dia mengusap air mata di sudut pintu dengan memandangiku.
Dua hari kemudian dia ngirim surat, katanya ternyata aku bukan perempuan yang pantas dicurigai. Dia ingin kembali, aku tak bisa sebab aku sudah dilamar seseorang.
-0-

8. INTUISIKU

Pengalaman sesaat bersama Bintang membuatku selektif terhadap lelaki. Bibit, bebet, bobot, dan terutama kepribadian; setia, jujur, tanggung jawab dan apa adanya. Aku tak mudah percaya siapapun selain intuisi sendiri, aku yakin intuisi itu karunia Alloh yang tak diberikan pada semua manusia.
Aku bertemu lelaki ini di awal kuliah, dia duduk di sebelahku. Saat itu aku merasa ada yang ganjil. Aku kaget melihat sepintas mirip Bintang. Dia pendiam dan cuwek. Sementara banyak teman lelaki tampak mulai approach dan mencari-cari perhatianku. Namun keinginanku saat itu Cuma belajar dan belajar. Tak ada yang lain! Sehingga saat nuraniku berbisik dia jodohku, aku hanya diam dan mencoba membuktikan kebenarannya. Dan, intuisiku ternyata benar, Alloh menjodohkan.
Aku bahagia dan bersyukur atas karunia itu. Bagiku semua yang ada padanya jadi anugerah terindah. Dalam berumahtangga kami bisa saling menjaga, memberi, menerima dalam suka duka. Tiap masalah bergulir makin menjadikanku kuat. Banyak Ujian Alloh yang kurasa berat; Kehilangan anak, harta, karir, kesempatan ibadah haji dan yang lain. Aku tetap bisa bertahan. Up down, compang-camping perekonomian tak membuat cinta kami goyah. Aku merasa banyak pemberian Alloh seringkali bukanlah keinginan tapi kebutuhanku.
“Ya Rabb, jika Engkau ridho, aku ingin bersamanya seumur hidup.” (3/1/11)
-0-
 
9.YANG PERTAMA DAN HILANG
Hari ini kubuka diary lamaku. Kuncinya sudah karatan dan tak bisa lagi dipakai.
Anniversary Linda, awal Juli 2000. Aku keluar dari party room, kepalaku terasa agak berat mendengar hiruk pikuk music dan obrolan teman-teman. Diam-diam seorang mengikutiku. Teman SMA yang sekarang katanya aktifis Ponpes di Jombang. Simple, tak basa basi dia langsung duduk di lantai dan aku dikursi. Dia Yok, anak guruku,  bapak ibunya mengajar di SMA kami.
“Mana suamimu?” ku jawab lagi keluar kota. “Oh” katanya menatapku. Tiba-tiba dia seolah mengintrogasi. Ingin tahu macam-macam; pekerjaan, anak, rutinitas, suami, termasuk ijin keluar rumah dari suami. Akhirnya kami asik ngobrol tukar pengalaman, cerita hal-hal aneh dan paling berkesan. Ku dengarkan kisah cinta gilanya yang membuatku sering teriak dan menutup telinga. Aku merasa tak punya pengalaman seheboh dia, paling Cuma anak, beberapa kegagalan, dan satu kisah yang paling berkesan sekaligus aneh adalah tentang cinta dan ciuman pertama.
“Aku mengalami saat masih SMP, tanpa kusadari itulah cinta dan ciuman pertama yang sulit kulupakan. pertama sekaligus terakhir. Jumpa untuk berpisah, sebab sejak itu dia hilang entah kemana.”
Kuceritakan Bintang kecilku yang ada dalam sekejap. Tapi meninggalkan kesan mendalam dalam hati. Yok tertawa, dan bilang;
“ Bintang kecilmu bodoh meninggalkanmu.”  Yok menyindirku. Sebenarnya aku yang dibilang bodoh mengenangnya berlama-lama, sementara jelas-jelas aku telah dilupakan. Ya, Yok pasti tahu kebodohanku dan sepertinya ingin membantu.
Sejak itu kami jadi dekat. Rupanya pesantren telah merubahnya menjadi muslim yang baik. Yok mengenalkanku pada akidah Islam yang kaffah, mengajari hal-hal yang syar’i. Setiap hari mengirimiku hadits-hadits. Hingga aku seperti menjadi perawi hadist. Katanya, dia ingin agar aku jadi perempuan berakhlak mulia seperti istri-istri nabi, dan kelak bersamanya masuk sorga. (hah!)
Diusianya Yok belum nikah, sering aku dan teman-teman mendorong untuk cepat nikah. Beberapa kali kucoba mengenalkan teman perempuan tapi menolak katanya; “Jodoh kan sudah ada yang ngatur, aku cukup bahagia bisa berteman denganmu. Aku merasa kamulah yang menjadikanku seperti ini.”
Lama tak kubalas smsnya. Aku bingung mencerna kata-kata yang membuatku jadi sulit menerka arti ukhuwah ini. Benar atau tidak, Cuma dia yang tahu, yang jelas Yok suka bergurau, jahil dan ember. Oleh teman-teman dijuluki ”radio bodhol”. Namun hal yang paling kelewat jahil adalah sms yang dikirim akhir Oktober 2004. jam 02. dini hari. Katanya;  Jika seandainya perempuan boleh bersuami lebih dari satu, aku akan melamarmu“. 30/10/2004 Hah?! ini menghujat syariat namanya ! spontan kujawab;
“Jika kau tak ingin dilaknat Alloh, hilangkan pikiran “SEANDAINYA”mu itu!!” Kupikir dia lagi terakumulasi petualangan masa kuliah sampai sebelum di ponpes antara thn 85-99, katanya playboy yang suka mempermainkan perempuan. Maklum, dia punya fasilitas untuk itu.
Kedekatan kami membuat teman-teman heran, dibilang aku mirip ibunya, sabar dan tahan dengar omongannya. Biarlah, kami tak peduli prediksi-prediksi yang jelas kami sama-sama suka pertemanan yang tidak melibatkan keduniawian. Dan dia katakan, aku satu-satunya teman perempuan yang sanggup merubah dirinya setelah ibunya. Alhamdulillah, di usia 43 th kurang 20 hari dia menikah.sabtu,8 maret 2008.
 Aku berharap dia lebih bahagia dalam pernikahannya. ( di malam pertama, istrinya sempat sms. Katanya; “Mas Yok kepikiran mba, jangan-jangan mba gak bangun, gak tahajud” ). Ya, pasti Yok sudah memberi tahu istrinya, setiap malam ada kerjaan tambahan, miscall teman-teman. Bahkan padaku sudah dilakukan sejak th 2000. Aku memuliakan kejujurannya. Sekarang istrinya jadi sahabatku.
-0-

  10. BINTANG YANG KEMBALI

Bertemu Bintang kembali ternyata masih timbul desir-desir aneh didada. Kian dekat interaksi kian bereaksi. Dia tampak dewasa dan simpatik dengan kepala berpeci.  Walau ragu, hatiku mengatakan dia merasakan hal yang sama. Bintang menggoda bak angin sepoi-sepoi, membuatku nyaman dan resah. Jika didekatnya hilang semua resah hatiku, sebaliknya jika jauh resahku tumbuh. Mirip remaja puber, sering lihat HP, senyum dan cemberut. Aku waspada. Timbul tenggelamnya rasa aneh ini mendorongku lebih mendekat pada yang diatas. Aku takut nyaliku melemah, karena itu aku memohon kekuatan dan petunjuk pada-Nya. Aku yakin petunjuk-Nya membawa mataku jadi fantastis, seakan menangkap bias-bias kejahilan “lelaki” dimatanya. (Mata wadonan!). So, aku harus menakar setidaknya sebulan !.
Bintang yang fun dan enjoy jadi mudah dibaca. Membuatku ingin melayat jauh ke lubuk hatinya. Aku hanya ingin bukti kata-katanya dan kejujuran hatinya. Sebab aku takut justru mata liarku yang kelak menguak kebohongannya. (sepasang mataku memang diam ditempat, tapi mata liarku bisa nyalang kemana-mana). Bagiku kebohongan selalu menuai kecewa dan akan sangat melukai jika dilakukan oleh orang yang kita cintai.
“ Ya Rabb, jadikan kedekatan kami untuk saling mengisi, baik bagi agama, perekonomian dan juga kehidupan. Dan jauhkan kami dari mudharat dan fitnah.”
-0-

11. LEGENDA YANG PERTAMA

Pada kenangan manis membuat kita ingin kembali padanya. Kenangan pada cinta pertama kata orang pengalaman paling indah. Bagiku itu sebuah dunia baru yang memenuhi sisi-sisi kalbu, seindah warna-warni pelangi, sehingga saat ia kembali semua derita rahasia kehidupan dapat terlupakan. Ia menyisakan nafas-nafas panjang dalam kenangan membahagiakan dan tangis manis yang lirih ketika ciuman pertama menjadi sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jari angin membelai bibir perawan lembut dan tipis.
Memori yang lindap puluhan tahun bagai roh yang menghidupiku, bayang-bayangnya adalah cahaya diatas kepalaku tapi aku tak tahu bagaimana harus meraihnya. Jerit hatiku bukan basa basi semu, sebab yang kuimpikan tak pernah menyadari kedalaman diriku sampai saat perpisahan itu tiba.
Kini rasanya aku tak ingin membiarkan gelombang samudra memisahkan seperti tahun-tahun yang telah berlalu. Meskipun kini aku telah bertambat pada sebuah pelabuhan yang tenang dan biru.
Bintang dan aku memiliki seuntai khayalan yang sama, sama-sama ingin merajut mimpi lama yang belum usai. Dan itu terwujud jadi keberuntungan. Realita tanpa kesepakatan dan rencana ini terjadi diseling perbincangan setelah Sembilan hari pertemuan kami.senin,13/12/10.
Aku menyedihkan! Terobsesi pesona cinta pertama dan rayuan semu. Banyak orang bilang wajar, tapi bagiku ganjil, sungguh tak pantas!. Hal yang tak pernah terlintas sejak jadi perempuan bersuami.
Saat itu, bagai di bentang malam di sebuah padang rumput, memandang ceracas bintang di langit. dibelai semilir angin. Jiwaku bagai selendang bidadari terhempas. Melayang… mengawang… terbang… menggapai mimpi mimpi remaja bersama Bintang. Mimpi yang jauh terlindap waktu, terlena di sunyi waktu.
Astaghfirulloh… ini bukan ku mau!, Ya Alloh, cukupkahlah aku dengan apa yang ku miliki dan yang Kau limpahkan padaku, cukupkan…“  Rasa ini membelit secepat ramat-ramat halus terajut. Benang-benang itu menawanku, aku tak tahu apa? Maksiat dan laknat? Tidak! aku hanya mau manfaat.
“Mungkinkah jiwa ini tandus? Tapi mengapa dalam ketandusan menetes air mata? Apakah karena aku percaya janji janji yang diucapkannya; “Menyayangiku, mencintaiku, melindungiku”. Mungkinkah mas Bintang menepati? Wallohu alam, Cuma dia yang tahu.
Mungkin aku membodohi diri, mempercayai kata-kata metafora, kata-kata yang tak tertera dalam buku suci milikku. Dan aku memberi ketulusan yang dalam di sini. Aku yakin jika dia ingkar, suatu saat akan jadi petaka baginya.
Bintang bukan tak bisa menepati janji tapi sulit menepati janji.
-0-

12. HIDUP DAN UJIAN-UJIANNYA

Hidup dengan berbagai kebebasan adalah hewan, namun hidup dengan pengekangan adalah manusia. Aku sadari dan berusaha jadi manusia. Memenjarakan diri bagiku justru kebebasan hakiki. Bebas dari iktilat, tabarujj, fitnah, kekejian persahabatan, ujub, bangga diri, tidak qona’ah dan sifat-sifat buruk manusia yang selama ini kutemui. Mencoba jadi perempuan dan istri baik tanpa campur tangan siapapun. Mengunci rapat-rapat setiap indra di tubuhku untuk bisa jadi diri sendiri. Ternyata aku bisa, meski awalnya sangat sulit. tak cukup harta dan tak ada teman berbagi rasa beberapa tahun akhirnya terbiasa aku merasa home of heaven.
Kata orang, semua yang terjadi saat ini akan berhubungan dengan fase-fase sebelumnya. Sederhana saja, masa lalu adalah pengalaman yang mahal.
Aku pernah tersesat dalam duniawi. Harta membuat aku terlena. hura-hura, pesta, dugem, membantai kawan memeluk lawan. Semua itu karena ambisi dan minimnya nilai-nilai spiritual. Hidup dalam lingkungan bisnis, mendewakan materi dan pergaulan beragam ternyata membuatku lelah lahir batin.
Mula-mula memang menyenangkan, tapi pada akhirnya jadi memuakkan. Setiap kali ragaku diajak foya-foya, jiwaku seperti terhimpit. Dengan kesadaran diri, aku menarik hidup dari dunia itu. Dan ketika aku jatuh, bisnisku hancur, miskin dan tak punya apa-apa, aku tidak nelangsa, tidak terpuruk, justru merasa bebas, nyaman dan bahagia. Dan benar tanpa itu semua aku tidak terongrong kebutuhan-kebutuhan yang tak logis. Bisa makan Cuma lauk garam, bisa tidur nyenyak tak ada yang membangunkan. Dan, kini aku seakan mengalami titik kulminasi penyadaran diri. Sekarang dan saat ini.
-0-

13. PERJALANAN PERTAMA

Hari ke Sembilan belas,kamis,23/12/2010. Kucatat  dua peristiwa  pada sebuah perjalanan. Bersama Bintang hatiku bahagia menempuh perjalanan ini, namun bahagia menyertakan duka tanpa disadari.
Naluri yang seringkali bermakna firasat dan ku tolak karena ketidak yakinan, malah sering membuktikan kebenaran (cuihh !) entah kebetulan apa yang acap membawaku pada orang yang hendak meninggal. Cuma kebetulan !! Ajal tak bisa diramal. tiap orang memiliki ciri wanci lelai ginawa mati.
Walau aku belum mengenalnya, aku sangat berkabung dengan kepergian saudaranya. Entah mengapa dalam Perkabungan ini membuatku bahagia.  Ya… saat seperti itu Bintang sering meneleponku, sms, mengabarkan pemakamannya. Inilah perhatiannya padaku yang membahagiakan hati. Memberi rasa kasih sayang walau dalam duka. Aku berharap dia akan terus seperti ini…. Semoga !
-0-

14. AKHIR TAHUN

Akhir Desember 2010, malam tahun baru 2011. Kidung sendu menyelimuti keluargaku. Bapakku baru pulang dari rumah sakit, sementara aku yang tanpa sengaja periksa dokter harus tersentak dengan kondisi kesehatanku. Ya… aku memang infallid. Hipertensi sejak kehamilan pertama dinyatakan dokter sebagai penyakit warisan ibuku kali ini terulang. Tensiku 220 MmHg, setelah 22 tahun yang lalu.
Aku tak curiga hipertensi, Justru saat ini tubuhku terasa nyaman walaupun ada sedikit flu. Mungkin aku lagi bahagia, ada Bintang di sisiku, memperhatikan, menghibur dan memberiku semangat, sehingga sakitpun jadi tak terasa. Bintang bagai siluet mimpi yang jauh tiba-tiba mendekati realita.
Apapun alasan kehadirannya aku merasa bahagia. Walau rasa itu ternyata hanya sesaat, mungkin setengah waktu. Aku baru tahu Bintang sangat hobby sms. Di saat itupun dia lakukan tanpa jeda. Aku jadi mencermati posisiku disini. Apalagi seolah dia menyembunyikan sesuatu yang tak wajar. Nampak sekali bunga-bunga bahagia yang terukir dalam senyum setelah membaca balasan pesan di hpnya. Aku tak tahu dari siapa dan siapa. Yang pasti, ternyata bukan aku satu-satunya perempuan yang biasa di sms.
 Jujur aku mulai curiga dan kesal, Bintang tak menghargai keberadaanku di sisinya. Tak bisakah dia ber-sms ria dirumah atau ditempat lain? Dan, curigaku melintas, jangan-jangan dia sengaja unjuk aksi, memperlihatkan diluar sana banyak WIL yang biasa bisa di kencani. Meskipun kesal dan kecewa terasa sepahit empedu, namun tetap kutelan tanpa rasa.
Ternyata kebahagiaan itu hanyalah kilasan waktu yang tak nyata, kesedihan tebusannya, lalu marah dan dendam akibatnya.
Tak ada yang bisa kulakukan selain pura-pura tak tahu. Sebagai manusia dia punya hati, rasa dan pikir. Sebagai pendidik dia punya etika dan estetika. Mungkin saat ini Bintang tak berkenan dengan hal ini, kuharap suatu saat akan berguna bagi dirinya. Kukembalikan semua padanya.
Sebelum jarum jam sampai di titik kulminasi, tepatnya jam 11.45 wib dia pamit. Aku tak bisa mencegah, walau aku ingin mengakhiri tahun ini bersamanya.
“Malam akhir tahun 2010 kusimpan jadi memori. Sebenarnya aku sangat-sangat bahagia berada di sisinya, namun intuisi jiwaku berbisik; “saat ini hatinya berada di tempat lain, bersama orang lain, bukan berada disini, disisiku.”. begitu malam ini kukirim kata hati, agar dia tahu isi hatiku.
”Ajeng,kau tak boleh berharap padanya. Pengalaman membuatnya pintar bohong, cintamu tak berarti baginya.”
Tapi, aku bukan orang bodoh yang butuh orang lain mencela dan menipuku. Aku juga bukan orang buta yang tak bisa melihat tanda-tanda kebohongan. Mataku memang sipit, namun mata hatiku bisa menatap ketidakjujuran. Aku juga tak luput dari dosa, aib dan angkara, tapi aku ingin jujur dan tulus. Aku ikhlas menghargai dan menghormatinya, setidaknya bagiku menghormati tidak membuatku kekurangan apapun. Intuisiku buruk! apakah aku akan terbelok oleh hasrat?..
15. PERHATIAN YANG MENYEMANGATI

Keempat kalinya bapak pindah rumah sakit. Aku prihatin dan bingung melihat kondisi beliau. Tampak antara jiwa dan raga sudah tidak imbang. Menurut para ahli medis di rumah sakit itu bapak mengindap penyakit kanker ginjal. Saat amfal beliau seperti hilangan akal, mencabuti selang infuse dan melakukan hal-hal diluar kewajaran. Sungguh, aku sedih sekali melihat penderitaan bapak.  Seminim mungkin kueliminir perasaan yang campur aduk ini, kusembunyikan air mata agar tak nampak di depan adik-adik dan orang lain. Sepertinya aku tegar namun sebenarnya tidak. Beberapa orang dekat bapak berasumsi ada sesuatu yang gaib jadi pegangan bapak dan sakit ini berhubungan dengan masa lalunya. Aku hanya bisa pasrah. Aku yakin inilah takdir. Kepastian yang digariskan-Nya.
Menunggui bapak dirumah sakit adalah saat yang sulit. Untunglah banyak support dari teman-teman dan saudara yang empati. Berkunjung, telepon atau sekedar sms. Dan, untukku tentunya mas Bintang. Perhatian dan kesetiaannya menemaniku disaat-saat sulit itu jadi catatan berharga dalam hatiku meskipun kadang Cuma sms.
Malam Minggu ini 15/1/2011 mas Bintang datang membezoek bapak. Aku bahagia dia disisiku walau Cuma sesaat.
-0-

16. KETULUSAN DAN KELEMBUTAN CINTA MAMPU MELAHIRKAN DOSA

Hari ini Senin 17 Januari 2011, Dalam hidupku terukir sejarah yang tak mungkin bisa terlupa. Dua peristiwa terjadi dan keduanya sama-sama menoreh luka yang mengkeloid di jiwa ragaku. Tak tahu apakah ini alpa, ceroboh atau bodoh. Ataukah ini bagian takdir yang telah tertulis dan harus aku alami sekaligus kusesali?. Ya…semua terjadi tanpa prediksi. Aku menyesal, ternyata inilah persimpangan yang menimbulkan tabrakan idealisme dalam diriku.
Apakah kisah kasih yang terwujud dalam duka tak bisa abadi? Mengapa ketulusan dan kelembutan cinta mampu melahirkan dosa? Benarkah pengorbanan harus ada untuk yang di cintai?. Benarkah cinta dapat mengubah apa yang tiada menjadi ada? Semua telah terbukti dan benar!.
Adalah seorang perempuan di balik kerlip cahaya bintang gemerlap. Mata seorang perempuan yang menyimpan air serta cerita yang bermuara dari masa lalu. Mata yang acap kali tergetar pada pijar sesaat dan sering pula terpejam menghayati perputaran kisah hidup yang terhempas dari perangkap waktu, di bola mata ini, terpancar lapisan-lapisan pertemuan yang hanya disimpan pada sebuah kesan. Menjadi gemuruh yang ia lekatkan di dada. Menjadi bayangan yang tak sempat ia maknai kala berdoa.
Sementara dibalik kerlip cahaya hening gemerlap, sang bintang seperti menghimpun titik akhir kehidupan dan hendak menyingkir dari kehidupannya. Seolah sang bintang enggan menunjukkan nama ataupun tanda bagi kehadiran dan kepergiannya. Disaat hening malam ia makin menjauh dan diam. Namun bagi perempuan itu keheningan kerlip sang bintang adalah pancaran puji-puji suci yang mengalir sepanjang buluh-buluh nadi.
Di hari itu, sebelum tangis duka menetes di ujung hati, sebelum doa berakhir di ujung bibir aku telah dirundung duka. Intuisi yang terabaikan membias pada hasrat sesaat. Pada dipan bertilam putih, bisu dan beku, mata hatiku bergetar melihat untaian senyum kemenanganmu. Aku dihempas secebis mimpi, tertoreh tajamnya pisau naluri, terbius rasa, terlena ilusi, terpana ambisi, maka dosa pun tak terkendali.
Tahukah kau…  jauh  di lubuk hati, kukutuk dan kutangisi diri. Betapa dungu dan munafik, lupa benar dan salah, lupa harga diri dan akidah. Benteng pertahanan yang telah kubangun dengan harkat dan martabat luluh dalam sesaat. Aku terpuruk, rintih ngilu tertawan direlung hati, meratap bak perawan suci. Malu dan sedih ini jadi wujud pengorbananku atas “ketulusan dan kelembutan cinta”.
Adakah kau hargai pengorbanan ini, atau justru berpaling mencampakkan setelah ini? Entahlah…
Ya, hari itu…, sebelum hembusan nafas berhenti di ujung nadi, aku telah bersama orang yang kucintai, menyatu dalam nyala obor keajaiban yang tercipta sebelum dunia ada. Meskipun hatiku berlinang air mata, namun bibirku akan terus membias senyum agar aku nampak tegar.
 
-0-
17. “KERAGUAN”

Tak ada hukuman yang lebih berat ketika seseorang perempuan mendapati dirinya terperangkap diantara seorang yang mencintai dan dicintai. Seperti dua kekuatan terpadu dalam satu ruh. Ruh misterius yang terjelma untuk dipahami dan dimengerti keberadaannya.
Bintang berotasi dalam lintasan panjang dengan waktu singkat, maka sulit memahami rasa apa yang tersembunyi, tak bisa menghargai janji, tak pahami arti pengorbanan. Aku ngeri, suatu saat kelak kebersamaan ini akan memperalatku.  Sebab kebiasaan berkorban hanya ada pada pemilik harga diri. Bagiku Cinta akan berharga jika disertai pengorbanan dan penepatan janji serta kejujuran.
Aku tahu, sesuatu yang berjalan cepat akan sulit terkendali. Sulit dipahami dan samar-samar. Begitupun cinta pada persimpangan ini, ternyata bagai kilat menyambar selintas waktu. Tapi kebersamaan yang pendek tak harus disesali, hanya harus direnungkan dan dipelajari. Aku tak menyerah pada keadaan, tapi berjaga-jaga sambil membangun kekuatan.
Waktu kebersamaan panjang atau pendek bukan tolok ukur untuk pahami pribadinya. Dalam perjalanan ini ternyata sulit menemukan kriteria “luhur” bahkan “ragu” yang tumbuh. Padahal bersama keraguan aku telah banyak membuktikan ketidakjujuran, pengingkaran janji dan ketidaksetiaan.
Bintang pernah ku ingatkan agar waspada terhadap ujian hidup kaumnya, yakni; Harta, tahta, wanita.  Ini bukan Cuma falsafah kosong tapi sering kita temui.
Pengalaman adalah guru terbaik sebagai referensi kita dalam menghargai sesama. Usia, kemapanan, status social ternyata tidak berhubungan dengan pengalaman baik itu. Bisa saja orang yang berusia, kecukupan, cerdas dan berkedudukan tapi tak berpengalaman menghargai orang lain. Bisa juga karena berpengalaman jadi menganggap bodoh, merendahkan dan menyepelekan orang lain.
-0-

18. GURU JUGA MANUSIA

Manusia adalah makhluk yang mempunyai hasrat, baik dan buruk. Itu wajar bagiku. Guru juga manusia. Untuk menjadi guru yang baik ternyata tidak harus jadi orang yang bersifat baik terlebih dahulu. Artinya profesi mulia itu tidak harus identik dengan pemiliknya.
Kita harus memisahkan jauh-jauh antara profesi dengan kepribadian, karena itu tidak bisa disinkronkan. Profesi berhubungan dengan masalah komunal sedang kepribadian adalah individual. Setiap individu memiliki sifat yang berbeda dan sebagai tolok ukur diri. Sifat itu bisa dari genetik atau dominasi lingkungan. Sedang profesi adalah produk social yang dicapai seseorang.
Sebuah profesi yang sangat mulia (GURU) tidak berarti pemiliknya mampu beradaptasi dengan pekerjaannya. Ya…itulah yang disebut manusiawi. Di sekolah dia bisa menjadi tauladan “Di gugu dan Ditiru” namun diluar itu dia bisa menjadi siapapun. Pada dirinya aku telah membuktikan, namun tak harus kuceritakan. Biarlah itu jadi milikku pribadi.
Aku hanya berfikir mau dibawa kemana anak-anak didik jika gurunya tidak bisa digugu lan ditiru? Siapa harus menghargai siapa jika sang suritauladan telah kehilangan jatidirinya? Aku pernah jadi murid, dan tahu bagaimana menghadapi guru yang tidak pernah bisa menghargai profesinya. Aku juga tahu bagaimana rasanya jadi murid jika gurunya selalu berbohong.
Berharap mendidik seorang manusia menjadi seoarang yang berpribadi mulia memang tidak gampang jika dalam hati pendidik sendiri tak ada kesanggupan mengubah dirinya menjadi pribadi mulia.
-0-

19. BINTANG MASIH DI HATIKU

Bintang tetap kuhormati sebagai manusia biasa, manusia yang dhoif dan tidak sempurna. Aku coba memahami situasi dan kondisinya. Baik dan buruk adalah dua sisi berbeda. Dia butuh jalan tengah untuk menjadi seimbang. Aku berusaha menjadi jembatan untuknya menggapai jalan tengah. Walau aku tahu Bintang juga lagi berusaha mengambil jalan tengah sendiri.
Rasa kasih sayangku, membuatku ingin mengubahnya jadi yang terbaik. Aku ingin membantu melapangkan pengalaman dan menghadapi hari esok jika harapannya terwujud. Namun keberadaannya yang makin jauh dan samar-samar membuatku pesimis. Dan aku tidak hendak memaksa sampai dia tahu siapa diriku sebenarnya.
Bintang tampak loyal sehingga aku jadi memperhatikannya. Apalagi yang ganjil, wajar pun mutlak kutangkap. Sering kupancing interaksi, menjajagi keberadaanku dalam dirinya, juga kesungguhan pada janji-janjinya. Bukan hendak memaksa menepati, tapi sekedar ingin tahu. Namun, dengan berlalunya waktu aku merasa sia-sia, ternyata semua janji dan ucapannya Cuma lips servis belaka.
Yach…jikalau dengan bahasa standar saja tak paham, lalu dengan cara apa aku menyampaikan? Haruskah diingatkan bahwa JANJI ADALAH HUTANG yang harus dilunasi? Sebagai pendidik tentu  dia tak bodoh mengingat kata-kata sendiri. Entah… Barangkali saking banyaknya janji lain yang lebih pantas ditepati ketimbang padaku manusia yang tak berarti, remeh, miskin, bodoh dan jelek.
Sungguh sangat kusesali jika dia banding-bandingkan aku dengan wanita-wanita lain yang ada dalam hidupnya. Aku bukan orang yang sempurna, tapi aku enggan dianggap lebih jelek ketimbang yang lain. Aku tak mau jadi batu loncatan mengisi kekosongan hatinya, aku tak mau jadi pengisi waktu luang saat dia melakukan audisi mencari yang lain. Sebab itu sangat melukai martabatku sebagai perempuan.
Dalam diam aku mulai istikharoh, beraudensi dengan yang Maha Suci. Aku tak mau semua yang dilakukan padaku meninggalkan bekas carut marut di diriku, andai tujuan kebersamaan ini hanya untuk mempermainkanku tentu aku tak sudi jadi kelinci percobaan, tak sudi jadi ban serep. Aku punya harga diri yang tak akan kukorbankan dan kupertaruhkan dengan sia-sia.
Banyak retorika digunakan manusia untuk tutupan kekurangan diri, Bintang tak luput dari itu. sesungguhnya aku tak ingin membiarkannya tenggelam dalam kekurangan. Dengan tulus hati dan kasih sayang, ingin kubawa dia beretika dan berestetika. ingin kubangun gentelitasnya. Harapanku, dia menjadi benar-benar gentel bukan hanya seolah-olah gentel. Aku tak butuh imbalan. Sayangnya, Bintang memaksaku menghentikan keinginan itu.
Bersama waktu aku paham, Bintang hanya memiliki keinginan “mencoba” sesuatu yang langka, tanpa resiko sekecil apapun. Sementara aku justru ingin berani menghadapi resiko.
-0-

20. TERNYATA AKU TAK TAHU SIAPA DIRINYA

Aku benar-benar buta, tak tahu siapa dirinya. jarak waktu berselang 30 tahun belum berubah perilakunya. Dia masih seperti dulu. Actor profesional, lihai bersandiwara, memainkan perasaan, memberi mimpi-mimpi dan harapan kosong tanpa rasa apa-apa.
Benar kata sahabatku, SESEORANG YANG TIDAK MENGALAMI, TIDAK PERNAH MELAKUKAN, DIA TIDAK PERNAH MENGERTI. Benar aku telah menipu diri dan tertipu. Benar aku buta dan keblinger. Benar aku tak tahu siapa yang aku hadapi. Benar aku harus ISTIGHFAR. Benar aku tidak harus menjadi profesor ahli jiwa dulu untuk menjajagi isi kepalanya, dengan kemampuan standar pun aku bisa membaca pikirannya. Tapi aku malah menutupi semuanya karena perasaan itu ! Oh Tuhan… 
Ku akui Bintang seorang petualang hebat, sayang dia tak belajar menjadi petualang sejati. Bintang takut menghadapi resiko, apa yang dilakukan seolah hanya lelucon yang tak berarti. Begitupun yang dilakukannya padaku. Dia hanya memainkan perasaanku. Dia tak memahami dan tak merasakan ada ketulusan dan kelembutan lain di hatiku. Boleh jadi dia hanya menginginkan tubuhku.  Menganggap gampangan dan murah. Jikalau benar begitu ya apa boleh buat, tunggu saja waktunya!
Walau apa yang telah terjadi sangat sulit terlupa, tapi takkan kuhalangi jika dia akan pergi.  Aku tahu ini akan sulit dan menyedihkan bagiku, tapi aku ingin dia menyadari bahma tidak mudah melupakan seseorang yang telah dilukai.
Rasanya benar, cinta dan benci berjarak sangat tipis. Aku bisa mencintai dan membenci sekaligus. Sehingga sewaktu aku tega melakukan hal yang buruk, artinya aku behar-benar manusia, memiliki cinta dan benci. Karena itu aku bisa dan berani membuktikan apapun dan pada siapapun.
-0-

21. YANG SANGAT MELUKAI

Aku sadar, perasaan ini datang tiba-tiba bukan karena kebersamaan dan pergaulan yang lama atau rayuan terus-menerus. Rasa ini ada karena tunas-tunas masa lalu yang bersemayam dalam jiwa. Tunas itu tidak tumbuh sesaat di masa lalu tapi itu berkembang bertahun-tahun. Walau dalam penggalan masa dia telah terbagi-bagi bagai dahan-dahan pohon yang bercabang kemana-mana.
Dapatkah sebagai cabang yang baru tumbuh, ia mampu menumpahkan seluruh daya hidup untuk menahan penderitaan? jika cabang itu adalah diriku, mungkin mampu tapi hanya beberapa saat setelahnya akan layu dan mati. aku tak sanggup menderita dibelantara cabang-cabang cinta yang lain.
Bintang, sekarang aku hidup antara tidur dan jaga. Kaki-kakiku menjejak di masa depan namun hatiku tertinggal di ranah silam. Sebenarnya aku butuh tanganmu yang kekar, sayangnya tak pernah terjulur untukku.
Bintang, banyak hal dan peristiwa yang telah kulalui dalam hidup ini. Asam garam telah kutaklukkan menjadi tawar. Kadang kuikuti arus angin berhembus, kadang kupapas arusnya agar tidak membawaku dalam gerusannya.
Di dalam hidupku banyak orang telah kukenal, beberapa melindungiku (itu juga janjimu yang belum menepati), beberapa bersaing melawanku. Ada juga beberapa mencintaiku juga membenciku. Mereka datang dan pergi silih berganti dari sisiku (kau justru orang yang pertama datang dan pergi ). Tapi hanya ada satu orang yang tetap disisiku, mencintaiku, mau berkorban apapun untukku. Bersamanya telah ku lalui jalan yang sulit, berbagi ceria dan derita. Dan aku merasa bersamanya sesuatu yang tak mungkin akan menjadi mungkin. Sehingga aku tenang dan mempercayainya.
Sejak kuputuskan menjadi seorang istri, aku telah menghilangkan bayang-bayang orang lain. Meski aku tak melupakan cinta pertamaku. Selama ini kisah itu hanya terangkai dalam hati, tak pernah menceritakan pada orang lain, namun sekarang bisa tertumpah karena kau dan kekuatan hatiku.
Bintang… banyak hal yang tak bisa kutulis karena terlalu riskan dan rumit. Aku tahu semua hal yang aneh akan membuat masalah baru dan aku tak ingin kau terkena dampaknya. Aku manusia berperasaan dan tenggang rasa. Aku suka membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik dan aku juga ingin bisa membalas keburukan dengan lebih buruk.
Seperti awal kita bertemu kembali, saat itu aku merasa sangat bahagia. Kau memperhatikanku dan aku juga tak punya pikiran buruk, namun saat kau menjauhiku dengan banyak alasan setelah semua terwujud, akupun mulai berpikir jahat. Apalagi ternyata kau bisa mengeksekusi dan menamparku dengan sikap dan kata-katamu. Mungkin kau tidak menyadari, darimu aku banyak belajar. Salah satunya adalah belajar cara mengeksekusi seseorang.
Dan tahukah kau, perkataan dan caramu mengatakan “R ayu“ didepan mataku lalu kau minta no hpnya. jum’at, 4/3/2001. inilah yang kusebut eksekusi.
Padahal sudah kuingatkan agar “Jangan ganjen!”. Maaf Bintang, saat itu aku tidak lagi cemburu sebab aku tahu siapa dia. Yang membuatku sakit dan kecewa ternyata kau tidak lagi menghargaiku. Hatiku berkata, didepanku saja bisa begini, apalagi dibelakangku. Kurasa ini penghinaan yang kebangetan! lalu apa arti diriku? benar kata orang, “seseorang lebih cepat melupakan suatu dukacita yang hebat daripada suatu hinaan yang tak berarti”.
Ingat siapa dirimu, profesi dan kedudukanmu. Aku tak ingin padamu ada “stigmatisasi” buruk. Aku menjaga semua itu. walau aku tahu kau hanya berambisi menyelesaikan segalanya dengan cepat.
Memang rentang perjalanan kita masih terlalu singkat untuk sampai pada “saling mengerti dan memahami”, tapi kita bisa saling menjaga perasaan agar tidak melukai. Atau mungkin aku terlalu nista sehingga kau aib menghargaiku.
Walaupun sudah kumaknai sebagai bagian takdir, tapi aku belum cukup ikhlas. Aku masih seperti bermimpi. Mimpi indah yang menakutkan, impian yang menjebak pada harapan semu, menyiksa batin, menghanguskan jiwa raga hingga kering dan rapuh. Aku jadi lemah sulit bereksistensi.
-0-

22. KEIKHLASANKU

Bintang… terasa benar, kita hidup dalam dunia yang jauh berbeda. Disekelilingmu banyak memancar cahaya gemerlap. Kau seperti burung bersayap kuat, terbang bebas menikmati buah-buahan di pohon-pohon tanpa ada yang melarang, tanpa takut bahaya, seakan tidak akan masuk saqar. Sedang diriku… oh Bintang… aku Cuma ikan kecil yang buta, sepertinya aku hidup di dalam laut lepas dan luas ternyata Cuma dalam sebuah gelas.
Bintang, jika burung dan ikan saling mencintai, mereka akan hidup dimana? tak ada tempat bukan ? Dimataku kau begitu terjal, menatapmu pun rasanya aku tak sanggup. Begitu terjalnya sampai tak ada seutas titianpun yang terentang disana…
Banyak keinginan terlantun dalam do’a-do’aku yang belum terwujud bersamamu. Tapi mungkin Alloh memang tidak hendak mengabulkannya. Sebab Alloh tahu apa yang kubutuhkan bukan apa yang kuinginkan. Alloh tahu apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itulah aku pasrah… aku cukup bahagia hanya bisa melihatmu di sekelindan waktu dalam keindahan dan kebahagiaan yang sempurna disana… di tempatmu yang tinggi.
Bintang… aku punya pesan kecil untukmu, meskipun kau sudah lebih bijak namun tak ada salahnya jika aku ingin mengingatkannya,
-          Ulurkan tanganmu untuk kebaikan, agar kau dicintai dan dihormati oleh kehidupan.
-          Lindungilah yang lemah dan menderita, agar bahagiamu abadi.
-          Cintailah dengan tulus orang yang tulus mencintaimu. Hargailah dia seperti kau menghargai diri sendiri.
-          Tepatilah setiap janji agar kau menjadi orang yang mulia, dipercaya dan dihormati oleh Tuhan dan sesama manusia.
-          Jujurlah, karena kejujuran sangat mahal harganya.
Sekarang bagiku semua terasa menyakitkan, aku seperti telah kehilangan orang yang kusayangi. Aku sangat sepi, kering dan lebih gersang dari kuburan. Tapi aku akan tetap bertahan dan terus bertahan. Cinta, do’a, kejujuran, ketulusan dan kasih sayang yang ku tabur pada ladang hatimu sepertinya tak bisa tumbuh karena telah kau burai bersama angin yang kau tiup sesaat.
Kekasih… sepertinya semua harus ku ikhlaskan, sebab semua kepalang menjadi takdir. Rasanya tak ada satu mimpipun yang bisa kita bagi bersama, walaupun selama ini selalu dalam harap. Aku tahu semua mimpi-mimpimu tentang diriku telah sirna setelah semua terwujud. Sedang mimpi-mimpiku tentang dirimu akan kubawa pergi mengikuti langkahku agar semua itu jadi teman perjalanan yang menyenangkan dan tak membuatku tersesat lagi.
Aku ingin kau tetap ada, walaupun akhirnya aku harus memilih tempat bersandar yang paling tenang. Menyingkir dari dunia yang baru sejenak kutapaki, dunia maya bersamamu. Aku memilih tempat dalam palung yang dingin dan sunyi hanya membawa bayangan dirimu. Karena jauh dalam lubuk hatiku, bayangan itu yang abadi.
Berjuanglah Bintangku raihlah keinginanmu. Tak usah menengok kebelakang agar kenangan yang pernah kau toreh tidak membebanimu.
Berjalanlah dengan tegar kekasih, nyalakan terus obor semangat dalam hatimu dan jaga agar tidak cepat padam.
Selamat jalan Bintangku… aku akan tetap mendoakanmu disini… disudut yang paling sunyi. Walaupun aku tahu, harapanku menjadi air mata yang terakhir di matamu yang kaca tidak bisa terwujud, tapi aku tetap rela meneteskan air mata yang terus mengalirkan air mata untukmu. End 17/2/2011.
Sekarang, akupun harus menata perasaanku dan harus menempuh jalanku sendiri.  Sekali lagi kukatakan, aku tidak mudah melupakan seseorang yang pernah melukaiku dan membahagiakanku.

-0-

Bobotsari,  Maret 2011



Tidak ada komentar: