Senin, 17 Februari 2014



KAREDOK LEUNCA
Wind set

Degung Parahiangan itu tiba-tiba mengusik hatiku. Syahdu melarut di hening malam.
“Apa kabarmu akang?”
Lama sekali kita tak saling tukar berita ya… Mungkin akang telah melupakan kenangan perjalanan yang pernah kita tempuh bersama. Tak berbeda denganku yang mengingat sekelindan waktu. Tapi aku tak percaya akang bisa lupakan aku begitu saja. Bukankah akang sering mencari kabarku? Aku tahu dari beberapa temanku.
Malam ini kudengar kembali tembang itu, tembang yang pernah membawa kita berdayung mengarungi samudra tanpa nama. Sebuah tempat tanpa ujung, jauh… sangat jauh. Kini anganku melayat kesana diiringi degung itu. Aku tak lagi mendayung bersamamu kang…, tapi berselancar sendiri ke tempat tak berujung itu. Ya,,,, aku sendiri, sebab aku memang ingin begitu.
Akang, mengingatkan kisah perjalanan dulu, degung Karedok Leunca ini jadi membuatku meneteskan air mata. Begitu rumit dan sulitnya waktu itu. Serumit dan sesulit perang Bosnia-Herzegobina. Aku tahu akang mudah menyerah, dan aku juga pengecut tak mau kalah. Dan, akang pun tak mau berjuang untuk kita walaupun aku tahu akang mampu melakukannya.
Akang tak percaya diri juga tak yakin, takut berjuang sia-sia dan tak mampu membahagiakan aku setelahnya. karena itulah aku memutuskan menyingkir dari hidupmu. Buat apa aku bertahan tanpa harapan, buat apa aku berlayar bersama nahkoda yang bimbang. Bagaimana jika perahu yang ku tumpangi kehilangan kemudi, salah arah, kandas, menumbuk karang dan tenggelam? bukankah kita akan mati sia-sia? Sebab aku tahu kebimbangan akan menyesatkan. Hidup pun tak akan bahagia jika tersesat.
Bukankah akang ingin aku bahagia?
Akang tahu bahwa perempuan dimana-mana ingin jadi ratu yang bahagia bergelimang harta meskipun tanpa cinta. Benar, perempuan memang materialistis dan egois! Dan aku kecewa saat akang bilang tak akan mampu memberiku semua itu. padahal aku merasa bisa jika bersama akang.
Akang hanya memberiku harapan yang sulit terwujud. Bahkan rasanya akang hanya menempatkanku sebagai oposisi bagi yang lain. Wah, aku tak mau memposisikan diri sebagai musuh hanya untuk mendapatkan status palsu. Sebab, saat itu aku memiliki cinta yang utuh buat akang.
Akang, rupanya waktu yang berlalu masih tersisa dalam syahdunya alunan degung sabilulungan yang kudengar diruang sepi ini. Tembang itu tiba-tiba menarikku kembali ke alam metafora di batas pantai Merak, saat itu angin laut berhembus kencang mencerai beraikan rambut kita menandai betapa perjalanan itu telah begitu jauh kita tempuh.
Saat itu, Aku dan kau Cuma memandang garis batas pantai yang setia dijilati ombak dan diam. Lalu kita berbalik arah. Seakan dikejar ombak, kita berlari sendiri-sendiri menjauhi ketakutan. Ketakutan sejenis dengan beda sebab. Kau hanya takut basah oleh air sedang aku takut tenggelam diseret ombak. Saat kita kembali ke tempat semula, aku melihat dirimu ragu. Maka ku pilih jalan sendiri, jalan yang tak ada ragu. Dan, aku pergi menyusuri jalan duka bersama seuntai cinta yang ragu. Itu kulakukan agar kau bahagia.
Waktu itu, aku coba menerka apa yang tersembunyi di sudut hatimu, tak kutemukan jawab. Namun ada rangkaian kesimpulan kubuat. Akang bukan hanya takut tak mampu memberiku bahagia, tapi nyali akang juga rapuh. Dan tak mungkin bagiku menahan diri bergayut pada sesuatu yang rapuh. Aku bukan super woman yang memiliki kekuatan lebih. Aku hanya perempuan lemah yang ingin bisa bersandar pada pundak yang kuat. Aku ingin bahagia sesungguhnya, bukan bahagia semu. Rasanya tak keliru jika aku berlari sebab tak kutemukan apapun yang kuinginkan disitu.
Ada kerinduan yang terselip untuk kembali menyusuri peta perjalanan itu, tapi aku tak sanggup melangkah kesana. Ingin aku menjelma jadi angin sekedar mengikuti langkahmu lalu menebarkan aroma keberadaanku. Dan akan kulihat pada siapa dan siapa kemesraan kau berikan di penghujung waktumu.
Mungkinkah akang masih bisa menampik mengakui perselingkuhan waktu dulu? Ah, akang memang tak punya rasa. Padahal kata orang aku lebih baik dari yang lain. Mata hati akang buta, tak lihat kedalaman hatiku, maka aku tak mau membuat akang berharap lebih, sebab aku tak mau hidup dalam derita panjang. Begitulah aku kang…
Aku tak menyesali perpisahan kita waktu itu, justru dengan berbagai cara aku ingin akang menjauhiku. Aku tahu itu tak adil dan tak berperikemanusiaan, tapi apalah arti cinta bila aku tak bisa memilikimu sepenuhnya? Apalah arti kasih sayang jika selalu dan selalu dipaksa sembunyi dalam ketakutan?
Ya…kita memang tak tertakdir untuk bersatu dan tak pula berbagi. Akang terlalu mengalah untuk tak sampai pada titik menang. Akang seperti kelelawar saat melihat matahari, lebih suka melarikan diri dan bersembunyi, sementara aku yang tersudut harus menghadapi kesulitan demi kesulitan sendiri.
Betapa berat beban akang pikulkan pada pundakku atas sikap tak konsisten itu dan betapa berat derita batinku mempertanggungjawabkannya. Akang bahkan tak mau melayatku yang seperti terkubur hidup-hidup dalam gelap dan sedikit rongga udara, hingga dadaku sangat sesak tuk sekedar menarik nafas. Aku nyaris mati kehabisan nafas.
Akang, alunan degung ini begitu lembut mengetuk sanubari, serasa kau ada disini tepat di depanku menyentuh dan melekapkan kedua tangan di bahuku yang letih lunglai, aku Cuma terpaku menunduk, lalu kau cium keningku, membisikiku ;
“Jangan lagi tinggalkan akang, sebab akang tak bisa meninggalkanmu.” Sejenak mataku terpejam menikmati sentuhan bibir akang yang hangat, membuka mata mendongak, kutatap tepat di bola mata, dalam senyum kukatakan ;
“Bagaimanapun aku pernah mencoba bersamamu, hanya saja aku yakin kita tak sanggup melepaskan yang lain.” Seakan beban di dadaku lepas mengucap kata-kata itu. Aku tak bisa berdusta apalagi hanya untuk sebuah mimpi.
Karedok Leunca belum beranjak dari nafasku, mengenangnya membuat hatiku perih. Ternyata cukup dalam dia menoreh luka padaku. Mungkin suatu saat aku harus benar-benar mengatakan apa yang tak bisa kusampaikan waktu itu. aku terus berlari menjauh dan akang pun terus menapaki jalan tanpa menengok lagi. Kita tak sempat bertemu dan mengucapkan salam perpisahan, hingga waktu benar-benar menghilang di keheningan. Apakah kita benar-benar berpisah atau hanya terpisah ya akang…?.

*****


Bobotsari, 2 Juli 2011.

Wind set

Tidak ada komentar: