KAREDOK LEUNCA
Wind set
Degung Parahiangan itu
tiba-tiba mengusik hatiku. Syahdu melarut di hening malam.
“Apa kabarmu akang?”
Lama sekali kita tak saling
tukar berita ya… Mungkin akang telah melupakan kenangan perjalanan yang pernah
kita tempuh bersama. Tak berbeda denganku yang mengingat sekelindan waktu. Tapi
aku tak percaya akang bisa lupakan aku begitu saja. Bukankah akang sering
mencari kabarku? Aku tahu dari beberapa temanku.
Malam ini kudengar kembali
tembang itu, tembang yang pernah membawa kita berdayung mengarungi samudra
tanpa nama. Sebuah tempat tanpa ujung, jauh… sangat jauh. Kini anganku melayat kesana
diiringi degung itu. Aku tak lagi mendayung bersamamu kang…, tapi berselancar
sendiri ke tempat tak berujung itu. Ya,,,, aku sendiri, sebab aku memang ingin
begitu.
Akang, mengingatkan kisah
perjalanan dulu, degung Karedok Leunca ini jadi membuatku meneteskan air mata.
Begitu rumit dan sulitnya waktu itu. Serumit dan sesulit perang Bosnia-Herzegobina.
Aku tahu akang mudah menyerah, dan aku juga pengecut tak mau kalah. Dan, akang pun
tak mau berjuang untuk kita walaupun aku tahu akang mampu melakukannya.
Akang tak percaya diri juga tak
yakin, takut berjuang sia-sia dan tak mampu membahagiakan aku setelahnya. karena
itulah aku memutuskan menyingkir dari hidupmu. Buat apa aku bertahan tanpa
harapan, buat apa aku berlayar bersama nahkoda yang bimbang. Bagaimana jika
perahu yang ku tumpangi kehilangan kemudi, salah arah, kandas, menumbuk karang dan
tenggelam? bukankah kita akan mati sia-sia? Sebab aku tahu kebimbangan akan
menyesatkan. Hidup pun tak akan bahagia jika tersesat.
Bukankah akang ingin aku
bahagia?
Akang tahu bahwa perempuan
dimana-mana ingin jadi ratu yang bahagia bergelimang harta meskipun tanpa cinta.
Benar, perempuan memang materialistis dan egois! Dan aku kecewa saat akang bilang
tak akan mampu memberiku semua itu. padahal aku merasa bisa jika bersama akang.
Akang hanya memberiku harapan
yang sulit terwujud. Bahkan rasanya akang hanya menempatkanku sebagai oposisi
bagi yang lain. Wah, aku tak mau memposisikan diri sebagai musuh hanya untuk
mendapatkan status palsu. Sebab, saat itu aku memiliki cinta yang utuh buat
akang.
Akang, rupanya waktu yang
berlalu masih tersisa dalam syahdunya alunan degung sabilulungan yang kudengar
diruang sepi ini. Tembang itu tiba-tiba menarikku kembali ke alam metafora di
batas pantai Merak, saat itu angin laut berhembus kencang mencerai beraikan
rambut kita menandai betapa perjalanan itu telah begitu jauh kita tempuh.
Saat itu, Aku dan kau Cuma memandang
garis batas pantai yang setia dijilati ombak dan diam. Lalu kita berbalik arah.
Seakan dikejar ombak, kita berlari sendiri-sendiri menjauhi ketakutan.
Ketakutan sejenis dengan beda sebab. Kau hanya takut basah oleh air sedang aku takut
tenggelam diseret ombak. Saat kita kembali ke tempat semula, aku melihat dirimu
ragu. Maka ku pilih jalan sendiri, jalan yang tak ada ragu. Dan, aku pergi
menyusuri jalan duka bersama seuntai cinta yang ragu. Itu kulakukan agar kau
bahagia.
Waktu itu, aku coba menerka apa
yang tersembunyi di sudut hatimu, tak kutemukan jawab. Namun ada rangkaian
kesimpulan kubuat. Akang bukan hanya takut tak mampu memberiku bahagia, tapi
nyali akang juga rapuh. Dan tak mungkin bagiku menahan diri bergayut pada
sesuatu yang rapuh. Aku bukan super woman yang memiliki kekuatan lebih. Aku
hanya perempuan lemah yang ingin bisa bersandar pada pundak yang kuat. Aku
ingin bahagia sesungguhnya, bukan bahagia semu. Rasanya tak keliru jika aku
berlari sebab tak kutemukan apapun yang kuinginkan disitu.
Ada kerinduan yang terselip
untuk kembali menyusuri peta perjalanan itu, tapi aku tak sanggup melangkah
kesana. Ingin aku menjelma jadi angin sekedar mengikuti langkahmu lalu
menebarkan aroma keberadaanku. Dan akan kulihat pada siapa dan siapa kemesraan
kau berikan di penghujung waktumu.
Mungkinkah akang masih bisa menampik
mengakui perselingkuhan waktu dulu? Ah, akang memang tak punya rasa. Padahal
kata orang aku lebih baik dari yang lain. Mata hati akang buta, tak lihat kedalaman
hatiku, maka aku tak mau membuat akang berharap lebih, sebab aku tak mau hidup
dalam derita panjang. Begitulah aku kang…
Aku tak menyesali perpisahan
kita waktu itu, justru dengan berbagai cara aku ingin akang menjauhiku. Aku
tahu itu tak adil dan tak berperikemanusiaan, tapi apalah arti cinta bila aku
tak bisa memilikimu sepenuhnya? Apalah arti kasih sayang jika selalu dan selalu
dipaksa sembunyi dalam ketakutan?
Ya…kita memang tak tertakdir
untuk bersatu dan tak pula berbagi. Akang terlalu mengalah untuk tak sampai
pada titik menang. Akang seperti kelelawar saat melihat matahari, lebih suka
melarikan diri dan bersembunyi, sementara aku yang tersudut harus menghadapi
kesulitan demi kesulitan sendiri.
Betapa berat beban akang pikulkan
pada pundakku atas sikap tak konsisten itu dan betapa berat derita batinku
mempertanggungjawabkannya. Akang bahkan tak mau melayatku yang seperti terkubur
hidup-hidup dalam gelap dan sedikit rongga udara, hingga dadaku sangat sesak tuk
sekedar menarik nafas. Aku nyaris mati kehabisan nafas.
Akang, alunan degung ini begitu
lembut mengetuk sanubari, serasa kau ada disini tepat di depanku menyentuh dan
melekapkan kedua tangan di bahuku yang letih lunglai, aku Cuma terpaku
menunduk, lalu kau cium keningku, membisikiku ;
“Jangan lagi tinggalkan akang,
sebab akang tak bisa meninggalkanmu.” Sejenak mataku terpejam menikmati
sentuhan bibir akang yang hangat, membuka mata mendongak, kutatap tepat di bola
mata, dalam senyum kukatakan ;
“Bagaimanapun aku pernah mencoba
bersamamu, hanya saja aku yakin kita tak sanggup melepaskan yang lain.” Seakan
beban di dadaku lepas mengucap kata-kata itu. Aku tak bisa berdusta apalagi
hanya untuk sebuah mimpi.
Karedok Leunca belum beranjak
dari nafasku, mengenangnya membuat hatiku perih. Ternyata cukup dalam dia
menoreh luka padaku. Mungkin suatu saat aku harus benar-benar mengatakan apa
yang tak bisa kusampaikan waktu itu. aku terus berlari menjauh dan akang pun
terus menapaki jalan tanpa menengok lagi. Kita tak sempat bertemu dan
mengucapkan salam perpisahan, hingga waktu benar-benar menghilang di
keheningan. Apakah kita benar-benar berpisah atau hanya terpisah ya akang…?.
*****
Bobotsari, 2 Juli
2011.
Wind set
Tidak ada komentar:
Posting Komentar