Senin, 17 Februari 2014



Dibawah Lampion Merah
Windu Set
   

                Lampion merah di teras samping tampak suram sekedar menyinari kaligrafi China di dindingnya. Angin menggoyang rangkaian huruf kanji keemasan berbunyi “Sin Chia” yang tergantung dibawah lampu pijarnya sehingga berkilau-kilau menyirat cahaya.
Malam melarut sunyi diiring gerimis menebar dingin, kuhangati diri berbaring diatas sofa merah.  Kucoba pejamkan mata, mengosongkan pikir dan menata hati. Meresapi hening “wengi” sembari meneropong ego yang sulit terkendali. Aku lelah mengatasi keterbatasan diri.
Angin gunung yang berhembus dibias hujan perlahan-lahan menghelaku pada suatu ilustrasi. Seperti Ilustrasi ajali dalam film-film horor. Mungkin suatu fenomena antara tidur dan jaga akibat  kegelisahan yang terakumulasi. Kesadaran jiwa meluncur ketitik nisbi. Seakan terjebak labirin kabut. Berputar-putar tak menemu jalan keluar. Jiwaku meronta sedangkan ragaku lumpuh kehilangan daya.
Ketika gelap makin menghimpit, nafas pun terjepit. Nyaliku mengerdil didera ketakutan. ”Tuhan… Engkau dimana, tolonglah aku! Sungguh, aku bebal, tak tahu malu memohon pertolongan-Mu berkali-kali.”. Jalan pikirku membuatku ragu.
Sesamar nun… mataku nanar menatap kelap-kelip gerombolan cahaya melindap-lindap diantara kegelapan, perlahan menghampiriku. Bukan fatamorgana, bukan pula kunang-kunang tapi lampu-lampu kecil pada sebatang pohon yang tiba-tiba berhenti di depanku.
Mei Hua, pohon keberuntungan berbunga pink, bergayutan di dahannya hiasan berwarna emas dan amplop-amplop merah. Jiwaku bergetar antara yakin dan ragu. Antara takjub dan takut.
Nuraniku terbata-bata mengatakan Tuhan berkehendak. Dia sedang mengajariku memohon lewat ketakutan baik sembunyi atau terang-terangan. Mungkin ini pertolongan-Nya yang ku minta tadi.
Sesayup bisik lirih tertangkap, entah dari sisi mana.
“Pilih dan ambil 3 helai.” Begitu aku tersihir memilih keinginannya.
Pertama, Amplop merah bergambar Dewi Kwan-Iem. Dewi nan mempesona ini duduk di atas bunga lotus putih. Ke dua, amplop merah bergambar tumpukan kapal emas. konon ini symbol tail. Mata uang logam kuno. ke-tiga kupilih gambar burung peony diapit dua naga emas yang digantung pada replika karton berujud barongsai. Replika itu unik, bagian tubuhnya patah-patah, meliuk-liuk jika tergoyang. Dan, sehimpitannya yang menarik perhatian ada gambar rupang dewa, melangit dan kharismatik.
Takdir bukanlah kebetulan, takdir adalah pilihan dan manusia memang pemilih. Rupang juga ingin kupilih jika tak mengingatkanku pada cerita rupang-rupang di kelenteng. Konon patung disana dihuni roh dewa dewi, saat menjelang Xin Cia roh-roh itu pergi menghadap Thian di langit melaporkan situasi bumi. Sekalipun samar, naluriku mengatakan ada interaksi antara rohroh itu dengan diriku.
Kehidupan menuai karma, baik dan buruk ada pertangungjawabannya. Sekarang aku hanya belum siap mengetahui karmanya.
-0-

Keraguan menyentak batin setelah tiga amplop di tangan. Menengara dan menunggu kejadian berikutnya dengan degup jantung makin kencang,
“Bacalah!” suara tanpa rupa itu kembali menyeru. Sepintas ku kenali intonasi dan getarnya. Gerih, dingin dan memaksa. Suara itu sangat dekat, gaungnya melubuk di sanubari.
Bukan manusia bila mengabaikan suatu misteri. Ku turuti perintahnya tanpa reserve.
Terasa jemari di dua tangan berkehendak sama, membuka amplop bergambar Dewi Kwan Iem.
Sebelum terbuka, tiba-tiba amplop itu lesat, melayang. bagai di ruang hampa tak jatuh turun. Dan tetap begitu, hingga, satu dua bahkan sampai sepuluh detik.
Pada detik berikutnya kuputuskan meraih!  Selagi nyaris tersentuh, tanganku serasa ditampik. Pluk! Ku tarik tangan kembali sebelum ketika terdengar amplop robek berbareng seleret cahaya putih menyerlah dari dalamnya. Sebegitu reflek mata ku pejam, tak kubuka selagi silaunya masih merejam.
Kubuka mata setelah di sekejap pejam. Sekelebat sosok mewujud. Serupa dalam cermin tiap aku berkaca. Aku tertegun, tak yakin. Halusinasikah ? Egoku sulit menerima diriku dibawah diriku. Aku yang bukan diriku, apakah makhluk astral dari dunia lain diluar dimensi ku?.
Nyata atau maya tapi dia ada, matanya hidup dan menatapku. Bagai narapidana dalam ruang sidang yang tengah menunggu vonis, aku takut dan pasrah.
“Kau hakim bagiku walaupun aku dan kau sebingkai, sama-sama menjaga dan mengendalikan”. Begitu monolog batinku yang jadi dialog. Jawabannya membeberkan fakta dan sangat mendera jiwa.
“Benar, aku hanya ingin mengikuti takdirmu yang sebenarnya terlahir “baik”, namun hasrat dalam pikiranmu mengalahkannya. Kau kenakan jubah kearifan untuk menutupi kemunafikan dan menyelinapkan hasrat. Jati dirimu terpenjara maka jiwamu menderita. Tapi, kau tertipu. Sebab dunia bukanlah panggung sandiwara yang tercipta dari hasil kreasimu.
Sekarang kau harus memilih, merubah takdirmu dan hadir bagai dewi dengan menderita, atau menjalani takdir namun kau tersingkir.”
Ku cerna kata-kata dalam desir angin menebar aroma hio swa. Nuraniku terusik. Kata hati selalu benar adanya. Kau… itulah takdir yang kuingkari dan mimpi yang tak terwujud.
Tubuhku rentik ngilu. Hati, pikir dan rasa pun belum menyatu. Manakala dia masih menatapku, jiwaku serasa terpasung. Senyap dan kaku. Ku tunggu hingga denting nafas terhempas sebelum dia menerjangku dan lenyap disitu. Hening. Tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa.
Jemariku gemetar, meraba sisa amplop di tangan. Intuisi nuraniku memahami simbolisasi setara pertanda. Tail adalah mata uang Tiongkok kuno divisualkan perahu emas, adalah harta. Keberadaannya  tak bisa dipastikan tapi banyak orang ingin memiliki lebih.
Seperti cerita Gibran tentang manusia yang tak pernah puas makan dan minum. “Mustahil kau tak kenyang?” Tanya seorang keheranan. “oh, sungguh kenyang. Jika aku makan minum begini, bukan karna haus dan lapar. Aku Cuma khawatir, ada orang lain yang memakan dan meminumnya besok!” Seperti katak yang hendak jadi lembu.
Secarik kertas tipis terlipat didalamnya, disitu tertulis: “Pada akhirnya kehidupan manusia bukan untuk tujuan material namun spiritual.” Jelas bukan kalimat multi tafsir; sebanyak apapun harta yang bisa kita miliki jika mati tak akan dibawa.
Amplop terakhir yang kupilih memang hanya karena “unik” bergambar burung Peony diapit dua ekor Naga. Jika bukan suatu kehendak, bagi orang awam sepertiku kertas bergambar itu cukup jadi pajangan. Namun kehendak perlu memberdayakan kepekaan untuk menalar kedalamannya.
Selintas angin menyeruak, sehelai kertas terburai dari amplopnya, melekat terbuka di tangan.
Sepintas tertampak gambar dua ekor naga yang serupa. Sama-sama bersurai, berkaki dengan kuku-kuku melengkung tajam. Kebiasaan membandingkan membuatku menemu titik karakter berbeda pada kedua binatang yang Cuma konon keberadaannya. Yang kanan, bersurai halus dengan sorot mata lembut. Sedang sebelah kiri, Nampak surai-surai kasar, cakar kaki runcing mencengkeram dan sorot mata picik.  Keduanya seolah menjaga Peony kecil yang berdiri ditengahnya.
Tak sepadan rasanya Cuma seekor burung kecil dijaga dua ekor naga. Kesetaraan yang tak lazim. Bisa jadi simbiosis mahluk bumi. Ironisnya makhluk beda species itu tampak saling mengekspresikan kehendak. Anehnya, aku merasa terjepit diantara dua makhluk garang yang gelisah ini. Bahkan rasa itu mengikuti sampai ke alam pikir dan masuk kedalam jiwa dengan segala kontradiksinya.
Oh, naluriku rentik. Sungguh mencemaskan dan menakutkan berada diantara makhluk buas itu. Akan lebih baik jatuh ke tangan pembunuh dari pada kedalam mimpi mereka yang dipenuhi hasrat! Ah, jikalau kalian sempurna, setidaknya sempurna sebagai binatang !
– o –
Tak ada apa-apa dan siapa-siapa. Cahaya lampion menyirat-nyirat di terpa angin, menembus dinding pekat malam. Angin dan hujan bagai simponi malam, menemani renungku sepanjang sisa waktu. Memaknai hujan dalam Imlek yang konon pertanda kemakmuran makhluk bumi, kesadaran berbudaya, berbagi dan persaudaraan. Kehadirannya menebar rona semesta jiwa. Dadaku terasa lapang, egoku telah bicara jujur atas segala kontradiksi dan keruwetannya. Seperti pemekik putusasan yang tak terlihat dimanapun, diam-diam menguak rahasia diri.
Sungguh ganjil fenomena mimpi yang kualami, tapi mimpi itu akan kugigit dan kukunyah bagai biji-biji buah delima hingga lembut sampai mengalir kedalam jiwaku bagaikan sari buah.
Aku bersyukur hal baik telah terjadi padaku. Tuhan telah mengajari berbelas kasih. aku telah tertolong tanpa rasa malu dan merendahkan diri. Barangkali hadiah dari Tuhan sebab keputusasaan yang kumulai dengan buruk! Aku tak akan tahan terhadap Dia yang melihat tanpa kedip mengetahui rahasiaku. Aku buruk oleh ambisi dan dendam. Oh!
-o-

Bobotsari, 18 November 2012.

1 komentar:

windset mengatakan...

mengingat saat saat imlek