Dibawah Lampion
Merah
Windu Set
Lampion merah di teras samping
tampak suram sekedar menyinari kaligrafi China di dindingnya. Angin menggoyang
rangkaian huruf kanji keemasan berbunyi “Sin Chia” yang tergantung dibawah
lampu pijarnya sehingga berkilau-kilau menyirat cahaya.
Malam melarut sunyi diiring gerimis menebar dingin, kuhangati diri
berbaring diatas sofa merah. Kucoba
pejamkan mata, mengosongkan pikir dan menata hati. Meresapi hening “wengi”
sembari meneropong ego yang sulit terkendali. Aku lelah mengatasi keterbatasan
diri.
Angin gunung yang berhembus dibias hujan perlahan-lahan menghelaku pada
suatu ilustrasi. Seperti Ilustrasi ajali dalam film-film horor. Mungkin suatu
fenomena antara tidur dan jaga akibat
kegelisahan yang terakumulasi. Kesadaran jiwa meluncur ketitik nisbi.
Seakan terjebak labirin kabut. Berputar-putar tak menemu jalan keluar. Jiwaku meronta
sedangkan ragaku lumpuh kehilangan daya.
Ketika gelap makin menghimpit, nafas pun terjepit. Nyaliku mengerdil
didera ketakutan. ”Tuhan… Engkau dimana, tolonglah aku! Sungguh, aku bebal, tak
tahu malu memohon pertolongan-Mu berkali-kali.”. Jalan pikirku membuatku ragu.
Sesamar nun… mataku nanar menatap kelap-kelip gerombolan cahaya
melindap-lindap diantara kegelapan, perlahan menghampiriku. Bukan fatamorgana,
bukan pula kunang-kunang tapi lampu-lampu kecil pada sebatang pohon yang
tiba-tiba berhenti di depanku.
Mei Hua, pohon keberuntungan berbunga pink, bergayutan di dahannya hiasan
berwarna emas dan amplop-amplop merah. Jiwaku bergetar antara yakin dan ragu.
Antara takjub dan takut.
Nuraniku terbata-bata mengatakan Tuhan berkehendak. Dia sedang mengajariku
memohon lewat ketakutan baik sembunyi atau terang-terangan. Mungkin ini
pertolongan-Nya yang ku minta tadi.
Sesayup bisik lirih tertangkap, entah dari sisi mana.
“Pilih dan ambil 3 helai.” Begitu aku tersihir memilih keinginannya.
Pertama, Amplop merah bergambar Dewi Kwan-Iem. Dewi nan mempesona ini
duduk di atas bunga lotus putih. Ke dua, amplop merah bergambar tumpukan kapal
emas. konon ini symbol tail. Mata uang logam kuno. ke-tiga kupilih gambar
burung peony diapit dua naga emas yang digantung pada replika karton berujud
barongsai. Replika itu unik, bagian tubuhnya patah-patah, meliuk-liuk jika
tergoyang. Dan, sehimpitannya yang menarik perhatian ada gambar rupang dewa, melangit
dan kharismatik.
Takdir bukanlah kebetulan, takdir adalah pilihan dan manusia memang
pemilih. Rupang juga ingin kupilih jika tak mengingatkanku pada cerita
rupang-rupang di kelenteng. Konon patung disana dihuni roh dewa dewi, saat menjelang
Xin Cia roh-roh itu pergi menghadap Thian di langit melaporkan situasi bumi.
Sekalipun samar, naluriku mengatakan ada interaksi antara rohroh itu dengan
diriku.
Kehidupan menuai karma, baik dan buruk ada pertangungjawabannya. Sekarang
aku hanya belum siap mengetahui karmanya.
-0-
Keraguan menyentak batin setelah tiga amplop di tangan. Menengara dan
menunggu kejadian berikutnya dengan degup jantung makin kencang,
“Bacalah!” suara tanpa rupa itu kembali menyeru. Sepintas ku kenali
intonasi dan getarnya. Gerih, dingin dan memaksa. Suara itu sangat dekat,
gaungnya melubuk di sanubari.
Bukan manusia bila mengabaikan suatu misteri. Ku turuti perintahnya tanpa
reserve.
Terasa jemari di dua tangan berkehendak sama, membuka amplop bergambar
Dewi Kwan Iem.
Sebelum terbuka, tiba-tiba amplop itu lesat, melayang. bagai di ruang
hampa tak jatuh turun. Dan tetap begitu, hingga, satu dua bahkan sampai sepuluh
detik.
Pada detik berikutnya kuputuskan meraih! Selagi nyaris tersentuh, tanganku serasa
ditampik. Pluk! Ku tarik tangan kembali sebelum ketika terdengar amplop robek
berbareng seleret cahaya putih menyerlah dari dalamnya. Sebegitu reflek mata ku
pejam, tak kubuka selagi silaunya masih merejam.
Kubuka mata setelah di sekejap pejam. Sekelebat sosok mewujud. Serupa dalam
cermin tiap aku berkaca. Aku tertegun, tak yakin. Halusinasikah ? Egoku sulit
menerima diriku dibawah diriku. Aku yang bukan diriku, apakah makhluk astral dari
dunia lain diluar dimensi ku?.
Nyata atau maya tapi dia ada, matanya hidup dan menatapku. Bagai
narapidana dalam ruang sidang yang tengah menunggu vonis, aku takut dan pasrah.
“Kau hakim bagiku walaupun aku dan kau sebingkai, sama-sama menjaga dan mengendalikan”.
Begitu monolog batinku yang jadi dialog. Jawabannya membeberkan fakta dan
sangat mendera jiwa.
“Benar, aku hanya ingin mengikuti takdirmu yang sebenarnya terlahir
“baik”, namun hasrat dalam pikiranmu mengalahkannya. Kau kenakan jubah kearifan
untuk menutupi kemunafikan dan menyelinapkan hasrat. Jati dirimu terpenjara maka
jiwamu menderita. Tapi, kau tertipu. Sebab dunia bukanlah panggung sandiwara
yang tercipta dari hasil kreasimu.
Sekarang kau harus memilih, merubah takdirmu dan hadir bagai dewi dengan
menderita, atau menjalani takdir namun kau tersingkir.”
Ku cerna kata-kata dalam desir angin menebar aroma hio swa. Nuraniku
terusik. Kata hati selalu benar adanya. Kau… itulah takdir yang kuingkari dan
mimpi yang tak terwujud.
Tubuhku rentik ngilu. Hati, pikir dan rasa pun belum menyatu. Manakala dia
masih menatapku, jiwaku serasa terpasung. Senyap dan kaku. Ku tunggu hingga
denting nafas terhempas sebelum dia menerjangku dan lenyap disitu. Hening. Tak
ada apa-apa, tak ada siapa-siapa.
Jemariku gemetar, meraba sisa amplop di tangan. Intuisi nuraniku memahami
simbolisasi setara pertanda. Tail adalah mata uang Tiongkok kuno divisualkan
perahu emas, adalah harta. Keberadaannya
tak bisa dipastikan tapi banyak orang ingin memiliki lebih.
Seperti cerita Gibran tentang manusia yang tak pernah puas makan dan
minum. “Mustahil kau tak kenyang?” Tanya seorang keheranan. “oh, sungguh
kenyang. Jika aku makan minum begini, bukan karna haus dan lapar. Aku Cuma
khawatir, ada orang lain yang memakan dan meminumnya besok!” Seperti katak yang
hendak jadi lembu.
Secarik kertas tipis terlipat didalamnya, disitu tertulis: “Pada akhirnya
kehidupan manusia bukan untuk tujuan material namun spiritual.” Jelas bukan
kalimat multi tafsir; sebanyak apapun harta yang bisa kita miliki jika mati tak
akan dibawa.
Amplop terakhir yang kupilih memang hanya karena “unik” bergambar burung
Peony diapit dua ekor Naga. Jika bukan suatu kehendak, bagi orang awam sepertiku
kertas bergambar itu cukup jadi pajangan. Namun kehendak perlu memberdayakan
kepekaan untuk menalar kedalamannya.
Selintas angin menyeruak, sehelai kertas terburai dari amplopnya, melekat
terbuka di tangan.
Sepintas tertampak gambar dua ekor naga yang serupa. Sama-sama bersurai,
berkaki dengan kuku-kuku melengkung tajam. Kebiasaan membandingkan membuatku
menemu titik karakter berbeda pada kedua binatang yang Cuma konon
keberadaannya. Yang kanan, bersurai
halus dengan sorot mata lembut. Sedang sebelah kiri, Nampak surai-surai kasar,
cakar kaki runcing mencengkeram dan sorot mata picik. Keduanya seolah menjaga Peony kecil yang berdiri
ditengahnya.
Tak sepadan rasanya Cuma seekor burung kecil dijaga dua ekor naga. Kesetaraan
yang tak lazim. Bisa jadi simbiosis mahluk bumi. Ironisnya makhluk beda species
itu tampak saling mengekspresikan kehendak. Anehnya, aku merasa terjepit
diantara dua makhluk garang yang gelisah ini. Bahkan rasa itu mengikuti sampai
ke alam pikir dan masuk kedalam jiwa dengan segala kontradiksinya.
Oh, naluriku rentik. Sungguh mencemaskan dan menakutkan berada diantara
makhluk buas itu. Akan lebih baik jatuh ke tangan pembunuh dari pada kedalam
mimpi mereka yang dipenuhi hasrat! Ah, jikalau kalian sempurna, setidaknya
sempurna sebagai binatang !
– o –
Tak ada apa-apa dan siapa-siapa. Cahaya lampion
menyirat-nyirat di terpa angin, menembus dinding pekat malam. Angin dan hujan
bagai simponi malam, menemani renungku sepanjang sisa waktu. Memaknai hujan
dalam Imlek yang konon pertanda kemakmuran makhluk bumi, kesadaran berbudaya,
berbagi dan persaudaraan. Kehadirannya menebar rona semesta jiwa. Dadaku terasa
lapang, egoku telah bicara jujur atas segala kontradiksi dan keruwetannya.
Seperti pemekik putusasan yang tak terlihat dimanapun, diam-diam menguak
rahasia diri.
Sungguh ganjil fenomena mimpi yang kualami, tapi mimpi
itu akan kugigit dan kukunyah bagai biji-biji buah delima hingga lembut sampai
mengalir kedalam jiwaku bagaikan sari buah.
Aku bersyukur hal baik telah terjadi padaku. Tuhan
telah mengajari berbelas kasih. aku telah tertolong tanpa rasa malu dan
merendahkan diri. Barangkali hadiah dari Tuhan sebab keputusasaan yang kumulai
dengan buruk! Aku tak akan tahan terhadap Dia yang melihat tanpa kedip
mengetahui rahasiaku. Aku buruk oleh ambisi dan dendam. Oh!
-o-
Bobotsari, 18 November
2012.
1 komentar:
mengingat saat saat imlek
Posting Komentar