Selasa, 01 September 2009

WE NEVER CAN HAVE
Windu set


Pekerjaan muskil yang selalu dikerjakan manusia adalah keinginan untuk memiliki. Terhadap segala sesuatu yang ada, manusia memang dianugerahi kemampuan mendekat, didekati, menjauh dan dijauhi. Tapi jauh dan dekat sebuah jarak, tak perlu berhubungan dengan kepemilikan.
Manusia boleh dekat pada sesuatu, tapi bukan berarti ia tengah memiliki sesuatu. Manusia juga boleh jauh dari sesuatu, tapi bukan berarti ia tengah kehilangan sesuatu. Manusia yang merasa memiliki hanya karena dekat, pastilah ia sedang tertipu.
Tapi kedekatan memang selalu menjadi penipu. Karena sesuatu yang dianggap sangat dekat, ternyata adalah sesuatu yang sangat jauh. Maka mari kita menyusun criteria “dekat”, mulailah dari manusia. Tetangga misalnya, ah tetangga masih kalah dekat dengan saudara. Saudara kalah dekat oleh anak. Anak kalah dekat oleh diri sendiri. Diri sendiri pun terbelah menjadi jantung, paru-paru, rambut, kuku, gigi dan sebagianya.
Cinta anak-istri setengah mati ? tentu. Tapi cinta yang hebat itupun terancam berantakan begitu seseorang sakit gigi. Itu pun baru gigi belum ketika kuku harus dicopot paksa, paru-paru dan ginjal harus inveksi, jantung macet berdenyut ! pendek kata ditengah kesakitan yang sangat, kita ragu, masihkah manusia kuat memelihara cinta.
Maka bolehlah kita berasumsi, betapa pihak terdekat adalah diri sendiri. Tapi hebatnya diri sendiri ini pun pihak yang tak kepalang jauhnya. Ia adalah pihak yang tak pernah bisa kita kuasai. Terhadap rambut, kita hanya bisa memotongnya, tanpa bisa memerintah kapan ia boleh memanjang, memendek, tetap atau malah mogok tumbuh. Betapa kita juga tak berdaya memerintah kuku dan denyut jantung, sesuatu yang kedekatannya tak perlu diperdebatkan lagi.
Sekarang jelas, pihak yang terdekat pun adalah pihak yang begitu jauh. Maka pihak mana lagi yang bisa kita miliki? Tak ada. Jadi, manusia yang ngotot mempetahankan sesuatu menjadi hak milik hanya karena dekat, ia telah menjadi manusia dungu.
Maka ayolah bertindak wajar saja. Biarlah yang dekat dan jauh berlalu lalang sesuka hati. Manusia tak perlu menyuruh atau menahannya. Upaya menahan sesuatu yang tak mungkin ditahan adalah tindakan yang memancing belas kasihan. Nafsu menjadi pemilik sering mengubah manusia yang berkodrat lunak menjadi sekeras batu. Bagi batu yang lunak, ia mudah tersindir oleh guyuran air. Tapi batu yang keras, sering harus berhadapan dengan palu.
Dunia politik Indonesia kontemporer memperagakan dengan sangat baik fakta-fakta semacam itu. Ada kesan betapa negeri seluas ini mendadak Cuma menjadi pekarangan yang dihuni segelintir orang. Betapa ada manusia yang ingin menyita ruang dengan cara memompa diri untuk membesar dan terus membesar dan akhirnya mbeledos karena kebesarannya.
Lalu teringatlah kita pada dongeng katak yang pecah perutnya karena hendak menjadi lembu. Lalu teringatlah kita pada pepatah Jawa melik anggendong lali yang terkenal itu. Teringat pula kita pada cerita Kahlil Gibran tentang manusia yang tak pernah berhenti makan dan minum. “Mustahil engkau tak juga merasa kenyang ?” Tanya seorang kawan keheranan. “Ooo kenyang, sungguh sangat kenyang. Kalau aku selalu makan minum begini, bukan karena haus dan lapar. Tapi karena aku khawatir, ada orang lain yang akan memakan dan meminumnya besok !”
Betapa konyol cerita Gibran. Tapi jauh lebih konyol lagi ketika orang yang disindir Gibran itu ternyata ada. Mereka mengumpulkan apa saja dan menempuh cara apa saja untuk membuat isi jagat ini menjadi miliknya.
Mereka menyangka dirinya sukses, sementara orang lain malah menatapnya iba.

- o -
WE DON’T ANGRY
Windu set


Ketika kita kesepian dan takut oleh kekuasaan, munculnya para vokalis, kritikus dan orang-orang yang berani, sangat menghibur kita. Ketika kita tak sanggup berkata-kata munculnya manusia yang meneriakkan kata-kata itu, sangat membuat kita bahagia. Maka harga manusia kritis dan orang-orang vocal, pada waktu itu sangat hero, mereka bermasa dan menjadi idola.
Tapi saat ini, orang-orang semacam itu tiba-tiba telah menjadi banyak sekali. Kita jadi kebingungan menentukan idola karena mereka bisa muncul dimana-mana. Diseminar seminar, di perbiincangan perbincangan televise, di majalah dan Koran-koran, mulai dipenuhi orang-orang yang pintar, kritis dan berani.
Tiga criteria itu :” pintar, kritis dan berani “ pada masa lalu , bukanlah aksi yang bisa diperagakan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang kuat saja yang sanggup melakukannya. Banyak orang pintar tapi memilih tidak kritis. Banyak orang pintar dan kritis tapi tidak cukup memiliki keberanian. Jadi, pada saat itu, manusia yang pintar dan kritis sekaligus berani, sangat mengagumkan kita.
Mereka berhasil bersemayam dalam lubuk simpati tanpa menyulut rasa curiga. Mereka menjadi ilham, inspirator, penyemangat dan lebih dramatis lagi kepadanyalah kita tergerak menyerahkan nasib bangsa. Pendek kata ditengah cekaman rasa takut dan jengkel, tertekan dan marah, mereka menghibur kita.
Kini, hiburan itu telah tumbuh begitu subur. Mendadak kita terancam bosan karenanya. Malah sudah jadi bosan !. sebabnya sepele saja, hiburan yang meriah ini ternyata belum menghasilkan apa-apa. Kita memang berterimakasih atas upaya itu. Tapi saat ini kita sudah mulai kekenyangan hiburan dan lebih membutuhkan perubahan. Kita sadar bahwa kita memang harus bersabar. Bahwa yang kita inginkan bukanlah perubahan yang serba mendadak. Misalnya, mendadak harga-harga turun, taraf hidup meningkat, bebas pengangguran, clean government, bebes pejabat korup, bebas biaya pendidikan, bebas biaya rumah sakit, bebas menyampaikan pendapat…
Kita paham bahwa perubahan ini harus melewati sebuah tahapan. Gradual, orang pintar bilang. Untuk itu, kita, masyarakat telah siap berpuasa, karena kita memang telah terbiasa berpuasa. Saat ini yang namanya penderitaan, bukanlah semata-mata karena penderitaan ini sendiri, melainkan lebih karena melihat banyaknya manusia yang tak paham, tak peduli, bahkan menari-nari diatas penderitaan ini. Rasanya, kita jauh lebih siap melawan kelaparan dan kemiskinan ketimbang melawan hati yang dilukai.
Ada kalanya, kita pernah sangat berterimakasih pada aksi demonstrasi. Karena ada jenis demonstrasi yang begitu otentik, yang begitu menuntut stamina dan keberanian, yang berhasil menumbangkan mitos, membukakan pintu perubahan, dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan. Tapi kini, corak demonstrasi itu telah demikian beragam. Tak jarang diantaranya bertabrakan kepentingan. Pandangan kita dibuat kabur, siapa tengah memperjuangkan apa dan kita harus berdiri di kelompok yang mana. Padahal semua memakai rumus sama, berdiri diatas budaya “atas nama“. Sebuah pengatasnamaan yang sangat sulit kita tolak karena selalu berkaitan dengan embel-embel “nasib bangsa”.
Saat ini, kita lelah bertepuk tangan untuk sebuah pidato dan kritik yang berapi-api. Bukan karena aneka pidato dan kritik itu tak diperlukan lagi, tapi karena kita telah mulai kenyang petuah, nasihat dan data-data. Kita sekarang tengah menderita kelaparan atas keaslian niat dan keaslian gerakan. Kelaparan atas focus yang dulu nyaris terpegang tapi sekarang makin mengabur dan mengembang.
“Kita seperti berlomba-lomba untuk pamer kemarahan, mumpung kesempatan untuk marah telah datang. Inilah saat bagi orang-orang yang dulu penakut boleh menjadi pemberani. Orang-orang yang dulu membisu, boleh memaki-maki. Orang-orang yang dulu pendiam boleh pamer aksi.” Kata si anu.
Oleh masa lalu kita memang pernah dibuat marah. Tapi kalau kemudian ketahuan bahwa kebiasaan kita Cuma marah tanpa bisa memperbaiki keadaan, jangan-jangan kemarahan itu tidak asli lagi.

- o -
Wahyu

Sering kita dengar orang yang mendapat kedudukan mulia itu disebut kejatuhan wahyu. Dengan mengambil referensi cerita wayang, manusia yang mengharapkan pangkat, derajat atau kedudukan ttt juga disebut mengharap wahyu. Sebelum musim pilkades bersamaan ada kepercayaan jatuhnya “pulung” disaat tengah malam di tempat calon yang “kepulungan” ketika akan diadakan pilkades (coblosan / bithingan / pemberiaan suara). Jatuhnya “pulung” itu pertanda si calon akan mendapat kemenangan.
R O H
Windu set

Terinspirasi dari Buku Perjalanan Roh Oleh Ibnul Qoyyim.
´ku pinjam kehidupan Pras sahabatku.
“Untuk itu sisakan maaf untukku…”

“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” Kata ustadz Amir, kemarin. Aku tahu, rasanya berkali kali kubaca pada ayat Al-Qur’an. Perasaanku ngeri membayangkan mati. Sendiri ditimbuni tanah jadi santapan cacing. Kita pasti akan mati tinggalkan semua isi dunia, baik kita cintai ataupun benci.
“ Apakah mati itu ? kepunahan mutlak atau sekedar roh dan jasad yang berpisah, kalau Cuma roh dan jasad yang berpisah lalu bagaimana kelanjutan masing-masing ?” begitu banyak tanya lindap dibenak pada peristiwa gaib itu. Ini keyakinan untuk berhati-hati pada kehidupan menyongsong misterinya ajal. Apakah manusia masih punya perasaan jika roh dan jasad kelak berpisah ? sungguh dungu pertanyaan ini, belum ada orang mati kembali dan menjawab! dan sahabatku Pras Tio yang beda keyakinan menjawab :
“ Roh itu kekal Nik… jadi orang hidup sama dengan orang mati, tetap punya perasaan. Bisa bahagia juga bisa menderita. Coba kamu pikir Nik, apakah kita hidup dikendalikan jasad dapat melawan perasaan ? apalagi orang mati jiwanya bebas dari kendali jasad, tentu punya !
“ Roh itu kekal Nik, roh itu kekal Nik ! maut tidak berarti musnah dan lenyap, ia hanya pindah alam.” Kata-kata Pras Tio semalam membuatku takut. Kelak kembalinya roh ke jasad mungkin sama sakitnya dengan dipisahkannya dari jasad, apalagi untuk menerima ujian dan pertanyaan-pertanyaan dalam kubur ! Astaghfirullah
* * *
Pagi berkabut saat kami menapak diparkiran rumah sakit, bersama keluarga Pras Tio, si kok1 May dan en tiu2 Cwan, en sao3 Lany dan gege4 Bram Tio. Si-i5 Yeni meneleponku subuh tadi mengabarkan Pras dibawa rumah sakit. Aku kaget, semalam ditelepon Pras sehat-sehat saja, atau ia kambuh lantaran kurang tidur, ataukah ia terganggu obrolan semalam tentang kematian. Entahlah… Sepanjang jalan berlompatan tanya dibenak, bergelut sangka dibatin, jika benar akibat cerita semalam, aku bersalah telah membebani pikirannya. Maafkan Pras! Terburu kami menapaki tangga, langkah kami berkejaran saling mendahului menyusuri koridor.
* * *
Diambang pintu, encim Hwie mamah Pras menyongsong, memelukku erat-erat. Mata tuanya kuyu, nampak tak bisa menyembunyikan kepedihan, sebentar-sebentar air matanya disapu punggung tangan. Aku tahu perasaan seorang ibu dan kucoba kuatkan hatinya.
“ Encim tabah ya, Pras kuat, semoga Tuhan menolongnya.” kurengkuh pundaknya. Betapa lelah nyonya tua ini dipelukanku, kepalanya nyaris dipenuhi uban terkulai lemas dibahuku, tangisnya pecah encim Hwie bicara sambil sesenggukan.
“ Nik… Pras mungkin sudah tidak bisa tertolong kali ini, kata dokter kankernya sudah menjalar ke hati, semalam susah sekali bernafas… aku takut Nik…”.
Trennyuh menyeruak disudut hati. Duka seorang ibu yang tahu akan kehilangan buah hatinya, anak kesayangan. Aku yakin pedih hatinya tak terhiburkan oleh apapun bahkan seluruh harta didunia, cinta macam apapun atau bahkam pelawak paling konyolpun. Aku tahu kedekatan mereka. Ikatan batinnya sangat kuat. Apa yang dirasa Pras pasti dirasa pula. Dan kedekatan ini pula pernah mengantar Pras membicarakan hubungan kami pada papahnya. Sayang encim Hwie gagal. Suaminya tak terpengaruh, sekalipun dengan ancaman. Istri yang patuh ini Cuma tertunduk lesu ketika keputusan suami mengiizinkan kami hanya boleh sebatas sahabat. Alasannya beda keyakinan. Katanya tidak bisa bahagia! meski batin ini menolak, kami tak memaksa. Bersama lewatnya waktu kami berbijak menghormati keputusan itu. Memaksa iklas. Benar-benar seperti kepasrahan awan yang rela tanpa daya menjadi titik titik air hujan jatuh dihisap bumi. Tapi sialnya kami bagai bulan dan mentari, sama-sama menepati janji.
Pras berbaring pucat, bibir tipis yang biasanya mengembang merah dilaput senyum jadi dingin memutih. Matanya terpejam, bola hitam yang biasa berpendar tersimpan rapat. Dadanya turun naik pertanda kehidupan. Selang dan jarum infus menancapi tubuhnya. Membuatku sedih. Rasanya ingin kubuka selimut itu dan mencabuti semuanya. Ah, tak mungkin, itu berarti membunuhnya! tapi apakah selang-selang itu mampu menghidupkanmu Pras? aku tahu rasa sakitmu. Kamu tak akan begini jika Cuma sakit biasa.
* * *
Ketenangan Pras membuatku bisu. Berharap Pras membuka mata, melihatku disisinya sesaat saja tapi sia-sia. akhirnya diam dan do’a. Sekelebat ingatanku meloncat dikurun waktu, saat Pras pertama kali sakit dan divonis menderita kanker usus besar oleh dokter yang kini justru memvonis mati. Padahal ia sudah jalani operasi diluar negeri kenapa justru jadi menjalar ke organ lain. Hati! sungguh mengerikan.
Kenapa harus Pras ?? pola hidupnya baik dan sehat, tidak menyentuh rokok, minuman beralkohol, makan dan tidurnya teratur. Atau mungkin ini ujian, peringatan, pelengkap anugrah atau bisa jadi musibah. Yang jelas bukan akibat perbuatan Pras. Secebis cerita mengalir akibat ulah orang tuanya. Usaha dagang papahnya menghalakan segala cara mengotori tubuh anak-anaknya. Pras sakit, seorang kakaknya bahkan harus dikurung di RSJ. Tapi si kok May beda, ia cerita sakit para keponakannya diyakini berhubungan dengan roh leluhur. Ada kelalaian, janji yang tidak ditepati papah Tio. Tindak tanduk tidak semestinya pada yang gaib. Tapi itu prasangka, pastinya tergantung pada penerimaan yang melakoni. Aku disini terdorong simpati, penghormatan dan sebagian kasih sayang dari orang dekat, lainnya untuk mendoakan agar Pras bisa sembuh. Dan akupun masih dianggap calon xifu6-nya meski mereka tahu keberadaanku sekarang.
Di kursi dekat kepala Pras, kutaruh pantat pelan, mencoba memanggil namanya.
“ Pras…, ini Ni’mah…” diam tak ada respon apapun.
“ Pras…. ini Nik “ kuulangi dekat telinga hingga bibirku nyaris menyentuhnya
“ Pras… kau dengar aku..” ia tetap tak bergeming, hingga berkali kuulang.
Sedih dan cemas mulai menyergap batinku, mungkinkah Pras tak lagi bisa mendengar atau ini yang disebut koma. Aku tidak tahu. Belum pernah kurasakan ini. Menghitung waktu dalam gelisah. Berlama-lama tak enak hati, aku bukan satu-satunya orang yang berkepentingan bezuk, sementara meninggalkanpun tak tega, harapku lihat Pras membuka mata meski sejenak. Akhirnya kuputuskan keluar diam-diam. Selagi hendak berbalik kulihat jemarinya bergerak dan bola mata itu…ya bergerak meski tetap terpejam. Cuma sekejap lalu diam ! jantungku berdegup kencang apakah Pras dengar bisikanku ? Getar haru menyelimuti batin, begitu kuat hingga rasanya ingin sekali meraih jemarinya dan menggenggam erat-erat. Namun ketika tanganku terjulur sepersekian inci, kekuatan hebat menyambar kalbu untuk menarik kembali. Aku terkesima….Subhanallah !
Batinku terbentur. Antara keinginan dan keyakinan nyaris tak terkendali, bak kekuatan sihir, terperangkap dalam situasi melankolik, Sesaat yang dilematis. Keinginan telah jadi nafsu, nyaris meluluhkan keyakinan yang jadi doktrin.
Aku bukan mahramnya, juga bukan tenaga ahli yang dihalalkan karena profesi. Apalagi jadi seorang istri yang dinikahi atas nama Tuhan. meski tak ada yang tahu, namun Tuhan Maha Tahu. Pras juga ngerti. Ni’mah yang sekarang bukan Ni’mah dulu, Perkecualian atas nama Tuhan jadi pertarungan batin terseru dalam diam. Jadi air mata pada akhirnya.
“ Maafkan aku Pras….” bisikku lirih meluruh sedan dirongga dada. Aku harus kuat toh selama ini berhasil jalani peran sebagai sahabat, menemukan cara untuk berbagi, menghormati privasi untuk menyadari keputusan takdir. Kedekatan ini cukup. Menemani hari-hari Pras yang terkurung dalam sakit, menyemangati untuk bertahan hidup bagiku suatu keberuntungan. Menenangkan Pras disaat keputusasaan mendera jiwanya hingga ia jadi bahagia dan bersyukur bila kukatakan bahwa “ sakitmu akan mengurangi dosa-dosamu.” .
Sekelebat kejadian dijaring ingatan, saat aku pamit menikah melanjutkan kehidupan bersama lelaki lain, ia menitikkan air mata. Sedih, menghela nafas panjang, terhisap keberadaan kami berdua. Tak bisa kulupa wajahnya yang sendu, bibirnya terkatup senyumnya mendadak sirna. Pras bilang ia belum siap kehilangan tapi mencoba ikhlas. Ucapanya naïf tanpa daya “ mencintai tidak harus memiliki “. Ya kalau tidak begitu mau apa, hubungan ini mau kemana, pacar bukan kekasih juga tidak. Menyayangi dan memperhatikan toh bisa dalam persahabatan. Idealisma papahnya seperti takdir tidak kenal kompromi. Kenyataannya Pras patuh. Nunggu papah Tio mati ?! memangnya kita tahu sampai kapan. Papah Tio mungkin benar apalagi anaknya sakit-sakitan. Jadi inilah yang terbaik. Entah kenapa saat ini melihat Pras berbaring lagi hatiku sedih. Seperti senja yang perlahan turun, lengang dan lampus. secebik tanya lindap diruang batin, apakah kata dokter benar Pras akan mati ?
Bayang-bayang kematian kembali melela di kepala. Tetes-tetes infuse dan wajah pucat Pras membuat kudukku merinding, dinding ruang biru putih memberiku kesan asing. Senyap dan kosong. Perasaan takut menyergap tiba-tiba. Benar kata psikolog dari barat bahwa “ rasa takut membuat orang percaya pada hal yang buruk“ kuyakinkan diri bahwa Pras masih benar-benar bernafas. Ya …Pras masih bernafas kini tapi tak tahu sesaat nanti.
Isyarat ketukan pintu pertanda waktu bezukku usai… encim Hwie masuk. Ibu bijak ini kupegang tangannya, kuajak doakan Pras.
“ Encim…, kita doakan Pras “ merapat ke tempat tidur, digenggamnya jemari yang lunglai ditubuh beselimut biru itu.
Mengikuti gelombang rasa kebersatuan ibu dan anak, terasa lesatan kebimbangan batin seorang ibu menjangkau pada Sang Khalik dirinai doa dan air mata.. Memohon dan berharap sebagai makhluk yang melahirkan kedunia, atas nama cinta kasih yang dikuasakan-Nya. Kurasakan getar-getar kalbu yang membubung melangit, lalu terpuruk diharibaan-Nya. Kepasrahan tiada tara meluluhkan air mata. Tak ada doa lebih lembut selembut yang terucap dari bibir seorang ibu pada anaknya.
“ Ya Tuhan… aku titipkan anakku pada-Mu, sebab Engkaulah yang berhak memutuskan kehidupannya “ begitu lirih dan perih getar suaranya. Penyerahan takdir atas ketidak berdayaan manusia, walau keiklasannya samar. Totalitas yang jadi perdebatan batin sekaligus pengalaman baruku. Mungkin andai terjadi padaku akan kupaksa Tuhan tuk mengubah takdir. Menyembuhkannya, membuatnya hidup lebih lama dan beranak pinak. Meski pemaksaan tidak akan mempengaruhi Tuhan akan takdir-Nya. Dan akupun tidak bisa lagi merajut doa, cukup mendengar dan mengamini.
* * *
Kabar kematian Pras bagai petir menyambar di terik mentari, mengagetkan sekaligus membuat ragaku lunglai tak bertenaga. Lemas kehilangan daya. Banyak hal banyak peristiwa berwarna warni pernah kami lewati bersama. Kemarin kami masih beradu pendapat, berbincang berbagi rasa sekarang yang tersisa tinggal ngiang-ngiang ucapannya menjelajahi kepalaku dan mengisi rongga benak.
Ada kata-kata yang masih tersirat dikepalaku,
“Roh itu kekal Nik, roh itu kekal. Maut tidak berarti musnah, ia hanya pindah alam”. Aku mengingatnya, sebab itu cerita terakhir kami. Seperti jadi firasat. Kematian Pras !.
Tubuh Pras sudah terbujur kaku dalam peti mati warna coklat berlapis satin putih, dibalut setelan jas hitam kesukaannya. Matanya terpejam, kelihatan ada seulas senyum dibibirnya. Ia seperti bukan sesosok mayat, malah terkesan seperti tidur dalam buaian mimpi indah. Tenang dan manis.
Tak ada kalimat terucap, aliran rasa terkungkung perkabungan, doa-doa terlantun dibatin, terkadang jadi isak tangis dan sedu sedan.
Papah Tio dan encim Hwie tertunduk lesu pada sofa berornamen naga. Air mata duka membanjiri pipi encim welas asih itu, terlihat matanya membengkak. Baju goni biru yang dikenakan sebagai tanda berkabung basah didada. Papah Tio meski tidak berbasah tangis namun duka dimatanya tidak bisa tersembunyikan.
Kidung kesedihan meriung keluarga besar Tio. Pakaian goni menjadi symbol duka dan pernak pernik budaya tionghoa melekat ditubuh mereka. Pangkat-pangkat yang menempel dikepala dan lengan jadi pertanda, akan kematian keluarga. Aku jadi satu-satunya yang berbeda. Tapi hatiku sama berselimut duka.
Bau hio menyesakkan napas membuat pening. Melelehkan air mata. Duka yang memenuhi ruang, duka yang melangit.
Duka menyihirku untuk tidak berpaling dari wajah Pras. ada bau nafasnya mendadak melulur rasa, adalah bau ciuman di ultahku beberapa tahun silam. bukan aroma hio. Gerih dan magis. Rentik kepiluan melampih hati
Aku menyelinap menjauhi jasadnya. apakah roh Pras mampu melakukan itu… jangan-jangan ilusiku semata. Atau memang Pras masih belum ikhlas meninggalkan aku ? hasrat membara tak pernah bisa terwujud dialam nyata.
Menonton kesibukan para tetua, menonton pernak pernik budaya leluhur Tionghoa. Merasakan suasana religius Konghuchu atau Budhisme, menyisakan kekaguman yang aneh.
Seperti dalam film-film tradisional China. Penghormatan pada roh leluhur. Meskipun yang mati masih belia, harapnya di alam baka berdomisili di alam langit. Berbagai sesaji disiapkan untuk menghantar roh-roh menuju ke langit. Sepintas berita Pras akan dikremasi.
Oh ! kenapa harus di kremasi, bukankah masih banyak tanah kosong untuk didiami Pras. bumi masih cukup menampung seorang Pras Tio.
“Untuk mempercepat Pras sampai ke langit kealam baka !” kata suhu Chong dari sebuah biara. Sungguh menyedihkan, itu pikiran awamku yang tidak tahu adat kepercayaan mereka. Untuk mempercepat Pras sampai kealam langit, berkumpul dengan dewa-dewi sebagai makhluk adikodrat. Ah ya… apapun cara mereka itu hak asasi.
Diriku seperti kehilangan rasa, terbentur berbagai macam pikiran. Peristiwa yang terpampang di depan mata ini tak pernah kumengerti. Melihat Pras yang harus dikremasi tidak pernah terlintas diangan. mungkin ini jadi yang terbaik. Pras tidak menjalani sepi yang lampus, digerogoti cacing-cacing dan rayap. Pras akan langsung bertemu penghuni kahyangan para bidadari. Seperti kepercayaan dinasti papah Tio.
Kita toh hanya bisa menghormati keputusan keluarga Pras. sekalipun keinginan papah Tio banyak ditentang keluarga besarnya. Kita hanya bisa mendoakan saja. Mendoakan saja !
* * *
Langit mendung menaungi hamparan kota ini. Hampir setiap orang membicarakan kematian dan kremasi Pras. Sesuatu yang sacral tradisional akan menghantarkan prosesi perjalanan terakhir dalam kehidupan Pras. Semua orang penasaran. Iringan pelayat laiknya pawai kendaraan menghantarkan Pras ke crematorium.
Gedung putih di tepi pantai yang biasa dirundung sunyi jadi ramai,.jasad Pras diusung masuk. Aku berhenti pada persinggahan, bersama keluarga yang lain, menatap dalam pilu.. Bukan penasaran seperti mereka,
Seperti jadi kewajiban menghatar seorang yang berarti dalam hidup menuju tempat terjauh dari kehidupan ini. Kepergian dengan tiket tunggal. Pergi dan tidak kembali.
Sedih ditinggal mati memang biasa, tapi tabu menangisi kematian. Berkabung dalam kematian Pras menjadi sesuatu yang berbeda. padaku, mungkin atas nama cinta.
Aku bukan manusia eksklusif, agama tidak mengajarkan manusia untuk hidup secara kelompok yang hanya boleh bersosialisasi dengan kelompoknya. Sehingga menganggap orang lain atau etnis lain lebih buruk dari dirinya sendiri. Selain kata makhram dijadikan ceruk untuk memutuskan tali silaturakhmi, padahal kita punya tetangga dekat dan saudara-saudara jauh yang harus dipedulikan atas keberadaannya. Hubungan antar manusia sebagai makhluk Nya, untuk saling menyayangi dan menghormati.
Kata ustadzku taqwa bukan sekedar riyadoh batiniah saja tapi juga kepedulian terhadap sesama manusia. Apalah artinya kehidupan jika kita acuh tak acuh pada penderitaan insan lain. Yach….kepedulian dan penghormatan!.
Waktu berbias cepat, pintu krematorim mulai merapat. Kesibukan beralih lengang. Sekilas kulihat peti jenazah Pras dikelilingi gas berapi yang siap mengabukan.
Wajah-wajah pilu tergugu menatap gumpalan asap membubung lewat cerobong asap. Gemeretuk retakan kayu dan tulang belulang berbaur bau daging menyengat menusuk hidung meregangkan simpul-simpul syaraf. Terbayang lepuhan luka bakar terpecah-pecah, merah putih dan menghitam. Oh… serpihan sakit yang luar biasa. Didalam sana, ada jasad manusia yang pernah jadi kekasihku. Orang yang pernah mencintai dan memperhatikanku.
Cuma istighfar dan menarik nafas yang mampu kulakukan. Kepedihan ini menjelujuri diri. Perpisahan ini mengukir duka terdalam dihati sanubariku. Kakiku limbung tak kuat berdiri. Mataku jadi nanar, sekelilingku jadi gelap kelam, ribuan kunang-kunang bersliweran. Sunyi membumi menjauhi hamparan waktu, serasa sesuatu lepas dari tubuhku, mengambang ringan, tenang dan kosong.
Rohku terbang dipenghabisan jilatan api.
Aku seperti mengikuti perjalanannya. Roh-roh mengusung Pras meniti hamparan pelangi. Seorang bidadari kecil menuntun tangan Pras. aku Cuma melihat tanpa bisa berteriak.
Pras tersenyum menatapku. Senyum itu senyum keabadian. Makin menjauh dan lenyap ditelan mega.
Aku harus kembali ke alam fana Pras…tuk tunaikan kewajibanku sebagai makhluk-Nya…. Selamat jalan Pras…. kami akan menyusul kalian… dan kau Pras… akan tetap jadi kenangan abadi buatku.


Bobotsari, Minggu 8 Juni 2008.


Windu set
Si-kok : paman dari papah
En-tiu : bibi dari papah
En-sao : kakak ipar perempuan
Gege : kakak laki-laki
Si-i : bibi dari mamah
Xifu : menantu
SUBHANALLOH
Nama yang melekat pada diri manusia selain sebagai lambang identitas atau jati diri juga menjadi bagian dari kehidupan. Namun banyak orang juga mengatakan nama adalah semacam lebel atau merk dengan harapan lambang identitas itu bisa membawa diri empunya sesuai dengan namanya. Barangkali lebih kooperatif si penyandang nama Indah misalnya diharapkan menjadi manusia yang cantik, anggun dan mempesona baik jasmani ataupun rokhaninya. Begitulah manusia pada umumnya menyampaikan perlambang dengan harapan lewat sebuah nama. Rasanya terlalu sombong memeng manusia mengharapkan yang berlebihan pada sebuah nama, tapi itulah kenyataan yang sering kita temui. Seolah manusia mampu menitiskan garis nasib pada manusia lain.
Demikian pula dengan Wind ! Wind sebuah nama pemberian orang tua yang sampai detik ini tak pernah tahu akan makna nama itu. Jika dikaitkan dengan bahasa tentunya itu kebarat-baratan. Wind berarti angin. Terlalu naif orang bodoh menamai anaknya seperti itu.
KETAMAN ASMORO

Saben wayah lingsir wengi,
mripat iki ora bisa turu….
tansah kelingan sliramu
wong bagus kang dadi pepujanku

bingung rasane atiku
arep sambat nanging karo sopo
nyatane ora kuwowo ngrasakke atiku
Sansoyo nelongso

wis tak lali2 malah sangsoyo kelingan
nganti tekan besok kapan nggonku
mendem ora biso turu

Opo iki sing jenenge
wong kang lagi ketaman asmoro
presasat ra biso lali
esuk awan wengi tansah mbedo ati


TAK LILA AKE

udan deres wayahe wis wengi
njur kelingan lungamu dek wingi
opo wis dadi garisIng pesti
kowe bakal cindro janji

senajan uripku rekoso
kabeh mau bakale tak tompo
nuruti gegayuhanIng roso
bebrayan urip klawan diko

kowe lungo tanpo kabar, nganti seprene
larane ati sing nyangga aku dewe
ora ngiro yen bakal, ngene dadine
wis-wis yo wis yen ngono
yo wis yen ngono
tak lilaake


LAYANG KANGEN


layangmu tak tompo wingi kuwi
wis tak woco opo kareping atimu
trenyuh ati iki moco tulisanmu
ra kroso netes eluh neng pipiku

umpomo tanganku dadi suwiwi
iki ugo aku arep enggal bali
ning kepiye maneh margo kahananku
wong bagus entenono tekaku

ra maido sapa wong sing ora kangen
adoh bojo pengin turu angel merem

ra maido sopo wong sing ora trenyuh
ra kepethuk sak wetoro pengin weruh

percoyo aku kuwatno atimu
wong bagus entenono tekaku



TRIMO MUNDUR


trimo mundur
timbang loro ati
tak oyako wong kono wis lali
pancen wis nasibku iki
nandur becik tukule kok mung dilarani

reff : trimo ngalah
aku wis ra betah
tak tangisono malah mung
gawe susah
karepe wis ngajak pisah
karo aku
wis ra karep omah-omah

nangis aku isin
senadyan loro ing batin
aku lilo pisah kanti lahir batin


tresno sing ngrembuyung
saiki wis dadi garing
aku lilo pisah kanthi lahir batin

reff


KASMARAN

Yen arep crito karo sopo
SIKLUS TITIK TENGAH
Windu set


Menutup rumah pelacuran tak otomatis menutup riwayat pelacuran. Jadi? Lokalisasi boleh tutup tapi pelacuran akan tetap membuka diri. Caranya? Pelacuran akan mencari caranya sendiri untuk hidup.
Manusia boleh berduka atas kejahatan dan kedholiman, tapi betapa kejahatan dan kedholiman tak pernah lenyap dari muka bumi. Semua jenis keburukan boleh kita benci, tapi kisah tentang keburukan akan menjadi cerita bersambung yang tak pernah menemukan ending.
Kita memang boleh murung atas absurditas ini. Tapi selebihnya manusia hanya bisa menerima kenyataan. Betapa kanan tak bisa hidup sendirian tanpa kehadiran kiri. Kebaikan ternyata harus hidup berdampingan dengan keburukan.
Kanan dan kiri ada dalam diri manusia. Baik dan buruk juga menjadi bagian integral watak manusia. Jadi membuang salah satunya adalah pekerjaan yang percuma. Sepanjang manusia berlaku ekstrim, kanan atau kiri sama-sama berbahaya. Terlalu ke kanan atau terlalu ke kiri akan menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan.
Scenario kanan – kiri sesungguhnya hanya meminta manusia untuk akhirnya mengenat tengah. Hanyalah tengah yang sanggup mengoplos kanan dan kiri dengan timbangan yang adil. Tapi fungsi tengah yang terpenting bukan Cuma terletak dalam keadilannya, tapi juga pada keharusannya untuk ada. Tak ada obyek sanggup lahir tanpa mengindahkan titik tengah. Pendek kata, tengah adalah takdir.
Maka seorang yang dengan arogan menghindari titik tengah, adalah manusia yang mengingkari takdir. Tak perduli apakah ia terlalu ke kanan atau ke kiri, sang takdir akan mengembalikannya ke tengah.
Kita tidak pernah tahu, apakah seorang manusia arogan yang tengah murung ini diakibatkan oleh jiwa kemanusiaannya tidak sedang berada di tengah. Padahal untuk melacak tengah sebenarnya gampang saja : keseimbangan. Bicara soal keseimbangan, maka manusia arogan itu akan menemukan banyak indikasi. Indikasi ekonomi misalnya, kedudukan contohnya, public paling awam pun akan melihat dengan mata telanjang perbedaan antara si bungah dan si susah.
Pada indikasi hukum dan moral juga begitu. Masyarakat banyak dibuat pesimistis oleh nilai hukum si arogan itu sendiri. Maka banyak manusia yang jadi obyek penderita sekaligus yang didholimi lebih memilih menjadi seorang eskapis ketimbang realis. Dari pada percaya pada hukum formal, orang lebih memilih hukum karma sebagai pelarian. “ Biar Tuhan sendiri yang mbales!” katanya.
Indikasi dalam berpolitik, tak kurang-kurang contohnya. Seperti di era orde lama, menuntut kepatuhan yang mustahil. Politik samacam itu bisa menekan siapa saja untuk berkata “YA” dan membawa ketegangan bagi pihak-pihak yang menolak hidup seragam.
Yang tidak kalah mengharukan dalam dunia pemberdayaan. Lihatlah betapa sang pemberdaya menuntut yang diberdayakan untuk jadi manusia pinter. Semata-mata agar ia mendapat tepuk tangan. Segala kata-katanya harus di ikuti. Seolah-olah manusia lain tidak punya hak asasi. Bermahkota arogansi, kekeliruan yang kecil pada orang lain dianggap suatu kebiadaban yang luar biasa. Tidak lain untuk memuaskan dirinya.
Memaksakan kehendak. Adalah suatu yang mustahil. Alasan kebijakan dan moral ! Ah, sungguh menyedihkan jika bahasa moral sudah digunakan disini. Dijadikan kambing hitam untuk mendapat simpati.
Mari kita sama-sama mulat saliro hangroso weni, mana ada manusia bermoral bagus sanggup melecehkan manusia lain? Mbok iyo jangan menjadi duplicator atas nama “Seseorang” mending creator atas nama “Diri sendiri”. Jangan Cuma memberi doktrin tapi yang terpenting menyerap aspirasi. Agar orang lain menjadi nyaman. Tidak menjadi pangsa cemoohan !
Jelas dan gamblang melihat pribadi arogansi semacam itu di semua sisi, akan selalu menjumpai pameran ketidakseimbangan di sana-sini. Maka, menatap pribadi yang tengah bergolak adalah adalah menatap nurani yang tengah kehilangan keseimbangan karena telah lama ia kehilangan titik tengah.


- o -
Qasim Amien Dari Pembebasan Perempuan Menuju Pemberdayaan Perempuan Modern
Oleh Windu Setyaningsih dan Anisia Kumala Masyhadi
Pendidikan perempuan harus ditekankan pada kemandirian supaya mereka paham dan menjadi dirnyai sendiri, bukan menjadi pelayan bagi kaum lelaki saja.
Pendahuluan[1]
Mengangkat masalah relasi gender dan feminisme terasa melelahkan, sekaligus mengasyikkan. Melelahkan karena seakan-akan perbincangan ini tidak akan berakhir
dalam suatu ujung dan titik akhir tertentu. Mengasyikkan karena bahasan ini
selalu memberikan nuansa dan wacana baru dengan jargon-jargon yang terus
bermunculan dan berkembang, sehingga kita tidak pernah jenuh membahasnya. Maka,
perbincangan seputar diskursus gender ini adalah pokok masalah yang “membumi”,
artinya, tidak saja menjadi wacana dan fenomena bagi kelompok atau golongan
tertentu, yang dibatasi garis geografis maupun ideologis, namun lebih merupakan
permasalahan global yang lintas ruang dan waktu.
Di Jepang, kita akan menemui Michiko, sebagai tokoh pergerakan kaum perempuan, --
Maroko dengan pemikiran Fatimma Mernissi. Ashgar Ali Engineer dan
Rifat Hassan India,
Malaysia, Amina Wadud Muhsin
Indonesia sendiri kita temui para pakar dan pemerhati gender, sejak periode
pra-kemerdekaan. Kita bisa runtut dari RA. Kartini, dan Dewi Sartika sebagai
pioner “feminisme” kala itu, dan untuk saat kini, kita bisa menyebut nama Wardah Hafid, Nurul Agustina, Ratna Megawangi, hingga mantan first lady
Indonesia, Sinta Nuriyah Abd Rahman Wahid berada di garda terdepan membela dan membekali kaum perempuan. Hingga tidak heran muncul “Teologi Perempuan” yang menjadi “akidah-akidah” baru yang mengagendakan pembebasan dan pemberdayaan kaum Hawa.
Arab sendiri, khususnya Mesir, masalah relasi gender ini menjadi bagian
problem-problem sentral (al-isykaliyât al-markaziyah) dari pergolakan
pemikiran Mesir.Kita mengenal Huda Sya’rawi, Zaenab Fawwaz, Nawwal
Sa’dawi, May Ziyadah, Aisha Taymoriah, dan yang lain. Namun kalau kita coba
menarik sejarah aksi-aksi para feminis ini ke belakang, maka, Qasim Amien-lah,
yang menciptakan mainstream dan aksi-aksi kaum Hawa ini. Berbicara gerakan feminisme di Arab maka tidak lepas dari pembicaraan tentang Qasim Amien, seorang tokoh yang berjasa dalam pergerakan pembebasan kaum perempuan Arab khususnya dan kaum perempuan muslimah di Negara-negara Dunia Ketiga pada umumnya. Qasim Amien dijuluki sebagai Bapak“Feminisme” Arab.[2]
sebagai pejuang kebebasan perempuan dari segala bentuk diskriminasi. Dan pemikirannya banyak mempengaruhi para pejuang pergerakan feminisme yang datang setelah zamannya.
Sbgmn biasa, spt pemikiran tokoh2 yg lain dlm bidang appn, tdk akn lepas dr prmslhan pro dan kontra trhdp pemikirannya, aplg gerakan dan pemikirannya tmsk gerakan yg mngusung reformasi yg ggp gempita pd saat itu. Dmkn halnya pemikiran Qasim Amien, yg brangkat dr analisa sosial, hngg mngkritisi teks2 agama hngg dpahami sbg tradisi yg profan dan tunduk pada nilai sosial dan sejarah. Pemikiran Qasim mampu meruntuhkan “tembok” kejumudan berpikir dan mjd “shock theraphy” dr permasalahan2 yg menjadi “blunder” dlm masykt.
Ide-ide perubahn sosial yg digulirkan olh Qasim Amin memang bisa dkatakan
sbh pembaruan yg radikal jk kt lihat dlm konteks sosio-kultural pd wktu itu. Krn bgmnpn jg, ide-ide tsb berani “menantang arus” dr mainstream (arus utama) masy, baik pr ulama2 Al-Azhar maupun gol pmrintah.
Mikiran pemikiran Qasim Amien dr dimensi al-ishlâh al-ijtimâ‘î (reformasi sosial), di mana salah satu agenda unt mnsukseskan reformasi ini dgn “merombak” keadaan kaum peremp sbg bagian dr klmpok masy yg sering “terdiskriminasi”, baik dgn “kedok” syariat, mitos, adat-istiadat atau pun budaya.
Menurut Qasim Amien mslh peremp adl akibat dr konstruksi sosial (social contruc) yg sering mjd penyebab munculnya diskriminasi gender. Slnjtnya, Qasim Amien brusaha unt mencari solusi dan terobosan2 baru demi memperbaiki kead umatnya yg trpuruk dlm jurang kemunduran dan kejumudan.
Sekelumit Biografi Qasim Amien
mncba mnganalisa pemikiran seorng tokoh, mk, tdk akn lepas dr kharusan unt mengeth sekelumit sjrh dan cttn hdupnya yg bnyk mmpngruhi dan mltrbelakangi struktur dan “ideologi” pemikiran2nya. Tujuan dari “pembacaan” ini agr kt bs mngungkap pmkiran tokoh tsb dgn lebih objektif dan tepat, shg kita bisa terhindar dr “analisis ideologis” yg mlahirkn analisa yg subjektif dan mnyudutkn.
sekelumit riwayat hidup Qasim Amien
dari segi pendidikan dan sosio-kulturalnya yg bnyk mmpengaruhi pemikiran-2 beliau, ttg realitas sosio-kultural masy Mesir scr umum, dan nasib peremp scr khsus.
Qasim Amien, lahir di sebuah dusun di daerah Mesir dari seorang ayah keturunan Turki Ustmani dan dari ibu yg berdarah asli Mesir. Beliau lahir pd awal bln Des th 1863 M. Setelah taatk S D di Alexandria, klrganya hijrah ke Kairo. Pd th 1881, ia mncpai gelar licance dr Fak Hukum dan Administrasi dr sebuah akademi. Pd wkt itu, Qasim Amien msh brumur 20 th. Pd ms kuliahnya itu, ia mulai keal dgn sosok Jamaluddin Al-Afgahani dan aliran-aliran pemikirannya yg mmng berkembang di Mesir pd saat itu.
Dgn bekal gelar licance-nya ia bkrj sbg pengacara pd sebuah kntr milik Musthafa Fahmi Basya, srg pengacara besar pd saat itu yg mmg sdh memiliki hub baik dgn org tua Qasim. Melalu perantara kantornya, Qasim berkesempatan unt melanjutkan studi di Perancis ats sponsor dr Musthafa Fahmi Basya. Dlm masa perantauannya di Paris, di Mesir sndiri pd
saat itu terjadi Revolusi Arab yg dipimpin murid-2 Jamaluddin al-Afghani.
Revolusi ini berakhir dgn penjajahan Mesir olh tntara Inggris dan tkoh2 revolusi tsb dhadapkn ke Meja Hijau. Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh diasingkan dr Mesir, dan pd akhirnya keduanya menetap di Paris. Di sinilah Qasim kmbli menjalin hub dgn Al-Afghani dan jg mjd penerjemah pribadi bagi Muhammad Abduh.
Slyakny org asing di kota Paris, ia brusah unt bs berinteraksi dan beradaptasi dgn masy Perancis. Namun krn beliau mmliki kpribadiannya yg mencirikn kpribadian bngsa Timur; pemalu dan tertutup, dan tdp prbdaan yg sgt jauh antr budaya Perancis dan bdy Mesir, mk ia tdk bs bergaul dan berinteraksi dgn bebas dan luas. Nmn, sbgmn lzimnya khidupn mhswa dan mhsswi di kampus, Qasim Amien jg mmiliki tman prmpn yg istimewa. Dr kbrsamaanny dgn gdis Perancis tdi dsinyalir mlai tmbh benih2 kpduliannya thd kaum hawa, yg nntinya mmbidani prjuangannya di Mesir yg penuh dgn bntuk interaksi sosial yg diskriminatif. Kksihnya mjd smber inspirasi dan pnggugah ksdaran bhw kaum peremp sbtulnya mmliki kmampn yg slma ini “tidak pernah difungsikan”.[3]
kmbali dr Paris pd th 1885, ia diangkat mjd hakim. Kariernya sbg srang hakim smkin mningkat shg pd th 1889, ia diangkat mjd walikota di Bani Suef, sbuah prop di Mesir. Di sini ia mmulai prgrakannnya dlm mngdakn perbaikn2 di sgl bidng sosial (ishlâh ijtimâ’î). Jasa-2nya yg patut diacungi jempol pd saat itu, ia brpaya krs mmbbskn pr napi politik.
Th 1894, Qasim Amien nkah dgn srng gds plhnnya yg msih mmlki darah ktrunn Turki, Zaenab Amien Taufiq.[4] Dan dithn yg sm ia mlai aktf dlm kgatan tls mnulis, kry prtmnya, “Al-Mashriyyûn” (Les Egyptiens) dgn mnggnkn bhs Perancis. Bk ini adl counter thdp tlisan srng tkh Perancis, Duc D’harcouri, yg mngcam realitas sosio-kultural masy Mesir. Kry prdna ini bs mnggenjot kreatifitas Qasim Amien dlm dunia tulis-mnlis. Slanjutny lhr karya2 Qasim Amien yg mjd magnum opus-nya, yaitu, “Tahrîr al Mar’ah’” (Pembebasan Perempuan) trbit pd th 1899 dan“Al-Mar’ah Al-Jadîdah” (Perempuan Modern) thn 1900.
Qasim Amien di antara Pergumulan Pemikiran Islam di Mesir
Dlm kjian sosiologi pmikiran, kt akn dknalkn dua mcm varian dr pergerakan2 pemikiran. Pertama, gerakan yang menjaga usul-usul (fundamen), tradisi dan agama secara rigid dan tertutup, varian ini biasanya dknal dgn Front Tradisionalis-konservatif
Kedua, FontReformis-liberal adalah gerakan yang mengkaji agama dan tradisi secara kritis, rasional dan liberal. Bgtu jg hlnya dgn prmsalahn relasi gender, di satu sisi tdpt kelpk yg brsaha krs mmprthankan warisan kaum trdhlu (al-Sâbiqûn al-Awwalûn). Trlpas apkh warisan tsb merup syariat murni atau hsil ijtihad mnsia thd mslh-2 kontekstual. Di tepi lain, suatu gol brsaha mncari terobosan-2 baru, guna mnylesaikn prblem kontekstual dngn mngkaji tradisi agama dan sos scr kritis tnp mngenyampigkn trdisi dan pnglamn hdp leluhurnya.
Jika kita mencoba mengklasifikasikan posisi para feminis ke dalam dua golongan
tersebut, yaitu Tradisionalis-konservatif dan Reformis-liberal, maka Qasim Amien
masuk pada kelompok kedua. Ketika Qasim Amien mengadakan pembaruan di bidang
sosial,—di antaranya permasalahan kaum perempuan— beliau menafsirkan kembali
(reinterpretasi), dengan jalan mengkritisi, “dekonstruksi” dan rekonstruksi
terhadap syariat-syariat Islam yang menjadi pemicu timbulnya diskriminasi dan
subordinasi terhadap perempuan.
Dalam menyikapi pemikiran Qasim Amien, masyarakat Mesir pecah menjadi dua kubu.
Pertama, kubu yang sangat mendukung pemikiran-pemikiran dan agenda
pergerakan Qasim, secara penuh dan total yang akhirnya menimbulkan fanatisme
terhadap pemikiran Qasim Amien. Menurut mereka, pemikiran Qasim Amien merupakan
hasil ijtihad yang benar-benar positif, mengentaskan umat manusia dari Zaman
Kegelapan (‘Ashr al-Dlalâm) menuju Zaman Terang-benderang (‘Ashr
Tanwîr). Zaman ini memiliki beberapa identitas, di antaranya kebebasan kaum
perempuan dari kekangan-kekangan dan terlepas dari pandangan negatif dan
nyinyir dari kaum laki-laki.
Kedua, kubu yang menyikapi pemikiran dan gerakan Qasim Amien dengan sikap skeptis,
apatis bahkan antipati. Bagi mereka, pemikiran dan pergerakan tersebut tidak
lain hanyalah bentuk lain dari westernalisasi terhadap budaya-budaya Timur, yang
akan mengikis habis identitas budaya Timur itu sendiri.
Sedangkan penulis sendiri tidak mau terjebak di dua sisi ini, karena, akan
melahirkan pemikiran yang memihak, tidak objektif dan ekstrim. Seyogyanya
pemikiran seorang tokoh diapresiasi sedemikian rupa, dengan “pisau analisis”
yang “steril” terbebas dari “karat-karat” ideologi dan kepentingan kelompok.
Dari Analisa Sosial Menuju Pembebasan dan Pemberdayaan Perempuan
Dalam menyusun tesa-tesa pemikirannya hingga sampai pada suatu hipotesa yang siap
disuguhkan, Qasim Amien lebih cenderung menyimpulkan suatu permasalahan
menggunakan piranti-piranti analisa sosial dan data empirik dari interaksi
beliau dengan masyarakat luas. Bagi beliau, teori-teori sosial dan
hipotesa-hipotesa yang hanya lahir dari “atas meja” akan melahirkan teori dan
kesimpulan yang cenderung “mengira-ngira”, tidak realistis, dan bahkan jauh dari
nilai kebenaran. Kita bisa melihat, ketika beliau memberikan kritik pedas
terhadap tulisan D’Harcouri tentang kondisi sosial masyarakat Mesir sebagai
masyarakat Muslim yang terpuruk. Menurutnya, tesa-tesa dalam tulisan D’Harcouri
itu—dapat dikatakan— sama sekali tidak mendekati kebenaran, karena ia
(D’Harcouri) tidak berinteraksi langsung dengan masyarakat Mesir sehingga tidak
tahu persis keadaan masyarakat Mesir sebenarnya. Jika realitanya demikian,
bagaimana mungkin tesa-tesa D’Harcouri bisa “dicap” objektif? Jadi, bisa kita
katakan bahwa pemikiran-pemikiran seseorang bermula dari analisa sosial yang
tajam dan kritis dengan tetap melihat fenomena-fenomena sosial yang nampak.
Selanjutnya, ia boleh “berijtihad” untuk menyusun tesa-tesa demi memberikan
solusi bagi permasalahan-permasalahan sosial yang dianggap wajib untuk
diperbarui.[6]
Posisi Qasim sebagai hakim dan tokoh masyarakat pada waktu itu nampaknya lebih
memberikan kesempatan baginya untuk mengadakan pembaruan di bidang sosial
kemasyarakatan. Qasim juga merupakan salah seorang yang memberikan kontribusi
besar terhadap teori-teori sosial. Namun, syarat utama suatu teori sosial,
adalah, teori tersebut harus sesuai dengan kemaslahatan umat manusia. Artinya,
teori-teori sosial tersebut harus fleksibel, elastis, dan nisbi, jika suatu
teori bisa direlisasikan pada suatu masa dan tempat tertentu, maka bisa jadi
teori tersebut tidak dapat direalisasikan kembali pada masa dan tempat yang
lain, karena tergantung pada kemaslahatan dan kebutuhan masyarakat yang plural,
berbeda, dan bertentangan. Dengan kata lain, teori sosial-sosial
tersebut­—termasuk di dalamnya norma-norma agama— tidak boleh absolut, statis
dan “otoriter”.
Norma-norma agama yang bersifat tekstual, harus dicari “celah-celah”
kontekstualnya. Misalnya, kewajiban hijâb bagi kaum perempuan yang
termaktub dalam teks al-Quran, bukanlah semata-mata syariat agama Islam, namun
bagi Qasim, hijâb lebih merupakan bentuk adat istiadat yang diwarisi
bangsa-bangsa Arab kuno. Nah, dalam Islam, teori hijâb ini menjadi
syariat karena sesuai dengan kondisi sosial-kultural masyarakat pada saat itu.
Jika kondisi berubah, maka, tradisi ini boleh jadi tidak sesuai lagi. Dan ini
berarti, jika hijab sudah tidak lagi mengandung unsur kemaslahatan sosial, maka
kita bisa menggantikannya dengan solusi lain yang sesuai dengan zaman kita
sekarang ini.[7]
Qasim Amien juga memberikan perhatian yang serius terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Baginya, kondisi ekonomi sangat mempengaruhi keadaan suatu masyarakat, lebih
jauh lagi, ekonomi memiliki faktor dominan yang mempengaruhi kondisi masyarakat
dari pada faktor-faktor lain, seperti; pendidikan, agama dan budaya. Dari
kondisi ekonomi, kita bisa melacak sebab-sebab terjadinya diskriminasi
perempuan. Misalnya, dalam skup permasalahan yang lebih sempit, yaitu, poligami.
Komunitas masyarakat pada tataran ekonominya menengah ke atas akan lebih
termotivasi melakukan poligami. Realita ini terjadi pada masyarakat Mesir.
Masyarakat pedesaan yang kondisi ekonominya lemah dan pas-pasan, akan
mengurangi kemungkinan menjamurnya tradisi poligami. Berbeda dengan masyarakat
kota yang mempunyai pendapatan perkapita lebih besar. Premis ini dapat
dibenarkan, pasalnya, masyarakat dengan pendapatan perkapita yang hanya bisa
untuk mencukupi kebutuhan primernya, tidak akan terlalu ngoyo untuk
memenuhi kebutuhan sekunder. Jangankan untuk kebutuhan yang sekunder, untuk
kebutuhan primer saja mereka harus berjuang dan bekerja keras. Berbeda dengan
masyarakat yang telah mencukupi kebutuhan primernya, mereka memiliki kesempatan
lebih banyak memikirkan kebutuhan-kebutuhan sekunder.
Namun, premis ini tidak selamanya dapat dibenarkan, karena, faktor ekonomi bukanlah
satu-satunya faktor penentu bagi yang mengkonstruksi bentuk sosial masyarakat,
tetapi, di samping itu masih banyak lagi terdapat variabel-veriabel yang lain,
seperti tingkat pendidikan, ideologi masyarakat, dan budaya.[8]
Pada masa Qasim Amien, posisi kaum perempuan dalam keluarga dan masyarakat tidak
lebih hanya sebagai konco wingking-nya laki-laki, artinya, tugas
sosialnya hanyalah “sekedar” pelayan bagi seorang suami, seorang istri hanya
bertugas menghidangkan makanan bagi s
puisi patah hati
Selepas malam itu
kau berlalu akupun tetap tertinggal
sambil kudekap erat-erat kepingan hati
Air mata hanya sebuah tanda perpisahan
isak tangis-puisi patah hati
Cinta begitu meraga,
tercambuk tercabik-cabik
hingga luka menganga dan darah rindu pun menetes
Tercecer ditanah kerontang, ditikam terik
jejakkan kenangan, kisah usang beribu
Dan, hingga lelah menyesah
di belahan bumi purba ini kau tak ada lagi
Kau telah pergi...
menggapai seribu gemerlap bintang
mimpi terindah yang kau nantikan sepanjang usiamu
Sudahlah...
tatap nanarku hanya pada harap kebahagian
untukmu, selalu...
Berdiri aku harus tetap tegak
mencari kepastilan lain sembuhkan perih
untuk hidup yang terus berlalu
dengan... atau tanpamu lagi
Pria, Siang itu Hatiku tergolek lemah menatapnya pergi menjauh. Punggungnya seakan menandakan kehilangan bagiku. Sesuatu yang lain terselip dihatiku, belum terbangun tapi ku takut hilang. Kenapa dia pergi dengan dirinya? Kenapa aku jadi dungu ??? mengharap milik orang lain !
Disini Pertama kumelihatnya, dan berkenalan. Seorang pria matang dan simpatik. Siang itu matanya menatapku tajam dalam degup jantungku. Senyum yang sesekali berkembang dan santun dibalik sentuhan jemari kulewatkan karena ada rasa simpati dan cinta.
Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawa disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutahu sejak lama, siapa dirinya. Kutahu banyak kisah cintanya, tapi aku tak peduli. Aku tahu dia beda, kuyakin persepsiku tidak salah. Aku jadi pertama kali dalam hidup perkawinanku tersentuh ketidak seimbangan nurani. Aku jadi mengkhianati mereka. Mengkhianati ketulusan persahabatan dan perkawinan. Hingga dia kupanggil Honey. Ya… ney.
Dalam keraguan aku tak berdaya, makin tak berdaya ketika kutahu dihatinya ada orang lain. Hatiku tertoreh pedih, menyisakan tangis yang hingga kini menemani hari-hariku. Aku tak kuasa merobek kenangan di lembar kehidupanku bersamanya. Ini tidak biasa !
Sesuatu yang selalu kujaga dan kuanggap dosa besar jika berada dalam kerung perselingkuhan. Dan tiba-tiba terjelma dalam kehidupanku. Sebelum bertemu dia, aku tak pernah berjalan limbung, tak pernah ada rindu menggebu. Semua Cuma teman dan sahabat. Tak ada rasa lain apalagi getar aneh. Tapi kini aku merasakan getar aneh ini, dan tak kuasa menghindari pula. Aku tak bisa menghilangkannya.
Mungkin tak kan ada yang pernah tahu jika antara kita pernah ada rasa lain, sebab aku akan menyembunyikan dalam palung hatiku yang terdalam. Aku akan jaga semuanya untuk kebahagiaan dan kedamaian kita, sampai takdir Alloh menentukan lain. Aku tidak takut pada manusia tapi aku ngeri murka-Nya. Sedalam apa cintakunya, rasanya mustahil akan jadi kenyataan. aku tak mau mengorbankan perasaan orang lain, biarkan aku saja yang korban perasaan.
Aku jadi merasakan tulusnya mencintai, meski tidak bisa memiliki dan dimiliki, tapi aku mencoba bahagia ketika kulihat dia bahagia. Aku pun ikut menderita ketika dirinya dalam kesedihan.
Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan dia tak meninggalkan hatinya. Karena keangkuhannya padaku. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta?? Mengapa dia?? Mengapa cinta??

Bbs, 25 Januari ‘09
Perempuan Perlu Membangun Jaringan


Jumat, 22 Agustus 2008 | 11:55 WIB
JAKARTA, JUMAT - Bagi seorang perempuan, memulai membangun dan memelihara jaringan (networking) terkadang sangat sulit. Padahal, kekuatan networking sangatlah penting untuk memulai suatu usaha, bahkan mengakomodir karakter dasar perempuan yang gemar berinteraksi. Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Rina Fahmi Idris berbagi tips untuk membangun networking dari Forum Women in Leadership 2008 di Jakarta, Jumat (21/8). Silahkan mencermatinya.
1. Belajar dari tulisan dan film inspiratif mengenai networking. Rina merekomendasikan sebuah film berjudul 6 Degrees of Separation. Menurut Rina, film ini menceritakan bahwa sebenarnya kita itu hanya berjarak enam orang dari seseorang yang akan sangat berpengaruh tentang kehidupan kita. "Masing-masing dari kita kenal seseorang, yang dikenal seseorang dan yang akan mengenalkan seseorang kepada kita dan seterusnya," ujar putri Menteri Perindustrian Fahmi Idris ini.

2. Buatlah orang lain menjadi lebih penting daripada diri kita sehingga kita dapat membuat diri kita menjadi penting bagi mereka.

3. Secara alami, seseorang senang dan mau untuk membantu orang lain. Mintalah pertolongan dengan manis.

4. Maksimalkan setiap kesempatan pertemuan. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan siapa yang akan kita temui dan berguna untuk kehidupan kita. "Kemanapun usahakan terlebih dulu menjabat tangan dan bisa bertukar kartu nama," tambah Rina. Sekali lagi, jangan pernah lupa membawa kartu nama saat keluar rumah.

5. Dalam acara-acara yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan kita, berupayalah untuk menunjukkan kebanggaan terhadap diri sendiri dan apa yang dikerjakan. "Jadilah diri sendiri, jangan pernah menjadi sebuah imitasi dari orang lain," tandas Rina. Selain itu, jangan pernah merasa grogi ketika bertemu dengan orang-orang yang jabatannya lebih tinggi dari kita. Berpikirlah cepat mengenai suatu topik yang akan dibicarakan bersamanya dan aktif bertanya tentang aktivitas mereka.

6. Ingatlah, siapa pun akan setia terhadap kita saat mereka sudah mengenal kita dengan baik dan percaya pada kita.

7. Beri nilai dalam hubungan kita dengan orang lain, seperti newsletter dan website jika dalam perusahaan atau organisasi, blog pribadi untuk memperkenalkan diri kita atau berbagai bentuk kartu ucapan dalam momen-momen spesial, mentraktir teman atau kenalan dan yang terpenting selalu bersikap santun dan hangat.

8. Buatlah orang mengingat kita dengan berlaku santun, menyenangkan, pro aktif dan menepati janji. Ucapan awal 'Wow!' biasanya membuat seseorang mudah diingat.

9. Yang terakhir menurut Rina, "Cara networking yang paling ampuh adalah silaturahmi," ujar Rina. Baik silaturahmi 4 mata, 6 mata secara langsung sehingga bisa saling memberikan referensi, rekomendasi, dan bertukar informasi.
PEREMPUAN DARI BUKIT SAMBENG
Windu set

Malam tak merubah lembaran daun, saat terasa kurun waktu lampau yang talah terlempar ditempat jauh tersembunyi hadir menghantui. mungkin telah kadung jadi nasib. Seperti udara yang tak mau berdiam dalam ruang gelap menjelajah tak tentu arah, semua terpeta dipikiran piciknya rinai perselingkuhan. yang kadang menjajah jauh dilubuk sanubari, bahkan mampu mengusik mimpi. kisahnya bukan cuma jadi lintasan peristiwa tapi jadi realita sejarah hidup seorang manusia bernama Sulinah.
Ibunya terlahir dari seorang selir. Konon, neneknya tukang cuci yang digundik sang majikan. Itu sejarah yang tak terpungkiri. Sudah kepalang jadi takdir, rona jahiliah masa silam terulang dikurun waktu. Mungkin dalam satu dekade atau bahkan mendinasti. dan ia hendak antisipasi diri agar keterlanjuran yang dianggap kaprah terpatah tak berulang
Sulinah bukan siapa-siapa, hanya sekilas nama perempuan Jawa kuno, perempuan desa lugu. Ia terlahir tanpa tahu siapa bapaknya, namanya yang melegenda diabad megapolis ini Cuma berawal dari kisah usang sejarah yang lagi dikeramatkan, dipot dan disuakan dijadikan panutan. Panutan siapa? mungkin para perempuan-perempuan berkepentingan khusus. Sejarah aslinya sengaja ditrik balik dengan upaya mampu memperbaiki sejarahnya. kebrutalan perselingkuhan. Biar para suami dianggap adil, bermoral, mumpuni dan tak mendholimi. sementara para istri tetap tersakiti.
Jadi perempuan yang nrimo dijajah lelaki, dan dijadikan kambing hitam sesama perempuan. Sulinah kecil terkucil, figur perempuan ndesa lembut dan penurut. Sehari-hari bergelut lumpur sawah sekedar beroleh sesuap nasi seteguk air. Jika saat ini, sebayanya mungkin lagi asik dari mall ke mall. Meski begitu ia beruntung. Di rumah kakek buyutku dianggap keluarga. Aku tak tahu peran si-emboknya selain sebagai pembantu. Kenapa ia bisa mendobrak sejarah disaat adat istiadat tradisional kolot dimaharajakan. Ia sangat berani dibalik wajah lugunya. Tidak tampak cerdas tapi langkahnya penuh perhitungan menjegal kawan dan memeluk lawan, sehingga akhirnya dia berhasil diselir kakek buyutku.
Ironisnya ditengah pergulatan nasib merantas kemiskianan, Diketidakmampuan dirinya menggapai martabat, ia hidup layak di keluarga bermartabat. Jadi duri dalam daging atau parasit pohon tinggi. Sulit digapai susah diraih. Dulu sang majikan perempuan menganggap penghisap darah justru di abad modern dinobatkan sebagai empower, merebut simpati dan pejuang.
Benar-benar loyal manusia membuat sejarah meski fakta terbalik. Jikalau Sulinah realis, apa ia mau dikonotasikan sebagai leluhuring lelembut, hantu atau kuntilanak bisa malih rupa berwujud-wujud ? Sulinah bukan Nyi Rara Kidul tapi kini melegenda di percaturan-percaturan, mimbar-mimbar diskusi bahkan menyimpati. Entah siapa memulai merenda kisah. Laki atau perempuan. Sama saja! Mereka berpikir bahwa wanita adalah makhluk canggih dalam memperebutkan harta dan tahta.
Sulinah jadi hero, bak super women, tak mati diantara tebaran kisah klasik, intrik, mistik dan laknat. Makam dan bekas tapak kaki yang sudah tak bertuan pun dikeramatkan. Riyadoh batin, ngadi saliro, pendekatan pada Sang Maha Wenang lewat upacara adat dan ubo rampai sesaji bak putri keraton. Hingga sulinah-sulinah lain kini mengeramatkan berharap terkena pancaran magis aura primadona antah berantah itu.
* * *
Sesayup nun… suara perempuan melantunkan kidung asmarandahana lembut memecah sunyi, berbaur aroma dupa wangi terbawa desau angin malam menyuak rumpun bambu disudut sudut kampung, Penduduk dusun terhenyak menyimak. Tebar Aroma dupa menghalusinasi, menghipnotis, membawa pikir ke alam ketenangan abadi. seperti mati suri, terhanyut larut…
Miranti lagi berhasrat, suaranya tak asing ditelinga. Gadis lugu anak pembantuku. Mengapa ia lakukan itu, ritual kuno yang nyaris dilupa warga dusun ini. Aku terhenyak kaget, siapa yang mengajarkannya? sejak jadi guru privatnya belum pernah kukenalkan ritual itu. Heran, pada siapa ia berguru.
Puluhan tahun kuajarkan ilmu yang kudapat di SD sampai perguruan tinggi. baca Qur’an dan ngaji, bukan memuja lelembut, tidak nembang untuk mengundang setan atau bidadari. Miranti satu-satunya bocah yang kupilih jadi pewaris ilmu manusia modern, kudidik berbagai ketrampilan rumah tangga dan Subo sito pergaulan Dia murid pertama home schoolingku hingga kudaftarkan ikut ujian mendapat ijasah satara SLTA. Aku bangga berhasil jadi tutor yang baik. Biar pembantu mereka sudah seperti keluarga. Buyutku mengangkat mbok Marliyah ibunya dari Lumpur hitam akibat kebejadan lelaki. konon dulu diperkosa priyayi dari desa tetangga. perjaka ningrat putra kepala desa, Nenekku bersimpati melindungi. Miranti lahir tanpa setahu ayah kandungnya.
Miranti anak jadah. Begitu kata orang ! bagiku anak jadah bukan biang keburukan. Ia tetap anak manusia yang harus diperlakukan sama. Bibit, bebet, bobot Cuma ada didunia fana. Dihadapan Alloh semua manusia sama, bedanya Cuma pada amalannya. Miranti nyaris sempurna. Manis, santun dan cerdas, ia amanah dan jujur. Inilah pertimbanganku menjadikannya saudara angkat. Aku ingin orang tahu bahwa pendidikan formal dan lembaran ijasah bukan satu-satunya modal meraih sukses. Gampang didapat dan murah saat ini, apalagi bagi orang berduit. Sedang amanah dan kejujuran sangat mahal. Aku ingin merubah imej bahwa kemiskinan penyebab kebodohan dan kekufuran. Justru kaya yang tanpa nuranilah penyebabnya.
Aku tahu penghinaan terhadap simboknya memunculkan kekuatan untuk balas dendam. Dan ku ajarkan cara balas dendam !
“ Lakukan dengan cantik. Bukan dengan cara bodoh !”
“ Bagaimana caranya mbakyu ?” “Mbakyu” begitu dia memanggilku
“ Tingkatkan harga dirimu !” aku mendokrin, dan Miranti mematuhi.

* * *
Pada satu moment. Mimbar bergetar ! ratusan pasang mata mendelik tak berkedip, menunggu saksikan sebuah peran. Untuk pertama kali Miranti naik panggung, nampak tubuhnya bergetar, kata-kata yang telah kuajarkan nyaris lenyap, keseleo lidah ! aku jadi nervous. Detik berikut ia menunduk, mulutnya komat-kamit. Semua menunngu, aku juga. Kusimak seksama gerak mulutnya. Meski lirih kudengar ia berucap: “Tendung tunduk rampai fatimah jika engkau hendak padaku sapulah hingga lehermu keatas” seperti sudah merasuki kalbu. Enteng dan fasih. Mantera yang menyihir, wajahnya jadi sumringah. Gelora keberanian merona. Penonton terpana tak berkedip dengan decak dimulut, kagum!. Ada kharisma terpancar dijilat sinar lampu-lampu neon. Rama-rama beterbangan mengelilingi. Takjub merontokkan sayapnya bak kerlip serpihan kertas warna warni menaburi tubuhnya. Aku merinding. Sedih dan takut, shahadatnya sudah impotent! Ya Alloh, ampunilah hambaMu ini. Bukan itu yang ku mau. Aku tersedak kaget. Miranti bukan berdoa yang kuajarkan tapi ia merapal mantera ! mantera dalam kitab kuno Nyi Sulinah ! kitab lelembut sang legenda bukit Sambeng.
Di momentum berikutnya, tanpa gentar ia berorasi:
“Aku perempuan desa yang terlempar dari gegap gempita percaturan politik. datang diantara gelap dan sunyi malam ingin bersama saudara-saudara. Aku ingin membawa pemberdayaan, mengusung segepok argumentasi untuk membenahi negara ini. Bukan darah merah yang kutabur tuk memerdekakan negeri ini, tapi kembang setaman kubawa untuk hiasi tanah air ini. Air suci dusunku akan jadi penghapus dahaga jiwa-jiwa nan haus kekuasaan. Aku terlahir dari kemiskinan, hingga tak punya janji apa-apa, tuk mengentaskan kemiskinan, apalagi menghapus biaya pendidikan, kesehatan yang nampaknya hebat dan wah! tapi semua itu Cuma mimpi sebab aku tahu untuk mendapatkan ilmu butuh sarana dan prasarana. Jer basuki mowo beo! jadi bohong kalau ingin pinter, sehat dan kaya Cuma bermodal diam dan menunggu berkah dari langit. Aku takut lidahku kelu jika ditagih hutang janji ketika diriku sudah menjadi wakil anda nanti. Kata-kataku yang semula jadi senjata bisa-bisa Cuma jadi tabungan hati, tabungan kemenangan. Aku tak ingin sekali kali berkelit dengan kata-kata yang sering jadi pemuas hati kini aku takut kelak anda datang mendemoku berbondong-bondong membawa bergerbong gerbong manusia untuk nagih janji. Lalu sambil ketakutan dan tidak berdaya aku Cuma dapat menjawab bahwa “ keinginan anda masih pada agenda utama”. Wah… apakah ini wujud kebersamaan ataukah penipuan ?
Aku tak ingin terlantarkan anda dengan omong kosong layaknya pisang berbuah semangka, omong gampang sayang tidak terwujud nyata. Bangaimana kita lihat tragedy kemiskinan melanda negeri ini, antri minyak goreng, minyak tanah, beras bukan lukisan aneh, hingga tragedy Pasuruhan pun jadi berita biasa. Apakah mereka yang berjanji mengentaskan kemiskinan ikut merasakan derita keluarga yang tertimpa petaka ? sungguh sedih kehilangan orang yang kita cintai akibat janji yang tidak ditepati. Aku tak mau saudara memunculkan sinyalemen-sinyalemen minir “apakah saat ini negeri ini masih merdeka ? kalau masih merdeka, siapa saja yang merdeka?” seperti kata seorang pakar yang mengingatkan bahwa, sangat disayangkan jika janji-janji yang sepertinya WAH, akhirnya tidak WOH ( tidak tumbuh dan tidak berbuah), justru bisa-bisa menjadi WOOO…jadi mari kita waspada dan selalu ingat, milih wakil rakyat tidak hanya karena simpatik, ramah tamah, kaya raya, apalagi janji yang muluk-muluk. Yang penting apakah mereka itu sanggup memberi bukti ?!
Riuh tepuk tangan mengakhiri kata-kata dari mulut perempuan desa itu. Semua nampak setuju pendapatnya. Miranti sesungguhnya pun punya janji tapi kini harus disimpannya. Ia tahu diri untuk melunasinya kelak.
Mengusung tontonan masa lalu dianggap sudah bukan jamannya. Baginya masa lalu sebuah palajaran, kini kenyataan dan mendatang adalah bayangan. Keyakinan yang mantap dan pengorbanan yang tulus serta rasa cinta terhadap sesama diyakini mampu mewujudkan impian yang tertinggal di bukit sambeng sana. Namun ia yakin dimana tempat asalnya disitulah harus kembali. Entah jadi wujud apa nanti, mungkin jasadnya tanpa roh atau Cuma jadi nama gang buntu yang Cuma bisa buat lewat sepeda kumbang. Ya paling tidak namanya pernah tertanam dibenak-benak dalam goresan tinta emas sebagai perempuan desa yang berhasil menyumbangkan pemikiran untuk dicontoh dengan adat leluhurnya meski hanya tergaris dalam sebuah dinasti yaitu babu.
Tidak dan jangan ! ambisimu yang terlindap dalam sanubari bukan itu. Aku tahu! kamu ingin punya martabat, jadi priyayi, jadi orang besar. Bukankah telah dicatat dalam agenda batinmu siapa saja yang mesti kamu jegal, yang kamu singkirkan, dan akan kamu penjarakan. Biar mereka tahu rasanya penderitaan, sakitnya dilecehkan. Termasuk ayah biologismu !
LUKA JUMINTEN
Oleh : Wind set


Membuat pengakuan jelas tak segampang membalik telapak tangan. Butuh kreatifitas untuk jujur. Entah jujur hati, ucapan ataupun pikiran. Kadang hati sudah jujur, pikiran dan kata-kata masih dipadati retorika. Mungkin itu manusiawi, antara kejujuran hati dan logika tak selalu berada di tempat yang sama.
Empower Cuma sebatas kata-kata kecil yang diagungkan oleh mereka yang menganggap dirinya super women, perempuan pinter, para penguasa, pemilik negeri. Sayang sekali mereka hanya punya secuil hati untuk menjadi menderita. Bahkan mungkin mereka tak berdaya jika harus dirundung kepedihan. Sebab mereka tak siap sakit, tak siap kecewa. Pendek kata mereka hanya bisa memberi contoh tapi tak sanggup menjadi contoh.
Kapan perempuan berdaya untuk jujur ? bagaimanakah resiko kejujuran dimata public ?! mari kita tengok ungkapan jujur dari seorang makhluk Tuhan bernama Juminten, atau Jumi atau Mimi. ( Wah sebutan yang terakhir mengingatkan pada seorang artis ). Minten yang pengin popular lantaran kedekatannya dengan si pejabat yang juga lagi berubah menjadi seleb.
Ketika jendela hati mulai terbuka untuk mempublikasikan arsip hitam yang memenuhi lembar kehidupannya, Minten mulai gelisah. Minten tak siap jadi popular lantaran di cap sebagai “penghianat, penyeleweng dan tukang selingkuh”. Sungguh reputasi yang sangat buruk menyandang gelar dalam tanda petik itu. Meskipun ia benar-benar pernah melakoninya. Perselingkuhan ya tetaplah tidak dibenarkan oleh ajaran agama apapun. Walaupun perbuatan selingkuhnya belum sampai kencan dari hotel ke hotel dan free sex. Tak ada kesempatan unutk itu kata Minten disuatu kesempatan. “Kami Cuma sebatas duduk, diam dam saling memandang” entah apa yang mengindikasikan perasaan saling sukanya itu, keduanya tak pernah memperlihatkan kedekatannya di mata umum.dan sulit dielakkan.
Benar Minten mulai jatuh cinta dan itu dirasakan semenjak sang lalaki mengatakan “ serasa ada yang hilang ditinggal pergi” jadi benar, Minten tidak merasakan seorang diri hal itu, perasaan lelaki itu ternyata sama.
Minten tak tahu siapa lelaki itu sesungguhnya, apa maunya dan mengapa selalu memberikan perhatian padanya. Hanya sesamar nun…bayu menghembus kabar kurang sedap, lelaki itu seperti lalat buah, suka menjajagi ranumnya. Tidak peduli milik siapa, apalagi yang jauh tetangga dekatnya saja tega diembat. Sayangnya kedekatan itu keburu mengubah rasa biasa jadi sedikit luar biasa. Dari sekedar bertatap merambat hingga saling sentuh. Muara yang dirasakannya adalah getaran dan debar-debar jantung yang tidak semestinya.
Bagi Minten, lelaki bukan dia satu-satunya. Bergandengan tangan, cium pipi juga biasa, dan tak ada “sinyal lain” seperti yang dirasa saat bersama dia. Minten tahu banyak lelaki mencoba merambati hatinya dan ia hanya tersenyum sumringah mengetahui itu.
Minten yang gampang bergaul sering diterpa kelembutan bayu, tapi sesering itu dirinya mampu menghindar. Kehidupan yang dilakoni dibatasi tirai-tirai Illahiah, ada dogma yang membentengi pada boleh dan tidak boleh dilakoni. Ada aturan yang semestinya dipatuhi. Namun tanpa disadari ia terpeleset dalam khilaf. Entah terpengaruh kondisi macam apa ia mampu menjadi muna alias munafik !
Sadar atau tidak keganjilan itu dirasa sebagai aib, batinnya jatuh terpuruk. Ternyata Minten jadi salah satu korban yang terjebak wild adventure sang adventurer. Ia benar-benar bertekuk lutut diambang jendela rayuan sang wonderer. Ya, Minten mungkin dianggapnya mau jadi “kelinci percobaan” yang gampangan. Indikatornya gampang ditilik dengan kasat mata. Gampang didekati lalu disentuh. Seolah-olah barang mati yang tak punya perasaan. Minten jadi mainan alternative, keisengan yang pragmatis. Gampang didapat, murah dan tidak rewel.
Minten mulai kecewa, sedih dan sakit. Ketika kerling matanya sempat melihat ada “Minten-Minten” yang lain direntang waktu berseling. Terlebih kecewa ia melihat minten lainnya tidak lebih baik dari dirinya. Minten tak mau jadi perimbangan. Apalagi dibanding-bandingkan. Sebab sesungguhnya Minten seorang yang mempunyai harga diri tinggi. Dia akan menyerang kalau diserang, akan balas nonjok jika ditonjok.
Setahun waktu menengarai perjalanan kebersamaan, musim alih berganti hingga gurat tanya menyelimuti kerung batin. Banyak hal dan peristiwa merubah suasana, si lelaki terasa menjauhi dirinya, tak pernah ada lagi perhatian apalagi tegur sapa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. sayangnya Minten tak mampu merobek sisa-sisa kenangan bersamanya. Butiran tanya bergulir, tak satupun jawab terlahir. Hidup bukan untuk menggantung rentetan kebimbangan. Entahlah… anything to happened !
Namun tiba-tiba alarm menyalakkan tanda. Ingatannya kembali pada sebuah memori, peristiwa “1958”. Di senja yang sudah memasuki maghrib, suara azan terdengar tepat diseberang jalan. Rumah Alloh. Tak ada CCTV, Cuma kamera Illahi yang mampu meneropong peristiwanya hingga sampai degub-degub jantung mereka. sekecup cium dan sepagut peluk menjadikan jiwa raga Minten melambung tak bertepi. Cuma itu, tak lebih ! tapi Minten seperti mimpi. Bahagia tak terperi. Dan Minten tak bisa melupakan hingga saat ini. Dan itu usai sudah…
Minten benci arogansi ! saat mendapat satu kata peringatan : “hrs” ( singkat banget, tiga huruf mati itu mungkin berarti “harus” ). Harus apa ? dilupakan ?! melupakan ?! ya itu pasti ! lelaki itu ingin melupakan dan dilupakan. Minten ingat para selebritis ketika nulis massage, singkat. Pantas kata banyak orang, sekarang lelaki itu sudah jadi selebritis. Atau tepatnya nyeleb, selalu mencari sensasi untuk jadi popular. Apalagi belakangan ini sangat santer berita lagi berasmara ria dengan seorang biduan yang sangat terkenal seronok, obral P3D alias perut, pangkal paha paha dan dada. Ya… Minten dengar, Minten lihat, Minten ngrasa, tapi Minten tak akan jadi Minten kalau ia ikut bicara. Minten Cuma kecewa dan nelangsa, ternyata dirinya hanya disetarakan dengan perempuan macam itu.
Begitu rendah Minten dimatanya, tak ada artinya, seperti bukan siapa-siapa, bukan apa-apa layaknya sampah yang harus dibuang. Ego Minten bergolak merasa dihina dan direndahkan. Ia dendam dan akan membelas perlakuan itu. Bekalnya banyak dari para empower, dari berbagai media ia belajar, lewat majlis-majlis taklim ia berguru, pun dari teman-teman ia gali argumentasi. Mata hatinya tertutup akal sehat, dalam dadanya dipadati ambisi untuk meluluh lantakkan lelaki itu.
Minten mulai merangkai pengakuan dosa. Meng”ghibah” didalam komunitasnya. Bisik sana-sini mengobral asmara lelaki itu, tentu bukan dengan dirinya melainkan dengan “Minten-Minten yang lain”, setiap bicara selalu berujar tentang perilaku dan moralitas, ia sangat piawai mengkontribusikan apa yang didengar dari para empowernya. Tidak lain dan gampang diterka tujuannya adalah untuk menjatuhkan biang keladi sakit hatinya. Katanya, lelaki itu adalah bajingan yang layak untuk dihukum, bilamana perlu dijauhi dan dikotakkan. Dalihnya, kasihan pada nasib kaum hawa yang jadi korban pelecehannya.
Padahal sesungguhnya Minten lagi mengasihani diri sendiri atas kebodohan dan kekhilafannya, tidak bisa menjaga hati dan terlena rayuan sesaat. Untungnya Minten selalu dijaga oleh reputasi diri sehingga apa saja yang dilakukan diukur dengan pencitraan diri. Agar tidak jatuh gengsi, agar tidak dikonotasikan pungguk merindukan bulan.
Sungguh atraktif Minten ! tingkat rasionalitas yang diatas rata-rata mampu mengontrol, merumuskan sekaligus mencipta alibi dengan rekaan alur cerita yang endingnya terhindar dari aib. Sambil menyelam minum air, membalas sambil tanpa rasa bersalah. Minten menyadari keberhasilan usahanya masih dalam tanda Tanya, namun setidaknya ia merasa sedikit lega bisa mempengaruhi orang lain agar menjauhi bajingan itu. Minten ingin mengingatkan pada lelaki itu, bahwa selain ada kamera ilahi yang senantiasa memonitor perilaku manusia ada pula hukum karma yang siap membalas siapa saja yang dholim, dan kehidupan setelah mati. Sebenarnya ia memilih bersikap eskapis ketimbang mengungkapkan fakta. Namun ia pun ingin melihat ada keadilan agar lelaki itu tidak lagi semena-mena.
“ LIDAH YANG KESELEO “
windu set

Banyak orang minta maaf karena serangan kata-katanya sendiri. Anehnya, permintaan maaf ini khas. Bukan untuk kesalahan, tapi maaf untuk “keseleo lidah” untuk “salah tafsir” dan sebangsanya. Jadi intinya orang-orang itu minta maaf sambil tetap mengaku tidak bersalah’
Jadi banyak orang enteng meminta maaf tapi berat mengaku bersalah. Pejabat yang didemo karena ucapannya yang dianggap menyinggung perasaan, tetap ngotot mengaku tidak bermaksud menyinggung. Beberapa pakar yang kena somasi karena membeberkan aib mengaku tidak. Jadi orang-orang bersedia meminta maaf untuk hal-hal yang remeh saja. Untuk hal-hal yang mendasar yakni “ kesalahan “ itu sendiri banyak orang tidak siap melakukannya.
Apa arti berani meminta maaf tanpa berani mengaku salah ?. hampir tak berarti apa-apa. Tapi begitulah kebanyakan watak peminta maaf yang beredar di sekitar kita. Meminta maaf tanpa harus jatuh gengsi, mengaku salah sambil yakin tidak bersalah. Berani mengaku dosa lebih untuk memperoleh sebutan orang bijaksana. Wah !


Jadi banyak orang minta maaf bukan untuk menyesal, tapi malah untuk memompa kehebatan diri. Ini kebiasaan yang aneh dan kecelakaan yang jarang disadari.
Maka tradisi meminta maaf semacam itu bukan Cuma tidak memuaskan, tapi sungguh sangat tidak mencerminkan apa-apa, kecuali keinginan untuk mengaburkan kesalahan.
Jadi, kesalahan, sebagai dasar seseorang meminta maaf, malah tidak dipakai sebagai dasar. Ini luar biasa !
Apakah perasaan itu bisa dipercaya ? yakinlah perasaan itu bohong belaka. Rasa bersalah itu konkrit dan ada. Ia hanya menyusup menyelinap, sedemikian rupa untuk tidak terlihat wajahnya. Tapi semakin ia jatuh menyelinap, malah semakin membuatnya ada. Tapi sebagian orang tetap saja merasa aman ketika berhasill menimbunnua dengan retorika. Bahwa kesalahan itu tak ada, ia hanya sol keseleo lidah,, salah tafsir, keliru pemahaman, bias penafsiran dan ….khilaf !
Khilaf sendiri tiba-tiba menjadi kata yang sering diperalat untuk menenteramkan serangkaian kesalahan manusia.
Betapa kita hanya berani mengaku salah hanya dalam sebatas khilaf. Kita tak berani mengatakan yang sebenarnya bahwa kita telah berbuat dungu, dogol, tolol dan cekak pikiran.
Khilaf digunakan karena secara unik, karena kata ini telah membuat serangkaian arti seperti : lupa, tidak sadar, tidak sengaja, tidak menyangka….dan sebagainya.
Berbagai arti itu tiba-tiba menjadi ceruk, tempat orang ngumpet menyembunyika kesalahan.
Tapi otentiknya, khilaf adalah kenyataan yang harus dimaklumi dan dimaafkan. Tapi dengan kecerdasan standar, kita gampang membedakan mana kekhilafan, mana yang bukan. Kalau yang ceroboh selalu diubah menjadi khilaf, manusia akan cenderung kurang ajar.
Maka mengatakan perbuatan yang jelas-jelas ceroboh sebagai kekhilafan, tidak Cuma berarti penghinaan atas kecerdasan public, tapi juga sebuah manipulasi yang menyinggung perasaan,
Orang yang enteng meminta maaf sebenarnya adalah dewasa. Tapi keberanian mengaku salah adalah gambaran yang lebih dewasa lagi.
Hai ! dibelahan jagat manapun, mengaku salah adalah sesuatu yang berat. Tapi dibelahan bumi manapun selalu terbukti, bahwa mengaku salah jauh lebih terhormat sebelum dipaksa mengaku.
Ya… begitulah manusia, selalu menunggu untuk dipaksa !

Fry Jun 13, 2008.
Kau tak tergantikan
Windu set
Setiap terbangun dari tidur
Mata belum lagi terbuka
Hatiku seperti terhempas
Ada yang hilang dari diriku
Ada yang terlepas dari sanubariku
Pada yang ada dan tiada
Jadi sepercik harap
Jadi seberkas impian
Meski waktu pergi dan berlalu
Kau tak akan terganti

Nuning, pertama kali aku bertemu dan melihat dirinya terkasan anak manja dan sedikit angkuh. Ia datang padaku bersama suaminya teman se SMA dulu. Pengantin baru saat itu. Aku ingat betul, wjahnya yang belia dan cantik tidak sebanding dengan usia temanku yang jadi suaminya. Usia mereka terpaut sangat jauh, boleh dibilang anak dan ayahnya. Tapi apaun itu sepertinya tidak mempengaruhi hubungannya sebagai suami istri. Jodoh . ya jodoh, memang bukan urusan manusia tapi takdir Illahi. Nuning sangat mencintai Iman suaminya. Padahal aku tahu siapa Iman yang telah menduda sekian lama. Trak record yang boleh dibilang jelek. Play boy dan amburadul.
Kehadirannya disiang terik membuatku kaget, apalagi dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Matanya bengkak memerah pertanda dia habis menangis.
“ Maaf bunda, aku datang untuk meminta nasehat.” Dugaanku terpatahkan. Nuning datang padaku dengan permintaan dan ketulusan. Dia bukan anak manja yang angkuh karena kecantikannya. Tapi seorang perempuan yang dirundung duka. Memelas sedih.
Impiannya menjadi seorang istri yang bahagia rupanya harus sirna atas keputusan suaminya. Temanku yang belum bisa berubah dengan keegoisannya. Laki-laki pujaan yang dicintainya dan dihormati ternyata memutuskan untuk berceraikan dirinya. Nuning merasa hidupnya nyaris berakhir. Baginya dunia teramat gelap, keberadaannya didunia tidak ada artinya. Mencintai laki-laki Cuma jadi siksa. Ya memang, laki-laki terkadang habis manis sepah dibuang. Tapi itu pada segelintir orang dan tidak pada orang lain.
“ Entah mengapa tiba-tiba seperti di tunjukkan Alloh untuk datang kesini. Bahkan ketika aku sholat malam wajah bunda yang ada pada lembar sajadahku.”
Ironis memang, tapi lebih ironis lagi ketika dia mempercayakan seluruh rahasia hidupnya padaku. Dan benar, semua rabaanku, prasangkaku tidak meleset. Artinya penilaianku pada manusia nyaris sering benar.
Entah mengapa aku sulit sekali dibohongi, apakah mungkin aku pembohong atau memeng sudah biasa hidup diantara kebohongan. Jujur adalah lebih nikmat, tidak ada rasa was-was, tidak ada rasa takut.
Penolakan nurani pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan dan kemudian akan menyerang diri sendiri jarang terantisipasi. Meskipun janji hati untuk tidak akan pernah terjangkiti kemunafikan sekecil biji sawi.
Hanya usaha tetaplah jadi usaha sedang ketentuan nasib jelas ada dipihak yang melakoninya. Mungkin Tuhan sudah bosan mengaturr ataupun menyadarkan kebohongan nurani. Lalu azab dipilih Nya sebagai peringatan bagi makhluk yang susah menepati janji.

Rabu, 4 juni 2008.
Mestinya lebih baik menghargai diri sendiri ketimbang mengharap dihargai orang lain. Pertanyaan atas substansi yang tidak terjawab dan bahkan cenderung melarikan diri jadi membuahnkan rasa benci. Siapa menghendaki pekerjaan dituntaskan ? siapa mengingini semua selesai dan lembur diadakan ? kita Cuma membantu bukan mencari sensasi ! tapi ketika bantuan itu justru membuahkan penyesalan diri, lantas apakah semua ini harus diakhiri ? ataukah ada sebuah pengingkaran membebani nurani atau ketakutan jadi nominasi. Jelas jawaban itu belum terbersit dalam pikir. Mari kita nanti hari esok. Hadir atau tersingkir !
Bilur-bilur kebencian mulai melela dikerat waktu, melaknati setiap sudut pertemuan. Setiap sentuhan jemari hingga jangat-jangat dipipi. Pada pendar detak jantung. Kemunafikan bukan lagi jadi alasan. Pada kebohongan yang dipertanyakan dan diupayakan. Akan kuhitung dari mula, ketika ada sebersit lara membenak, rentik pilu menyengat, bahkan lompatan rayu membekap. Sayang mulut itu tak pernah bisa bicara untuk mengungkap rasa, sayang jemari itu harus berhenti mengorek isi hati. Mungkin Cuma mata yang bisa jadi saksi atas ulah durjana. Tak ada lagi bintang diujung langit malam, tak ada lagi langit tembaga menghirup cahaya. Selamat malam dunia, selamat malam durga. Mimpi akan beralih rupa di esok pagi ketika embun jatuh ke bumi….. 23:57.

Selasa, 10 juni 2008.
Sudah pantas kita tidak lagi membebani diri, alih-alih suasana memeram rasa hati. Beriktikat baik terkadang jadi salah arti. Nelangsa memang ! tapi untuk menghibur diri menganggap memiliki ternyata justru melaknati hati. Rela tapi belum ikhlas. Perasaan masih terbentur suasana hati. Tapi untuk apa? Belajar sabar ? ah… sudah terlambat untuk terus bersabar. Menyadari situasai kondisi ? ah… sudah bukan waktunya lagi. Mending menjajagi kata hati. Pergi dan berlari dari bayan-bayang. Menyongsong hari dengan pribadi yang lain menggapai esok tanpa kesedihan dan penantian yang tidak pasti !

Siang perasaan ini remuk jadi serpihan kepedihan. Belum usai sedih ini kualami, tapi aku harus menahan diri. Aku jadi sangat benci melihat raut wajahnya. Benci melihat matanya, benci melihat segala apa yang ada padanya. Aku tidak tahu kenapa? Dan aku janji pada diriku sendiri untuk tidak memulai hal-hal buruk pada dia. Aku tidak heran dengan gaji ke 13. benar aku tidak akan diberi. Tapi jangan katakana seperti itu. Rasanya tidak adil, wong ya aku tak akan pernah minta. Tuhan tolonglah aku, bantulah aku, perlihatkan padaku apa yang akan terjadi. Aku harus kuat untuk dapat melupakan kata-katanya. Aku harus kuat menanggung rasa sakit yang kuderita. Imbalan dari Mu memang begini menyedihkan ya Allah…. Dunia bagiku begini kejam tapi ini karena perlakuan seseorang.

Rabu, 11 juni 2008.
Sekelumit cerita mulai tersebit di hari ini. Aku akan menanti hari esok. Galau adalah perasaanku saat ini. Mungkin Allah belum berpihak pada langkahku. Kemarin aku sakit, hari ini jurang pemisah makin terhampar. Aku tak lagi melihat wajah persahabatan, tak lagi ada mata kejelian. Tak ada samar-samar rasa terpendam dalam diam. Aku sudah menunggu tapi sia-sia. Ya Allah…, biarkan semua berlalu lalang sesuka hati. Sakit dan sedih bagiku sudah jadi santapan yang biasa aku makan. Jika sesaat ada kebahagiaan mungkin adalah cobaan dan ujian bagiku. Aku peduli pada kehidupan ini, tapi kehidupan tidak pernah peduli padaku. Tidak pernah berpihak padaku.
Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Sangat kecil, Seperti pasir disamodra luas.

Sabtu, 14 Juni 2008.
Penyakit invalid dalam tubuh ini sudah tidak bisa ditahan lagi. Ini jadi ujian, pepenget, bahkan sebuah anugrah. Ada refleksi lama yang kambuh tiba-tiba, bukan dari manusia bedebah yang lama-lama menggadai setiap jengkal doa. Anehnya justru dating dari kelindan waktu yang sangat jauh. Terbiasa mendoktrin katanya sekarang mulaii mau didoktrin dan juga akan lebih banyak menyerap aspirasi katanya “ Iya ma, aku nurut kok…walau ini proses yang tak terduga, tapi justru yang tak terduga itulah sebenarnya sebuah anugrah.” 20:39:29. juga entah mengapa doa-doanya menyentuh rasa. Bersemangatlah …! Cepat sembuh ya. Ah … bagaimanapun itu perhatian yang tak ada duanya. Raga yang sakit tapi membuahkan kebahagiaan. Apakah dia juga bahagia? Ya.. begitu yang diungkapkannya. “ Kebahagiaan yang lama sekali terlupakan, aku tadi sempat kaget kok desiran ini banter banget.” Oh Tuhan aku tidak ingin jadi patah arang. Semangat hidup jadi sebuah intuisi Cuma. Tapi akankah dunia ini jadi milik kita ? tidak kita bukan anak kecil lagi, kita sudah terlalu tua untuk bergulat pada masa lampau. Biarlah kita jumpa karena Allah dan menyayangi ataupun membenci juga karena Allah. Pasrahkan saja semuanya kepada yang paling kuasa atas diri kita. Semoga Allah mendengar setiap bisik hatiku. Amin ….

Jum’at 20 juni 2008.
Masih samar, sesamar hembusan bayu senja kemarin. Pagi semenjak putri sakit, tatapannya sesejuk mentari pagi. Namun tak lagi kulihat bayu menyapu di sudut sendu matanya. Aku harus bertahan sambil terus berkelindan harap. Adakah esok atau nanti terkabul permohonan doaku. Entahlah yang pasti ujung ujung embun mulai kembali menetes meski di kerontang kemarau.

Sabtu, 21 Juni 2008,
Anakku, bunda bahagia atas semua kepercayaan yang kamu berikan. Bagi bunda amanah adalah segala-galanya. Bunda akan simpan semua yang ada dalam dirimu. Tenanglah anakku, tak ada rahasia yang jadi cerita dari mulut bunda.

Senin, 23 Juni 2008.
Nice day, aku tahu perasaan hatimu…keinginanmu…mungkin bisa jadi sebuah harapan dalam hidup. Memang seperti biasa, tidak ada luapan emosi tertera dalam pandangan mata, tapi perasaan tetap kuyakini ada. Bukan lagi seperti kemarin, nada nadi membaur gejolak tertahan, namun sebersit sentuh meredam emosi jiwani. Mungkinkah ada harap lain mengambang dalam alam pikir ini ? tak tahu, tak pernah tahu…
Sementara dalam kehidupan sosok putri terbentur! Aku berharap tidak ada opsi yang harus dibebankan padanya. Kelemahan diri dan penyakit yang tidak bisa cepat disembuhkan adalah sebuah episode yang tidak bisa terselesaikan dalam kurun waktu dekat. Tuhan tolong anakku…sembuhkan dia, sembuhkan dia !

Selasa, 24 Juni 2008.
Aku bisa mencelakakan seseorang ! apalagi Cuma seorang istri camat! Tapi untuk apa? Dendam? Ah.. terlalu kecil bagiku! Untuk urusan dendam, manusia memang bisa nekad, tapi aku bukan manusia yang dipenuhi dendam. Jika aku harus membalas, lalu bagaimana urusanku dengan yang Maha suci. Lagi pula kehidupan ini bukan untuk balas membalas kecuali pada kebaikan.
Episode yang tak pernah bisa kuhentikan adalah perasaan cinta dan kasih pada sesama manusia. Mudah sekali hati ini tersentuh oleh penderitaan orang lain. Aku tak tahan melihat orang menderita, meskipun mungkin aku sangat menderita. Bahkan jika aku bisa, aku punya power, aku ingin sekali membuat orang sekelilingku bahagia

Bunda, jika ibuku seperti bunda, aku akan bahagia sekali ! aku ingin bunda jadi ibuku! Itu kata seorang anak manusia. Padahal untuk menjadi bunda sangat berat anakku…! Yang harus ikhlas menahan diri ketika harus ditinggal pergi, yang harus berpura-pura dan harus menjaga perasaan. Bunda mungkin tidak sebaik yang anakku pikirkan. Tapi lebih terlukanya jika bunda harus mendolimi orang lain.

Kamis, 3 july 2008.
Ya Alloh, tolong beri aku jawaban atas semua peristiwa yang terjadi hari ini… apakah aku sudah begitu tidak berartinya dalam hidup manusia lain? Ataukah pada manusia lain itu memang arogan? Aku tidak tahu…, Ya Alloh, berikanlah pertolongan padaku, jauhkan aku dari manusia lain itu sejauh mata memandang dan sejauh kakiku melangkah ! jauhkanlah aku dari dosa yang dapat menjadi laknat bagiku. Singkirkanlah manusia lain itu dari kehidupanku. Tutuplah mata batinku, darinya, agar agar aku dapat membuat perhitungan. Ya Alloh, Cuma rahmat Mu yang dapat memperbaiki hidupku. Lenyapkan manusia lain itu dari kehidupanku. Aku terpaku saat ini, saat merasakan raga jadi lemah dan tak berdaya. Aku manusia yang Engkau ciptakan, aku akan tunduk pada Mu. Akan menjauhi sejauh langit dan bumi. Tolonglah aku…berilah aku kekuatan untuk menghindar menghindar dan menghindar. Melupakan semua yang pernah ada dan terjadi ! tolonglah aku….! Ini tidak sama dengan di peritiwa di thn ’04 yang lalu, julu lini berbeda : Ney ! tanpa balas, yang silam : “ Tidak harus secantik mawar, cukuplah seharum melati…. Dulu beraroma bunga sekarang jadi bangkai. Oh ! ampunilah aku Tuhan…

Minggu, 6 July, 2008. 0.30.wib
Masih terasa ada gerit hati membawa langkah nyalang pada manusia lain diujung malam, tapi masih terjegal harga diri. Mulai jalani hidup tanpa ada ambisi, adalah kedamaian . meski hati seakan meremah jadi puing-puing. Ada bintang gemintang di atas langit sana, begitu dingin udara malam, angin utara menggigit pori-pori. Kusampaikan selembar kata hati lewat kuncup dedaunan, masih kuingat hari kemarin. Biar rindu itu sudah bembatu, biar madu itu jadi empedu, tapi harap terus melaju bersma waktu. Biar bintang jadi saksi bisu, bahwa dalam hati ini masih menyimpan kenangan bersamamu. Tuhan tolonglah aku….
Ada saat manusia beralih rasa, ada saat hati meratapi nasib, ada pula saatnya paenyesalan menjadi bagian dari kahidupan. Semua jelas telah jadi keputusan takdir dan manusia tinggal menapaki garis nasibnya.

9 July, 2008. rabu 09.15.
Prihatinan bisa jadi cobaan manusia, juga bisa jadi suatu keinginan diri untuk merantasi penderitaan. Keinginan merubah keadaan juga pengharapan akan suatu yang lebih baik ketimbang lelakon saat ini. Aku menginginkan kehidupan dan cinta yang selaras dengan nuraniku, walau mungkin tidak dikehendaki Allah. Aku Cuma berusaha dan memohon dengan riyadoh batiniah. Sebab aku bukan manusia kaya yang bisa memberikan banyak kepada yang lain. Paling tidak usaha ini juga untuk mengurangi dosa2ku juga berusaha untuk menenangkan diri. Ya Rabbi, tolonglah aku agar bahagia bersama keinginanku dapat terwujud. Untuk suamiku dan anakku.

Kamis, 10 July 2008, 08:53
Sudah kucoba untuk menepis yang lindap diruang batin. Tapi belum pernah sekalipun terkikis. Kebosanan mulai mewarnai hari-hari di bulan juli ini. Kala usungan gairah menghilang bersama dentum-dentum nadi menghempas. Semua sudah usai di hari kemarin, semua sudah lenyap tanpa ada bekas. Seperti air hujan kemarin yang rintik-rintik menyiram tebalnya debu. Aku membuang daki dikakiku dengan satu niat karena Allah.

Sabtu, 12 July,2008.
BLT, bisa jadi bagian terakhir tertinggal. Kenangan. Melihat keceriaan manusia lain bersama seseorang disampingnya dengan wajah berbunga-bunga, adalah tanda jawaban Alloh untukku. Siapakah dia ? dimataku Cuma punya intonasi : ada sesuatu pada mereka ! semoga ini bukan su’udhon, sebab mata batin tidak bisa dibohongi.

Senin, 14 july, 2008.
Bagian terakhir dari sebuah sandiwara, endingnya ada 2 : bahagia dan derita. Tapi setiap apa yang ditakdirkan Tuhan pastilah punya arti yang sangat baik. Mulai dari keberadaan lalu kebersamaan, menjadi tinggal kenangan dan mudah-mudahan membawa pelajaran sekaligus ketenangan. Amin ya Rabbul ‘alamin.

Rabu, 16 july, 2008.
Rukyah adalah pengalaman baru, sebuah metode pengobatan ala Rosululloh SAW. Pada keadaan yang membutuhkan situasi damai, manusia mampu berbuat apapun. Bukan berinisyatif menghilangkan setan atau jin dalam tubuh manusia akan tetapi lebih pada menghilangkan sesuatu pengaruh buruk yang kadung bersarang dalam dada. Apapun isi hati kalau tidak membuat diri nyaman tetap memiliki efek memporak porandakan kehidupan. Usia jelas jadi jaminan untuk seorang manusia berpikir kearah kematian. Bukankah kita tidak akan menjadi penghuni kekal dialam dunia ini?. Kita kana mati, entah esok ataupun lusa. Padahal kematian tidak hanya ditakuti malah sudah jadi momok. Bukan takut berpisahnya roh dari sang jasad namun lebih pada dosa yang mesti dibalas kelak.
Hari dalam pergantian musim ini sudah merubah wujud diriku dalam kondisi lebih tenteram, aku akan mencoba lebih istikomah dalam beribadah dan lebih pasrah meniti hari-hari dalam kehidupan yang yang akan kulalui. Doaku menjadi seorang manusia yang punya arti bagi manusia lain rupanya tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Bahkan mungkin tidak akan terwujud sampai kapanpun. Biarlah kamu tetap jadi manusia lain, biarlah kamu tetap berada di atas awan sana, aku harus ikhlas menjalani semua ini. Doaku sampai kapanpun akan tetap sama, ingin suatu saat nanti bisa bersandar di bahunya tanpa ada yang menjadi penghalang.

Minggu, 20 july 2008.
Oh ya lagi padang bulan di luar terang benderang. 20 juni 2008 21:26:50. itu dikirim Ney. Berarti sudah sebulan yang lalu. Apakah Ney masih ingat aku saat ini?

Jum’at, 19 september 2008
Ramadhan sudah memasuki hari ke 19. berapa harikah aku berpuasa? Aku tidak tahu pasti ! jangankan menghitung, untuk melakoninya saja sangat beraaaaattt…! Aku telah berjuang semampuku melipakan apa yang pernah terjadi pada hari-hari kemarin. Tapi sepertinya aku gagal. Kembali aku ingat dirimu Ney! Tiba-tiba rasa kangen menyergap luar biasa. Dan heranya aku juga tanpa ragu menyampaikannya.
Lelakon macam apa ini ? sementara dirinya tidak percaya pada yang aku sampaikan. Mungkin dia ragu ataukah sudah pindah ke lain hati, aku tak tahu. Barangkali ketidak percayaannya sangat logis. Aku seperti biasa-biasa saja selama ini. Aku telah menyambunyikannya, melindapkan dalam ceruk kalbu yang terdalam. Buat disimpan sendir, rindunya, juga semua keinginan-keinginan yang tidak pernah jadi nyata. Benar jika Ney bilang, perasaan kan tidak nyata. Ya benar tapi justru perasaan ini lebih nyata dari pada kenyataan itu sendiri, bahkan sangat membelenggu. Sangat menjerat jiwa. Biarkan Ney tidak pernah percaya yang jelas aku tidak memaksanya untuk percaya. Buat apa memaksa, toh aku juga merasakan diriku ogah dipaksa ! ataukah Ney menganggapku berbohong dengan dirinya ? padahal untuk Ney akau justru berusaha selalu apa adanya. Jujur dan menepati janji. Aku tidak mau seperti ABG, mempertontonkan ketidak wajaran. Ah menakutkan memang. Dunia jelas akan mencemoohku sebagai manusia yang tidak tahu diri. Mengklaimku bak anai-anai tanpa sarang melihat lampu neon. Heran bin takjub ! tapi benar Ney ada dan ada disetiap jengkal langkah kakiku, disetiap kejap mataku, disetiap detak jantungku ! Ney bahkan nyaris menemani mimpi-mimpiku. Bisaku apa Ney agar kamu percaya ? paling minta tolong Tuhan agar menjagamu dari cobaan, menolongmu dalam setiap kesulitan, tiupun dalam doa, dalam hati ! aku tak mau jadi keledai tolol, mengharap sesuatu yang tak mungkin jadi bagianku. Tak mau juga mengoyak-ngoyak hati-hati yang lain untuk sekedar memuasakan perasaanku. Jadi ku biarkan saja semua berlalu lalang sesuka hati. Di diriku Ney sudah seperti bagian dahan dalam sebuah pohon, jika dahan itu terpotong aku juga merasakan darah dalam tubuhku muncrat. Aku selalu merasakan setiap sayatan yang melukai dirinya. Entah dibagian manapun juga. Tapi apakah Ney tahu? Mungkin Ney tidak mau tahu, seperti ketidak percayaannya saat ini. Biar waktu yang membuktikan ya Ney… nanti suatu saat kamu akan yakin bahwa dalam dunia ini masih ada sisa manusia yang sangat setia pada hati dan perasaanya. Atau mungkin kamu telah jadi cadas yang telah berkarang dan merasa bisa memecahkan kapal dalam kediamanmu ?! ya ya tapi suatu saat kamu akan merasakan betapa ikan ikan kecil dan plankton-plankton itu akan mampu menggali lobang dalam dirimu. Ney… mari kita hitung kekosongan jiwa ini dalam meniti hari-hari dalam sepi tanpa warna. Adalah ketika kita saling mengekang diri untuk mulat saliro hangroso weni. Paling tidak untukku Ney. Aku telah berusaha murokobah dan menjauhi bayang-bayang semu. Tapi mampukah aku ? tidak Ney, bahkan bayang-bayangmu makin mengejar-ngejarku. Aku jadi sakit sendiri. Apalagi melihat kemesraan yang dipertontonkanmu padaku bersama seseorang yang dalam bilangan mataku jarang terhitung. Aku sadar kok Ney, siapa diriku. Tak pantas aku sekedar melihatmu apaladi mengharap sepenggal sapa darimu. Ney… aku tak tahu untuk apa lagi perasaan seperti ini…. Wind_sett@yahoo.com

Senin, 22 september 2008.
Tanpa semangat terlihat didelik mata. Mungkin lagi puasa atau lelah membebani langkah kaki. Kentara tak ada sesuatu beban dalam diri, sepertinya semua sudah tak berarti. Oh…mungkinkah begitu kenyataan yang melekat dalam hatinya ? aku jadi salah mengartikan ketidak percayaan kemarin, mungkin benar praduga nurani ini.sudah ada someone di sudut kosong jiwanya. Apa benar yang diucapkan seorang kawan bahwa diluar sana bergayut mutiara terpendam menempati ruang dan waktunya atau justru pencariannya yang selama ini telah berakhir. Dan barangkali ada ketenangan serta kedamaian dalam pelukan lembut sang primadona. Ya Robbi…padamulah aku memohon satu jawab, jika semua jadi kebenaran tolong singkirkan dri pandang dan kuncup hati. Atau justru diri ini yang mesti berlari menjauhi mimpi ? sepertinya memang harus berlari pergi, buat menjaga harga diri, sekedar mengantongi gengsi. Tak ada lagi sisa misteri terbias dalam sanubari, seperti awan sudah jatuh jadi butiran hujan. Benarkah aku tetap bertahan melihat ketakacuhan menghardik tak tahu diri, ataukah nurani membutakan rasa yeri jiwani ?

Jam”at, 26 september 2008
Mentari ceria menyambut hari ini, dalam kebersamaan yang mungkin akan jadi kenangan abadi. Semalam dalam jerat mimpi, dan disiang hari menjadi untai kenyataan. Aku tak tahu mengapa ada hari ini...? mungkin hentakan hati jadi ikatan nurani. Aku juga belum yakin apa yag terjadi meski kenyataan berjalan seakan tanpa tersadari. Alam desa berbudaya asli adalah sebuah pedukuhan dengan padat penduduk. Jalan setapak naik turun memaksa tangan bergandeng. Tapi bukan dalam kemesraan tapi lebih pada ketakutan. Ketakutan akan banyak hal dan peristiwa. Bisa jadi masalah membebani, bisa jadi fitnah menghantui. Tapi apapun adalah kenyataan dan bukan mimpi. Mimpiku ada dalam semalam didesir sanubari dan hari ini jadi saksi elegi. Karanggandul menjelang dhuhur.

1 syawal 1429 H. ( Rabu, 1 oktober 2008)
hari ini terbilang biasa bagiku, katup-katup dosa mulai mebuka seiring suara takbir. Entah apa yang terjadi dibukit sana, sementara kidung kerinduan makin terasa menggelora jiwa, aku tak bisa berteriak mengharap ada kebersamaan dalam diri kita. Sepertinya asa telah tertimbun dalam perut bumi, detik-detik kehampaan terserap di tiap pori menghapus kenangan yang kemarin. Mungkinkah bumi ini menelan setiap makhluknya sehingga aku kehilangan sosoknya? Dan masihkah ada kesempatan untukku melihat dirinya dibumi lain ? aku bodoh ! berharap yang tak mungkin! Ney tak akan mengingatku, apalagi berharap ketemu denganku. Ya ya paling tidak aku masih bisa mendengar burung bercerita tentang matahariku. Mungkin ia akan membawa kabar tentang dirinya disenja kelak. Ney… adakah angin akan menyatukan kita esok ?

5 okt 2008, ahad
mungkin aku harus berpikir sejuta kali untuk tidak menapaki dunia. Sebab didalamnya ada bahagia. Hari yang terkilas jadi lembar masa bagiku akan tetap jadi kenangan. Adalah ortu, sakit yang diderita bukan lagi sakit anak kecil tapi sakit yang senantiasa berulang ditiap tahun. Mengingatnya ketika kecil bukan berarti aku tak boleh melarangnya melakukan hal-hal yang merugikan terutama masalah kesehatan. Hari ini kembali pulang dari rumah sakit. Ada gelora bahagia diwajahnya meski aku yakin tidak sebaik keadannya. Kehadiran saudara2 bisa menghiburnya. Kebahagiaan yang nyaris sirna tapi berubah nyata. Aku tak lagi bisa berkata, semua jadi kaku sebab kehadiran dirinya, aku bahagia sebab ada dirinya, aku sedih ketika dia harus pergi dan aku ditinggal sendri. Mengapa aku tidak jadi bagian dari kehidupannya? Mengapa saat-saat seperti ini dia tak bersamaku? Mengapa ada yang lebih berhak dari padaku? Kenapa aku harus selalu berpura-pura? Kenapa dan kenapa aku jadi manusia yang paling rela, padahal didalam hatiku tertinggal tangis!

Kenangan iedul fitri 1429 H.
- Adalah sesuatu yang tak pantas terjadi dalam kehidpan ini. Untukku apalagi. Tapi kemampuanku sebagai manusia biasa Cuma sebatas keinginan, ternyata diujung istikomah Alloh menentukan lain.

- Aku ingin mencurinya dari dekapan $ shbtku walau Cuma sejenak. Dan kubawa dalam tidurku untuk bersama-sama dalam satu selimut dimalam yang dingin dan kosong, lalu menawannya dalam sanubari yang tak bisa lenyap. Tapi aku tak kuasa, Ney milik shbtku! Oh sungguh tak pantas aku meracuni kebahagiaan mereka apalagi mencurinya. Rasa yang kupendam ini membuatku sakit hati, sebab aku tahu kami sama-sama menginginkan. Ingin menyatu dalam satu selimut merantasi dingin malam.
Lagi-lagi hatiku nyeri manakala terbangun dari tidur menggelar pagi dengan rasa hampa dan kosong. Mengingatmu dalam mimpi-mimpi panjang. Jerujit kepedihan memilin-milin hati, kamu Cuma jadi mimpi apakah harus terus hidup ataukah harus berakhir sampai disini. Jawabnya jelas ada pada dirimu Ney.. oh Ney, aku telah rela mengosongkan ruang dibilik-bilik kalbuku untuk diisi mimpi tanpa batas waktu. Tapi aku merasa sia-sia, kau tetap jadi milik $.dan keluargamu. Dan ketika waktu berjalan menebar usia, apakah jalan untuk sampai kesana masih terbuka bagiku ? masihkah cinta terpendam dalam sanubarimu ? ataukah kau masih tetap tidak berani mengakui perasaanmu ? padahal sisa waktu kita makin sempit, haruskah aku bersabar menunggu….?!

Minguu 4 jan 2009.
udara malam makin menggigit menguliti pori-pori, makin dalam meremukkan tulang belulang yang kian rapuh terasa menembus ulu hati. Begini sepi malam ini, aku tak tahu kenapa, mungkin karena kau semakin jauh dariku atau karena tak sebertik kabarpun mampir ? yah… aku sudah pasrah dan ikhlas menerima nasib ini, tak mungkin bagiku menhiba-hiba untuk sekedar berpura-pura menoreh berita tentangmu, menanykan keadaanmu atau Cuma sekedar say hallo. Aku akan bersama temaram bintang-bintang. Bersama mengurai resah melangkah mencari titik pendar pada cahayanya yang nun… siapa tahu ada cahaya lain mampu mencairkan beku nurani. Berkali-kali kutepuk pipiku sekedar meyakinkan bahwa aku masih dalam alam sadar. Rasanya dingin. Burai bintang menyulam kenangan yang tertinggal digilas musim. Hening memagut. Rintihan belalang menggelar simponi alam memperdengarkan nyanyian klasik bak ciptaan sang maestro. Sepoi angin malam membelai helai-helai daun gemersik seakan membawa rasa ketenangan abadi, melayati peristiwa demi peristiwa.
Hari-hari bahagia berlaku bagaikan mimpi sesaat dikelindan waktu. Sesaat yang tanpa rencana. Tak ada kesepakatan mengawali ataupun mengakhiri. Begitupun ketika kita harus berjalan dipersimpangan, entah siapa yang terlebih dahulu membelok berbalik arah. Semua begitu sederhana, tanpa kata apalagi ucapan selamat tinggal. Kemudian ketika ada sua tanpa sengaja, getar getar aneh terbelit disimpul hati. Dan saat sejumput sindir-sindir memeta, iapun menoreh luka perih dibilik hati. Luka yang kutentukan sendiri lalu kusimpan rapat berbalut benci. Tapi bencikah aku ? dia menciptakan perbedaan, antara diriku dan yang lain begitu senjang dan sangat tinggi. Jadilah itu rentetan penghiaan martabat manusia. Kebanggaannya pada jabatan mengecilkan nyali. Aku tidak tahu untuk apa dia lakukan itu. Atau mungkin standar kami sama. Menghindari rasa dalam dada. Pertemuan dan perpisahan dengan segala menunya sama-sama jadi suratan takdir, tidk bisa dihindari. Aku tidak mau jadi perempuan tanpa harga diri, sekalipun cinta dan harap memenuhi rongga dada.
Ketika malam-malam memunculkan kenangan dipelupuk mata, sulit sekali terpejam. Rasa sakit menyulam jiwa, benang benang resah menelisik nurani. Aku meragu, mungkinkah kebencian ini Cuma penghindaran diri dari rasa cinta yang tidak semestinya. Atau karena ini Cuma berada dipihak diriku. Ah aku tak pernah berharap perasaan seperti ini menghampiri diriku. Kedatangannya tak terduga, bersama angin spoi-spoi, menempati ruang dan waktu sepanjang hari, ada dimanapun aliran darahku bermuara. Aku bukan malaikat, aku manusia biasa yang lemah. Kadang pikiran dan perasaaan tak mau bersatu. Aku benci itu. Tapi aku tak punya kendali untuk mengekangnya. Hingga aku jadi pecundang picik menginginkan milik orang.
Ketika pagi berselimut embun, kantuknya memuncak didera rasa. Kebimbangan selalu hadir berama picingan mata, kehampaan pun menyusup dalam relung batin. Untuk apa hari ini aku ada, sementara waktu akan menjelujur sepi tanpa batas, mengurai kisah usang yang makin lepas dari kehidupan ini. Meninggalkanku dalam kesendirian tanpa warna, tanpa rupa. Kosong dan sunyi… ah. Aku tak tahu bagaimana kujalani hidup hari ini, sementara semangat hidupku terbawa dirinya pergi menjauh. Harapan tinggal harapan, laungan doa terasa sia-sia. Ney, beginikah sisa kenangan menemani hari-hariku ? baginikah akhir kebersamaan yang terenda kemarin ? oh… rasanya aku tak sanggup melihat kepergianmu. Aku tak mampu melihat meja dihadapanku terisi makhluk lain nanti. Masih mampukah aku berdiri tegak dalam keasingan ini ? ya Alloh, kautkan hamba bersama cinta-Mu…aku tak mau hancur didera bayangannya..
Sepotong ranting kering patah terhempas jatuh, menggunting temali ilusi dalam pikir sepi sekaligus mengagetkan. Aku jadi manusia dungu, menggagas yang maya tak acuh pada realita. Ini melemahkan jiwa dan menghina martabatku sebagai manusia.seorang perempuan yang telah diikat dengan sakral atas nama Tuhan, jelas aku takut laknat-Nya. Aku tak ingin terhisap khayalan semu yang meracuni akidah. Semua nyata bukan milikku, tak ada kewajiban bagiku menangisi potongan kisah dikehidupan ini. Semua yang datang akan pergi, apalagi jika bukan kehendak Illahi. Tak ada hak memiliki, walau sekuat tenaga mempertahankan. Aku takut jadi tertawaan, aku ngeri jadi fitnahan. Mungkin ujian ini belum akan berakhir untukku, sebab aku yakin Alloh masih mencintaiku. Lagi pula aku mesti sadar diri, meskipun aku mengalami metamorfosis jadi kupu-kupu tak akan mampu terbang menggapai mentari. Jadi biarlah semua berlalu lalang sesuka hati dalam kehidupan ini. Alloh Maha tahu besarnya kemampuanku. Pasti Alloh tidak akan menguji makhluk-Nya melebihi kemampuan.
Eksibis !
Entah mungkin mataku salah lihat atau ini urutan takdir Illahi yang diperlihatkan padaku.mempertontonkan kelebihan jadi kegemaran. Bukan Cuma selintas pandang, bahkan sudah sejauh mata memandang. Di lautan manusia, terbidik pamer arogansi. Aku tak tahan, jadi enggan bicara, setiap kalimat kutelan jadi sumpah serapah. Untuk apa lakukan itu, kesal ataukah emosi. Mungkin aku harus memaklumi, tabiat manusia selaras dengan ambisinya. Tidak dapat dipungkiri akan tercetus pada situasi marah. Egonya tiba-tiba muncul tanpa disadari. Disitulah nampak jati diri yang sebenarnya. Bahwa jabatan seolah jadi kewenangan untuk memperlakukan manusia tidak manusiawi. Korbannya aku ! inna ana sangat sakit. Oh…jadi benar eksibis itu sebenarnya pun merendahkanku. Banyak sinyalemen jadi referensi tambahan mengklaim persepsiku. Aku tak mau diperlakukan “semau gue”! aku bukan orang yang gampang ditipu apalagi dijadikan kelinci percobaan ! aku bisa menghancurkannya jika aku mau.

Rabu, 6 jan 2009.
Malam beranjak turun, belum larut. Kisaran berita malam ditelevisi enggan kuikuti, malasnya mata ini untuk sekedar menjadi saksi dunia. Mungkin rasa capek yang membuatku segera terlelap. tak ada duga tuk sebuah berita, ada kehidupan pun ada kematian. Ada harapan dan penantian yang tak berujung ternyata di seberang diri. Ah manusia memang menginginkan lebih. Ya kenapa mesti tanya padaku untuk sebuah berita yang enggan kuketahui. Apalagi efeknyapun aku tak akan pernah mencicipi. Ha.. bukankah itu yang pernah dikatakan manusia itu. Dengan kesombongannya mengucapkan tak akan berbagi, apalagi mengasihani orang. Yah.. semoga Alloh memberikan kesadaran dan penyadaran pada manusia yang lalim itu. Tapi disisi lain aku berharap agar mulutku tak lagi sembrono menghardik, apalagi memberikan rasa bangga. Sebab setiap apa yang aku ucapkan ternyata hampir jadi kecewa bagiku.

Minggu. 11 Jan 2009.
Aku ingin berdamai dengan diriku, setidaknya itu yang ingin kulakukan. Barangkali ini sangat sulit, perasaanku sakit dan terluka. Aku jadi tak punya perasaan, tak memiliki kelembutan. Entahlah mengapa ini terjadi padaku! Naluriku selalu mengatakan ada penghinaan yang paling dalam dibalik kebaikan manusia. Lalu banyak muncul kebiadaban didalam harta. Kesombongan manusia muncul dari titik ini, tak ada kompromi. Atau mungkin itu yang sering kulihat ? ambisi menjadi kaya tanpa nurani, ambisi menjadi orang dihormati karena banyak materi. Ironos dengan diriku yang hidup Cuma sebatas bisa makan dan numpang tidur dalam dunia ini. Selebihnya kalau bisa aku ingin menjadi orang yang bisa menolong orang lain. Bagiku kekayaan adalah impian yang tak pernah berakhir. Belum pernah menikmati rasanya jadi orang kaya, apalagi memiliki harta berlimpah. Namun begitu aku bersyukur dapat cinta dari suami yang sangat tulus. Aku tahu bagaimana keinginanku untuk menjadi istri yang memiliki materi berlebih, memiliki barang mahal yang dapat kubanggakan. Tapi takdir Illahi menentukan lain. Tak ada orang tahu mau menjadi apa diriku besok jika aku ngoyo tak mau peduli dengan orang lain, tak mau berbagi dengan sesama manusia. Apakah aku akan menjadi budak dari keinginan yang mungkin tak pernah terwujud ?! ya nyatanya hingga detik ini Allah belum menghendaki memberikan harta yang berlebih. Aku sadar semua itu tak pernah dapat terkejar. Aku pun mengerti usaha maksimal yang telah dilakukan suamiku, nyatanya tetap hidup pas-pasan. Mungkin Alloh hanya menggariskan hidupku seperti ini, ataukah ini belum berakhir dan aku harus menunggu esok yang mungkin lebih baik. Semua kupasrahkan pada Mu ya Robie… yang terpenting untukku adalah cinta kasih suamiku dan anakku.

Menyapa bahagia, memadamkan senja diletup duka. Teriring deras hujan, redup mentari. Usai hari ini tanpa ucapan dan sehelai kata-kata. Esok aku tak tahu hariku akan jadi apa, seperti keinginan hari ini yang selalu saja terjelma dalam rasa malas. Kering pikiran membuatku tersa lelah, apalagi setiap detik nyaris terburai dalam angan yang terpisah dari diri. Mana ada manusia mengingatku untuk sekedr berbagi jika semua sibuk mengurusi diri sendiri. Seperti terlempar dari udara jauh terbang tak tentu arah, seperti itu pula rasa yang terkandung dalam badan. Ini pertanda aku mulai menerima rasa sakit yang kadung memasuki jaringan hatiku. Bukankan artinya aku harus mulai mempersiapkan hati untuk menerima rasa sakit dari pikiran yang berselipan ? padahal bukankah hati kita sudah lama sekali jauh terpisah ? untuk apa tersisa harapan yang tak berujung ?
Mari kita simak hari esok, akankah tertinggal bersama kenangan kemarin atau justru tersambung jadi cerita yang tak berakhir.

Alloh mentakdirkan dan aku menerima. Hari itu tak ada, ia masih duduk ditempat semula, masih dikerumuni lingkaran suasana sediakala. Sesekali aku bernapas lega, namun berkali-kali harus menelan ludah yang teramat pahit. Aku berasakan ujian yang diberikan Alloh belum akan berakhir, atau mungkin tidak akan berakhir. Harapan cerita usai dipenghujung tahun ternyata masih ada diawal tahun. Melihatnya lagi dalam kurun waktu yang lama adalah penyiksaan yang menggerogoti hati. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali bersyukur dalam diam. Mungkin kehidupan ini memeng dipenuhi kemunafikan, banyak peristiwa yang saling terkait, banyak duka yang berkelindan, tapi semua jadi kumpulan rupa yang penuh kepura-puraan.

Senin, 19 jan 2009. Sg
Aku jadi berfikir, salah dan dosa apalagi diriku, mimpi apa aku semalam, masa sih jadi kelinci percobaan ?! emang karakter kali ya, manusia satu itu tak bisa lagi dipercaya omongannya, tak bisa dipercaya kelakuannya. Memangnya aku heran dengan semuanya. Aku jadi kembali salah tafsir, kembali salah persepsi, selama ini tak pernah aku berharap terjadi peristiwa macam itu. Belum pernah terlintas dibenak sekalipun kejadiannya. Tolonglah Tuhan, jadikan dia manusia yang menyesali perbuatannya, jadikan dia manusia yang menyadari kesalahannya. Pada siapa lagi aku harus berkata dan mengadu, jika tak ada lagi manusia yang bisa kupercaya selain kepada Mu Ya Robi....

Rumahku istanaku, bukan kata basi. Pernah sekali aku ingin meninggalkannya, pernah terpikir berpindah sekedar mencari kehidupan yang lain, tapi semua tak pernah terwujud. Nyatanya aku tetap berada di dalamnya dengan kedamaian dan cinta yang tak pernah mati. Dia jadi saksi berbagai peristiwa, jadi saksi kepalsuan manusia. Aku heran kenapa dikedamaiannya tak menyimpan ketulusan ? padahal aku membangun dengan jerih payah, membangun dengan sakit dan prihatin. Ini bukan seutuhnya warisan leluhur, ini bukan sepenuhnya pemberian nenek moyang. Aku heran ada apakah didalamnya, mungkinkah lebih banyak setan ketimbang manusia yang jadi penghuninya, sehingga banyak hal-hal aneh yang selalu saja datang dan pergi tanpa kusadari. Selalu saja ada cerita yang sama dengan manusia berbeda. Oh, aku tak mau lagi membuka pintuku untuk siapapun, kecuali ketulusan dan cinta abadi. Semoga orang-0orang yang mendholimi rumahku akan menderita seumur hidupnya, aku ingin melihatnya Ya Alloh, aku ingin menyaksikannya. Aku menunggu Ya Robi, ya Karim…

Ucapan terimakasihmu adalah pemaksaan yang tak pernah kukehendaki, atas hal memalukan yang Cuma diketahui Alloh. Atas dosa yang harus kau sesali, bukan penghargaan sekedar takut jatuh gengsi. Apa kamu pikir sudah menang dalam masalah ini atau kamu lagi mikir ketololannmu itu ? bukankah kamu mempermalukan diri dihadapanku dan sengaja membuatmu jatuh harga diri. Esok atau lusa ada sua itu pasti, masihkah ketololan akan dipertunjukkan padaku ? ya semoga kamu nikmati semuanya, semoga ujung bibirmu jadi kelu dengan penyesalan yang tak kunjung padam.

20 jan 2009, selasa
Mulai jenuh dengan janji yang tak terwujud. Aku tahu perasaan suamiku, betapa sangat jengkel dengan kejadian ini. Nulung tapi kepentung ! begitu tepatnya. Kenapa masih juga dari orang-orang yang kupercaya, temanku katanya. Temen sejati mana yang harus kupercaya, aku tak tahu. Kenapa semua yang kuanggap baik tak pernah nyata. Kenapa yang kuanggap dapat dipercaya malah memanfaatkan kepercayaan ini. Aku sungguh heran, jadi manusia tak pernah ada rasa syukurnya, jadi makhluk Alloh bahkan tak yakin akan kekuatan-Nya. Inikah manusia yang jadi sahabatku? Oh Tuhan kemana lagi aku harus mencari kebaikan. Ya Robi… sadarkan mereka…

Bbs, minggu 25 Januari ‘09
Pria, Siang itu Hatiku tergolek lemah menatapnya pergi menjauh. Punggungnya seakan menandakan kehilangan bagiku. Sesuatu yang lain terselip dihatiku, belum terbangun tapi ku takut hilang. Kenapa dia pergi dengan dirinya? Kenapa aku jadi dungu ??? mengharap milik orang lain !
Disini Pertama kumelihatnya, dan berkenalan. Seorang pria matang dan simpatik. Siang itu matanya menatapku tajam dalam degup jantungku. Senyum yang sesekali berkembang dan santun dibalik sentuhan jemari kulewatkan karena ada rasa simpati dan cinta.
Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawa disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutahu sejak lama, siapa dirinya. Kutahu banyak kisah cintanya, tapi aku tak peduli. Aku tahu dia beda, kuyakin persepsiku tidak salah. Aku jadi pertama kali dalam hidup perkawinanku tersentuh ketidak seimbangan nurani. Aku jadi mengkhianati mereka. Mengkhianati ketulusan persahabatan dan perkawinan. Hingga dia kupanggil Honey. Ya… ney.
Dalam keraguan aku tak berdaya, makin tak berdaya ketika kutahu dihatinya ada orang lain. Hatiku tertoreh pedih, menyisakan tangis yang hingga kini menemani hari-hariku. Aku tak kuasa merobek kenangan di lembar kehidupanku bersamanya. Ini tidak biasa !
Sesuatu yang selalu kujaga dan kuanggap dosa besar jika berada dalam kerung perselingkuhan. Dan tiba-tiba terjelma dalam kehidupanku. Sebelum bertemu dia, aku tak pernah berjalan limbung, tak pernah ada rindu menggebu. Semua Cuma teman dan sahabat. Tak ada rasa lain apalagi getar aneh. Tapi kini aku merasakan getar aneh ini, dan tak kuasa menghindari pula. Aku tak bisa menghilangkannya.
Mungkin tak kan ada yang pernah tahu jika antara kita pernah ada rasa lain, sebab aku akan menyembunyikan dalam palung hatiku yang terdalam. Aku akan jaga semuanya untuk kebahagiaan dan kedamaian kita, sampai takdir Alloh menentukan lain. Aku tidak takut pada manusia tapi aku ngeri murka-Nya. Sedalam apa cintaku padanya, rasanya mustahil akan jadi kenyataan. aku tak mau mengorbankan perasaan orang lain, biarkan aku saja yang korban perasaan.
Aku jadi merasakan tulusnya mencintai, meski tidak bisa memiliki dan dimiliki, tapi aku mencoba bahagia ketika kulihat dia bahagia. Aku pun ikut menderita ketika dirinya dalam kesedihan.
Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan dia tak meninggalkan hatinya. Karena
keangkuhannya padaku. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta?? Mengapa dia?? Mengapa cinta??

26 Jan ’09, senin. Gong xi fa cay
Aku berfikir, Ney lagi bahagia dengan yang lain. Tapi siapa yang lain itu, masih jadi tanda tanya bagiku. Dia tak pernah mau lagi menghubungiku sejak peristiwa siang itu.
Siang itu, aku seperti tak sadar diri, entah ada apa didalam sini, hati ini, jiwa ini. Bukankah aku tak pernah ingin mewujudkan impianku bersamamu? Tapi kenapa kesempatan itu datang tak terduga !?
Kehadiranmu bukan untukku, aku tahu itu. Perasaan malu dan bersalah selalu menghantuiku, apalagi jika kuingat penghindaran yang dibarengi ketakacuhan membuatku terhina. Betapa tololnya aku!!! Aku berpikir seakan kedekatan itu sudah kumiliki. Ternyata salah besar. Tidak pernah terpikir dalam benak akan harga diri yang semestinya kujunjung tinggi.
Siapa diriku? Aku tak tahu lagi.
Kepergiannya membuatku terasa asing dan penyesalan terdalam. Bukan menyesali kepergiannya, tapi tingkah yang tak kusadari, polah yang berlebihan. Moral yang tak lagi tertata, ini membuat hidupku kacau balau. Sekalipun rasa berasa beraduk, bahagia dan sakit memilin batin aku harus tegar, bahwa peristiwa sesaat itu meski ku rejam jadi butir-butir mimpi yang tak akan terulang kembali dan kumatikan di terbit fajar pagi.
Kemarin pertama kali aku melihatnya kembali. Dimataku terlihat dingin hatinya. Senyap tatapnya, sinis bibirnya. Genggam tangannya menjauh tak sehangat dulu. Mungkin aku dianggap sampah, barang sisa yang tak berharga. Tapi aku terima semua ini, terlanjur menyadari betapa rendahnya aku saat itu. Hantu bukan hal menakutkan bagiku tapi peristiwa itu lebih menghantuiku. Persepsi apa yang terlanjur ditorehkan padaku mungkin lebih menakutkan ketimbang hantu di siang bolong.
Sekarang aku tak lagi bisa tersenyum meski sangat kecil. Terjadi tarik menarik antara ilusi dan realita.
Dan kenyataannya aku memang harus mengubur kenangan bersamanya.
Terimakasih atas simpatimu honey, berpikirlah bijak bahwa iman manusia kadang berubah-ubah, dalam kedewasaan belum tentu kita dapat berpikir dan bertindak bijak, dalam cinta pasti ada nafsu, dalam kesucian dan kelembutan cintapun mampu melahirkan dosa.
Biarlah beban ini kutanggung sendiri, jalani terus hidup dan cintamu seperti kau mau. Jangan pernah lihat diriku sebab dalam diri ini Cuma ada senja yang temaram.

jan ’09, sabtu
kutinggalkan dirinya dalam rusng itu, hstiku sudah mulai terbujur kaku. Tak ada lagi getar aneh mendera, atak pula ada rasa ingin berlama-lama disisinya. Bahkan aku tak ingin sekedar mengucap kata selamat tinggal. Semuanya sudah seperti sediakala. Aku tak tahu perasaannya mungkin sama saja, mungkin dirinyapun enggan aku berlama-lama terlihat di depannya. Ya sudahlah… seperti buah duren yang membuatku nek, seorang menginginkan buah itu untuk mengganjal perutnya yang bengkak. Bener kata temanku buah itu akan jadi tumpukan kolesterol di tubuhnya. Eh… emang gak bisa beli durian ? lah boro=boro beli durian, mau nengokin si sakit saja mau ngutang. Emang juragan duit atau nyetak duit sendiri kali. Aku pernah bilang gaji doble gardan kok masih mau ngutang apa gak salah tuh ? kalau dia malu ya mestinya jangan lagi ngomong masalah utang. Kalau tahu diri ya mestinya tak usah cari sensasi ! mengherankan memang manusia, kadang bisa jadi malaikat, kadang dia bisa jadi setan. Tapi aku benci manusia berhati setan macam dia, memenfattkan kedekatan untuk mendapatkan sesuatu. Emang aku bisa dibohongi ???

kembali dilantik jadi anggota ppk, melelahkan dan menyakitkan mendengar honor yang akan diterima. Sangt kecil dan tidak relevan dengan pekerjaan yang akan dilakukannya. Dari 5 th yang lalu tidak ada perubahan, tidak ada peningkatan, entah bagaimana cara berpikir pemerintah, apa tidak bisa meluangkan anggaran untuk kepentingan demokrasi atau mungkin kpu nya sendiri yang tidak bisa mengkondisikan untuk membela kepentingan anggotanya di tingkat bawah ?

rabu, 18 Pebruari 2009.
Aku tahu betapa keinginan putraku untuk mendapat pekerjaan meskipun terasa berat untuk melakukannya. Aku tahu Alloh Maha Penyayang pada makhluk-Nya. Anakku disayangi-Nya, dilindung-Nya dan selalu kumohon untuk tidak pernah lepas dari ridho-Nya.
Aku ingin hari ini awal yang baik bagi putraku, sesuatu yang jadi idamannya sudah diambang pintu. Mendapat kesempatan yang tidak pernah ada dalam sejarah diriku. Pekerjaan ini mudah-mudahan akan digenggamnya dan menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam hidupnya. Aku yakin anakku bisa bertanggung jawab dengan pekerjaan yang diembankan oleh dosennya yang konon sudah seperti ayahnya.
Maafkan mama tidak bisa memberikan yang terbaik buatmu tapi paling tidak doa mama tak lekang sepanjang hayat. I love you baby. Good luck !

Kupilih jadi seorang ibu lantaran aku harus punya penerus dinastiku. Aku juga menginginkan di masa yang akan datang hidup anakku kecukupan dan memperoleh penghargaan dari sesama manusia dan mendapat simpati serta martabat yang baik dimata manusia dan mendapat hidayah yang lebih disisi Alloh. Biarkan aku sekarang berkorban untuk masa depan anakku dengan menjadi manusia yang tak memiliki arti apa apa selain duka dan didholimi orang, tapi aku tak pernah menginginkan anakku mendapatkan perlakuan yang sama seperti diriku. Mungkin kesalahan masa lalu yang kini menjadi cermin buruk dalam diriku, tapi biarlah ini jadi milikku sendiri dan semoga Alloh tidak pernah mengaitkan dengan putraku. Betapa masa lalu telah memperburuk kepercayaan dalam diriku untuk berjuang dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku tapi langkahku tersendat sebab aku yakin cemooh akan selalu menusuk hidungku. Aku takut dengan peristiwa yang akan terjadi jika aku berani mengungkap masa lalu. Aku juga tidak ingin merobek ketenteraman seseorang apalagi sang penguasa. Aku harus mencari perlindungan diri dan menyimpan semua yang pernah terjadi. Bukankah hati wanita adalah samudra terdalam untuk menyimpan rahasia ? satu satu cara adalah diam dan menunggu apa yang akan terjadi. Dan aku selalu ingin melihat kekufuran itu terungkap di depan mataku sehingga aku bisa lega melenggak tanpa harus merasa salah dan kalah. Tentunya semua kupasrahkan pada yang kuasa yang memberiku takdir ini sebagai jalan hidup yang harus aku lakoni.