Pria, Siang itu Hatiku tergolek lemah menatapnya pergi menjauh. Punggungnya seakan menandakan kehilangan bagiku. Sesuatu yang lain terselip dihatiku, belum terbangun tapi ku takut hilang. Kenapa dia pergi dengan dirinya? Kenapa aku jadi dungu ??? mengharap milik orang lain !
Disini Pertama kumelihatnya, dan berkenalan. Seorang pria matang dan simpatik. Siang itu matanya menatapku tajam dalam degup jantungku. Senyum yang sesekali berkembang dan santun dibalik sentuhan jemari kulewatkan karena ada rasa simpati dan cinta.
Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawa disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutahu sejak lama, siapa dirinya. Kutahu banyak kisah cintanya, tapi aku tak peduli. Aku tahu dia beda, kuyakin persepsiku tidak salah. Aku jadi pertama kali dalam hidup perkawinanku tersentuh ketidak seimbangan nurani. Aku jadi mengkhianati mereka. Mengkhianati ketulusan persahabatan dan perkawinan. Hingga dia kupanggil Honey. Ya… ney.
Dalam keraguan aku tak berdaya, makin tak berdaya ketika kutahu dihatinya ada orang lain. Hatiku tertoreh pedih, menyisakan tangis yang hingga kini menemani hari-hariku. Aku tak kuasa merobek kenangan di lembar kehidupanku bersamanya. Ini tidak biasa !
Sesuatu yang selalu kujaga dan kuanggap dosa besar jika berada dalam kerung perselingkuhan. Dan tiba-tiba terjelma dalam kehidupanku. Sebelum bertemu dia, aku tak pernah berjalan limbung, tak pernah ada rindu menggebu. Semua Cuma teman dan sahabat. Tak ada rasa lain apalagi getar aneh. Tapi kini aku merasakan getar aneh ini, dan tak kuasa menghindari pula. Aku tak bisa menghilangkannya.
Mungkin tak kan ada yang pernah tahu jika antara kita pernah ada rasa lain, sebab aku akan menyembunyikan dalam palung hatiku yang terdalam. Aku akan jaga semuanya untuk kebahagiaan dan kedamaian kita, sampai takdir Alloh menentukan lain. Aku tidak takut pada manusia tapi aku ngeri murka-Nya. Sedalam apa cintakunya, rasanya mustahil akan jadi kenyataan. aku tak mau mengorbankan perasaan orang lain, biarkan aku saja yang korban perasaan.
Aku jadi merasakan tulusnya mencintai, meski tidak bisa memiliki dan dimiliki, tapi aku mencoba bahagia ketika kulihat dia bahagia. Aku pun ikut menderita ketika dirinya dalam kesedihan.
Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan dia tak meninggalkan hatinya. Karena keangkuhannya padaku. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta?? Mengapa dia?? Mengapa cinta??
Bbs, 25 Januari ‘09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar