Selasa, 01 September 2009

R O H
Windu set

Terinspirasi dari Buku Perjalanan Roh Oleh Ibnul Qoyyim.
´ku pinjam kehidupan Pras sahabatku.
“Untuk itu sisakan maaf untukku…”

“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” Kata ustadz Amir, kemarin. Aku tahu, rasanya berkali kali kubaca pada ayat Al-Qur’an. Perasaanku ngeri membayangkan mati. Sendiri ditimbuni tanah jadi santapan cacing. Kita pasti akan mati tinggalkan semua isi dunia, baik kita cintai ataupun benci.
“ Apakah mati itu ? kepunahan mutlak atau sekedar roh dan jasad yang berpisah, kalau Cuma roh dan jasad yang berpisah lalu bagaimana kelanjutan masing-masing ?” begitu banyak tanya lindap dibenak pada peristiwa gaib itu. Ini keyakinan untuk berhati-hati pada kehidupan menyongsong misterinya ajal. Apakah manusia masih punya perasaan jika roh dan jasad kelak berpisah ? sungguh dungu pertanyaan ini, belum ada orang mati kembali dan menjawab! dan sahabatku Pras Tio yang beda keyakinan menjawab :
“ Roh itu kekal Nik… jadi orang hidup sama dengan orang mati, tetap punya perasaan. Bisa bahagia juga bisa menderita. Coba kamu pikir Nik, apakah kita hidup dikendalikan jasad dapat melawan perasaan ? apalagi orang mati jiwanya bebas dari kendali jasad, tentu punya !
“ Roh itu kekal Nik, roh itu kekal Nik ! maut tidak berarti musnah dan lenyap, ia hanya pindah alam.” Kata-kata Pras Tio semalam membuatku takut. Kelak kembalinya roh ke jasad mungkin sama sakitnya dengan dipisahkannya dari jasad, apalagi untuk menerima ujian dan pertanyaan-pertanyaan dalam kubur ! Astaghfirullah
* * *
Pagi berkabut saat kami menapak diparkiran rumah sakit, bersama keluarga Pras Tio, si kok1 May dan en tiu2 Cwan, en sao3 Lany dan gege4 Bram Tio. Si-i5 Yeni meneleponku subuh tadi mengabarkan Pras dibawa rumah sakit. Aku kaget, semalam ditelepon Pras sehat-sehat saja, atau ia kambuh lantaran kurang tidur, ataukah ia terganggu obrolan semalam tentang kematian. Entahlah… Sepanjang jalan berlompatan tanya dibenak, bergelut sangka dibatin, jika benar akibat cerita semalam, aku bersalah telah membebani pikirannya. Maafkan Pras! Terburu kami menapaki tangga, langkah kami berkejaran saling mendahului menyusuri koridor.
* * *
Diambang pintu, encim Hwie mamah Pras menyongsong, memelukku erat-erat. Mata tuanya kuyu, nampak tak bisa menyembunyikan kepedihan, sebentar-sebentar air matanya disapu punggung tangan. Aku tahu perasaan seorang ibu dan kucoba kuatkan hatinya.
“ Encim tabah ya, Pras kuat, semoga Tuhan menolongnya.” kurengkuh pundaknya. Betapa lelah nyonya tua ini dipelukanku, kepalanya nyaris dipenuhi uban terkulai lemas dibahuku, tangisnya pecah encim Hwie bicara sambil sesenggukan.
“ Nik… Pras mungkin sudah tidak bisa tertolong kali ini, kata dokter kankernya sudah menjalar ke hati, semalam susah sekali bernafas… aku takut Nik…”.
Trennyuh menyeruak disudut hati. Duka seorang ibu yang tahu akan kehilangan buah hatinya, anak kesayangan. Aku yakin pedih hatinya tak terhiburkan oleh apapun bahkan seluruh harta didunia, cinta macam apapun atau bahkam pelawak paling konyolpun. Aku tahu kedekatan mereka. Ikatan batinnya sangat kuat. Apa yang dirasa Pras pasti dirasa pula. Dan kedekatan ini pula pernah mengantar Pras membicarakan hubungan kami pada papahnya. Sayang encim Hwie gagal. Suaminya tak terpengaruh, sekalipun dengan ancaman. Istri yang patuh ini Cuma tertunduk lesu ketika keputusan suami mengiizinkan kami hanya boleh sebatas sahabat. Alasannya beda keyakinan. Katanya tidak bisa bahagia! meski batin ini menolak, kami tak memaksa. Bersama lewatnya waktu kami berbijak menghormati keputusan itu. Memaksa iklas. Benar-benar seperti kepasrahan awan yang rela tanpa daya menjadi titik titik air hujan jatuh dihisap bumi. Tapi sialnya kami bagai bulan dan mentari, sama-sama menepati janji.
Pras berbaring pucat, bibir tipis yang biasanya mengembang merah dilaput senyum jadi dingin memutih. Matanya terpejam, bola hitam yang biasa berpendar tersimpan rapat. Dadanya turun naik pertanda kehidupan. Selang dan jarum infus menancapi tubuhnya. Membuatku sedih. Rasanya ingin kubuka selimut itu dan mencabuti semuanya. Ah, tak mungkin, itu berarti membunuhnya! tapi apakah selang-selang itu mampu menghidupkanmu Pras? aku tahu rasa sakitmu. Kamu tak akan begini jika Cuma sakit biasa.
* * *
Ketenangan Pras membuatku bisu. Berharap Pras membuka mata, melihatku disisinya sesaat saja tapi sia-sia. akhirnya diam dan do’a. Sekelebat ingatanku meloncat dikurun waktu, saat Pras pertama kali sakit dan divonis menderita kanker usus besar oleh dokter yang kini justru memvonis mati. Padahal ia sudah jalani operasi diluar negeri kenapa justru jadi menjalar ke organ lain. Hati! sungguh mengerikan.
Kenapa harus Pras ?? pola hidupnya baik dan sehat, tidak menyentuh rokok, minuman beralkohol, makan dan tidurnya teratur. Atau mungkin ini ujian, peringatan, pelengkap anugrah atau bisa jadi musibah. Yang jelas bukan akibat perbuatan Pras. Secebis cerita mengalir akibat ulah orang tuanya. Usaha dagang papahnya menghalakan segala cara mengotori tubuh anak-anaknya. Pras sakit, seorang kakaknya bahkan harus dikurung di RSJ. Tapi si kok May beda, ia cerita sakit para keponakannya diyakini berhubungan dengan roh leluhur. Ada kelalaian, janji yang tidak ditepati papah Tio. Tindak tanduk tidak semestinya pada yang gaib. Tapi itu prasangka, pastinya tergantung pada penerimaan yang melakoni. Aku disini terdorong simpati, penghormatan dan sebagian kasih sayang dari orang dekat, lainnya untuk mendoakan agar Pras bisa sembuh. Dan akupun masih dianggap calon xifu6-nya meski mereka tahu keberadaanku sekarang.
Di kursi dekat kepala Pras, kutaruh pantat pelan, mencoba memanggil namanya.
“ Pras…, ini Ni’mah…” diam tak ada respon apapun.
“ Pras…. ini Nik “ kuulangi dekat telinga hingga bibirku nyaris menyentuhnya
“ Pras… kau dengar aku..” ia tetap tak bergeming, hingga berkali kuulang.
Sedih dan cemas mulai menyergap batinku, mungkinkah Pras tak lagi bisa mendengar atau ini yang disebut koma. Aku tidak tahu. Belum pernah kurasakan ini. Menghitung waktu dalam gelisah. Berlama-lama tak enak hati, aku bukan satu-satunya orang yang berkepentingan bezuk, sementara meninggalkanpun tak tega, harapku lihat Pras membuka mata meski sejenak. Akhirnya kuputuskan keluar diam-diam. Selagi hendak berbalik kulihat jemarinya bergerak dan bola mata itu…ya bergerak meski tetap terpejam. Cuma sekejap lalu diam ! jantungku berdegup kencang apakah Pras dengar bisikanku ? Getar haru menyelimuti batin, begitu kuat hingga rasanya ingin sekali meraih jemarinya dan menggenggam erat-erat. Namun ketika tanganku terjulur sepersekian inci, kekuatan hebat menyambar kalbu untuk menarik kembali. Aku terkesima….Subhanallah !
Batinku terbentur. Antara keinginan dan keyakinan nyaris tak terkendali, bak kekuatan sihir, terperangkap dalam situasi melankolik, Sesaat yang dilematis. Keinginan telah jadi nafsu, nyaris meluluhkan keyakinan yang jadi doktrin.
Aku bukan mahramnya, juga bukan tenaga ahli yang dihalalkan karena profesi. Apalagi jadi seorang istri yang dinikahi atas nama Tuhan. meski tak ada yang tahu, namun Tuhan Maha Tahu. Pras juga ngerti. Ni’mah yang sekarang bukan Ni’mah dulu, Perkecualian atas nama Tuhan jadi pertarungan batin terseru dalam diam. Jadi air mata pada akhirnya.
“ Maafkan aku Pras….” bisikku lirih meluruh sedan dirongga dada. Aku harus kuat toh selama ini berhasil jalani peran sebagai sahabat, menemukan cara untuk berbagi, menghormati privasi untuk menyadari keputusan takdir. Kedekatan ini cukup. Menemani hari-hari Pras yang terkurung dalam sakit, menyemangati untuk bertahan hidup bagiku suatu keberuntungan. Menenangkan Pras disaat keputusasaan mendera jiwanya hingga ia jadi bahagia dan bersyukur bila kukatakan bahwa “ sakitmu akan mengurangi dosa-dosamu.” .
Sekelebat kejadian dijaring ingatan, saat aku pamit menikah melanjutkan kehidupan bersama lelaki lain, ia menitikkan air mata. Sedih, menghela nafas panjang, terhisap keberadaan kami berdua. Tak bisa kulupa wajahnya yang sendu, bibirnya terkatup senyumnya mendadak sirna. Pras bilang ia belum siap kehilangan tapi mencoba ikhlas. Ucapanya naïf tanpa daya “ mencintai tidak harus memiliki “. Ya kalau tidak begitu mau apa, hubungan ini mau kemana, pacar bukan kekasih juga tidak. Menyayangi dan memperhatikan toh bisa dalam persahabatan. Idealisma papahnya seperti takdir tidak kenal kompromi. Kenyataannya Pras patuh. Nunggu papah Tio mati ?! memangnya kita tahu sampai kapan. Papah Tio mungkin benar apalagi anaknya sakit-sakitan. Jadi inilah yang terbaik. Entah kenapa saat ini melihat Pras berbaring lagi hatiku sedih. Seperti senja yang perlahan turun, lengang dan lampus. secebik tanya lindap diruang batin, apakah kata dokter benar Pras akan mati ?
Bayang-bayang kematian kembali melela di kepala. Tetes-tetes infuse dan wajah pucat Pras membuat kudukku merinding, dinding ruang biru putih memberiku kesan asing. Senyap dan kosong. Perasaan takut menyergap tiba-tiba. Benar kata psikolog dari barat bahwa “ rasa takut membuat orang percaya pada hal yang buruk“ kuyakinkan diri bahwa Pras masih benar-benar bernafas. Ya …Pras masih bernafas kini tapi tak tahu sesaat nanti.
Isyarat ketukan pintu pertanda waktu bezukku usai… encim Hwie masuk. Ibu bijak ini kupegang tangannya, kuajak doakan Pras.
“ Encim…, kita doakan Pras “ merapat ke tempat tidur, digenggamnya jemari yang lunglai ditubuh beselimut biru itu.
Mengikuti gelombang rasa kebersatuan ibu dan anak, terasa lesatan kebimbangan batin seorang ibu menjangkau pada Sang Khalik dirinai doa dan air mata.. Memohon dan berharap sebagai makhluk yang melahirkan kedunia, atas nama cinta kasih yang dikuasakan-Nya. Kurasakan getar-getar kalbu yang membubung melangit, lalu terpuruk diharibaan-Nya. Kepasrahan tiada tara meluluhkan air mata. Tak ada doa lebih lembut selembut yang terucap dari bibir seorang ibu pada anaknya.
“ Ya Tuhan… aku titipkan anakku pada-Mu, sebab Engkaulah yang berhak memutuskan kehidupannya “ begitu lirih dan perih getar suaranya. Penyerahan takdir atas ketidak berdayaan manusia, walau keiklasannya samar. Totalitas yang jadi perdebatan batin sekaligus pengalaman baruku. Mungkin andai terjadi padaku akan kupaksa Tuhan tuk mengubah takdir. Menyembuhkannya, membuatnya hidup lebih lama dan beranak pinak. Meski pemaksaan tidak akan mempengaruhi Tuhan akan takdir-Nya. Dan akupun tidak bisa lagi merajut doa, cukup mendengar dan mengamini.
* * *
Kabar kematian Pras bagai petir menyambar di terik mentari, mengagetkan sekaligus membuat ragaku lunglai tak bertenaga. Lemas kehilangan daya. Banyak hal banyak peristiwa berwarna warni pernah kami lewati bersama. Kemarin kami masih beradu pendapat, berbincang berbagi rasa sekarang yang tersisa tinggal ngiang-ngiang ucapannya menjelajahi kepalaku dan mengisi rongga benak.
Ada kata-kata yang masih tersirat dikepalaku,
“Roh itu kekal Nik, roh itu kekal. Maut tidak berarti musnah, ia hanya pindah alam”. Aku mengingatnya, sebab itu cerita terakhir kami. Seperti jadi firasat. Kematian Pras !.
Tubuh Pras sudah terbujur kaku dalam peti mati warna coklat berlapis satin putih, dibalut setelan jas hitam kesukaannya. Matanya terpejam, kelihatan ada seulas senyum dibibirnya. Ia seperti bukan sesosok mayat, malah terkesan seperti tidur dalam buaian mimpi indah. Tenang dan manis.
Tak ada kalimat terucap, aliran rasa terkungkung perkabungan, doa-doa terlantun dibatin, terkadang jadi isak tangis dan sedu sedan.
Papah Tio dan encim Hwie tertunduk lesu pada sofa berornamen naga. Air mata duka membanjiri pipi encim welas asih itu, terlihat matanya membengkak. Baju goni biru yang dikenakan sebagai tanda berkabung basah didada. Papah Tio meski tidak berbasah tangis namun duka dimatanya tidak bisa tersembunyikan.
Kidung kesedihan meriung keluarga besar Tio. Pakaian goni menjadi symbol duka dan pernak pernik budaya tionghoa melekat ditubuh mereka. Pangkat-pangkat yang menempel dikepala dan lengan jadi pertanda, akan kematian keluarga. Aku jadi satu-satunya yang berbeda. Tapi hatiku sama berselimut duka.
Bau hio menyesakkan napas membuat pening. Melelehkan air mata. Duka yang memenuhi ruang, duka yang melangit.
Duka menyihirku untuk tidak berpaling dari wajah Pras. ada bau nafasnya mendadak melulur rasa, adalah bau ciuman di ultahku beberapa tahun silam. bukan aroma hio. Gerih dan magis. Rentik kepiluan melampih hati
Aku menyelinap menjauhi jasadnya. apakah roh Pras mampu melakukan itu… jangan-jangan ilusiku semata. Atau memang Pras masih belum ikhlas meninggalkan aku ? hasrat membara tak pernah bisa terwujud dialam nyata.
Menonton kesibukan para tetua, menonton pernak pernik budaya leluhur Tionghoa. Merasakan suasana religius Konghuchu atau Budhisme, menyisakan kekaguman yang aneh.
Seperti dalam film-film tradisional China. Penghormatan pada roh leluhur. Meskipun yang mati masih belia, harapnya di alam baka berdomisili di alam langit. Berbagai sesaji disiapkan untuk menghantar roh-roh menuju ke langit. Sepintas berita Pras akan dikremasi.
Oh ! kenapa harus di kremasi, bukankah masih banyak tanah kosong untuk didiami Pras. bumi masih cukup menampung seorang Pras Tio.
“Untuk mempercepat Pras sampai ke langit kealam baka !” kata suhu Chong dari sebuah biara. Sungguh menyedihkan, itu pikiran awamku yang tidak tahu adat kepercayaan mereka. Untuk mempercepat Pras sampai kealam langit, berkumpul dengan dewa-dewi sebagai makhluk adikodrat. Ah ya… apapun cara mereka itu hak asasi.
Diriku seperti kehilangan rasa, terbentur berbagai macam pikiran. Peristiwa yang terpampang di depan mata ini tak pernah kumengerti. Melihat Pras yang harus dikremasi tidak pernah terlintas diangan. mungkin ini jadi yang terbaik. Pras tidak menjalani sepi yang lampus, digerogoti cacing-cacing dan rayap. Pras akan langsung bertemu penghuni kahyangan para bidadari. Seperti kepercayaan dinasti papah Tio.
Kita toh hanya bisa menghormati keputusan keluarga Pras. sekalipun keinginan papah Tio banyak ditentang keluarga besarnya. Kita hanya bisa mendoakan saja. Mendoakan saja !
* * *
Langit mendung menaungi hamparan kota ini. Hampir setiap orang membicarakan kematian dan kremasi Pras. Sesuatu yang sacral tradisional akan menghantarkan prosesi perjalanan terakhir dalam kehidupan Pras. Semua orang penasaran. Iringan pelayat laiknya pawai kendaraan menghantarkan Pras ke crematorium.
Gedung putih di tepi pantai yang biasa dirundung sunyi jadi ramai,.jasad Pras diusung masuk. Aku berhenti pada persinggahan, bersama keluarga yang lain, menatap dalam pilu.. Bukan penasaran seperti mereka,
Seperti jadi kewajiban menghatar seorang yang berarti dalam hidup menuju tempat terjauh dari kehidupan ini. Kepergian dengan tiket tunggal. Pergi dan tidak kembali.
Sedih ditinggal mati memang biasa, tapi tabu menangisi kematian. Berkabung dalam kematian Pras menjadi sesuatu yang berbeda. padaku, mungkin atas nama cinta.
Aku bukan manusia eksklusif, agama tidak mengajarkan manusia untuk hidup secara kelompok yang hanya boleh bersosialisasi dengan kelompoknya. Sehingga menganggap orang lain atau etnis lain lebih buruk dari dirinya sendiri. Selain kata makhram dijadikan ceruk untuk memutuskan tali silaturakhmi, padahal kita punya tetangga dekat dan saudara-saudara jauh yang harus dipedulikan atas keberadaannya. Hubungan antar manusia sebagai makhluk Nya, untuk saling menyayangi dan menghormati.
Kata ustadzku taqwa bukan sekedar riyadoh batiniah saja tapi juga kepedulian terhadap sesama manusia. Apalah artinya kehidupan jika kita acuh tak acuh pada penderitaan insan lain. Yach….kepedulian dan penghormatan!.
Waktu berbias cepat, pintu krematorim mulai merapat. Kesibukan beralih lengang. Sekilas kulihat peti jenazah Pras dikelilingi gas berapi yang siap mengabukan.
Wajah-wajah pilu tergugu menatap gumpalan asap membubung lewat cerobong asap. Gemeretuk retakan kayu dan tulang belulang berbaur bau daging menyengat menusuk hidung meregangkan simpul-simpul syaraf. Terbayang lepuhan luka bakar terpecah-pecah, merah putih dan menghitam. Oh… serpihan sakit yang luar biasa. Didalam sana, ada jasad manusia yang pernah jadi kekasihku. Orang yang pernah mencintai dan memperhatikanku.
Cuma istighfar dan menarik nafas yang mampu kulakukan. Kepedihan ini menjelujuri diri. Perpisahan ini mengukir duka terdalam dihati sanubariku. Kakiku limbung tak kuat berdiri. Mataku jadi nanar, sekelilingku jadi gelap kelam, ribuan kunang-kunang bersliweran. Sunyi membumi menjauhi hamparan waktu, serasa sesuatu lepas dari tubuhku, mengambang ringan, tenang dan kosong.
Rohku terbang dipenghabisan jilatan api.
Aku seperti mengikuti perjalanannya. Roh-roh mengusung Pras meniti hamparan pelangi. Seorang bidadari kecil menuntun tangan Pras. aku Cuma melihat tanpa bisa berteriak.
Pras tersenyum menatapku. Senyum itu senyum keabadian. Makin menjauh dan lenyap ditelan mega.
Aku harus kembali ke alam fana Pras…tuk tunaikan kewajibanku sebagai makhluk-Nya…. Selamat jalan Pras…. kami akan menyusul kalian… dan kau Pras… akan tetap jadi kenangan abadi buatku.


Bobotsari, Minggu 8 Juni 2008.


Windu set
Si-kok : paman dari papah
En-tiu : bibi dari papah
En-sao : kakak ipar perempuan
Gege : kakak laki-laki
Si-i : bibi dari mamah
Xifu : menantu

Tidak ada komentar: