Selasa, 01 September 2009

PEREMPUAN DARI BUKIT SAMBENG
Windu set

Malam tak merubah lembaran daun, saat terasa kurun waktu lampau yang talah terlempar ditempat jauh tersembunyi hadir menghantui. mungkin telah kadung jadi nasib. Seperti udara yang tak mau berdiam dalam ruang gelap menjelajah tak tentu arah, semua terpeta dipikiran piciknya rinai perselingkuhan. yang kadang menjajah jauh dilubuk sanubari, bahkan mampu mengusik mimpi. kisahnya bukan cuma jadi lintasan peristiwa tapi jadi realita sejarah hidup seorang manusia bernama Sulinah.
Ibunya terlahir dari seorang selir. Konon, neneknya tukang cuci yang digundik sang majikan. Itu sejarah yang tak terpungkiri. Sudah kepalang jadi takdir, rona jahiliah masa silam terulang dikurun waktu. Mungkin dalam satu dekade atau bahkan mendinasti. dan ia hendak antisipasi diri agar keterlanjuran yang dianggap kaprah terpatah tak berulang
Sulinah bukan siapa-siapa, hanya sekilas nama perempuan Jawa kuno, perempuan desa lugu. Ia terlahir tanpa tahu siapa bapaknya, namanya yang melegenda diabad megapolis ini Cuma berawal dari kisah usang sejarah yang lagi dikeramatkan, dipot dan disuakan dijadikan panutan. Panutan siapa? mungkin para perempuan-perempuan berkepentingan khusus. Sejarah aslinya sengaja ditrik balik dengan upaya mampu memperbaiki sejarahnya. kebrutalan perselingkuhan. Biar para suami dianggap adil, bermoral, mumpuni dan tak mendholimi. sementara para istri tetap tersakiti.
Jadi perempuan yang nrimo dijajah lelaki, dan dijadikan kambing hitam sesama perempuan. Sulinah kecil terkucil, figur perempuan ndesa lembut dan penurut. Sehari-hari bergelut lumpur sawah sekedar beroleh sesuap nasi seteguk air. Jika saat ini, sebayanya mungkin lagi asik dari mall ke mall. Meski begitu ia beruntung. Di rumah kakek buyutku dianggap keluarga. Aku tak tahu peran si-emboknya selain sebagai pembantu. Kenapa ia bisa mendobrak sejarah disaat adat istiadat tradisional kolot dimaharajakan. Ia sangat berani dibalik wajah lugunya. Tidak tampak cerdas tapi langkahnya penuh perhitungan menjegal kawan dan memeluk lawan, sehingga akhirnya dia berhasil diselir kakek buyutku.
Ironisnya ditengah pergulatan nasib merantas kemiskianan, Diketidakmampuan dirinya menggapai martabat, ia hidup layak di keluarga bermartabat. Jadi duri dalam daging atau parasit pohon tinggi. Sulit digapai susah diraih. Dulu sang majikan perempuan menganggap penghisap darah justru di abad modern dinobatkan sebagai empower, merebut simpati dan pejuang.
Benar-benar loyal manusia membuat sejarah meski fakta terbalik. Jikalau Sulinah realis, apa ia mau dikonotasikan sebagai leluhuring lelembut, hantu atau kuntilanak bisa malih rupa berwujud-wujud ? Sulinah bukan Nyi Rara Kidul tapi kini melegenda di percaturan-percaturan, mimbar-mimbar diskusi bahkan menyimpati. Entah siapa memulai merenda kisah. Laki atau perempuan. Sama saja! Mereka berpikir bahwa wanita adalah makhluk canggih dalam memperebutkan harta dan tahta.
Sulinah jadi hero, bak super women, tak mati diantara tebaran kisah klasik, intrik, mistik dan laknat. Makam dan bekas tapak kaki yang sudah tak bertuan pun dikeramatkan. Riyadoh batin, ngadi saliro, pendekatan pada Sang Maha Wenang lewat upacara adat dan ubo rampai sesaji bak putri keraton. Hingga sulinah-sulinah lain kini mengeramatkan berharap terkena pancaran magis aura primadona antah berantah itu.
* * *
Sesayup nun… suara perempuan melantunkan kidung asmarandahana lembut memecah sunyi, berbaur aroma dupa wangi terbawa desau angin malam menyuak rumpun bambu disudut sudut kampung, Penduduk dusun terhenyak menyimak. Tebar Aroma dupa menghalusinasi, menghipnotis, membawa pikir ke alam ketenangan abadi. seperti mati suri, terhanyut larut…
Miranti lagi berhasrat, suaranya tak asing ditelinga. Gadis lugu anak pembantuku. Mengapa ia lakukan itu, ritual kuno yang nyaris dilupa warga dusun ini. Aku terhenyak kaget, siapa yang mengajarkannya? sejak jadi guru privatnya belum pernah kukenalkan ritual itu. Heran, pada siapa ia berguru.
Puluhan tahun kuajarkan ilmu yang kudapat di SD sampai perguruan tinggi. baca Qur’an dan ngaji, bukan memuja lelembut, tidak nembang untuk mengundang setan atau bidadari. Miranti satu-satunya bocah yang kupilih jadi pewaris ilmu manusia modern, kudidik berbagai ketrampilan rumah tangga dan Subo sito pergaulan Dia murid pertama home schoolingku hingga kudaftarkan ikut ujian mendapat ijasah satara SLTA. Aku bangga berhasil jadi tutor yang baik. Biar pembantu mereka sudah seperti keluarga. Buyutku mengangkat mbok Marliyah ibunya dari Lumpur hitam akibat kebejadan lelaki. konon dulu diperkosa priyayi dari desa tetangga. perjaka ningrat putra kepala desa, Nenekku bersimpati melindungi. Miranti lahir tanpa setahu ayah kandungnya.
Miranti anak jadah. Begitu kata orang ! bagiku anak jadah bukan biang keburukan. Ia tetap anak manusia yang harus diperlakukan sama. Bibit, bebet, bobot Cuma ada didunia fana. Dihadapan Alloh semua manusia sama, bedanya Cuma pada amalannya. Miranti nyaris sempurna. Manis, santun dan cerdas, ia amanah dan jujur. Inilah pertimbanganku menjadikannya saudara angkat. Aku ingin orang tahu bahwa pendidikan formal dan lembaran ijasah bukan satu-satunya modal meraih sukses. Gampang didapat dan murah saat ini, apalagi bagi orang berduit. Sedang amanah dan kejujuran sangat mahal. Aku ingin merubah imej bahwa kemiskinan penyebab kebodohan dan kekufuran. Justru kaya yang tanpa nuranilah penyebabnya.
Aku tahu penghinaan terhadap simboknya memunculkan kekuatan untuk balas dendam. Dan ku ajarkan cara balas dendam !
“ Lakukan dengan cantik. Bukan dengan cara bodoh !”
“ Bagaimana caranya mbakyu ?” “Mbakyu” begitu dia memanggilku
“ Tingkatkan harga dirimu !” aku mendokrin, dan Miranti mematuhi.

* * *
Pada satu moment. Mimbar bergetar ! ratusan pasang mata mendelik tak berkedip, menunggu saksikan sebuah peran. Untuk pertama kali Miranti naik panggung, nampak tubuhnya bergetar, kata-kata yang telah kuajarkan nyaris lenyap, keseleo lidah ! aku jadi nervous. Detik berikut ia menunduk, mulutnya komat-kamit. Semua menunngu, aku juga. Kusimak seksama gerak mulutnya. Meski lirih kudengar ia berucap: “Tendung tunduk rampai fatimah jika engkau hendak padaku sapulah hingga lehermu keatas” seperti sudah merasuki kalbu. Enteng dan fasih. Mantera yang menyihir, wajahnya jadi sumringah. Gelora keberanian merona. Penonton terpana tak berkedip dengan decak dimulut, kagum!. Ada kharisma terpancar dijilat sinar lampu-lampu neon. Rama-rama beterbangan mengelilingi. Takjub merontokkan sayapnya bak kerlip serpihan kertas warna warni menaburi tubuhnya. Aku merinding. Sedih dan takut, shahadatnya sudah impotent! Ya Alloh, ampunilah hambaMu ini. Bukan itu yang ku mau. Aku tersedak kaget. Miranti bukan berdoa yang kuajarkan tapi ia merapal mantera ! mantera dalam kitab kuno Nyi Sulinah ! kitab lelembut sang legenda bukit Sambeng.
Di momentum berikutnya, tanpa gentar ia berorasi:
“Aku perempuan desa yang terlempar dari gegap gempita percaturan politik. datang diantara gelap dan sunyi malam ingin bersama saudara-saudara. Aku ingin membawa pemberdayaan, mengusung segepok argumentasi untuk membenahi negara ini. Bukan darah merah yang kutabur tuk memerdekakan negeri ini, tapi kembang setaman kubawa untuk hiasi tanah air ini. Air suci dusunku akan jadi penghapus dahaga jiwa-jiwa nan haus kekuasaan. Aku terlahir dari kemiskinan, hingga tak punya janji apa-apa, tuk mengentaskan kemiskinan, apalagi menghapus biaya pendidikan, kesehatan yang nampaknya hebat dan wah! tapi semua itu Cuma mimpi sebab aku tahu untuk mendapatkan ilmu butuh sarana dan prasarana. Jer basuki mowo beo! jadi bohong kalau ingin pinter, sehat dan kaya Cuma bermodal diam dan menunggu berkah dari langit. Aku takut lidahku kelu jika ditagih hutang janji ketika diriku sudah menjadi wakil anda nanti. Kata-kataku yang semula jadi senjata bisa-bisa Cuma jadi tabungan hati, tabungan kemenangan. Aku tak ingin sekali kali berkelit dengan kata-kata yang sering jadi pemuas hati kini aku takut kelak anda datang mendemoku berbondong-bondong membawa bergerbong gerbong manusia untuk nagih janji. Lalu sambil ketakutan dan tidak berdaya aku Cuma dapat menjawab bahwa “ keinginan anda masih pada agenda utama”. Wah… apakah ini wujud kebersamaan ataukah penipuan ?
Aku tak ingin terlantarkan anda dengan omong kosong layaknya pisang berbuah semangka, omong gampang sayang tidak terwujud nyata. Bangaimana kita lihat tragedy kemiskinan melanda negeri ini, antri minyak goreng, minyak tanah, beras bukan lukisan aneh, hingga tragedy Pasuruhan pun jadi berita biasa. Apakah mereka yang berjanji mengentaskan kemiskinan ikut merasakan derita keluarga yang tertimpa petaka ? sungguh sedih kehilangan orang yang kita cintai akibat janji yang tidak ditepati. Aku tak mau saudara memunculkan sinyalemen-sinyalemen minir “apakah saat ini negeri ini masih merdeka ? kalau masih merdeka, siapa saja yang merdeka?” seperti kata seorang pakar yang mengingatkan bahwa, sangat disayangkan jika janji-janji yang sepertinya WAH, akhirnya tidak WOH ( tidak tumbuh dan tidak berbuah), justru bisa-bisa menjadi WOOO…jadi mari kita waspada dan selalu ingat, milih wakil rakyat tidak hanya karena simpatik, ramah tamah, kaya raya, apalagi janji yang muluk-muluk. Yang penting apakah mereka itu sanggup memberi bukti ?!
Riuh tepuk tangan mengakhiri kata-kata dari mulut perempuan desa itu. Semua nampak setuju pendapatnya. Miranti sesungguhnya pun punya janji tapi kini harus disimpannya. Ia tahu diri untuk melunasinya kelak.
Mengusung tontonan masa lalu dianggap sudah bukan jamannya. Baginya masa lalu sebuah palajaran, kini kenyataan dan mendatang adalah bayangan. Keyakinan yang mantap dan pengorbanan yang tulus serta rasa cinta terhadap sesama diyakini mampu mewujudkan impian yang tertinggal di bukit sambeng sana. Namun ia yakin dimana tempat asalnya disitulah harus kembali. Entah jadi wujud apa nanti, mungkin jasadnya tanpa roh atau Cuma jadi nama gang buntu yang Cuma bisa buat lewat sepeda kumbang. Ya paling tidak namanya pernah tertanam dibenak-benak dalam goresan tinta emas sebagai perempuan desa yang berhasil menyumbangkan pemikiran untuk dicontoh dengan adat leluhurnya meski hanya tergaris dalam sebuah dinasti yaitu babu.
Tidak dan jangan ! ambisimu yang terlindap dalam sanubari bukan itu. Aku tahu! kamu ingin punya martabat, jadi priyayi, jadi orang besar. Bukankah telah dicatat dalam agenda batinmu siapa saja yang mesti kamu jegal, yang kamu singkirkan, dan akan kamu penjarakan. Biar mereka tahu rasanya penderitaan, sakitnya dilecehkan. Termasuk ayah biologismu !

Tidak ada komentar: