Selasa, 01 September 2009

Kau tak tergantikan
Windu set
Setiap terbangun dari tidur
Mata belum lagi terbuka
Hatiku seperti terhempas
Ada yang hilang dari diriku
Ada yang terlepas dari sanubariku
Pada yang ada dan tiada
Jadi sepercik harap
Jadi seberkas impian
Meski waktu pergi dan berlalu
Kau tak akan terganti

Nuning, pertama kali aku bertemu dan melihat dirinya terkasan anak manja dan sedikit angkuh. Ia datang padaku bersama suaminya teman se SMA dulu. Pengantin baru saat itu. Aku ingat betul, wjahnya yang belia dan cantik tidak sebanding dengan usia temanku yang jadi suaminya. Usia mereka terpaut sangat jauh, boleh dibilang anak dan ayahnya. Tapi apaun itu sepertinya tidak mempengaruhi hubungannya sebagai suami istri. Jodoh . ya jodoh, memang bukan urusan manusia tapi takdir Illahi. Nuning sangat mencintai Iman suaminya. Padahal aku tahu siapa Iman yang telah menduda sekian lama. Trak record yang boleh dibilang jelek. Play boy dan amburadul.
Kehadirannya disiang terik membuatku kaget, apalagi dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Matanya bengkak memerah pertanda dia habis menangis.
“ Maaf bunda, aku datang untuk meminta nasehat.” Dugaanku terpatahkan. Nuning datang padaku dengan permintaan dan ketulusan. Dia bukan anak manja yang angkuh karena kecantikannya. Tapi seorang perempuan yang dirundung duka. Memelas sedih.
Impiannya menjadi seorang istri yang bahagia rupanya harus sirna atas keputusan suaminya. Temanku yang belum bisa berubah dengan keegoisannya. Laki-laki pujaan yang dicintainya dan dihormati ternyata memutuskan untuk berceraikan dirinya. Nuning merasa hidupnya nyaris berakhir. Baginya dunia teramat gelap, keberadaannya didunia tidak ada artinya. Mencintai laki-laki Cuma jadi siksa. Ya memang, laki-laki terkadang habis manis sepah dibuang. Tapi itu pada segelintir orang dan tidak pada orang lain.
“ Entah mengapa tiba-tiba seperti di tunjukkan Alloh untuk datang kesini. Bahkan ketika aku sholat malam wajah bunda yang ada pada lembar sajadahku.”
Ironis memang, tapi lebih ironis lagi ketika dia mempercayakan seluruh rahasia hidupnya padaku. Dan benar, semua rabaanku, prasangkaku tidak meleset. Artinya penilaianku pada manusia nyaris sering benar.

Tidak ada komentar: