Selasa, 01 September 2009

Entah mengapa aku sulit sekali dibohongi, apakah mungkin aku pembohong atau memeng sudah biasa hidup diantara kebohongan. Jujur adalah lebih nikmat, tidak ada rasa was-was, tidak ada rasa takut.
Penolakan nurani pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan dan kemudian akan menyerang diri sendiri jarang terantisipasi. Meskipun janji hati untuk tidak akan pernah terjangkiti kemunafikan sekecil biji sawi.
Hanya usaha tetaplah jadi usaha sedang ketentuan nasib jelas ada dipihak yang melakoninya. Mungkin Tuhan sudah bosan mengaturr ataupun menyadarkan kebohongan nurani. Lalu azab dipilih Nya sebagai peringatan bagi makhluk yang susah menepati janji.

Rabu, 4 juni 2008.
Mestinya lebih baik menghargai diri sendiri ketimbang mengharap dihargai orang lain. Pertanyaan atas substansi yang tidak terjawab dan bahkan cenderung melarikan diri jadi membuahnkan rasa benci. Siapa menghendaki pekerjaan dituntaskan ? siapa mengingini semua selesai dan lembur diadakan ? kita Cuma membantu bukan mencari sensasi ! tapi ketika bantuan itu justru membuahkan penyesalan diri, lantas apakah semua ini harus diakhiri ? ataukah ada sebuah pengingkaran membebani nurani atau ketakutan jadi nominasi. Jelas jawaban itu belum terbersit dalam pikir. Mari kita nanti hari esok. Hadir atau tersingkir !
Bilur-bilur kebencian mulai melela dikerat waktu, melaknati setiap sudut pertemuan. Setiap sentuhan jemari hingga jangat-jangat dipipi. Pada pendar detak jantung. Kemunafikan bukan lagi jadi alasan. Pada kebohongan yang dipertanyakan dan diupayakan. Akan kuhitung dari mula, ketika ada sebersit lara membenak, rentik pilu menyengat, bahkan lompatan rayu membekap. Sayang mulut itu tak pernah bisa bicara untuk mengungkap rasa, sayang jemari itu harus berhenti mengorek isi hati. Mungkin Cuma mata yang bisa jadi saksi atas ulah durjana. Tak ada lagi bintang diujung langit malam, tak ada lagi langit tembaga menghirup cahaya. Selamat malam dunia, selamat malam durga. Mimpi akan beralih rupa di esok pagi ketika embun jatuh ke bumi….. 23:57.

Selasa, 10 juni 2008.
Sudah pantas kita tidak lagi membebani diri, alih-alih suasana memeram rasa hati. Beriktikat baik terkadang jadi salah arti. Nelangsa memang ! tapi untuk menghibur diri menganggap memiliki ternyata justru melaknati hati. Rela tapi belum ikhlas. Perasaan masih terbentur suasana hati. Tapi untuk apa? Belajar sabar ? ah… sudah terlambat untuk terus bersabar. Menyadari situasai kondisi ? ah… sudah bukan waktunya lagi. Mending menjajagi kata hati. Pergi dan berlari dari bayan-bayang. Menyongsong hari dengan pribadi yang lain menggapai esok tanpa kesedihan dan penantian yang tidak pasti !

Siang perasaan ini remuk jadi serpihan kepedihan. Belum usai sedih ini kualami, tapi aku harus menahan diri. Aku jadi sangat benci melihat raut wajahnya. Benci melihat matanya, benci melihat segala apa yang ada padanya. Aku tidak tahu kenapa? Dan aku janji pada diriku sendiri untuk tidak memulai hal-hal buruk pada dia. Aku tidak heran dengan gaji ke 13. benar aku tidak akan diberi. Tapi jangan katakana seperti itu. Rasanya tidak adil, wong ya aku tak akan pernah minta. Tuhan tolonglah aku, bantulah aku, perlihatkan padaku apa yang akan terjadi. Aku harus kuat untuk dapat melupakan kata-katanya. Aku harus kuat menanggung rasa sakit yang kuderita. Imbalan dari Mu memang begini menyedihkan ya Allah…. Dunia bagiku begini kejam tapi ini karena perlakuan seseorang.

Rabu, 11 juni 2008.
Sekelumit cerita mulai tersebit di hari ini. Aku akan menanti hari esok. Galau adalah perasaanku saat ini. Mungkin Allah belum berpihak pada langkahku. Kemarin aku sakit, hari ini jurang pemisah makin terhampar. Aku tak lagi melihat wajah persahabatan, tak lagi ada mata kejelian. Tak ada samar-samar rasa terpendam dalam diam. Aku sudah menunggu tapi sia-sia. Ya Allah…, biarkan semua berlalu lalang sesuka hati. Sakit dan sedih bagiku sudah jadi santapan yang biasa aku makan. Jika sesaat ada kebahagiaan mungkin adalah cobaan dan ujian bagiku. Aku peduli pada kehidupan ini, tapi kehidupan tidak pernah peduli padaku. Tidak pernah berpihak padaku.
Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Sangat kecil, Seperti pasir disamodra luas.

Sabtu, 14 Juni 2008.
Penyakit invalid dalam tubuh ini sudah tidak bisa ditahan lagi. Ini jadi ujian, pepenget, bahkan sebuah anugrah. Ada refleksi lama yang kambuh tiba-tiba, bukan dari manusia bedebah yang lama-lama menggadai setiap jengkal doa. Anehnya justru dating dari kelindan waktu yang sangat jauh. Terbiasa mendoktrin katanya sekarang mulaii mau didoktrin dan juga akan lebih banyak menyerap aspirasi katanya “ Iya ma, aku nurut kok…walau ini proses yang tak terduga, tapi justru yang tak terduga itulah sebenarnya sebuah anugrah.” 20:39:29. juga entah mengapa doa-doanya menyentuh rasa. Bersemangatlah …! Cepat sembuh ya. Ah … bagaimanapun itu perhatian yang tak ada duanya. Raga yang sakit tapi membuahkan kebahagiaan. Apakah dia juga bahagia? Ya.. begitu yang diungkapkannya. “ Kebahagiaan yang lama sekali terlupakan, aku tadi sempat kaget kok desiran ini banter banget.” Oh Tuhan aku tidak ingin jadi patah arang. Semangat hidup jadi sebuah intuisi Cuma. Tapi akankah dunia ini jadi milik kita ? tidak kita bukan anak kecil lagi, kita sudah terlalu tua untuk bergulat pada masa lampau. Biarlah kita jumpa karena Allah dan menyayangi ataupun membenci juga karena Allah. Pasrahkan saja semuanya kepada yang paling kuasa atas diri kita. Semoga Allah mendengar setiap bisik hatiku. Amin ….

Jum’at 20 juni 2008.
Masih samar, sesamar hembusan bayu senja kemarin. Pagi semenjak putri sakit, tatapannya sesejuk mentari pagi. Namun tak lagi kulihat bayu menyapu di sudut sendu matanya. Aku harus bertahan sambil terus berkelindan harap. Adakah esok atau nanti terkabul permohonan doaku. Entahlah yang pasti ujung ujung embun mulai kembali menetes meski di kerontang kemarau.

Sabtu, 21 Juni 2008,
Anakku, bunda bahagia atas semua kepercayaan yang kamu berikan. Bagi bunda amanah adalah segala-galanya. Bunda akan simpan semua yang ada dalam dirimu. Tenanglah anakku, tak ada rahasia yang jadi cerita dari mulut bunda.

Senin, 23 Juni 2008.
Nice day, aku tahu perasaan hatimu…keinginanmu…mungkin bisa jadi sebuah harapan dalam hidup. Memang seperti biasa, tidak ada luapan emosi tertera dalam pandangan mata, tapi perasaan tetap kuyakini ada. Bukan lagi seperti kemarin, nada nadi membaur gejolak tertahan, namun sebersit sentuh meredam emosi jiwani. Mungkinkah ada harap lain mengambang dalam alam pikir ini ? tak tahu, tak pernah tahu…
Sementara dalam kehidupan sosok putri terbentur! Aku berharap tidak ada opsi yang harus dibebankan padanya. Kelemahan diri dan penyakit yang tidak bisa cepat disembuhkan adalah sebuah episode yang tidak bisa terselesaikan dalam kurun waktu dekat. Tuhan tolong anakku…sembuhkan dia, sembuhkan dia !

Selasa, 24 Juni 2008.
Aku bisa mencelakakan seseorang ! apalagi Cuma seorang istri camat! Tapi untuk apa? Dendam? Ah.. terlalu kecil bagiku! Untuk urusan dendam, manusia memang bisa nekad, tapi aku bukan manusia yang dipenuhi dendam. Jika aku harus membalas, lalu bagaimana urusanku dengan yang Maha suci. Lagi pula kehidupan ini bukan untuk balas membalas kecuali pada kebaikan.
Episode yang tak pernah bisa kuhentikan adalah perasaan cinta dan kasih pada sesama manusia. Mudah sekali hati ini tersentuh oleh penderitaan orang lain. Aku tak tahan melihat orang menderita, meskipun mungkin aku sangat menderita. Bahkan jika aku bisa, aku punya power, aku ingin sekali membuat orang sekelilingku bahagia

Bunda, jika ibuku seperti bunda, aku akan bahagia sekali ! aku ingin bunda jadi ibuku! Itu kata seorang anak manusia. Padahal untuk menjadi bunda sangat berat anakku…! Yang harus ikhlas menahan diri ketika harus ditinggal pergi, yang harus berpura-pura dan harus menjaga perasaan. Bunda mungkin tidak sebaik yang anakku pikirkan. Tapi lebih terlukanya jika bunda harus mendolimi orang lain.

Kamis, 3 july 2008.
Ya Alloh, tolong beri aku jawaban atas semua peristiwa yang terjadi hari ini… apakah aku sudah begitu tidak berartinya dalam hidup manusia lain? Ataukah pada manusia lain itu memang arogan? Aku tidak tahu…, Ya Alloh, berikanlah pertolongan padaku, jauhkan aku dari manusia lain itu sejauh mata memandang dan sejauh kakiku melangkah ! jauhkanlah aku dari dosa yang dapat menjadi laknat bagiku. Singkirkanlah manusia lain itu dari kehidupanku. Tutuplah mata batinku, darinya, agar agar aku dapat membuat perhitungan. Ya Alloh, Cuma rahmat Mu yang dapat memperbaiki hidupku. Lenyapkan manusia lain itu dari kehidupanku. Aku terpaku saat ini, saat merasakan raga jadi lemah dan tak berdaya. Aku manusia yang Engkau ciptakan, aku akan tunduk pada Mu. Akan menjauhi sejauh langit dan bumi. Tolonglah aku…berilah aku kekuatan untuk menghindar menghindar dan menghindar. Melupakan semua yang pernah ada dan terjadi ! tolonglah aku….! Ini tidak sama dengan di peritiwa di thn ’04 yang lalu, julu lini berbeda : Ney ! tanpa balas, yang silam : “ Tidak harus secantik mawar, cukuplah seharum melati…. Dulu beraroma bunga sekarang jadi bangkai. Oh ! ampunilah aku Tuhan…

Minggu, 6 July, 2008. 0.30.wib
Masih terasa ada gerit hati membawa langkah nyalang pada manusia lain diujung malam, tapi masih terjegal harga diri. Mulai jalani hidup tanpa ada ambisi, adalah kedamaian . meski hati seakan meremah jadi puing-puing. Ada bintang gemintang di atas langit sana, begitu dingin udara malam, angin utara menggigit pori-pori. Kusampaikan selembar kata hati lewat kuncup dedaunan, masih kuingat hari kemarin. Biar rindu itu sudah bembatu, biar madu itu jadi empedu, tapi harap terus melaju bersma waktu. Biar bintang jadi saksi bisu, bahwa dalam hati ini masih menyimpan kenangan bersamamu. Tuhan tolonglah aku….
Ada saat manusia beralih rasa, ada saat hati meratapi nasib, ada pula saatnya paenyesalan menjadi bagian dari kahidupan. Semua jelas telah jadi keputusan takdir dan manusia tinggal menapaki garis nasibnya.

9 July, 2008. rabu 09.15.
Prihatinan bisa jadi cobaan manusia, juga bisa jadi suatu keinginan diri untuk merantasi penderitaan. Keinginan merubah keadaan juga pengharapan akan suatu yang lebih baik ketimbang lelakon saat ini. Aku menginginkan kehidupan dan cinta yang selaras dengan nuraniku, walau mungkin tidak dikehendaki Allah. Aku Cuma berusaha dan memohon dengan riyadoh batiniah. Sebab aku bukan manusia kaya yang bisa memberikan banyak kepada yang lain. Paling tidak usaha ini juga untuk mengurangi dosa2ku juga berusaha untuk menenangkan diri. Ya Rabbi, tolonglah aku agar bahagia bersama keinginanku dapat terwujud. Untuk suamiku dan anakku.

Kamis, 10 July 2008, 08:53
Sudah kucoba untuk menepis yang lindap diruang batin. Tapi belum pernah sekalipun terkikis. Kebosanan mulai mewarnai hari-hari di bulan juli ini. Kala usungan gairah menghilang bersama dentum-dentum nadi menghempas. Semua sudah usai di hari kemarin, semua sudah lenyap tanpa ada bekas. Seperti air hujan kemarin yang rintik-rintik menyiram tebalnya debu. Aku membuang daki dikakiku dengan satu niat karena Allah.

Sabtu, 12 July,2008.
BLT, bisa jadi bagian terakhir tertinggal. Kenangan. Melihat keceriaan manusia lain bersama seseorang disampingnya dengan wajah berbunga-bunga, adalah tanda jawaban Alloh untukku. Siapakah dia ? dimataku Cuma punya intonasi : ada sesuatu pada mereka ! semoga ini bukan su’udhon, sebab mata batin tidak bisa dibohongi.

Senin, 14 july, 2008.
Bagian terakhir dari sebuah sandiwara, endingnya ada 2 : bahagia dan derita. Tapi setiap apa yang ditakdirkan Tuhan pastilah punya arti yang sangat baik. Mulai dari keberadaan lalu kebersamaan, menjadi tinggal kenangan dan mudah-mudahan membawa pelajaran sekaligus ketenangan. Amin ya Rabbul ‘alamin.

Rabu, 16 july, 2008.
Rukyah adalah pengalaman baru, sebuah metode pengobatan ala Rosululloh SAW. Pada keadaan yang membutuhkan situasi damai, manusia mampu berbuat apapun. Bukan berinisyatif menghilangkan setan atau jin dalam tubuh manusia akan tetapi lebih pada menghilangkan sesuatu pengaruh buruk yang kadung bersarang dalam dada. Apapun isi hati kalau tidak membuat diri nyaman tetap memiliki efek memporak porandakan kehidupan. Usia jelas jadi jaminan untuk seorang manusia berpikir kearah kematian. Bukankah kita tidak akan menjadi penghuni kekal dialam dunia ini?. Kita kana mati, entah esok ataupun lusa. Padahal kematian tidak hanya ditakuti malah sudah jadi momok. Bukan takut berpisahnya roh dari sang jasad namun lebih pada dosa yang mesti dibalas kelak.
Hari dalam pergantian musim ini sudah merubah wujud diriku dalam kondisi lebih tenteram, aku akan mencoba lebih istikomah dalam beribadah dan lebih pasrah meniti hari-hari dalam kehidupan yang yang akan kulalui. Doaku menjadi seorang manusia yang punya arti bagi manusia lain rupanya tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Bahkan mungkin tidak akan terwujud sampai kapanpun. Biarlah kamu tetap jadi manusia lain, biarlah kamu tetap berada di atas awan sana, aku harus ikhlas menjalani semua ini. Doaku sampai kapanpun akan tetap sama, ingin suatu saat nanti bisa bersandar di bahunya tanpa ada yang menjadi penghalang.

Minggu, 20 july 2008.
Oh ya lagi padang bulan di luar terang benderang. 20 juni 2008 21:26:50. itu dikirim Ney. Berarti sudah sebulan yang lalu. Apakah Ney masih ingat aku saat ini?

Jum’at, 19 september 2008
Ramadhan sudah memasuki hari ke 19. berapa harikah aku berpuasa? Aku tidak tahu pasti ! jangankan menghitung, untuk melakoninya saja sangat beraaaaattt…! Aku telah berjuang semampuku melipakan apa yang pernah terjadi pada hari-hari kemarin. Tapi sepertinya aku gagal. Kembali aku ingat dirimu Ney! Tiba-tiba rasa kangen menyergap luar biasa. Dan heranya aku juga tanpa ragu menyampaikannya.
Lelakon macam apa ini ? sementara dirinya tidak percaya pada yang aku sampaikan. Mungkin dia ragu ataukah sudah pindah ke lain hati, aku tak tahu. Barangkali ketidak percayaannya sangat logis. Aku seperti biasa-biasa saja selama ini. Aku telah menyambunyikannya, melindapkan dalam ceruk kalbu yang terdalam. Buat disimpan sendir, rindunya, juga semua keinginan-keinginan yang tidak pernah jadi nyata. Benar jika Ney bilang, perasaan kan tidak nyata. Ya benar tapi justru perasaan ini lebih nyata dari pada kenyataan itu sendiri, bahkan sangat membelenggu. Sangat menjerat jiwa. Biarkan Ney tidak pernah percaya yang jelas aku tidak memaksanya untuk percaya. Buat apa memaksa, toh aku juga merasakan diriku ogah dipaksa ! ataukah Ney menganggapku berbohong dengan dirinya ? padahal untuk Ney akau justru berusaha selalu apa adanya. Jujur dan menepati janji. Aku tidak mau seperti ABG, mempertontonkan ketidak wajaran. Ah menakutkan memang. Dunia jelas akan mencemoohku sebagai manusia yang tidak tahu diri. Mengklaimku bak anai-anai tanpa sarang melihat lampu neon. Heran bin takjub ! tapi benar Ney ada dan ada disetiap jengkal langkah kakiku, disetiap kejap mataku, disetiap detak jantungku ! Ney bahkan nyaris menemani mimpi-mimpiku. Bisaku apa Ney agar kamu percaya ? paling minta tolong Tuhan agar menjagamu dari cobaan, menolongmu dalam setiap kesulitan, tiupun dalam doa, dalam hati ! aku tak mau jadi keledai tolol, mengharap sesuatu yang tak mungkin jadi bagianku. Tak mau juga mengoyak-ngoyak hati-hati yang lain untuk sekedar memuasakan perasaanku. Jadi ku biarkan saja semua berlalu lalang sesuka hati. Di diriku Ney sudah seperti bagian dahan dalam sebuah pohon, jika dahan itu terpotong aku juga merasakan darah dalam tubuhku muncrat. Aku selalu merasakan setiap sayatan yang melukai dirinya. Entah dibagian manapun juga. Tapi apakah Ney tahu? Mungkin Ney tidak mau tahu, seperti ketidak percayaannya saat ini. Biar waktu yang membuktikan ya Ney… nanti suatu saat kamu akan yakin bahwa dalam dunia ini masih ada sisa manusia yang sangat setia pada hati dan perasaanya. Atau mungkin kamu telah jadi cadas yang telah berkarang dan merasa bisa memecahkan kapal dalam kediamanmu ?! ya ya tapi suatu saat kamu akan merasakan betapa ikan ikan kecil dan plankton-plankton itu akan mampu menggali lobang dalam dirimu. Ney… mari kita hitung kekosongan jiwa ini dalam meniti hari-hari dalam sepi tanpa warna. Adalah ketika kita saling mengekang diri untuk mulat saliro hangroso weni. Paling tidak untukku Ney. Aku telah berusaha murokobah dan menjauhi bayang-bayang semu. Tapi mampukah aku ? tidak Ney, bahkan bayang-bayangmu makin mengejar-ngejarku. Aku jadi sakit sendiri. Apalagi melihat kemesraan yang dipertontonkanmu padaku bersama seseorang yang dalam bilangan mataku jarang terhitung. Aku sadar kok Ney, siapa diriku. Tak pantas aku sekedar melihatmu apaladi mengharap sepenggal sapa darimu. Ney… aku tak tahu untuk apa lagi perasaan seperti ini…. Wind_sett@yahoo.com

Senin, 22 september 2008.
Tanpa semangat terlihat didelik mata. Mungkin lagi puasa atau lelah membebani langkah kaki. Kentara tak ada sesuatu beban dalam diri, sepertinya semua sudah tak berarti. Oh…mungkinkah begitu kenyataan yang melekat dalam hatinya ? aku jadi salah mengartikan ketidak percayaan kemarin, mungkin benar praduga nurani ini.sudah ada someone di sudut kosong jiwanya. Apa benar yang diucapkan seorang kawan bahwa diluar sana bergayut mutiara terpendam menempati ruang dan waktunya atau justru pencariannya yang selama ini telah berakhir. Dan barangkali ada ketenangan serta kedamaian dalam pelukan lembut sang primadona. Ya Robbi…padamulah aku memohon satu jawab, jika semua jadi kebenaran tolong singkirkan dri pandang dan kuncup hati. Atau justru diri ini yang mesti berlari menjauhi mimpi ? sepertinya memang harus berlari pergi, buat menjaga harga diri, sekedar mengantongi gengsi. Tak ada lagi sisa misteri terbias dalam sanubari, seperti awan sudah jatuh jadi butiran hujan. Benarkah aku tetap bertahan melihat ketakacuhan menghardik tak tahu diri, ataukah nurani membutakan rasa yeri jiwani ?

Jam”at, 26 september 2008
Mentari ceria menyambut hari ini, dalam kebersamaan yang mungkin akan jadi kenangan abadi. Semalam dalam jerat mimpi, dan disiang hari menjadi untai kenyataan. Aku tak tahu mengapa ada hari ini...? mungkin hentakan hati jadi ikatan nurani. Aku juga belum yakin apa yag terjadi meski kenyataan berjalan seakan tanpa tersadari. Alam desa berbudaya asli adalah sebuah pedukuhan dengan padat penduduk. Jalan setapak naik turun memaksa tangan bergandeng. Tapi bukan dalam kemesraan tapi lebih pada ketakutan. Ketakutan akan banyak hal dan peristiwa. Bisa jadi masalah membebani, bisa jadi fitnah menghantui. Tapi apapun adalah kenyataan dan bukan mimpi. Mimpiku ada dalam semalam didesir sanubari dan hari ini jadi saksi elegi. Karanggandul menjelang dhuhur.

1 syawal 1429 H. ( Rabu, 1 oktober 2008)
hari ini terbilang biasa bagiku, katup-katup dosa mulai mebuka seiring suara takbir. Entah apa yang terjadi dibukit sana, sementara kidung kerinduan makin terasa menggelora jiwa, aku tak bisa berteriak mengharap ada kebersamaan dalam diri kita. Sepertinya asa telah tertimbun dalam perut bumi, detik-detik kehampaan terserap di tiap pori menghapus kenangan yang kemarin. Mungkinkah bumi ini menelan setiap makhluknya sehingga aku kehilangan sosoknya? Dan masihkah ada kesempatan untukku melihat dirinya dibumi lain ? aku bodoh ! berharap yang tak mungkin! Ney tak akan mengingatku, apalagi berharap ketemu denganku. Ya ya paling tidak aku masih bisa mendengar burung bercerita tentang matahariku. Mungkin ia akan membawa kabar tentang dirinya disenja kelak. Ney… adakah angin akan menyatukan kita esok ?

5 okt 2008, ahad
mungkin aku harus berpikir sejuta kali untuk tidak menapaki dunia. Sebab didalamnya ada bahagia. Hari yang terkilas jadi lembar masa bagiku akan tetap jadi kenangan. Adalah ortu, sakit yang diderita bukan lagi sakit anak kecil tapi sakit yang senantiasa berulang ditiap tahun. Mengingatnya ketika kecil bukan berarti aku tak boleh melarangnya melakukan hal-hal yang merugikan terutama masalah kesehatan. Hari ini kembali pulang dari rumah sakit. Ada gelora bahagia diwajahnya meski aku yakin tidak sebaik keadannya. Kehadiran saudara2 bisa menghiburnya. Kebahagiaan yang nyaris sirna tapi berubah nyata. Aku tak lagi bisa berkata, semua jadi kaku sebab kehadiran dirinya, aku bahagia sebab ada dirinya, aku sedih ketika dia harus pergi dan aku ditinggal sendri. Mengapa aku tidak jadi bagian dari kehidupannya? Mengapa saat-saat seperti ini dia tak bersamaku? Mengapa ada yang lebih berhak dari padaku? Kenapa aku harus selalu berpura-pura? Kenapa dan kenapa aku jadi manusia yang paling rela, padahal didalam hatiku tertinggal tangis!

Kenangan iedul fitri 1429 H.
- Adalah sesuatu yang tak pantas terjadi dalam kehidpan ini. Untukku apalagi. Tapi kemampuanku sebagai manusia biasa Cuma sebatas keinginan, ternyata diujung istikomah Alloh menentukan lain.

- Aku ingin mencurinya dari dekapan $ shbtku walau Cuma sejenak. Dan kubawa dalam tidurku untuk bersama-sama dalam satu selimut dimalam yang dingin dan kosong, lalu menawannya dalam sanubari yang tak bisa lenyap. Tapi aku tak kuasa, Ney milik shbtku! Oh sungguh tak pantas aku meracuni kebahagiaan mereka apalagi mencurinya. Rasa yang kupendam ini membuatku sakit hati, sebab aku tahu kami sama-sama menginginkan. Ingin menyatu dalam satu selimut merantasi dingin malam.
Lagi-lagi hatiku nyeri manakala terbangun dari tidur menggelar pagi dengan rasa hampa dan kosong. Mengingatmu dalam mimpi-mimpi panjang. Jerujit kepedihan memilin-milin hati, kamu Cuma jadi mimpi apakah harus terus hidup ataukah harus berakhir sampai disini. Jawabnya jelas ada pada dirimu Ney.. oh Ney, aku telah rela mengosongkan ruang dibilik-bilik kalbuku untuk diisi mimpi tanpa batas waktu. Tapi aku merasa sia-sia, kau tetap jadi milik $.dan keluargamu. Dan ketika waktu berjalan menebar usia, apakah jalan untuk sampai kesana masih terbuka bagiku ? masihkah cinta terpendam dalam sanubarimu ? ataukah kau masih tetap tidak berani mengakui perasaanmu ? padahal sisa waktu kita makin sempit, haruskah aku bersabar menunggu….?!

Minguu 4 jan 2009.
udara malam makin menggigit menguliti pori-pori, makin dalam meremukkan tulang belulang yang kian rapuh terasa menembus ulu hati. Begini sepi malam ini, aku tak tahu kenapa, mungkin karena kau semakin jauh dariku atau karena tak sebertik kabarpun mampir ? yah… aku sudah pasrah dan ikhlas menerima nasib ini, tak mungkin bagiku menhiba-hiba untuk sekedar berpura-pura menoreh berita tentangmu, menanykan keadaanmu atau Cuma sekedar say hallo. Aku akan bersama temaram bintang-bintang. Bersama mengurai resah melangkah mencari titik pendar pada cahayanya yang nun… siapa tahu ada cahaya lain mampu mencairkan beku nurani. Berkali-kali kutepuk pipiku sekedar meyakinkan bahwa aku masih dalam alam sadar. Rasanya dingin. Burai bintang menyulam kenangan yang tertinggal digilas musim. Hening memagut. Rintihan belalang menggelar simponi alam memperdengarkan nyanyian klasik bak ciptaan sang maestro. Sepoi angin malam membelai helai-helai daun gemersik seakan membawa rasa ketenangan abadi, melayati peristiwa demi peristiwa.
Hari-hari bahagia berlaku bagaikan mimpi sesaat dikelindan waktu. Sesaat yang tanpa rencana. Tak ada kesepakatan mengawali ataupun mengakhiri. Begitupun ketika kita harus berjalan dipersimpangan, entah siapa yang terlebih dahulu membelok berbalik arah. Semua begitu sederhana, tanpa kata apalagi ucapan selamat tinggal. Kemudian ketika ada sua tanpa sengaja, getar getar aneh terbelit disimpul hati. Dan saat sejumput sindir-sindir memeta, iapun menoreh luka perih dibilik hati. Luka yang kutentukan sendiri lalu kusimpan rapat berbalut benci. Tapi bencikah aku ? dia menciptakan perbedaan, antara diriku dan yang lain begitu senjang dan sangat tinggi. Jadilah itu rentetan penghiaan martabat manusia. Kebanggaannya pada jabatan mengecilkan nyali. Aku tidak tahu untuk apa dia lakukan itu. Atau mungkin standar kami sama. Menghindari rasa dalam dada. Pertemuan dan perpisahan dengan segala menunya sama-sama jadi suratan takdir, tidk bisa dihindari. Aku tidak mau jadi perempuan tanpa harga diri, sekalipun cinta dan harap memenuhi rongga dada.
Ketika malam-malam memunculkan kenangan dipelupuk mata, sulit sekali terpejam. Rasa sakit menyulam jiwa, benang benang resah menelisik nurani. Aku meragu, mungkinkah kebencian ini Cuma penghindaran diri dari rasa cinta yang tidak semestinya. Atau karena ini Cuma berada dipihak diriku. Ah aku tak pernah berharap perasaan seperti ini menghampiri diriku. Kedatangannya tak terduga, bersama angin spoi-spoi, menempati ruang dan waktu sepanjang hari, ada dimanapun aliran darahku bermuara. Aku bukan malaikat, aku manusia biasa yang lemah. Kadang pikiran dan perasaaan tak mau bersatu. Aku benci itu. Tapi aku tak punya kendali untuk mengekangnya. Hingga aku jadi pecundang picik menginginkan milik orang.
Ketika pagi berselimut embun, kantuknya memuncak didera rasa. Kebimbangan selalu hadir berama picingan mata, kehampaan pun menyusup dalam relung batin. Untuk apa hari ini aku ada, sementara waktu akan menjelujur sepi tanpa batas, mengurai kisah usang yang makin lepas dari kehidupan ini. Meninggalkanku dalam kesendirian tanpa warna, tanpa rupa. Kosong dan sunyi… ah. Aku tak tahu bagaimana kujalani hidup hari ini, sementara semangat hidupku terbawa dirinya pergi menjauh. Harapan tinggal harapan, laungan doa terasa sia-sia. Ney, beginikah sisa kenangan menemani hari-hariku ? baginikah akhir kebersamaan yang terenda kemarin ? oh… rasanya aku tak sanggup melihat kepergianmu. Aku tak mampu melihat meja dihadapanku terisi makhluk lain nanti. Masih mampukah aku berdiri tegak dalam keasingan ini ? ya Alloh, kautkan hamba bersama cinta-Mu…aku tak mau hancur didera bayangannya..
Sepotong ranting kering patah terhempas jatuh, menggunting temali ilusi dalam pikir sepi sekaligus mengagetkan. Aku jadi manusia dungu, menggagas yang maya tak acuh pada realita. Ini melemahkan jiwa dan menghina martabatku sebagai manusia.seorang perempuan yang telah diikat dengan sakral atas nama Tuhan, jelas aku takut laknat-Nya. Aku tak ingin terhisap khayalan semu yang meracuni akidah. Semua nyata bukan milikku, tak ada kewajiban bagiku menangisi potongan kisah dikehidupan ini. Semua yang datang akan pergi, apalagi jika bukan kehendak Illahi. Tak ada hak memiliki, walau sekuat tenaga mempertahankan. Aku takut jadi tertawaan, aku ngeri jadi fitnahan. Mungkin ujian ini belum akan berakhir untukku, sebab aku yakin Alloh masih mencintaiku. Lagi pula aku mesti sadar diri, meskipun aku mengalami metamorfosis jadi kupu-kupu tak akan mampu terbang menggapai mentari. Jadi biarlah semua berlalu lalang sesuka hati dalam kehidupan ini. Alloh Maha tahu besarnya kemampuanku. Pasti Alloh tidak akan menguji makhluk-Nya melebihi kemampuan.
Eksibis !
Entah mungkin mataku salah lihat atau ini urutan takdir Illahi yang diperlihatkan padaku.mempertontonkan kelebihan jadi kegemaran. Bukan Cuma selintas pandang, bahkan sudah sejauh mata memandang. Di lautan manusia, terbidik pamer arogansi. Aku tak tahan, jadi enggan bicara, setiap kalimat kutelan jadi sumpah serapah. Untuk apa lakukan itu, kesal ataukah emosi. Mungkin aku harus memaklumi, tabiat manusia selaras dengan ambisinya. Tidak dapat dipungkiri akan tercetus pada situasi marah. Egonya tiba-tiba muncul tanpa disadari. Disitulah nampak jati diri yang sebenarnya. Bahwa jabatan seolah jadi kewenangan untuk memperlakukan manusia tidak manusiawi. Korbannya aku ! inna ana sangat sakit. Oh…jadi benar eksibis itu sebenarnya pun merendahkanku. Banyak sinyalemen jadi referensi tambahan mengklaim persepsiku. Aku tak mau diperlakukan “semau gue”! aku bukan orang yang gampang ditipu apalagi dijadikan kelinci percobaan ! aku bisa menghancurkannya jika aku mau.

Rabu, 6 jan 2009.
Malam beranjak turun, belum larut. Kisaran berita malam ditelevisi enggan kuikuti, malasnya mata ini untuk sekedar menjadi saksi dunia. Mungkin rasa capek yang membuatku segera terlelap. tak ada duga tuk sebuah berita, ada kehidupan pun ada kematian. Ada harapan dan penantian yang tak berujung ternyata di seberang diri. Ah manusia memang menginginkan lebih. Ya kenapa mesti tanya padaku untuk sebuah berita yang enggan kuketahui. Apalagi efeknyapun aku tak akan pernah mencicipi. Ha.. bukankah itu yang pernah dikatakan manusia itu. Dengan kesombongannya mengucapkan tak akan berbagi, apalagi mengasihani orang. Yah.. semoga Alloh memberikan kesadaran dan penyadaran pada manusia yang lalim itu. Tapi disisi lain aku berharap agar mulutku tak lagi sembrono menghardik, apalagi memberikan rasa bangga. Sebab setiap apa yang aku ucapkan ternyata hampir jadi kecewa bagiku.

Minggu. 11 Jan 2009.
Aku ingin berdamai dengan diriku, setidaknya itu yang ingin kulakukan. Barangkali ini sangat sulit, perasaanku sakit dan terluka. Aku jadi tak punya perasaan, tak memiliki kelembutan. Entahlah mengapa ini terjadi padaku! Naluriku selalu mengatakan ada penghinaan yang paling dalam dibalik kebaikan manusia. Lalu banyak muncul kebiadaban didalam harta. Kesombongan manusia muncul dari titik ini, tak ada kompromi. Atau mungkin itu yang sering kulihat ? ambisi menjadi kaya tanpa nurani, ambisi menjadi orang dihormati karena banyak materi. Ironos dengan diriku yang hidup Cuma sebatas bisa makan dan numpang tidur dalam dunia ini. Selebihnya kalau bisa aku ingin menjadi orang yang bisa menolong orang lain. Bagiku kekayaan adalah impian yang tak pernah berakhir. Belum pernah menikmati rasanya jadi orang kaya, apalagi memiliki harta berlimpah. Namun begitu aku bersyukur dapat cinta dari suami yang sangat tulus. Aku tahu bagaimana keinginanku untuk menjadi istri yang memiliki materi berlebih, memiliki barang mahal yang dapat kubanggakan. Tapi takdir Illahi menentukan lain. Tak ada orang tahu mau menjadi apa diriku besok jika aku ngoyo tak mau peduli dengan orang lain, tak mau berbagi dengan sesama manusia. Apakah aku akan menjadi budak dari keinginan yang mungkin tak pernah terwujud ?! ya nyatanya hingga detik ini Allah belum menghendaki memberikan harta yang berlebih. Aku sadar semua itu tak pernah dapat terkejar. Aku pun mengerti usaha maksimal yang telah dilakukan suamiku, nyatanya tetap hidup pas-pasan. Mungkin Alloh hanya menggariskan hidupku seperti ini, ataukah ini belum berakhir dan aku harus menunggu esok yang mungkin lebih baik. Semua kupasrahkan pada Mu ya Robie… yang terpenting untukku adalah cinta kasih suamiku dan anakku.

Menyapa bahagia, memadamkan senja diletup duka. Teriring deras hujan, redup mentari. Usai hari ini tanpa ucapan dan sehelai kata-kata. Esok aku tak tahu hariku akan jadi apa, seperti keinginan hari ini yang selalu saja terjelma dalam rasa malas. Kering pikiran membuatku tersa lelah, apalagi setiap detik nyaris terburai dalam angan yang terpisah dari diri. Mana ada manusia mengingatku untuk sekedr berbagi jika semua sibuk mengurusi diri sendiri. Seperti terlempar dari udara jauh terbang tak tentu arah, seperti itu pula rasa yang terkandung dalam badan. Ini pertanda aku mulai menerima rasa sakit yang kadung memasuki jaringan hatiku. Bukankan artinya aku harus mulai mempersiapkan hati untuk menerima rasa sakit dari pikiran yang berselipan ? padahal bukankah hati kita sudah lama sekali jauh terpisah ? untuk apa tersisa harapan yang tak berujung ?
Mari kita simak hari esok, akankah tertinggal bersama kenangan kemarin atau justru tersambung jadi cerita yang tak berakhir.

Alloh mentakdirkan dan aku menerima. Hari itu tak ada, ia masih duduk ditempat semula, masih dikerumuni lingkaran suasana sediakala. Sesekali aku bernapas lega, namun berkali-kali harus menelan ludah yang teramat pahit. Aku berasakan ujian yang diberikan Alloh belum akan berakhir, atau mungkin tidak akan berakhir. Harapan cerita usai dipenghujung tahun ternyata masih ada diawal tahun. Melihatnya lagi dalam kurun waktu yang lama adalah penyiksaan yang menggerogoti hati. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali bersyukur dalam diam. Mungkin kehidupan ini memeng dipenuhi kemunafikan, banyak peristiwa yang saling terkait, banyak duka yang berkelindan, tapi semua jadi kumpulan rupa yang penuh kepura-puraan.

Senin, 19 jan 2009. Sg
Aku jadi berfikir, salah dan dosa apalagi diriku, mimpi apa aku semalam, masa sih jadi kelinci percobaan ?! emang karakter kali ya, manusia satu itu tak bisa lagi dipercaya omongannya, tak bisa dipercaya kelakuannya. Memangnya aku heran dengan semuanya. Aku jadi kembali salah tafsir, kembali salah persepsi, selama ini tak pernah aku berharap terjadi peristiwa macam itu. Belum pernah terlintas dibenak sekalipun kejadiannya. Tolonglah Tuhan, jadikan dia manusia yang menyesali perbuatannya, jadikan dia manusia yang menyadari kesalahannya. Pada siapa lagi aku harus berkata dan mengadu, jika tak ada lagi manusia yang bisa kupercaya selain kepada Mu Ya Robi....

Rumahku istanaku, bukan kata basi. Pernah sekali aku ingin meninggalkannya, pernah terpikir berpindah sekedar mencari kehidupan yang lain, tapi semua tak pernah terwujud. Nyatanya aku tetap berada di dalamnya dengan kedamaian dan cinta yang tak pernah mati. Dia jadi saksi berbagai peristiwa, jadi saksi kepalsuan manusia. Aku heran kenapa dikedamaiannya tak menyimpan ketulusan ? padahal aku membangun dengan jerih payah, membangun dengan sakit dan prihatin. Ini bukan seutuhnya warisan leluhur, ini bukan sepenuhnya pemberian nenek moyang. Aku heran ada apakah didalamnya, mungkinkah lebih banyak setan ketimbang manusia yang jadi penghuninya, sehingga banyak hal-hal aneh yang selalu saja datang dan pergi tanpa kusadari. Selalu saja ada cerita yang sama dengan manusia berbeda. Oh, aku tak mau lagi membuka pintuku untuk siapapun, kecuali ketulusan dan cinta abadi. Semoga orang-0orang yang mendholimi rumahku akan menderita seumur hidupnya, aku ingin melihatnya Ya Alloh, aku ingin menyaksikannya. Aku menunggu Ya Robi, ya Karim…

Ucapan terimakasihmu adalah pemaksaan yang tak pernah kukehendaki, atas hal memalukan yang Cuma diketahui Alloh. Atas dosa yang harus kau sesali, bukan penghargaan sekedar takut jatuh gengsi. Apa kamu pikir sudah menang dalam masalah ini atau kamu lagi mikir ketololannmu itu ? bukankah kamu mempermalukan diri dihadapanku dan sengaja membuatmu jatuh harga diri. Esok atau lusa ada sua itu pasti, masihkah ketololan akan dipertunjukkan padaku ? ya semoga kamu nikmati semuanya, semoga ujung bibirmu jadi kelu dengan penyesalan yang tak kunjung padam.

20 jan 2009, selasa
Mulai jenuh dengan janji yang tak terwujud. Aku tahu perasaan suamiku, betapa sangat jengkel dengan kejadian ini. Nulung tapi kepentung ! begitu tepatnya. Kenapa masih juga dari orang-orang yang kupercaya, temanku katanya. Temen sejati mana yang harus kupercaya, aku tak tahu. Kenapa semua yang kuanggap baik tak pernah nyata. Kenapa yang kuanggap dapat dipercaya malah memanfaatkan kepercayaan ini. Aku sungguh heran, jadi manusia tak pernah ada rasa syukurnya, jadi makhluk Alloh bahkan tak yakin akan kekuatan-Nya. Inikah manusia yang jadi sahabatku? Oh Tuhan kemana lagi aku harus mencari kebaikan. Ya Robi… sadarkan mereka…

Bbs, minggu 25 Januari ‘09
Pria, Siang itu Hatiku tergolek lemah menatapnya pergi menjauh. Punggungnya seakan menandakan kehilangan bagiku. Sesuatu yang lain terselip dihatiku, belum terbangun tapi ku takut hilang. Kenapa dia pergi dengan dirinya? Kenapa aku jadi dungu ??? mengharap milik orang lain !
Disini Pertama kumelihatnya, dan berkenalan. Seorang pria matang dan simpatik. Siang itu matanya menatapku tajam dalam degup jantungku. Senyum yang sesekali berkembang dan santun dibalik sentuhan jemari kulewatkan karena ada rasa simpati dan cinta.
Lama, hingga akhirnya aku dibawa pada kebimbangan yang kurasa makin menyiksa. Setelah perkenalan disana dan keakraban yang dibawa disini, sampai ke hati. Hanya karena menarik atau terbawa suasana hati. Karena kutahu sejak lama, siapa dirinya. Kutahu banyak kisah cintanya, tapi aku tak peduli. Aku tahu dia beda, kuyakin persepsiku tidak salah. Aku jadi pertama kali dalam hidup perkawinanku tersentuh ketidak seimbangan nurani. Aku jadi mengkhianati mereka. Mengkhianati ketulusan persahabatan dan perkawinan. Hingga dia kupanggil Honey. Ya… ney.
Dalam keraguan aku tak berdaya, makin tak berdaya ketika kutahu dihatinya ada orang lain. Hatiku tertoreh pedih, menyisakan tangis yang hingga kini menemani hari-hariku. Aku tak kuasa merobek kenangan di lembar kehidupanku bersamanya. Ini tidak biasa !
Sesuatu yang selalu kujaga dan kuanggap dosa besar jika berada dalam kerung perselingkuhan. Dan tiba-tiba terjelma dalam kehidupanku. Sebelum bertemu dia, aku tak pernah berjalan limbung, tak pernah ada rindu menggebu. Semua Cuma teman dan sahabat. Tak ada rasa lain apalagi getar aneh. Tapi kini aku merasakan getar aneh ini, dan tak kuasa menghindari pula. Aku tak bisa menghilangkannya.
Mungkin tak kan ada yang pernah tahu jika antara kita pernah ada rasa lain, sebab aku akan menyembunyikan dalam palung hatiku yang terdalam. Aku akan jaga semuanya untuk kebahagiaan dan kedamaian kita, sampai takdir Alloh menentukan lain. Aku tidak takut pada manusia tapi aku ngeri murka-Nya. Sedalam apa cintaku padanya, rasanya mustahil akan jadi kenyataan. aku tak mau mengorbankan perasaan orang lain, biarkan aku saja yang korban perasaan.
Aku jadi merasakan tulusnya mencintai, meski tidak bisa memiliki dan dimiliki, tapi aku mencoba bahagia ketika kulihat dia bahagia. Aku pun ikut menderita ketika dirinya dalam kesedihan.
Sebelum aku terjaga, sebelum semua tak berasa. Bahkan dia tak meninggalkan hatinya. Karena
keangkuhannya padaku. Dan kesadaran sehentak membangunkanku. Aku ada pada masa terburuk, pikirku. Saat cinta menghilang. Dan dia membayang, merenggang, dari penuhnya rasa bahagia di dada. Kemana dia?? Kemana cinta?? Mengapa dia?? Mengapa cinta??

26 Jan ’09, senin. Gong xi fa cay
Aku berfikir, Ney lagi bahagia dengan yang lain. Tapi siapa yang lain itu, masih jadi tanda tanya bagiku. Dia tak pernah mau lagi menghubungiku sejak peristiwa siang itu.
Siang itu, aku seperti tak sadar diri, entah ada apa didalam sini, hati ini, jiwa ini. Bukankah aku tak pernah ingin mewujudkan impianku bersamamu? Tapi kenapa kesempatan itu datang tak terduga !?
Kehadiranmu bukan untukku, aku tahu itu. Perasaan malu dan bersalah selalu menghantuiku, apalagi jika kuingat penghindaran yang dibarengi ketakacuhan membuatku terhina. Betapa tololnya aku!!! Aku berpikir seakan kedekatan itu sudah kumiliki. Ternyata salah besar. Tidak pernah terpikir dalam benak akan harga diri yang semestinya kujunjung tinggi.
Siapa diriku? Aku tak tahu lagi.
Kepergiannya membuatku terasa asing dan penyesalan terdalam. Bukan menyesali kepergiannya, tapi tingkah yang tak kusadari, polah yang berlebihan. Moral yang tak lagi tertata, ini membuat hidupku kacau balau. Sekalipun rasa berasa beraduk, bahagia dan sakit memilin batin aku harus tegar, bahwa peristiwa sesaat itu meski ku rejam jadi butir-butir mimpi yang tak akan terulang kembali dan kumatikan di terbit fajar pagi.
Kemarin pertama kali aku melihatnya kembali. Dimataku terlihat dingin hatinya. Senyap tatapnya, sinis bibirnya. Genggam tangannya menjauh tak sehangat dulu. Mungkin aku dianggap sampah, barang sisa yang tak berharga. Tapi aku terima semua ini, terlanjur menyadari betapa rendahnya aku saat itu. Hantu bukan hal menakutkan bagiku tapi peristiwa itu lebih menghantuiku. Persepsi apa yang terlanjur ditorehkan padaku mungkin lebih menakutkan ketimbang hantu di siang bolong.
Sekarang aku tak lagi bisa tersenyum meski sangat kecil. Terjadi tarik menarik antara ilusi dan realita.
Dan kenyataannya aku memang harus mengubur kenangan bersamanya.
Terimakasih atas simpatimu honey, berpikirlah bijak bahwa iman manusia kadang berubah-ubah, dalam kedewasaan belum tentu kita dapat berpikir dan bertindak bijak, dalam cinta pasti ada nafsu, dalam kesucian dan kelembutan cintapun mampu melahirkan dosa.
Biarlah beban ini kutanggung sendiri, jalani terus hidup dan cintamu seperti kau mau. Jangan pernah lihat diriku sebab dalam diri ini Cuma ada senja yang temaram.

jan ’09, sabtu
kutinggalkan dirinya dalam rusng itu, hstiku sudah mulai terbujur kaku. Tak ada lagi getar aneh mendera, atak pula ada rasa ingin berlama-lama disisinya. Bahkan aku tak ingin sekedar mengucap kata selamat tinggal. Semuanya sudah seperti sediakala. Aku tak tahu perasaannya mungkin sama saja, mungkin dirinyapun enggan aku berlama-lama terlihat di depannya. Ya sudahlah… seperti buah duren yang membuatku nek, seorang menginginkan buah itu untuk mengganjal perutnya yang bengkak. Bener kata temanku buah itu akan jadi tumpukan kolesterol di tubuhnya. Eh… emang gak bisa beli durian ? lah boro=boro beli durian, mau nengokin si sakit saja mau ngutang. Emang juragan duit atau nyetak duit sendiri kali. Aku pernah bilang gaji doble gardan kok masih mau ngutang apa gak salah tuh ? kalau dia malu ya mestinya jangan lagi ngomong masalah utang. Kalau tahu diri ya mestinya tak usah cari sensasi ! mengherankan memang manusia, kadang bisa jadi malaikat, kadang dia bisa jadi setan. Tapi aku benci manusia berhati setan macam dia, memenfattkan kedekatan untuk mendapatkan sesuatu. Emang aku bisa dibohongi ???

kembali dilantik jadi anggota ppk, melelahkan dan menyakitkan mendengar honor yang akan diterima. Sangt kecil dan tidak relevan dengan pekerjaan yang akan dilakukannya. Dari 5 th yang lalu tidak ada perubahan, tidak ada peningkatan, entah bagaimana cara berpikir pemerintah, apa tidak bisa meluangkan anggaran untuk kepentingan demokrasi atau mungkin kpu nya sendiri yang tidak bisa mengkondisikan untuk membela kepentingan anggotanya di tingkat bawah ?

rabu, 18 Pebruari 2009.
Aku tahu betapa keinginan putraku untuk mendapat pekerjaan meskipun terasa berat untuk melakukannya. Aku tahu Alloh Maha Penyayang pada makhluk-Nya. Anakku disayangi-Nya, dilindung-Nya dan selalu kumohon untuk tidak pernah lepas dari ridho-Nya.
Aku ingin hari ini awal yang baik bagi putraku, sesuatu yang jadi idamannya sudah diambang pintu. Mendapat kesempatan yang tidak pernah ada dalam sejarah diriku. Pekerjaan ini mudah-mudahan akan digenggamnya dan menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam hidupnya. Aku yakin anakku bisa bertanggung jawab dengan pekerjaan yang diembankan oleh dosennya yang konon sudah seperti ayahnya.
Maafkan mama tidak bisa memberikan yang terbaik buatmu tapi paling tidak doa mama tak lekang sepanjang hayat. I love you baby. Good luck !

Kupilih jadi seorang ibu lantaran aku harus punya penerus dinastiku. Aku juga menginginkan di masa yang akan datang hidup anakku kecukupan dan memperoleh penghargaan dari sesama manusia dan mendapat simpati serta martabat yang baik dimata manusia dan mendapat hidayah yang lebih disisi Alloh. Biarkan aku sekarang berkorban untuk masa depan anakku dengan menjadi manusia yang tak memiliki arti apa apa selain duka dan didholimi orang, tapi aku tak pernah menginginkan anakku mendapatkan perlakuan yang sama seperti diriku. Mungkin kesalahan masa lalu yang kini menjadi cermin buruk dalam diriku, tapi biarlah ini jadi milikku sendiri dan semoga Alloh tidak pernah mengaitkan dengan putraku. Betapa masa lalu telah memperburuk kepercayaan dalam diriku untuk berjuang dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku tapi langkahku tersendat sebab aku yakin cemooh akan selalu menusuk hidungku. Aku takut dengan peristiwa yang akan terjadi jika aku berani mengungkap masa lalu. Aku juga tidak ingin merobek ketenteraman seseorang apalagi sang penguasa. Aku harus mencari perlindungan diri dan menyimpan semua yang pernah terjadi. Bukankah hati wanita adalah samudra terdalam untuk menyimpan rahasia ? satu satu cara adalah diam dan menunggu apa yang akan terjadi. Dan aku selalu ingin melihat kekufuran itu terungkap di depan mataku sehingga aku bisa lega melenggak tanpa harus merasa salah dan kalah. Tentunya semua kupasrahkan pada yang kuasa yang memberiku takdir ini sebagai jalan hidup yang harus aku lakoni.

Tidak ada komentar: