Selasa, 01 September 2009

ELEGI CINTA DISIMPANG SENJA
Windau set

Mari kita gantang kicau murai di pucuk-pucuk cemara, dan cericit burung gereja di peralihan musim. Andai kidung ini langgeng dipersimpangan senja, cerita ini tak kan sampai dibenak-benak. Berabad-abad sudah kisah ini terjadi. Mungkin Cuma Bunda Maria suci yang terhindar. Boleh dibilang Legenda warisan leluhur! cerita biasa jadi luar biasa. Jatuh cinta dipersimpangan senja ! orang modern bilang “ Tragedi masa puber “. Lagi terjadi pada Neysha sahabatku!
Ney cantik dan pintar, sosok perempuan matang berpribadi menarik. Semangatnya yang menyala-nyala hari ini sirna seperti embun jatuh terserap debu, Aku jadi penasaran.
“Sepertinya ada sesuatu yang lenyap dariku Mith, aku sedih…”.suaranya bergayut dan terhempas. Kepalanya menunduk, terlaput kepiluan dimatanya
“Pada apa atau pada siapa ?” Ney ragu menjawab. Telisut pengingkaran digalau hati. Mungkin Ney lagi mikir harus jujur atau dusta. Aku berusaha bijak, menghargai keinginannya menjaga rahasia, Kedewasaan yang kukagumi, biasanya orang selagi terasa sedih atau bahagia suka terlena. tapi dia seperti berteka-teki menyiasati.
* * *
Kantin dekat kantorku selalu jadi pilihan makan siang kami, meski menunya itu-itu saja, nasi ayam dan jus jeruk memang sangat membosankan tapi apalah untuk efisiens waktu,. Ney diam matanya sekelam mentari siang ini, tak seperti biasa senda guraupun tak terlontar dari bibir mungilnya. Aku tak betah, mencoba cairkan kebekuan mentari, Kutanyakan seberapa besar arti dia dalam hidupnya.
“ Entahlah… tapi aku jadi sering memikirkannya.
“ Sejak kapan ?” dia jawab sejak dia katakan seperti ada yang hilang ketika ditinggal pergi.
“Awalnya kuanggap gurauan, sayangnya saat ini aku merasakan hal yang sama.“ tegas jawab Ney. Tidak kuduga sebelumnya. Matanya berbinar bahagia.
Sebuah peristiwa melayat dibenakku. Ney tersenyum membaca pesan di h.pnya. sambil melirik seseorang disebelahku usai lembur dikantor sore itu. Pasti dia orangnya. aku tahu gelagatnya ! dicuaca mendung, ruang kantor kami pun meremang. Sedih nampak disudut matanya ketika kami pamit pulang. Ney mengatakan mungkin ilusi yang setengah realita.
“Kemarin ia jadi penyemangat tapi hari ini kusadari dia Cuma mempermainkan perasaanku.”
Penyemangat! sungguh berarti dia dalam kehidupan Ney. Pantas Ney sering malu-malu didepannya.
Bagiku teman sekantor adalah keluarga. Tempat berbagi suka duka. Atau mungkin karena Neysa orang baru. Ney bekerja pada proyek pemberdayaan masyarakat ditempatkan didaerah asal. Kami bersahabat dari kecil, sudah puluhan tahun pisah. Pekerjaan mempertemukan jadi kebersamaan yang menyenangkan. Sering bernostalgia mengingat masa kecil, melompati waktu, kadang jadi tawa dan tangis.
“ Mitha, kontrak kejaku hampir selesai…” ucapnya lirih nyaris seperti tertelan.
Aku tergugu. Tak terasa begitu cepat berlalu, seakan baru kemarin bersama melewati waktu. Banyak tambahan pengalaman kupelajari dari Ney diluar birokrasi ini.
* * *
Sabar, mungkin Cuma kata-kata hiburan yang harus ditelan. Sebab Sabar bukan kata-kata, aku tak bisa mengeja. Aku sedih melihat Ney diam dan kaku. Tak tahu dimana hati dan perasanyanya bergayut, dimana pula pikirannya berjalan. Semangatnya tampak pudar disisa waktu. Larut berkutat dengan lembar-lembar kertas, angka dan data-data. Menyatukan antara fiktif dan realita biar jadi semestinya. Ney tampak serius melototi lembar-lembar kertas. Keseriusan yang tidak biasa jadi mengundang curiga. Jangan-jangan lagi beretorika menghalau resah. Menghindari nyeri jiwani demi mempertahankan harga diri. Diam-diam perhatianku terhisap pada Pram, perasaan ganjil sesamar yang nun…ketika kulihat mereka bersirobok tatap, saling lempar pandang dan simpul senyum tersirat aneh ! Benarkah Pram yang mengatakan : “Ditinggal pergi kok seperti ada yang hilang” ah… Alu tahu siapa Pram! mustahil ia bersungguh sungguh. Akupun tahu Ney bukan wanita gampangan. Perasaan hati memang tak terprediksi. Mungkinkah ini cinta sesaat atau ci-lok ? Benar kata Khalil Jibran “ Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta itu membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alam pun tak bisa mengubah perjalanannya”. Maka salahlah orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus. Ataukah benar cinta tunas pesona jiwa, dan jika tunas itu tak tercipta dalam sesaat, ia tak kan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi. Aku sangsi semoga lidahku tak keseleo menyingkap tabir ini.
Ney kaget kusodori berkas untuk ditandatangani. Pertanda tidak konsentrasi, jiwanya berada jauh diluar diri. Terhanyut mimpi yang jadi kontradiksi. Jemarinya bergetar.. aku jadi kasihan sayangnya tak bisa membantu, sebab aku tidak tahu apa-apa.
* * *
Duduk di sofa besar dalam rumah yang sunyi dan sesejuk udara pagi dengan alunan suara lembut sang legendaris Yusuf Islam “Morning Has Broken“ membuat suasana cozy. Aku yakin Ney kesepian di rumah sebesar ini sendiri. pembantunya kerja paruh waktu. Anak-anak belajar diluar kota. Sepi menyergap ruang tamu ini. Sebuah foto keluarga terpampang besar nampak harmonis, guci-guci keramik, patung kayu menempati ruang dan waktu, tak terawat kusam berdebu. Buku-buku tebal berjejer dirak-rak buffet. Mirip perpustakaan,
“ Ayo diminum Mith, Cuma ada itu…” Ney mengambil sesuatu dari laci meja.
“ Maaf Mith, aku merokok, kebiasaanku kalau lagi boring!”
“ tak apa, silahkan saja. Tak ada yang melarang kok “
Jawaban ngawur, kesehatan melarang walaupun pendapatan Negara salah satunya disokong cukai rokok, mungkin jadi sebagian gajiku PNS. Korek api jenis Zippo merk Leite mengalunkan musik Led Zeppelin menyulut sebatang mild filter. Ney seperti pecandu, menghisap tanpa asap keluar dari mulut dan hidung. Terbius suasana sepi melankolis, kami diam. Ney menyandar ke sofa, matanya melayat langit-langit jauh dan kosong.
“ Mith, besok aku pergi… kita tidak lagi bersama dikantor, semua sudah kuselesaikan tadi dan aku butuh bantuanmu untuk jaga semua itu.” Parau dan sedih suaranya.
“ Maksudmu untuk apa Ney ?”
“ Semuanya…, untuk pekerjaanku dan kisah ini !” Aku mengangguk meski ragu. Dilematis..Ney sepertinya menyadari keraguanku.
“Berat sekali beban batinku…, aku mengalami degradasi normative sebagai istri. Atas nama kesetiaan dan moral. Aku sembrono menjelajah pepunden lain, meski hanya sebatas perasaan. Ilusi ini yang jadi zinah hati. Sering terwujud dalam kehidupan mayaku”
“ Tidak pada yang realita?”
“ Tidak! Atas nama Allah di sorga.” Aku percaya Ney tidak bohong.
* * *
Pagi jadi sepi tanpa kehadiran Neysha. Hatiku terbentur berbagai macam perasaan dan pikiran, Cuma kumengerti sendiri. Benar jadi istri yang dinikahi dan diberkati atas nama Tuhan menanggung konsekwensi. Nay kawatir laknat-Nya mencemari dirinya sebagai manusia. Ney lebih suka terbelenggu dalam perkawinan semu, kesepian ketimbang bersuka cita dibalik kebohongan dan khianat.
Sebaris SMS hinggap di ponselku. Tepat usai misa Natal pagi. Mitha mengabarkan kini ia dalam damai di rumah Tuhan. “Aku ingin Allah mengampuni dasaku !” trenyuh dan bahagia aku membacanya. Segera kubalas SMS nya, Rupanya anugrah Allah memang butuh orang untuk menerimanya. Ketimpangan nurani yang membuatnya sakit, kebimbangannya atas hak asasi dan kodratnya sebagai makhluk Tuhan telah terjawab kini. Ia harus merelakan perasaannya patuh pada perintah-Nya. Cinta disimpang senja telah menjajah dan membelenggu jiwa. Ney mengalami renjana liar mengingkari rambu-rambu atas nama kebebasan dan anarki. Meski Cuma sesaat galaunya membakar jiwa. “ Neysha, bersama kidung Natal ini kudoakan kamu dan keluargamu dalam damai bersama Tuhan. Jadilah istri yang setia, teguh dalam janji, kuat menghadapi cobaan. Tuhan tak pernah ingkar janji dan tak akan menyesatkan makhluk-Nya… amien”

Bobotsari, Desember 2008

Tidak ada komentar: