Selasa, 01 September 2009

WE DON’T ANGRY
Windu set


Ketika kita kesepian dan takut oleh kekuasaan, munculnya para vokalis, kritikus dan orang-orang yang berani, sangat menghibur kita. Ketika kita tak sanggup berkata-kata munculnya manusia yang meneriakkan kata-kata itu, sangat membuat kita bahagia. Maka harga manusia kritis dan orang-orang vocal, pada waktu itu sangat hero, mereka bermasa dan menjadi idola.
Tapi saat ini, orang-orang semacam itu tiba-tiba telah menjadi banyak sekali. Kita jadi kebingungan menentukan idola karena mereka bisa muncul dimana-mana. Diseminar seminar, di perbiincangan perbincangan televise, di majalah dan Koran-koran, mulai dipenuhi orang-orang yang pintar, kritis dan berani.
Tiga criteria itu :” pintar, kritis dan berani “ pada masa lalu , bukanlah aksi yang bisa diperagakan oleh sembarang orang. Hanya orang-orang kuat saja yang sanggup melakukannya. Banyak orang pintar tapi memilih tidak kritis. Banyak orang pintar dan kritis tapi tidak cukup memiliki keberanian. Jadi, pada saat itu, manusia yang pintar dan kritis sekaligus berani, sangat mengagumkan kita.
Mereka berhasil bersemayam dalam lubuk simpati tanpa menyulut rasa curiga. Mereka menjadi ilham, inspirator, penyemangat dan lebih dramatis lagi kepadanyalah kita tergerak menyerahkan nasib bangsa. Pendek kata ditengah cekaman rasa takut dan jengkel, tertekan dan marah, mereka menghibur kita.
Kini, hiburan itu telah tumbuh begitu subur. Mendadak kita terancam bosan karenanya. Malah sudah jadi bosan !. sebabnya sepele saja, hiburan yang meriah ini ternyata belum menghasilkan apa-apa. Kita memang berterimakasih atas upaya itu. Tapi saat ini kita sudah mulai kekenyangan hiburan dan lebih membutuhkan perubahan. Kita sadar bahwa kita memang harus bersabar. Bahwa yang kita inginkan bukanlah perubahan yang serba mendadak. Misalnya, mendadak harga-harga turun, taraf hidup meningkat, bebas pengangguran, clean government, bebes pejabat korup, bebas biaya pendidikan, bebas biaya rumah sakit, bebas menyampaikan pendapat…
Kita paham bahwa perubahan ini harus melewati sebuah tahapan. Gradual, orang pintar bilang. Untuk itu, kita, masyarakat telah siap berpuasa, karena kita memang telah terbiasa berpuasa. Saat ini yang namanya penderitaan, bukanlah semata-mata karena penderitaan ini sendiri, melainkan lebih karena melihat banyaknya manusia yang tak paham, tak peduli, bahkan menari-nari diatas penderitaan ini. Rasanya, kita jauh lebih siap melawan kelaparan dan kemiskinan ketimbang melawan hati yang dilukai.
Ada kalanya, kita pernah sangat berterimakasih pada aksi demonstrasi. Karena ada jenis demonstrasi yang begitu otentik, yang begitu menuntut stamina dan keberanian, yang berhasil menumbangkan mitos, membukakan pintu perubahan, dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan. Tapi kini, corak demonstrasi itu telah demikian beragam. Tak jarang diantaranya bertabrakan kepentingan. Pandangan kita dibuat kabur, siapa tengah memperjuangkan apa dan kita harus berdiri di kelompok yang mana. Padahal semua memakai rumus sama, berdiri diatas budaya “atas nama“. Sebuah pengatasnamaan yang sangat sulit kita tolak karena selalu berkaitan dengan embel-embel “nasib bangsa”.
Saat ini, kita lelah bertepuk tangan untuk sebuah pidato dan kritik yang berapi-api. Bukan karena aneka pidato dan kritik itu tak diperlukan lagi, tapi karena kita telah mulai kenyang petuah, nasihat dan data-data. Kita sekarang tengah menderita kelaparan atas keaslian niat dan keaslian gerakan. Kelaparan atas focus yang dulu nyaris terpegang tapi sekarang makin mengabur dan mengembang.
“Kita seperti berlomba-lomba untuk pamer kemarahan, mumpung kesempatan untuk marah telah datang. Inilah saat bagi orang-orang yang dulu penakut boleh menjadi pemberani. Orang-orang yang dulu membisu, boleh memaki-maki. Orang-orang yang dulu pendiam boleh pamer aksi.” Kata si anu.
Oleh masa lalu kita memang pernah dibuat marah. Tapi kalau kemudian ketahuan bahwa kebiasaan kita Cuma marah tanpa bisa memperbaiki keadaan, jangan-jangan kemarahan itu tidak asli lagi.

- o -

Tidak ada komentar: