WE NEVER CAN HAVE
Windu set
Pekerjaan muskil yang selalu dikerjakan manusia adalah keinginan untuk memiliki. Terhadap segala sesuatu yang ada, manusia memang dianugerahi kemampuan mendekat, didekati, menjauh dan dijauhi. Tapi jauh dan dekat sebuah jarak, tak perlu berhubungan dengan kepemilikan.
Manusia boleh dekat pada sesuatu, tapi bukan berarti ia tengah memiliki sesuatu. Manusia juga boleh jauh dari sesuatu, tapi bukan berarti ia tengah kehilangan sesuatu. Manusia yang merasa memiliki hanya karena dekat, pastilah ia sedang tertipu.
Tapi kedekatan memang selalu menjadi penipu. Karena sesuatu yang dianggap sangat dekat, ternyata adalah sesuatu yang sangat jauh. Maka mari kita menyusun criteria “dekat”, mulailah dari manusia. Tetangga misalnya, ah tetangga masih kalah dekat dengan saudara. Saudara kalah dekat oleh anak. Anak kalah dekat oleh diri sendiri. Diri sendiri pun terbelah menjadi jantung, paru-paru, rambut, kuku, gigi dan sebagianya.
Cinta anak-istri setengah mati ? tentu. Tapi cinta yang hebat itupun terancam berantakan begitu seseorang sakit gigi. Itu pun baru gigi belum ketika kuku harus dicopot paksa, paru-paru dan ginjal harus inveksi, jantung macet berdenyut ! pendek kata ditengah kesakitan yang sangat, kita ragu, masihkah manusia kuat memelihara cinta.
Maka bolehlah kita berasumsi, betapa pihak terdekat adalah diri sendiri. Tapi hebatnya diri sendiri ini pun pihak yang tak kepalang jauhnya. Ia adalah pihak yang tak pernah bisa kita kuasai. Terhadap rambut, kita hanya bisa memotongnya, tanpa bisa memerintah kapan ia boleh memanjang, memendek, tetap atau malah mogok tumbuh. Betapa kita juga tak berdaya memerintah kuku dan denyut jantung, sesuatu yang kedekatannya tak perlu diperdebatkan lagi.
Sekarang jelas, pihak yang terdekat pun adalah pihak yang begitu jauh. Maka pihak mana lagi yang bisa kita miliki? Tak ada. Jadi, manusia yang ngotot mempetahankan sesuatu menjadi hak milik hanya karena dekat, ia telah menjadi manusia dungu.
Maka ayolah bertindak wajar saja. Biarlah yang dekat dan jauh berlalu lalang sesuka hati. Manusia tak perlu menyuruh atau menahannya. Upaya menahan sesuatu yang tak mungkin ditahan adalah tindakan yang memancing belas kasihan. Nafsu menjadi pemilik sering mengubah manusia yang berkodrat lunak menjadi sekeras batu. Bagi batu yang lunak, ia mudah tersindir oleh guyuran air. Tapi batu yang keras, sering harus berhadapan dengan palu.
Dunia politik Indonesia kontemporer memperagakan dengan sangat baik fakta-fakta semacam itu. Ada kesan betapa negeri seluas ini mendadak Cuma menjadi pekarangan yang dihuni segelintir orang. Betapa ada manusia yang ingin menyita ruang dengan cara memompa diri untuk membesar dan terus membesar dan akhirnya mbeledos karena kebesarannya.
Lalu teringatlah kita pada dongeng katak yang pecah perutnya karena hendak menjadi lembu. Lalu teringatlah kita pada pepatah Jawa melik anggendong lali yang terkenal itu. Teringat pula kita pada cerita Kahlil Gibran tentang manusia yang tak pernah berhenti makan dan minum. “Mustahil engkau tak juga merasa kenyang ?” Tanya seorang kawan keheranan. “Ooo kenyang, sungguh sangat kenyang. Kalau aku selalu makan minum begini, bukan karena haus dan lapar. Tapi karena aku khawatir, ada orang lain yang akan memakan dan meminumnya besok !”
Betapa konyol cerita Gibran. Tapi jauh lebih konyol lagi ketika orang yang disindir Gibran itu ternyata ada. Mereka mengumpulkan apa saja dan menempuh cara apa saja untuk membuat isi jagat ini menjadi miliknya.
Mereka menyangka dirinya sukses, sementara orang lain malah menatapnya iba.
- o -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar