SIKLUS TITIK TENGAH
Windu set
Menutup rumah pelacuran tak otomatis menutup riwayat pelacuran. Jadi? Lokalisasi boleh tutup tapi pelacuran akan tetap membuka diri. Caranya? Pelacuran akan mencari caranya sendiri untuk hidup.
Manusia boleh berduka atas kejahatan dan kedholiman, tapi betapa kejahatan dan kedholiman tak pernah lenyap dari muka bumi. Semua jenis keburukan boleh kita benci, tapi kisah tentang keburukan akan menjadi cerita bersambung yang tak pernah menemukan ending.
Kita memang boleh murung atas absurditas ini. Tapi selebihnya manusia hanya bisa menerima kenyataan. Betapa kanan tak bisa hidup sendirian tanpa kehadiran kiri. Kebaikan ternyata harus hidup berdampingan dengan keburukan.
Kanan dan kiri ada dalam diri manusia. Baik dan buruk juga menjadi bagian integral watak manusia. Jadi membuang salah satunya adalah pekerjaan yang percuma. Sepanjang manusia berlaku ekstrim, kanan atau kiri sama-sama berbahaya. Terlalu ke kanan atau terlalu ke kiri akan menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan.
Scenario kanan – kiri sesungguhnya hanya meminta manusia untuk akhirnya mengenat tengah. Hanyalah tengah yang sanggup mengoplos kanan dan kiri dengan timbangan yang adil. Tapi fungsi tengah yang terpenting bukan Cuma terletak dalam keadilannya, tapi juga pada keharusannya untuk ada. Tak ada obyek sanggup lahir tanpa mengindahkan titik tengah. Pendek kata, tengah adalah takdir.
Maka seorang yang dengan arogan menghindari titik tengah, adalah manusia yang mengingkari takdir. Tak perduli apakah ia terlalu ke kanan atau ke kiri, sang takdir akan mengembalikannya ke tengah.
Kita tidak pernah tahu, apakah seorang manusia arogan yang tengah murung ini diakibatkan oleh jiwa kemanusiaannya tidak sedang berada di tengah. Padahal untuk melacak tengah sebenarnya gampang saja : keseimbangan. Bicara soal keseimbangan, maka manusia arogan itu akan menemukan banyak indikasi. Indikasi ekonomi misalnya, kedudukan contohnya, public paling awam pun akan melihat dengan mata telanjang perbedaan antara si bungah dan si susah.
Pada indikasi hukum dan moral juga begitu. Masyarakat banyak dibuat pesimistis oleh nilai hukum si arogan itu sendiri. Maka banyak manusia yang jadi obyek penderita sekaligus yang didholimi lebih memilih menjadi seorang eskapis ketimbang realis. Dari pada percaya pada hukum formal, orang lebih memilih hukum karma sebagai pelarian. “ Biar Tuhan sendiri yang mbales!” katanya.
Indikasi dalam berpolitik, tak kurang-kurang contohnya. Seperti di era orde lama, menuntut kepatuhan yang mustahil. Politik samacam itu bisa menekan siapa saja untuk berkata “YA” dan membawa ketegangan bagi pihak-pihak yang menolak hidup seragam.
Yang tidak kalah mengharukan dalam dunia pemberdayaan. Lihatlah betapa sang pemberdaya menuntut yang diberdayakan untuk jadi manusia pinter. Semata-mata agar ia mendapat tepuk tangan. Segala kata-katanya harus di ikuti. Seolah-olah manusia lain tidak punya hak asasi. Bermahkota arogansi, kekeliruan yang kecil pada orang lain dianggap suatu kebiadaban yang luar biasa. Tidak lain untuk memuaskan dirinya.
Memaksakan kehendak. Adalah suatu yang mustahil. Alasan kebijakan dan moral ! Ah, sungguh menyedihkan jika bahasa moral sudah digunakan disini. Dijadikan kambing hitam untuk mendapat simpati.
Mari kita sama-sama mulat saliro hangroso weni, mana ada manusia bermoral bagus sanggup melecehkan manusia lain? Mbok iyo jangan menjadi duplicator atas nama “Seseorang” mending creator atas nama “Diri sendiri”. Jangan Cuma memberi doktrin tapi yang terpenting menyerap aspirasi. Agar orang lain menjadi nyaman. Tidak menjadi pangsa cemoohan !
Jelas dan gamblang melihat pribadi arogansi semacam itu di semua sisi, akan selalu menjumpai pameran ketidakseimbangan di sana-sini. Maka, menatap pribadi yang tengah bergolak adalah adalah menatap nurani yang tengah kehilangan keseimbangan karena telah lama ia kehilangan titik tengah.
- o -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar