LUKA JUMINTEN
Oleh : Wind set
Membuat pengakuan jelas tak segampang membalik telapak tangan. Butuh kreatifitas untuk jujur. Entah jujur hati, ucapan ataupun pikiran. Kadang hati sudah jujur, pikiran dan kata-kata masih dipadati retorika. Mungkin itu manusiawi, antara kejujuran hati dan logika tak selalu berada di tempat yang sama.
Empower Cuma sebatas kata-kata kecil yang diagungkan oleh mereka yang menganggap dirinya super women, perempuan pinter, para penguasa, pemilik negeri. Sayang sekali mereka hanya punya secuil hati untuk menjadi menderita. Bahkan mungkin mereka tak berdaya jika harus dirundung kepedihan. Sebab mereka tak siap sakit, tak siap kecewa. Pendek kata mereka hanya bisa memberi contoh tapi tak sanggup menjadi contoh.
Kapan perempuan berdaya untuk jujur ? bagaimanakah resiko kejujuran dimata public ?! mari kita tengok ungkapan jujur dari seorang makhluk Tuhan bernama Juminten, atau Jumi atau Mimi. ( Wah sebutan yang terakhir mengingatkan pada seorang artis ). Minten yang pengin popular lantaran kedekatannya dengan si pejabat yang juga lagi berubah menjadi seleb.
Ketika jendela hati mulai terbuka untuk mempublikasikan arsip hitam yang memenuhi lembar kehidupannya, Minten mulai gelisah. Minten tak siap jadi popular lantaran di cap sebagai “penghianat, penyeleweng dan tukang selingkuh”. Sungguh reputasi yang sangat buruk menyandang gelar dalam tanda petik itu. Meskipun ia benar-benar pernah melakoninya. Perselingkuhan ya tetaplah tidak dibenarkan oleh ajaran agama apapun. Walaupun perbuatan selingkuhnya belum sampai kencan dari hotel ke hotel dan free sex. Tak ada kesempatan unutk itu kata Minten disuatu kesempatan. “Kami Cuma sebatas duduk, diam dam saling memandang” entah apa yang mengindikasikan perasaan saling sukanya itu, keduanya tak pernah memperlihatkan kedekatannya di mata umum.dan sulit dielakkan.
Benar Minten mulai jatuh cinta dan itu dirasakan semenjak sang lalaki mengatakan “ serasa ada yang hilang ditinggal pergi” jadi benar, Minten tidak merasakan seorang diri hal itu, perasaan lelaki itu ternyata sama.
Minten tak tahu siapa lelaki itu sesungguhnya, apa maunya dan mengapa selalu memberikan perhatian padanya. Hanya sesamar nun…bayu menghembus kabar kurang sedap, lelaki itu seperti lalat buah, suka menjajagi ranumnya. Tidak peduli milik siapa, apalagi yang jauh tetangga dekatnya saja tega diembat. Sayangnya kedekatan itu keburu mengubah rasa biasa jadi sedikit luar biasa. Dari sekedar bertatap merambat hingga saling sentuh. Muara yang dirasakannya adalah getaran dan debar-debar jantung yang tidak semestinya.
Bagi Minten, lelaki bukan dia satu-satunya. Bergandengan tangan, cium pipi juga biasa, dan tak ada “sinyal lain” seperti yang dirasa saat bersama dia. Minten tahu banyak lelaki mencoba merambati hatinya dan ia hanya tersenyum sumringah mengetahui itu.
Minten yang gampang bergaul sering diterpa kelembutan bayu, tapi sesering itu dirinya mampu menghindar. Kehidupan yang dilakoni dibatasi tirai-tirai Illahiah, ada dogma yang membentengi pada boleh dan tidak boleh dilakoni. Ada aturan yang semestinya dipatuhi. Namun tanpa disadari ia terpeleset dalam khilaf. Entah terpengaruh kondisi macam apa ia mampu menjadi muna alias munafik !
Sadar atau tidak keganjilan itu dirasa sebagai aib, batinnya jatuh terpuruk. Ternyata Minten jadi salah satu korban yang terjebak wild adventure sang adventurer. Ia benar-benar bertekuk lutut diambang jendela rayuan sang wonderer. Ya, Minten mungkin dianggapnya mau jadi “kelinci percobaan” yang gampangan. Indikatornya gampang ditilik dengan kasat mata. Gampang didekati lalu disentuh. Seolah-olah barang mati yang tak punya perasaan. Minten jadi mainan alternative, keisengan yang pragmatis. Gampang didapat, murah dan tidak rewel.
Minten mulai kecewa, sedih dan sakit. Ketika kerling matanya sempat melihat ada “Minten-Minten” yang lain direntang waktu berseling. Terlebih kecewa ia melihat minten lainnya tidak lebih baik dari dirinya. Minten tak mau jadi perimbangan. Apalagi dibanding-bandingkan. Sebab sesungguhnya Minten seorang yang mempunyai harga diri tinggi. Dia akan menyerang kalau diserang, akan balas nonjok jika ditonjok.
Setahun waktu menengarai perjalanan kebersamaan, musim alih berganti hingga gurat tanya menyelimuti kerung batin. Banyak hal dan peristiwa merubah suasana, si lelaki terasa menjauhi dirinya, tak pernah ada lagi perhatian apalagi tegur sapa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. sayangnya Minten tak mampu merobek sisa-sisa kenangan bersamanya. Butiran tanya bergulir, tak satupun jawab terlahir. Hidup bukan untuk menggantung rentetan kebimbangan. Entahlah… anything to happened !
Namun tiba-tiba alarm menyalakkan tanda. Ingatannya kembali pada sebuah memori, peristiwa “1958”. Di senja yang sudah memasuki maghrib, suara azan terdengar tepat diseberang jalan. Rumah Alloh. Tak ada CCTV, Cuma kamera Illahi yang mampu meneropong peristiwanya hingga sampai degub-degub jantung mereka. sekecup cium dan sepagut peluk menjadikan jiwa raga Minten melambung tak bertepi. Cuma itu, tak lebih ! tapi Minten seperti mimpi. Bahagia tak terperi. Dan Minten tak bisa melupakan hingga saat ini. Dan itu usai sudah…
Minten benci arogansi ! saat mendapat satu kata peringatan : “hrs” ( singkat banget, tiga huruf mati itu mungkin berarti “harus” ). Harus apa ? dilupakan ?! melupakan ?! ya itu pasti ! lelaki itu ingin melupakan dan dilupakan. Minten ingat para selebritis ketika nulis massage, singkat. Pantas kata banyak orang, sekarang lelaki itu sudah jadi selebritis. Atau tepatnya nyeleb, selalu mencari sensasi untuk jadi popular. Apalagi belakangan ini sangat santer berita lagi berasmara ria dengan seorang biduan yang sangat terkenal seronok, obral P3D alias perut, pangkal paha paha dan dada. Ya… Minten dengar, Minten lihat, Minten ngrasa, tapi Minten tak akan jadi Minten kalau ia ikut bicara. Minten Cuma kecewa dan nelangsa, ternyata dirinya hanya disetarakan dengan perempuan macam itu.
Begitu rendah Minten dimatanya, tak ada artinya, seperti bukan siapa-siapa, bukan apa-apa layaknya sampah yang harus dibuang. Ego Minten bergolak merasa dihina dan direndahkan. Ia dendam dan akan membelas perlakuan itu. Bekalnya banyak dari para empower, dari berbagai media ia belajar, lewat majlis-majlis taklim ia berguru, pun dari teman-teman ia gali argumentasi. Mata hatinya tertutup akal sehat, dalam dadanya dipadati ambisi untuk meluluh lantakkan lelaki itu.
Minten mulai merangkai pengakuan dosa. Meng”ghibah” didalam komunitasnya. Bisik sana-sini mengobral asmara lelaki itu, tentu bukan dengan dirinya melainkan dengan “Minten-Minten yang lain”, setiap bicara selalu berujar tentang perilaku dan moralitas, ia sangat piawai mengkontribusikan apa yang didengar dari para empowernya. Tidak lain dan gampang diterka tujuannya adalah untuk menjatuhkan biang keladi sakit hatinya. Katanya, lelaki itu adalah bajingan yang layak untuk dihukum, bilamana perlu dijauhi dan dikotakkan. Dalihnya, kasihan pada nasib kaum hawa yang jadi korban pelecehannya.
Padahal sesungguhnya Minten lagi mengasihani diri sendiri atas kebodohan dan kekhilafannya, tidak bisa menjaga hati dan terlena rayuan sesaat. Untungnya Minten selalu dijaga oleh reputasi diri sehingga apa saja yang dilakukan diukur dengan pencitraan diri. Agar tidak jatuh gengsi, agar tidak dikonotasikan pungguk merindukan bulan.
Sungguh atraktif Minten ! tingkat rasionalitas yang diatas rata-rata mampu mengontrol, merumuskan sekaligus mencipta alibi dengan rekaan alur cerita yang endingnya terhindar dari aib. Sambil menyelam minum air, membalas sambil tanpa rasa bersalah. Minten menyadari keberhasilan usahanya masih dalam tanda Tanya, namun setidaknya ia merasa sedikit lega bisa mempengaruhi orang lain agar menjauhi bajingan itu. Minten ingin mengingatkan pada lelaki itu, bahwa selain ada kamera ilahi yang senantiasa memonitor perilaku manusia ada pula hukum karma yang siap membalas siapa saja yang dholim, dan kehidupan setelah mati. Sebenarnya ia memilih bersikap eskapis ketimbang mengungkapkan fakta. Namun ia pun ingin melihat ada keadilan agar lelaki itu tidak lagi semena-mena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar