sejumput kutuk menjerat dikelindan waktu
menyuara dalam derai do'a
tapi jadi terasa tak berharga
dipersimpangan kaidah menggelora
limpung beradu nafsu
makin jadi kemunafikan
padahal tahu dikejar dosa
padahal ngeri menimbun laknat
suara hati terlindap disekecup cium sepagut peluk
terlena digelora kesempatan
jadi manis dan terasa pedas dijilat lidah
bibirpun tersenyum kecut
kesadaran tak lagi berharga
biang-biang hasrat terkatup sepanjang waktu
pada kata-kata bermakna keberuntungan
jadi rangkaian basa-basi, menakar harga diri
sebab logika harus ada
siapa kita !
harga diri memeng jadi sirna
dihujam bisikan kata hati
mungkin sama-sama menjajagi
sampai dimana pisau naluri bersembunyi, atau
standar kita sama "saling mengisi"
mari kita pecahkan rahasia diri
lewat mata atau mungkin secebis kesempatan
tak usah selalu berselubung sandiwara
kata mati kita mesti sama
"merasakan lembutnya keberuntungan"
silent home, rabu 8 oktober 2008.
Kamis, 09 Oktober 2008
Rabu, 24 September 2008
mengapa mentari ?

adalah diriku,
mengharap kehidupan sebijak mentari,
dikala memancarkan cahayanya jadi penerang jagat raya,
dikala tenggelam menyisakan manfaat bagi kehidupan.
ia pun tak pernah ingkar janji,
selalu terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat.
apakah arti sebuah kebohongan jika suatu waktu terungkap jua ?
mentari tahu kebohongan tapi dia enggan membuka tabir misterinya.
mengharap kehidupan sebijak mentari,
dikala memancarkan cahayanya jadi penerang jagat raya,
dikala tenggelam menyisakan manfaat bagi kehidupan.
ia pun tak pernah ingkar janji,
selalu terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat.
apakah arti sebuah kebohongan jika suatu waktu terungkap jua ?
mentari tahu kebohongan tapi dia enggan membuka tabir misterinya.
mentari tahu tiap yang menyelinap dalam rimbun rahasia, tapi dia hanya jadi saksi bisu.
biarkan kehidupan berlalu lalang mengisi dunia, mengurai misterinya dan menjajagi setiap sudut ruang. aku dan mentari akan berdiam diri bersiap-siap menonton adegan yang sudah pasti terjadi. Ya Robii...mestikah aku harus berteriak menghardik ketidakadilan yang lalu lalang didepan mataku padahal mulutku sudah berikrar untuk diam dan bisu, padahal aku tahu keadilan itu semakin tidak tahu diri ? aku tak bisa Tuhan. tak bisa ! meski sekedar berbisik lirih. besok, lusa atau dikelak kemudian hari biar saja Engkau yang membalas, Engkau yang menghakimi. aku tak kuasa jadi penguasa. tapi aku berhak jadi penonton. wow! cuma penonton saja kok apa sih susahnya, toh aku tak akan jadi komentator.
ya... aku ingin bicara tapi tanpa kata-kata, sebab lidahku sangat kelu. aku takut mulutku jadi sembilu bagi diriku. lalu dengan apa aku harus bicara, sementara kebohongan sudah jadi kelontong dimana-mana, dimimbar-mimbar, dicorong-corong mikropon bahkan suadah dijual bak mendoan dan lontong basi. murah sekedar pengganjal perut yang kelaparan. padahal semua orang tahu makanan basi itu bisa jadi penyakit. ya sama dengan kebohongan lama-lama juga bisa menimbulkan rasa sakit. oh...manusia, kenapa
Langganan:
Postingan (Atom)